Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
62....


Alfino menggenggam erat tangan Alika, membantunya melakukan perjuangan yang luar biasa untuk menjadi seorang ibu.


" Ayo, Al.. kamu pasti bisa, bismillah.... ucapnya.


sementara beberapa dokter yang mulai menangani proses persalinan mulai khawatir.


" nyonya ayo nyonya, tarik nafas....ayo... lagi...


kata kata penyemangat terdengar di telinga Alika dari mereka yang hadir.


" Al... gimana kalo aku gak bisa ngerawat anak aku Al, tangis Alika pecah.


" alika... engga, kamu jangan mikir aneh aneh ya, ayo semangat, kata Alfino.


" kalo nanti anakku lahir dan aku gak bisa melihat mereka, tolong jangan katakan pada mereka tentang yang jelek tentang ayahnya, kata Alika menangis.


Alfino menggerakkan kepalanya saat mendengar kata kata yang keluar dari mulut alika begitu sangat mengiris hatinya.


" tidak Al... kamu pasti bisa,ucap Alfino.


" dokter, jika dia tidak sanggup normal ! jangan di paksa dok, lakukan yang terbaik untuk dia dok, gertak alfino.


" tidak Al, jangan..aku kuat ,jawab Alika lemah.


******


beberapa jam kemudian bayi perempuan lahir, namun kemudian bayi laki laki menyusul.


sangat luar biasa kekuasaan allah, ia melahirkan dua anak di hari yang sama hanya selang beberapa menit.


kondisi Alika semakin lemah, bahkan ia harus melakukan perawatan yang cukup serius.


" pasien pendarahan sangat hebat, dia banyak kekurangan darah, sementara stok darah di rumah sakit tidak ada, ucap dokter kepada Alfino.


" lakukan yang terbaik dok, saya akan lakukan apapun untuk Alika dok, yang penting Alika selamat dok, bantu saya dok, Alfino memohon.


" dokter bisa chek darah saya dok, kata Alfino lagi.


"baiklah, akan saya chek, mari keruangan. ajak dokter.


Setelah berhasil mengambil darah Alfino dan melakukan pengecekan dokterpun dengan menyesal mengatakan bahwa golongan darahnya tidak cocok dengan Alika.


" maaf tuan, golongan darah tuan tidak cocok dengan nyonya, golongan darah nyonya memang sangat langka AB negatif, kata dokter.


" engga dok, pasti kita bisa menemukannya dok. kata Alfino prustasi.


****


Alfino menyewa banyak orang agar mencari golongan darah yang sama namun hasilnya nihil, tak ada yang memiliki golongan darah yang Alika butuhkan.


wajahnya pucat, hatinya sakit melihat wanita disana terhalang kaca sedang terbaring lemah.


" Alika, mau kau kasih siapa namanya al?


anakmu sangat tampan dan cantik Al, tolong bertahanlah demi mereka Al, aku mohon, seorang Alfino mengeluarkan air mata.


tangan yang sudah keriput dengan pelan menepuknya.


"sabar dan ikhtiar den, insyaallah ndok pasti selamat ,kata kakek ramlan.


" iya den..nenek sedih melihat keadaan cucu nenek seperti itu, tapi apa yang bisa nenek lakukan selain berdoa, kata nenek lemah.


****


" halo bi, ? kata Alfino matanya masih menatap Alika.


" iya nak Al, kata bu tety.


" Alika sudah melahirkan anak kembar bi, cantik dan tampan, kata Alfino.


" alhamdulillah ya allah... akhirnya, bibi sangat senang mendengarnya nak, semoga disana baik baik aja nak, kata bu tety.


" oh iya, mana Alikanya bibi mau ngomong? bibi kangen sama dia. kata bu tety.


Alfino terdiam sejenak, menarik nafas pelan sebelum akhirnya mengatakan kebenaran.


" Alika pendarahan hebat bi, keadaannya saat ini kritis bi, Saya tidak tahu caranya mendapatkan darah untuk Alika,ucap Alfino.


" ya allah..... selamatkan anak ku ya allah.


pahhh....... teriak bu tety disana memanggil Pak Adi.


ia tampak terpukul mendengar berita tersebut kemudian mereka tak menunggu lama untuk berangkat kesurabaya.


*****


" menantu ku melahirkan dan kembar?


ya allah.... suatu kebahagiaan besar, artinya aku sudah menjadi nenek sekarang, bu Risma girang.


Bu Risma pun memanggil pak Anton untuk berbicara dengan bu tery.


" sekarang kalian di mana? apakah kami bisa mengunjungi cucu kami, tanya pak Anton.


" tentu saja, saat ini menantumu butuh kalian, disisa umurnya, kata bu tety menangis.


" apa maksudnya? kata pak anton tersentak.


" Alika pendarahan hebat tuan, jika besok dia tidak menerima donor darah, mungkin ia tidak bisa diselamatkan, kata bu tety terdengar terisak disana.


" tidak akan terjadi apa apa pada menantuku, kami akan segera menyusul kesana.kata pak Anton menutup ponselnya.


*****


" apa kita perlu memberi tahu Marfin yah? tanya bu Risma.


" bagaimanapun Marfin ayah dari anak Alika bu. kata Pak Anton.


*****


Bu Risma berjalan menuju gagang pintu dan membukanya perlahan. sementara Rasti menyapanya ramah, ia sedang menyuapi Rachel.


"mengapa ada anak kecil disini, apakah dia anakmu? tanya Bu Risma.


" tidak nyonya... ini, tuan yang bawa. kata Rasti dengan polosnya.


" apa maksudmu tuan yang bawa, dimana dia sekarang? tanya Bu Risma.


Rastipun menunjukkan tempat dimana majikannya sedang bersantai sambil bermain game kesukaannya.


bu Risma berdiri di depan pintu, melihat wajah puteranya yang sibuk dengan gamenya.


" hem... bu Risma berdehem kemudian menghampiri anaknya.


" sudah pulang? tanyanya.


" ada apa? mengapa kemari? tanya Marfin yang masih sibuk.


" anak siapa yang diurus sama asisiten rumah tangga itu, tanya bu Risma.


" bukan urusan ibu, jawabnya mengambil mengambil jaket kemudian melewati bu Risma.


" Dengar ibu nak, bu Risma mencegah.


Marfin melirik tajam pada tangan yang menyentuhnya.


" ibu.... sebesar inikah salahku bu, sampai kau menghukumku selama ini,batin Marfin.


" katakan pada ibu siapa anak itu? apa dia anakmu dari perempuan itu, tanya bu Risma.


" apa kau tidak perduli pada Alika?


" ibu, sudahlah, lagi pula dia bukan anakku, benar dia anak wanita itu, wanita yang kalian sebut pelakor! aku membawanya kemari. kata Marfin tegas.


" ibu, aku lelah mencari Alika bu, bahkan ibuku sendiripun berusaha menutupinya dariku, apa yang harus aku lakukan?


katakan padaku bu,bagaimana cara menebus salahku bu? kata marfin.


" ya kamu harus jadi suami yang baik untuk istri kamu ! kata bu Risma dengan nada tinggi.


" bagaimana caranya bu, pernikahan kami baru seumur jagung lantas dia pergi begitu saja, kata Marfin sambil melangkah kembali melewati ibunya.


" Marfin ! ibu belum selesai ngomong ! teriak bu Risma.


" engga perlu bu, udah cukup ! kata Marfin sambil melambaikan tangannya keluar melangkah cepat menuju mobilnya.


Marfin melaju begitu saja, bu Risma melupakan kedatangannya kepada Marfin untuk memberi tahu keadaan istrinya.


namun keduanya di pertemukan oleh ego masing masing hingga memicu pertengkaran dan salah satunya memilih pergi.


*****


Alfino duduk terdiam menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, sementara di hadapannya seorang wanita terbaring tak berdaya.


" Alika bangun, lihat anakmu yang membutuhkanmu ? ucapnya berlinangan air mata.


" Al... apa kau ingin bertemu dengan suamimu, apa kau sedih karna melahirkan tidak di dampingi suamimu ? al...katakan padaku, aku akan turuti semua maumu.


Alfino merogoh saku celananya.


" Halo... cepat umumkan di semua media, bahwa aku membutuhkan donor darah bergolongan Ab negatif, jika ada yang bersedia membantuku, aku akan membantunya pula dengan nilai berapapun yang ia minta, perintah Alfino kepada seseorang disana.


*****


dengan wajah yang penuh dengan ke khawatiran mereka berlarian menuju loby.


" pasien atas nama Alika di rawat di mana ya sus? tanya wanita parubaya.


" di ruang vip nomor 13 buk, jawabnya setelah mengecek daftar.


dengan cepat mereka menuju keruangan yang di maksud.


" maaf bu, ibu tidak boleh masuk. hanya satu orang saja yang boleh masuk, didalam masih ada orang, kata suster yang keluar dari ruangan dengan obat obatan di bawanya di nampan.


" saya bibinya dok, didalam ada siapa? tanya bu tety.


perawat menutup pintu ruangan sebentar dan menghampiri alfino.


"tuan, di depan ada keluarga nyonya Alika ingin bertemu, mohon maaf demi menjaga kondisi pasien kami hanya memperbolehkan satu orang saja yang masuk, kata perawat menjelaskan.


sejenak Alfino berfikir, siapa yang datang ?


suaminya kah? atau keluarga suaminya?


ia kemudian berdiri dan mendekati gagang pintu.


****


mereka sedang berbincang dengan kakek Ramlan dan nenek sumiati,


" nak Alfin, bagaimana Alika nak, tanya bu tety penuh ke khawatiran.


" kita semua berusaha yang terbaik bi, jawab Alfino lemas sembari dengan pelan menutup pintu.


" kapan tiba bibi, paman? bagaimana keadaan kalian? tanya Alfino.


" keadaan kami tidak baik semenjak mendengar tentang Alika, kata Bu tety merengek kepada pak Adi.


pak Adi mencoba menenangkan istrinya, meminjamkan bahunya untuk bersandar sebelum alfino meminta bu tety menemui Alika.


"bi ayo masuk, doakan terus saja Alika bi, kata Alfino mengusap pelan punggung wanita parubaya itu.


"kumohon tuhan,aku Masih ingin melihatnya tersenyum bahagia ,meski bukan aku nantinya yang akan menjadi alasan kebahagiaannya, Alfino duduk kemudian menutup matanya dan membukanya kembali perlahan.