Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Luapan Amarah


Happy reading ❤️


"Sabina mana ?" Tanya Gibran ketika ia baru saja tiba.


"Non Bina di kamarnya," jawab mbok Inah dan segera Gibran menaiki tangga menuju kamar di mana Sabina berada. Ia mengabaikan ucapan mbok Inah yang menawarkannya makan malam.


Tak ada yang lebih penting dari Sabina saat ini. Pikir Gibran dalam kepalanya. Gibran menaiki setiap undakan tangga dengan perasaan takut juga cemas. Tak terbayangkan bagaimana reaksi Sabina akan kedatangannya.


Pintu berwarna putih itu tertutup rapat. Gibran berusaha untuk memutar gagangnya namun pintu itu tak terbuka karena Sabina menguncinya dari dalam.


"Sayang, aku pulang. Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu." Ucap Gibran dari balik pintu namun tak ada jawaban apapun.


Gibran mengetuknya lagi dan mengatakan hal yang sama berulang kali bahkan Gibran pun memohon namun tetap tak ada jawaban dari Sabina yang berada di dalamnya.


Sabina menatap nanar pintu yang berada tepat di hadapannya. Di balik pintu itu lelaki yang ia harapkan untuk pulang berdiri disana. Namun kini semuanya telah terlambat. Pilihan yang Gibran ambil telah membuatnya patah hati.


"Sayang, aku mohon... Mari kita bicara." Gibran kembali memohon dengan frustasi sedangkan di sisi lain Sabina terdiam membisu dengan air mata yang terus membasahi pipinya. Tangannya terkepal dan gemetar, menahan rasa sakit juga kecewa yang bergumul dalam hatinya.


Cukup lama Gibran melakukan itu namun Sabina tak juga menjawabnya hingga akhirnya Gibran pun menyerah.


"Baiklah Sayang, kita akan bicarakan masalah ini besok pagi. Tidurlah, kamu dan anak kita butuh istirahat. Aku sangat mencintai kalian berdua." Gibran tahu Sabina belum tidur dari sinar lampu yang terlihat dari celah pintu karena biasanya Sabina tidur dengan kondisi lampu yang di matikan.


"Cinta ?" Sabina tertawa muak mendengar yang Gibran ucapkan, mulut manisnya tak cukup untuk menjadi obat rasa sakitnya saat ini.


Sabina berjalan tertatih menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya di sana dengan pikirannya yang melayang tentang pernikahan yang seharusnya tak terjadi antara dirinya dan Gibran.


Sedangkan Gibran terlalu lelah hati dan pikirannya membuat ia memilih untuk melemparkan dirinya ke atas sofa yang berada di luar kamar. Ia memejamkan mata masih dengan pakaian kerjanya.


***


Sabina terbangun dengan mata yang sembab karena terlalu banyak menangis. Hormon kehamilannya membuat perasaannya semakin sensitif. Semalaman ia berpikir langkah apa yang harus ia ambil dalam pernikahannya ini.


Pagi masih gelap ketika sabina keluar dari kamarnya dan mendapati Gibran yang tidur meringkuk di atas sofa masih dengan pakaian kerjanya.


Ada rasa kasihan, sedih, kecewa, dan patah hati yang bercampur aduk dalam hati Sabina. Ini adalah pergulatan batin yang terbesar yang pernah ia rasakan dalam hidupnya. Rasa tersiksanya melebihi ketika ia ditinggalkan Andre saat itu.


Jika dengan Andre, ia hanya harus siap menerima kenyataan bahwa dirinya ditinggalkan. Namun dengan Gibran, ia harus berhadapan dengan keputusan yang akan menentukan nasib pernikahannya.


Sabina kembali mengusap pipinya yang basah dan segera berjalan menjauhi Gibran, ia menuruni tangga untuk menuju dapurnya di lantai satu.


"Mbok, tolong buatkan sarapan ya. Saya sedang malas membuatnya," ucap Sabina dan Mbok Inah pun mengiyakan dengan wajah yang terkejut karena melihat mata Sabina yang sembab.


"Non Bina baik-baik saja ?"


"Saya gak pa-pa, Mbok. Oh iya nanti tolong bangunkan Gibran." Jawab Sabina sembari menyeduh susu hamilnya.


"Mmm baik, Non."


"Terimakasih," ucap Sabina dan ia pun mendudukkan tubuhnya di ruang makan dengan segelas susu di hadapannya.


Mbok Inah memasak sarapan dengan cepat, dan segera ia naik ke lantai 2 untuk membangunkan Gibran walaupun ia sangat ragu karena merasa tak sopan untuk masuk ke kamar majikannya dan membangunkan seorang majikan laki-laki.


Namun ia begitu terkejut melihat Gibran yang tidur meringkuk di atas sofa.


"Pak dokter bangun, ini sudah siang" ucap Mbok Inah seraya mengguncangkan tubuh Gibran dengan perlahan.


Gibran membuka matanya nya dan tersadar jika hari Sudah siang. Ia pun secara refleks mendudukkan tubuhnya.


"Jam berapa sekarang? " Tanya Gibran sedikit panik.


"Jam tujuh kurang lima belas menit." Jawab Mbok Inah.


Sontak membuat Gibran terkejut Ia pun segera melarikan diri menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dalam hati terus bertanya-tanya kenapa Sabina tak membangunkannya.


Setelah selesai bersiap dan terlihat rapi Gibran pun turun ke lantai bawah menuju ruang makan dimana Sabina biasanya menunggu.


"Sayang, aku.." sapa Gibran seraya mendudukkan tubuhnya tepat di hadapan sang istri.


"Tak usah menjelaskan apapun, kini aku sudah mengerti," ucap Sabina memotong pembicaraan suaminya.


"Apa maksudmu ?" Gibran berkerut alis tak paham.


"Aku mengerti jika kamu lebih memilih Amanda daripada aku. Kini aku tahu siapa yang lebih penting dalam hidupmu, bagimu aku ini hanya sekedar pelipur lara ketika kamu merasa sedih karena di tinggalkan, dan setelah Amanda kembali kamu pun tak memerlukan aku lagi. Kamu sudah mendapatkan kembali wanita yang sangat kamu cintai. Jadi kita bisa akhiri pernikahan yang tak diinginkan ini sekarang juga," ucap Sabina sembari beberapa kali mengusap pipinya yang basah.


"Maksud kamu apa sih, Bina ?" Tanya Gibran mulai terpancing emosi. Ia pun menatap lurus dengan tajam istrinya yang sedang berbicara.


"Seperti yang baru saja aku bilang, kamu lebih memilih wanita itu daripada aku. Jadi kita akhiri saja pernikahan ini. Soal anak yang aku kandung kamu boleh ikut terlibat dalam mengurusnya atau jika tidak pun tak masalah bagiku. Toh kamu pun akan segera memiliki anak dengannya."


"Aku gak pernah memilih Amanda !" Potong Gibran cepat.


"Karena kamu tak bisa dibandingkan dengan perempuan murahan seperti dia. Semalam aku hanya berusaha menolong nyawa seseorang, hanya karena itu !" Lanjut Gibran.


"Kenapa kamu begitu peduli ? Kenapa kamu begitu ingin menyelamatkan anak yang ia kandung? Apa kamu juga yang menanam saham dalam perutnya ? Apa anak yang Amanda kandung adalah anakmu ?" Tanya Sabina dengan suara meninggi. Ia sudah tak dapat menahan lagi amarahnya


"Cukup Sabina!!!" Sentak Gibran seraya menggebrak meja dengan begitu kerasnya sehingga kopi yang berada dalam cangkir tumpah membasahi meja.


Dan suaranya yang nyaring membuat Mbok Inah mendatangi ruang makan itu dengan takut-takut.


"Cukup Bina !! Jaga ucapanmu !! Aku memang salah karena tidak menuruti keinginanmu. Tapi asal kamu tahu, aku tidak se-hina yang kamu kira. Aku bukanlah seorang pengkhianat apalagi seorang pez*na. Demi Tuhan, demi nama ibuku hanya kamu satu-satunya wanita yang pernah aku tiduri di dunia ini ! Ngerti ?" Tunjuk Gibran tepat pada wajah Sabina. Sungguh apa yang dituduhkan Sabina sudah sangat keterlaluan sehingga Gibran tak kuasa lagi menahan amarahnya.


Sabina melonjakkan tubuhnya karena terkejut, ia tak menyangka jika Gibran akan berbicara sekeras itu. Air bening pun kembali membasahi pipinya.


"Lihatlah Gibran, pada akhirnya kita saling menyakiti. Sepertinya kita memang tidak ditakdirkan untuk hidup bersama." Lirih Sabina.


"Aku tak akan pergi meninggalkan rumah ini, begitu juga kamu. Kita akan selesaikan masalah ini bersama. Mungkin bukan sekarang atau besok tapi nanti ketika kamu dan aku siap untuk berbicara dengan kepala dingin. Tapi asal kamu tahu, berpisah darimu tak pernah sekalipun terlintas dalam pikiranku dan tak mungkin bagiku untuk berpisah dengan anakku." Jawab Gibran seraya berdiri.


Gibran memilih untuk segera pergi, ia tak peduli jika Sabina menangis atau merasa sakit hati dengan apa yang baru saja ia ucapkan.


Kali ini Gibran merasa apa yang Sabina ungkapkan tentang dirinya sudah sangat keterlaluan. Bagaimana bisa Sabina menuduhnya sebagai ayah dari anak yang Amanda kandung. Sungguh Gibran merasa sakit hati.


"Apa kamu tak merasakan jika aku sangat mencintaimu, Sabina? Apa aku harus selalu mengemis hanya untuk mendapatkan cintamu ? Bagaimana bisa semudah itu kamu meminta untuk berpisah dariku ?" Pertanyaan-pertanyaan itu menari dalam benak Gibran selama ia berjalan.


'Braakkk !!!'


Suara dentuman pintu yang ditutup dengan kasar terdengar begitu nyaring sehingga membuat Sabina kembali melonjakkan tubuhnya karena sangat terkejut. Sabina tahu Gibran meninggalkan rumah mereka dengan keadaan sangat marah.


"Hu...hu...hu...," Sabina menelungkupkan kepalanya di atas meja dan menangis pilu.


Mbok Inah membersihkan tumpahan kopi di atas meja makan dengan tangan bergetar. Ia sungguh terkejut dengan pertengkaran Sabina dan Gibran.


"Non Bina yang sabar ya... Begitulah rumah tangga memang banyak cobaannya. Hadapi dengan tenang." Ucap Mbok Inah berusaha menenangkan.


Sabina masih menangis, pikirannya melayang pada Gibran yang baru saja meluapkan amarahnya.


"Apa aku salah karena menginginkan kamu untuk peduli hanya padaku ? Apa aku salah karena telah merasa cemburu? Apa kamu sadar Gibran jika aku sangat mencintaimu ? hingga begitu takut kehilangan kamu." Batin Sabina dalam hatinya.


To be continued ❤️


Thank you for reading 😘


Episode ini didedikasikan untuk


Eva Gelista Peak Fam 😜 terimakasih sogokkannya sistaaahhhhh 🤣🤣🤣


btw mo jawab beberapa komentar reader yang hampir sama.


kenapa Gibran datang sendiri gak nyuruh asistennya saja? karena prosedur di rumah sakit pada umumnya meminta surat pernyataan dari keluarga pasien yang berisikan bersedia dilakukan suatu tindakan medis untuk menyelamatkan nyawa pasien. biasanya untuk tindakan yang beresiko tinggi. jadi tak bisa di wakilkan. Nah disini yang diakui sebagai keluarga oleh Amanda adalah Gibran. CMIIW


thank you ❤️