
Sudah berlalu 4 hari dan Gibran benar-benar melakukan itu, ia tak lagi membuka praktik di klinik, yang ia lakukan adalah mengurusi dan menemani Sabina setiap harinya. Walaupun hubungannya dan Sabina belum kembali seperti semula, namun kini lebih baik dari sebelumnya.
Setiap hari sebisa mungkin mereka melakukan apapun bersama-sama. Walaupun belum sampai hubungan yang intim penuh gelora namun komunikasi keduanya mulai membaik.
Setiap paginya Gibran akan menemani Sabina berjalan kaki, Makan siang bersama dan Gibran yang memasaknya tentu saja. Entah kenapa tapi Sabina sangat menyukai apapun yang dimasak suaminya itu, ia akan makan dengan lahap dan Gibran sangat menyukai hal itu. Pada sore harinya mereka pergi jalan-jalan ke pusat perbelanjaan untuk menonton bioskop atau melakukan hal lainnya.
"Mau yang lainnya ?" tanya Gibran.
Saat ini keduanya sedang berada di supermarket untuk berbelanja karena nanti malam keluarga Sabina akan makan malam di rumah.
"Ini sudah terlalu banyak," ucap Sabina sembari menunjuk kereta dorong yang telah penuh dengan isinya.
" Tak apa, aku senang jika semua berkumpul. Jadi kita siapkan banyak makanan agar mereka betah di rumah kita." jawab Gibran.
Sabina tersenyum bahagia mendengar apa yang suaminya ucapkan
***
Sementara di tempat lain, di sebuah rumah sakit Amanda telah menjalani rawat inap selama 10 hari. Pendarahannya pun telah teratasi, rencananya hari ini ia telah di perbolehkan untuk pulang.
4 hari terakhir ini Rani yang merupakan Asisten Gibran sering datang lebih awal. Padahal biasanya pada pada jam ini Rani masih bekerja.
"Syukurlah hari ini anda sudah bisa meninggalkan rumah sakit. semoga kedepannya anda selalu sehat." ucap Rani dengan perasaan lega pada Amanda, dan membantunya berkemas untuk pulang.
"Rani, kenapa akhir-akhir ini kamu datang lebih awal ? apakah Gibran mempunyai asisten yang lain ?" tanya Amanda penuh rasa ingin tahu.
"dokter Gibran tidak praktek sejak 4 hari yang lalu. " jawab Rani.
"loh memangnya Apa yang terjadi?"
"mmm, katanya ia ingin fokus dalam menjaga istrinya."
"memang ada apa dengan istrinya?"
"Sepertinya kehamilannya bermasalah jadi dokter Gibran ingin menjaga istrinya hinga sehat."
"sampai kapan? "
"Entahlah, kata dokter Gibran mungkin beberapa hari saja atau bila diperlukan ia akan menutup kliniknya."
"Hah ?" tanya Amanda seraya memelototkan matanya tak percaya.
"Parah banget sakitnya Sabina ? terus bagaimana dengan para pasiennya ?"
"saya kurang tahu, tapi sebelumnya pak dokter dan istrinya bertengkar hebat di telepon tepat di hari anda memasuki rumah sakit ini. Setelah kejadian itu mood pak dokter berubah drastis dan tak lama ia pun memutuskan untuk menutup prakteknya." jawab Rani dan itu membuat Amanda terdiam seketika. Ia merasakan sesak di dalam dadanya.
"Ini semua karenamu , Manda." dalam hati Amanda menyalahkan dirinya sendiri. Rasa ngilu karena bersalah Amanda rasakan di dalam hatinya.
"Dan pasiennya masih saja banyak yang datang walaupun sudah diberitahukan jika dokter Gibran untuk sementara waktu tidak praktek dulu." lanjut Rani lagi tapi Amanda masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Apa kamu mendengarkan apa yang mereka bicarakan di telepon ?"
"Bagaimana ?" Rani berkerut alis tak paham.
"itu yang di bicarakan antara Gibran dan istrinya ?"
"Tidak," jawab Rani bohong dan sebenarnya ia pun kurang menyukai Amanda. Karena ia yakin Amanda ada sangkut pautnya dengan pertengkaran antara dokter Gibran dan istrinya.
"Oh ya satu lagi, pak dokter titip pesan agar anda tak datang lagi mencarinya apapun yang terjadi."
"Hah ?"
Apa yang Rani ucapkan merupakan sebuah tamparan bagi Amanda. Karena ulahnya, kini Gibran harus menutup tempat prakteknya.
"Wanita mana yang bisa terima jika suaminya mengurusi wanita lain apalagi jika wanita itu adalah bagian dari masa lalunya." batin Amanda dalam hatinya.
Gibran adalah lelaki yang sangat baik, ia adalah satu-satunya orang yang mau menolong Amanda dalam keadaan terburuknya namun kini pernikahan dan pekerjaan lelaki itu jadi terhambat karenanya. Rasa sesal merambati hati Amanda saat ini.
"Ingat, kamu harus masih berisitirahat total setelah keluar dari rumah sakit ini dan minumlah obatnya dengan teratur." ucap dokter Risa ketika ia menemui Amanda.
"Dokter Gibran sudah tak praktek lagi, jadi sebisa mungkin jagalah dirimu sendiri karena beliau katanya sudah lepas tangan dengan tanggung jawab padamu." lanjutnya lagi dan Amanda tersenyum masam mendengarnya. Kini semua orang tahu jika dirinya hanyalah beban bagi Gibran.
***
2 hari kemudian, seperti biasa Gibran tengah menemani Sabina makan siang. Ia banyak bercerita tentang prakteknya di rumah sakit dan seperti dahulu, Sabina mendengarkan dengan seksama.
Tiba-tiba ponsel yang berada dalam saku kemeja Gibran bergetar, ia mengeluarkan benda pipih itu dan tertera nomor telepon yang selama ini ia tunggu.
"Sebentar Bina, aku harus menerimanya." ucap Gibran seraya berdiri dan berjalan menjauhi.
"Selamat siang Pak Gibran Fahreza, cincin yang anda pesan telah siap untuk diambil begitu juga dengan tambahan sebuah kalung berlian yang anda pesan." ucap seorang wanita di ujung telepon dan wajah Gibran berbinar seketika.
"Ah syukurlah, saya sangat memerlukan itu semua untuk besok. Saya akan datang dalam waktu 2 jam." jawab Gibran dan ia pun menutup teleponnya.
Gibran kembali ke meja makan di mana Sabina menunggunya di sana.
"Bina, setelah makan siang aku harus pergi keluar sebentar karena ada suatu keperluan. Tak akan lama."
"Ya, tentu saja silahkan." jawab Sabina.
Istrinya itu kini tak lagi banyak bertanya, soal kegiatan Gibran. Walaupun Gibran mengerti jika Sabina tak ingin banyak berdebat tapi kadang ia merindukan perhatian Sabina seperti dulu, Gibran merindukan rasa posesif yang Sabina berikan padanya.
***
"Non, ada tamu. " ucap Mbok Inah pada Sabina yang kini tengah menyiram bunga di halaman belakang.
" Siapa ?" tanya Sabina terheran karena selama ini jarang sekali ia menerima tamu jika bukan kolega suaminya.
" Saya ndak tahu, Non. Tamunya seorang perempuan yang lagi hamil." jawab Mbok Inah dan membuat dada Sabina berdebar seketika.
Sabina menyimpan selang airnya dan berjalan memasuki rumah, menuju ruang tamu. Ia melirik jam di dinding menunjukkan pukul 5 sore dan Gibran belum pulang juga sejak siang.
Tepat seperti dugaannya, Amanda lah yang datang kerumahnya sore ini. Namun Sabina tercengang melihatnya, hampir saja ia tak mengenali mantan sahabatnya itu karena kini penampilannya yang lusuh sangat jauh berbeda dengan dulu. Kedatangan Amanda merupakan sebuah kejutan yang luar biasa bagi Sabina.
"Bina," sapa Amanda seraya berdiri. Dalam hatinya ia merasa begitu miris karena penampilan Sabina yang jauh lebih cantik dibandingkan dirinya yang tak terurus.
"Gibran sedang keluar, dan aku gak tau dia pergi kemana. Kamu bisa datang lagi nanti atau telepon dia ke ponselnya." Ucap Sabina tanpa basa-basi.
Amanda tersenyum maklum mendengar itu, ia sadar Sabina tak suka dengan kedatangannya. Dengan hati berdebar Amanda pun memberanikan diri untuk berbicara.
"Aku datang bukan karena ingin bertemu dengan Gibran, aku datang kemari untuk bertemu denganmu." Jawab Amanda tanpa ragu.
to be continued ❤️
terimakasih yang sudah baca, like, komen juga memberikan hadiah dan vote.
love u genks...
sampai ketemu Senin insyaallah 😚😚😚
hepi wiken ❤️