
Happy reading ❤️
"Maukah Om pura-pura jadi ayahku sehari ini saja ? Teman-temanku membawa ayah dan ibunya hari ini." Tanya Raka penuh harap.
"Hah ?" gumam Andre tak percaya.
"Raka sayang, tentunya Om Andre tak dapat melakukan itu." potong Alya cepat seraya merendahkan tubuhnya agar dapat berbicara dengan sejajar pada anaknya.
Raka menolehkan wajahnya pada sang ibu dengan mata mengembun menahan tangis, "Hanya sekali ini saja." mohonnya pelan namun Alya tetap menggelengkan kepala sebagai penolakan.
"Mama bohong, tentu saja Om mau melakukannya." tutur Andre dan Raka pun kembali menengadahkan kepalanya melihat Andre yang berdiri tinggi menjulang di hadapannya.
"Benarkah ?" tanya Raka seraya mengusap pipinya yang basah.
"Tentu saja, ayo tunjukkan kemana kita harus pergi?" tanya Andre dan Raka pun segera menarik tangan Andre agar berjalan mengikutinya.
"Tunggu !" Alya pun berjalan dengan tergesa, mencoba menyusul langkah Andre dan Raka anaknya.
Andre memasuki sebuah ruangan kelas dengan banyak hiasan warna-warni di setiap dindingnya. Tepat seperti yang Raka katakan sebelumnya jika temannya yang lain datang dengan ayah dan ibu mereka.
Raka menggenggam erat tangan Andre dengan jemarinya yang mungil, wajahnya tersenyum dan langkahnya penuh semangat.
"Kamu tak usah melakukan ini semua, katakan saja pada Raka jika kamu tak bisa memenuhi permintaannya.Biar nanti aku yang akan membujuknya." bisik Alya cemas yang kini berjalan tepat sebelah Andre.
"Tak hanya karena Raka, aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah." jawab Andre tanpa ragu.
"Andre please," gumam Alya yang merasa tak enak pada atasannya itu.
"Tenanglah, aku bisa melakukannya." kata Andre dan ia pun duduk di bangku yang telah disediakan.
Semuanya sudah terlanjur, tak mungkin lagi Andre meninggalkan tempat itu. Pada akhirnya Alya pun menyerah dan membiarkan Andre melakukan itu semua.
Satu persatu para murid TK itu maju ke depan ditemani oleh orang tua mereka. Di depan sana mereka memperkenalkan diri dan bercerita tentang pekerjaan orang tuanya, dan apa yang biasanya mereka lakukan dengan orang tua mereka di rumah.
Setelah menunggu beberapa saat, tibalah giliran Raka yang maju ke depan ditemani Andre juga Alya. Ketiganya duduk di bangku yang telah disiapkan dan menghadap kepada para murid dengan orang tua mereka juga wali kelas yang berdiri di sana. Rasa gugup merambat dalam tubuh Alya saat ini.
"Halo selamat siang semua, perkenalkan saya Alya ibu dari Raka." ucap Alya membuka perkenalan mereka.
"Dan saya adalah Andreas Tama ayah dari Raka," potong Andre cepat dan Raka pun tersenyum mendengarnya.
Alya menolehkan kepalanya menatap Andre tak percaya. Andre pun membalas tatapan mata itu seraya terus berbicara.
"Saya bekerja sebagai marketing di PT. Tama Ind, begitu juga dengan ibu Raka." ucap Andre.
"Apa itu marketing ?" tanya salah satu murid yang berada di sana
"Marketing itu bertugas untuk memasarkan atau menjual produk dari perusahaan tempat kita bekerja saat ini." jawab Andre, ia berusaha menggunakan bahasa yang sederhana agar mereka mengerti.
"Raka adalah anak kebanggaanku," ucap Alya
"kami," potong Andre mengoreksi dan Alya kembali terkejut.
"Raka adalah anak yang rajin, ia sering membantu pekerjaan di rumah seperti membersihkan tempat tidur, dan membereskan mainannya sendiri. Raka juga tak pernah melewatkan waktu untuk berdoa." jelas Alya penuh rasa bangga.
"itu bila Raka dengan mamanya. Bila denganku, Raka senang sekali bermain game dan menonton film kartun. Tapi tentu saja semuanya tak boleh berlebihan. Ya kan, Sayang ?" tanya Andre seraya mengacak puncak rambut Raka, dan anak lelaki itu menganggukan kepalanya dengan mantap. Dapat Alya lihat dengan jelas binar bahagia di wajah keduanya.
Alya menarik nafas dalam, berharap Raka tak lagi mendekati Andre dan memintanya menjadi ayah bohongan. Karena bagaimanapun hal itu sangat membuat Alya sedih.
***
Flashback ke beberapa jam yang lalu di kediaman keluarga Mulia.
Sabina pun sadar jika wanita itu melihatnya dengan pandangan mata terkejut ke arahnya. Terkejut karena cara berjalan Sabina yang tak seperti wanita lain pada umumnya. Mungkin dalam hati Ria sangat menyayangkan jika lelaki setampan Gibran harus bersanding dengan Sabina yang memiliki kekurangan pada tubuhnya.
"Sayang, Athalla udah tidur lagi ?" tanya Gibran pada Sabina seraya berdiri dan menyambut kedatangan istrinya itu. Tentu saja pemandangan mesra itu tak lepas dari mata Ria yang terus memperhatikan.
"Mira, ini istri saya Sabina." ucap Gibran seraya merangkul bahu istrinya itu dengan penuh rasa posesif.
"Ria, nama saya Ria" koreksi Ria dengan perasaan kecut.
"Oh sorry, " tutur Gibran singkat.
"Gak apa-apa, Dok. Kadang kita sulit untuk....,"
"Saya mendapatkan rekomendasi kamu dari teman, semoga kamu bekerja dengan baik pada istri saya." potong Gibran tanpa mempedulikan perkataan suster itu.
Ria kembali tersenyum masam karenanya.
"Baiklah Sayang, aku pergi dulu antar ibu ke bandara ya. Gak akan lama, jangan kangen." goda Gibran seraya mencubit puncak hidung Sabina dengan gemas. Pipi Sabina merona karena perlakuan suaminya itu, ia malu karena ada ibu mertua dan juga suster baru di sana melihat kemesraan keduanya.
"Ibu pulang dulu ya, Nak. Insyaallah dalam waktu dekat ibu akan pulang kembali ke Jakarta untuk melihatmu dan cucu ibu." ucap ibu Gibran seraya memeluk dam mencium pipi menantunya itu dengan penuh rasa kasih sayang.
"Baik-baik ya ,Bu. Semoga selamat sampai tujuan. Aku akan selalu menantikan kabar dari ibu, dan semoga kita segera bertemu lagi." jawab Sabina seraya mengusap pipinya yang basah.
"Tentu Nak, Kita akan bertemu lagi secepatnya. Oh iya Bina jangan lupa segera pakai alat kontrasepsi ketika masa nifasmu sudah selesai." ucap ibu mertuanya itu mengingatkan, meskipun ia berbisik namun masih bisa terdengar oleh semuanya. Pipi Sabina kembali merona.
"Dan kamu, tahan diri ! Istrimu baru saja melahirkan. Sebenarnya yang ibu khawatirkan itu kamu." tutur ibu Gibran pada anaknya.
"Ibu, aku ini dokter. Tentu saja kesehatan Sabina adalah yang utama. Ibu jangan khawatir." jawab Gibran seraya menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal itu.
Sedangkan Ria terus mendengarkan dengan perasaan tak nyaman. Karena obrolan itu begitu intimnya.
Sabina menyalami ibu mertuanya itu sebelum mereka pergi, sedangkan Gibran mencuri kecupan dari bibir sang istri dan mendapatkan sebuah cubitan di pinggang karena kelakuannya itu.
"Aw, sakit sayang." rengeknya.
"Kamu itu...," gumam Sabina seraya mencebikkan bibirnya. Gibran malah tertawa melihatnya.
"Aku pergi sebentar, jangan kangen."
"Iyaaa baweeeelll," jawab Sabina gemas
Mata Ria terus memperhatikan kemesraan majikan barunya itu. Ia tersenyum kikuk karena malu.
Tak lama Gibran dan Ibunya pun pergi, meninggalkan Sabina dan pelayan barunya.
"Kebetulan bayi saya sedang tidur, kamu bisa istirahat di kamar belakang. Nanti Mbok Inah yang akan menunjukkan kamarmu," ucap Sabina dan itu membuat Ria sadar dari lamunannya.
"Oh iya, Bu." jawab Ria sembari tersenyum simpul.
Sabina kembali ke kamarnya untuk menemani bayinya yang tertidur, sedangkan Ria berjalan menuju kamar khusus pelayan yang ada di area halaman belakang rumah Sabina dengan menenteng sebuah tas travel yang berisikan segala kebutuhannya.
Ia mengedarkan pandangannya, memperhatikan rumah Sabina yang minimalis namun masih terlihat mewah.
***
Siang harinya Andre dan Alya pun menemui klien, namun kali ini ada yang berbeda karena Raka ikut serta.
Selama pertemuan Raka duduk manis di kursinya sembari menikmati semangkuk es krim yang Andre janjikan sebagai hadiah karena telah memberinya kesempatan untuk bisa merasakan menjadi seorang ayah.
Perasaan yang hampa dalam diri Andre sedikit terobati karena kejadian tadi, sungguh Andre merasa berterimakasih pada Raka.
"Terimakasih," ucap Alya ketika klien mereka telah pergi.
"hah ?" gumam Andre.
"Terima kasih karena telah bersedia membantu Raka dengan menjadi ayahnya hari ini." ucap Alya sungguh-sungguh.
"Oohh... tak apa-apa aku pun senang bisa melakukannya." jawab Andre tanpa kebohongan.
"Tak menyangka... Ternyata menjadi seorang ayah bisa sangat menyenangkan, pantas saja Gibran selalu terlihat senang di setiap pemberitaannya." lanjut Andre.
"Biarkan mereka bahagia." ucap Alya mengingatkan. Ia tak mau jika Andre yang kini menjadi temannya itu merusak rumah tangga Sabina yang ia yakin merupakan orang baik.
"Kamu jangan khawatir, aku sudah melepaskan Sabina walaupun ternyata terasa sakit. Aku juga udah minta maaf sama keduanya dan betul apa yang kamu ucapkan semuanya terasa ringan.
"syukurlah." timpal Alya singkat.
"Tapi... aku sedang dalam keadaan yang sangat hancur saat in." ucap Andre seraya menarik nafas dalam.
"Alya, bolehkah aku cerita ?"
"Sure, tentu saja." jawab Alya.
Andre terdiam sebentar meyakinkan dirinya sendiri sebelum ia mulai menceritakan deritanya.
to be continued ❤️
thank you for reading ❤️
Genkssss tenang ya jangan panik, kehadiran tokoh Ria memang bisa jadi ujian bagi Sabina dan Gibran tapi aku tak se drama ikan terbang. Aku menulis sesuai alur dan sebisa mungkin masih dalam batas wajar halunya alias masih masuk akal dan tidak lebay.
pertukaran bayi yang dulu kalian takutkan aja tak terjadi kan ? walaupun aku memang bukan penulis yang hebat tapi aku tak se drama itu 😔😔
Sebenarnya cerita dokter Gibran sudah selesai, tinggal menuntaskan cerita Andre tapi banyak yang request untuk terus memasukkan tokoh Gibran jadi aku bikin cerita tambahan lagi.
Mohon maaf jika ceritanya tak sesuai keinginan kalian, yang tak suka silakan di skip atau tinggalkan.
terimakasih udah mampir ya 🙏
Terimakasih banyak untuk para readers yang masih setia baca novel ini. Kalian luar biasa, aku pada kalian pokonya ♥️♥️♥️