Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Setelah 1 Bulan Berlalu


Happy reading ❤️


"Amanda datang ke klinikku tadi siang. Dia sakit," ucap Gibran membuka ceritanya.


Dapat Gibran rasakan tubuh Sabina yang seketika menegang bahkan jemarinya berhenti bermain di atas dada suaminya yang terbalut kaos itu.


Gibran mengeratkan belitan tangannya, ia tak ingin Sabina menjauh apalagi terlepas dari dekapannya.


"Sayang... Tak terjadi apapun," kata Gibran menenangkan.


"aku meriksa dia aja di temenin Rani di dalam ruangan. Dan asal kamu tahu, pada awalnya aku sudah menolak tapi dia sedang hamil dan mengatakan padaku jika dia sudah berulang kali mencoba untuk melenyapkan anaknya sendiri. Seketika aku mengingat anak kita. Ia berhak untuk hidup, ia tak berdosa." Jelas Gibran dengan perlahan.


"Amanda hamil ? Aku gak tau kalau dia dan Andre ternyata sudah menikah. Tapi kenapa Amanda ingin melenyapkan anaknya sendiri ? Bukankah kehadiran anak adalah sebuah berkah ?," Tanya Sabina beruntun.


"Katanya ia dan dan Andre sudah berpisah. Andre tak mau mengakui anak yang Amanda kandung." Jawab Gibran.


"Kenapa Andre tidak mau mengakuinya ?  Tanya Sabina lagi.


"Mungkin Andre merasa anak yang Amanda kandung bukan miliknya. Lalu siapa ayah sebenarnya ?" Sabina menjawab pertanyaannya sendiri.


"Entahlah... Jujur, aku tak peduli dengan apa yang terjadi pada Amanda juga Andre yang aku pedulikan hanya bayi tak berdosa yang tengah di kandung Amanda." Jawab Gibran.


"Amanda sakit apa ?"


"Belum pasti ia mengidap penyakit apa karena harus melakukan pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu namun jika diagnosa aku tepat, apa yang Amanda idap akan sangat membahayakan bayi yang ia kandung." Jawab Gibran.


"Sekarang ia tinggal dimana ?" Tanya Sabina lagi.


"Gak tau. Sudah ku katakan Bina, aku tak peduli dengannya." Jawab Gibran seraya terus memberikan usapan di atas rambut Sabina yang panjang.


"Aku juga mentransfer sejumlah uang untuk membantu dia berobat penyakitnya. Semoga dengan itu Amanda tidak mendatangi aku lagi karena sudah ku katakan padanya untuk menemui dokter spesialis setelah hasil laboratorium nya keluar."


"Kamu masih menyimpan nomor rekeningnya ?" Tanya Sabina, ia tak tertarik dengan apa yang Gibran ucapkan selain tentang kenyataan bahwa Gibran mengirimkan Amanda sejumlah uang.


Bukan karena masalah jumlah uangnya namun kenyataan Gibran masih menyimpan nama Amanda dalam daftar transfernya membuat Sabina sedikit cemburu.


"Nama itu ada dalam daftar nama m-banking aku, Bina. Dan sumpah demi Tuhan baru kali ini aku melakukanya dan tak akan pernah lagi." Jawab Gibran meyakinkan.


"Kamu boleh periksa semua mutasi rekening aku setiap harinya." Lanjut Gibran, ia merasa cemas karena raut wajah Sabina berubah dingin.


"Tak perlu," jawab Sabina singkat.


"Bina, aku mohon percayalah...,"


"Aku percaya padamu... Aku letakkan seluruh rasa percayaku padamu Gibran. Namun jika sekali saja kamu merusaknya jangan harap aku bisa mempercayaimu lagi." Ucap Sabina memotong pembicaraan suaminya.


"Tentu saja Sayang," jawab Gibran dan ia pun mencium puncak kepala Sabina dengan gemas.


"Mau kemana ?" Tanya Gibran karena Sabina mulai  melepaskan diri dari pelukannya.


"Aku ingin ke toilet," jawab Sabina beralasan dan dengan berat hati Gibran pun menguraikan pelukaannya.


Sabina turun dari ranjang, dan bergegas menuju kamar mandi yang letaknya masih di dalam kamar mereka. Gibran tak melepaskan pandangannya dari istri yang sedari tadi memeluknya erat.


Sabina membasuh muka, agar air bening yang jatuh di pipinya tak terlihat lagi.


Ya Sabina langsung menangis begitu ia memasuki toilet. Gibran sudah bicara jujur padanya, tapi hatinya masih saja merasa cemburu.


Yang ia takutkan ternyata terjadi, wanita dari masa lalu Gibran datang lagi mendekati suaminya dan Sabina sungguh takut jika kehilangan Gibran.


Rasa cinta yang ia rasakan pada Gibran begitu dalam, lelaki yang menjadi suaminya selama beberapa bulan ini mampu menyembuhkan luka dan membuatnya jatuh cinta begitu dalam padanya. Padahal ketika Andre meninggalkan ia untuk wanita lain, Sabina tak ingin jatuh cinta pada lelaki lain. Tapi Gibran mampu merubah itu semua.


"Wanita mana yang akan tenang bila mantan kekasih suaminya hadir kembali dalam hidupnya." Isak Sabina sembari mengusap air matanya.


"Ya Tuhan... Salahkah jika aku ingin Gibran hanya peduli padaku saja? Egois kah aku jika menginginkan Gibran hanya untukku saja ? Aku tak ingin ia peduli pada wanita manapun selain aku, apapun alasannya." Lirih Sabina seraya memandangi pantulan dirinya di dalam cermin.


"Berpikir positif Bina, Gibran sudah bicara jujur padamu, maka percayalah padanya."ucap Sabina dengan menghela nafasnya pelan.


Sabina kembali membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar, menyembunyikan rasa gundah yang kini melanda hatinya. Setelah merasa lebih tenang, Sabina keluar dari kamar mandi dan ternyata Gibran sudah berdiri di ambang pintu, ia menyenderkan tubuhnya dan menunggu Sabina di sana.


"Mau masuk ?" Tanya Sabina dengan sedikit terkejut.


"Nggak, aku lagi nunggu kamu." Jawab Gibran seraya memangku tubuh Sabina ala pengantin membuat istrinya itu memekik ketika tubuhnya terasa melayang di udara.


"Ayo tidur," ucap Gibran lirih ketika ia membaringkan Sabina di tengah ranjang dan membawanya dalam pelukan.


Sesungguhnya Gibran sangat menginginkan Sabina malam ini namun ia tahu hati istrinya tidak baik-baik saja, jadi ia memilih untuk memberikan kenyamanan agar Sabina dapat lebih tenang.


"Aku sangat mencintaimu Bina, kamu lah satu-satunya wanita untukku tak akan pernah ada yang lain." Lirih Gibran di puncak kepala Sabina, membuat Sabina semakin menelusupkan kepalanya dengan air bening yang kembali membasahi pipinya.


Sabina menangis juga tersenyum di saat bersamaan. Perkataan Gibran membuatnya merasa lebih tenang dari sebelumnya.


***


Sudah 1 bulan berlalu. Andre dan rekan kerja barunya mulai bisa sejalan. Meksipun ia seorang perempuan namun Andre tak menyangka jika Alya yang pendiam ternyata seorang pekerja keras. Ia tak banyak bicara ataupun mengeluh selama bekerja. Alya akan menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dengan hasil yang cukup memuaskan.


Siang ini keduanya hendak bertemu dengan calon klien lainnya, namun tak seperti biasanya hari ini Alya sedikit kurang berkonsentrasi dan Andre sadar akan hal itu.


"Kamu kenapa ?" Tanya Andre.


"Kamu mikirin apa ?" Tanya Andre lagi sembari menolehkan kepalanya. Saat ini Andre duduk bangku depan tepat sebelah sang supir. Sedangkan Alya duduk di bangku penumpang sembari melamun.


"Gak pa-pa," jawab Alya berbohong.


"Kamu gak jago bohong kayanya," kekeh Andre.


Alya berkerut alis tak paham.


"Kamu bilang gak apa-apa tapi matamu gak bilang seperti itu. Aku ini ahli dalam menganalisis raut wajah perempuan." Jelas Andre. Ya tentu saja dengan banyaknya koleksi wanita yang Andre miliki, sedikit banyak ia bisa mengerti bahasa tubuh wanita.


"Raka sakit," jawab Alya pada akhirnya. Wajahnya berubah sendu.


"Anakmu ?" Tanya Andre.


"Iya,"


"Sekarang bagaimana keadaannya ?" Tanya Andre lagi.


"Tadi pagi masih demam ketika aku tinggal kerja." Jawab Alya.


"Udah di bawa ke dokter ?" Tanya Andre dan Alya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kenapa ?"  Tanya Andre lagi.


"Karena kita lagi banyak deadline pekerjaan, lagian udah aku kasih obat untuk sementara waktu. Hanya saja sebagai ibu aku tak bisa untuk tidak memikirkannya." Jawab Alya.


"Minta suami kamu aja dulu buat bawa ke dokter,"


"Gak bisa," jawab Alya.


"Lah kenapa ?" Tanya Andre terheran.


"Yah gak bisa lah, masa aku harus gali kuburnya." Jawab Alya terkekeh.


"Oh sorry," Andre meras tak enak hati karena telah bertanya.


"Its ok gak pa-pa. Udah lama kok jadi aku udah biasa aja."


"Ya udah nanti habis ketemu calon klien, aku temenin kamu bawa anakmu ke dokter. Ada dokter umum yang bagus di rumah sakit x, dia temen aku jadi kita gak usah nunggu giliran panggil." Ucap Andre tanpa sadar.


"Gak usah Pak, saya gak mau repotin. Malu juga sama teman Bapak."


"Ah...," Andre sadar akan sesuatu.


"Sorry, gak bisa ajak ke dia. Kita ke dokter anak aja." Andre beralasan.


"Gak usah di antar Pak, hanya saja saya minta izin untuk pulang lebih awal hari ini."


"Gak apa-apa, saya juga gak ada kerjaan lagi setelah ini." Andre bersikukuh. Dan Alya yang mengetahui kedudukan Andre sebenarnya hanya bisa menerimanya pasrah.


Waktu terus berlalu hingga sore pun hampir tiba.


Andre memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah rumah kontrakan yang sederhana milik Alya.


Wanita yang dari tadi duduk di sebelahnya segera turun dari mobil tanpa menunggunya terlebih dahulu. Belum juga Alya  sampai di teras rumah,  seorang wanita yang menggendong seorang anak berusia 4 tahun dengan sebuah plester penurun panas muncul dari balik pintu.


Alya segera meraih anaknya dalam dekapan dan memberikan banyak ciuman di wajahnya. Andre tertegun untuk sesaat, melihat seorang Alya yang pekerja keras namun juga seorang ibu yang tangguh. Rasa kagum muncul dalam hatinya.


***


Sudah 1 bulan berlalu sejak kedatangan Amanda ke kliniknya dan beruntung bagi Gibran wanita itu tak pernah muncul lagi.


Gibran menjalani hidupnya dengan tenang, hubungan dengan Sabina pun semakin mesra. Ia benar-benar menikmati hubungan pernikahan yang penuh cinta, terlebih lagi kehamilan Sabina membuat hubungan mereka kian erat saja.


Sedari tadi ia terus melihat jam yang membelit pergelangan tangannya, sebentar lagi sudah jam waktu pulang dan malam ini ia akan mengajak Sabina untuk makan malam romantis di restoran pavorit mereka berdua.


"Ran, sudah tak ada pasien lagi kan ?" Tanya Gibran seraya membenahi meja kerjanya sebelum ia tinggalkan untuk pulang.


"Mmm, anu dok." Jawab Rani takut-takut. Kini ia berdiri di ambang pintu dengan seorang wanita yang Gibran kenal berdiri tepat di belakangnya.


Tatapan mata dingin Gibran layangkan pada keduanya, membuat suasana menjadi canggung seketika.


"Gibran, tolong aku...," Ucap Amanda terisak. Ia menerobos Rani yang menghalanginya.


"Waktu praktekku sudah habis, silakan menemui dokter umum yang lain." Jawab Gibran masih dengan tatapan matanya yang tajam juga dingin menandakan ia tak senang dengan kedatangan Amanda saat ini.


Dengan air mata berhamburan Amanda menyerahkan sebuah kertas yang berisikan hasil pemeriksaan laboratorium yang beberapa hari lalu ia lakukan.


"Ku mohon Gibran...," lirih Amanda diantara isakkan tangisnya.


Meski enggan, akhirnya Gibran meraih kertas itu dan membacanya dengan seksama. Dan tepat seperti dugaannya Amanda mengidap suatu penyakit yang cukup berbahaya.


To be continued ❤️


Terimakasih banyak yang sudah baca, like, komen dan memberikan hadiah juga vote ❤️❤️❤️❤️❤️


Sampai ketemu Senin insyaallah 😚😚😚