
Happy reading ❤️
Lampunya berkedip, dan tertera nama 'My Lovely Wife ❤️' di layar ponselnya.
Senyum seringai menghiasi wajah Amanda saat ini.
"Kamu ngapain di sini ?"
Pertanyaan Gibran menyadarkan Amanda dari segala pikirannya. Dering suara ponsel pun telah berhenti tak terdengar lagi. Ia pun segera memutar tubuhnya ke arah suara. Kini Amanda dan Gibran berdiri saling berhadapan.
"Aku sangat merindukan rumah ini." Jawab Amanda cepat. Ia tak ingin Gibran tahu bahwa tadi dirinya hendak mengangkat panggilan di ponsel milik Gibran.
"Ingatkah Gibran, dulu aku tertidur di atas sofa itu karena terlalu lama menunggu kamu yang lagi kerja." Lanjut Amanda seraya menunjuk sofa besar berwarna coklat tua yang berada tak jauh darinya.
Gibran mengikuti arah telunjuk Amanda dan seketika pun ia teringat bagaimana Amanda tertidur pulas dengan lengan sebagai bantalannya rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajah cantiknya. Waktu itu ia pandangi wajah Amanda cukup lama, menikmati wajah cantik dari seorang wanita yang Gibran puja.
"Dan kamu membangunkan aku dengan ciumanmu. Kita akan berpelukan dengan lama setelah aku bangun. Lalu aku akan membuatkan kamu kopi panas sebelum kita kembali ke kota." Ucap Amanda mengingat kenangannya bersama Gibran.
Begitu pun Gibran, ia kembali tenggelam pada kenangan masa lalunya.
"Aku juga sangat rindu menemani kamu membaca buku di apartemen dan aku memasakkan makanan pavorit mu di dapur. Lalu aku akan menyuapi kamu makan karena kamu terlalu fokus pada buku-bukumu." Lanjut Amanda seraya tersenyum samar
"Semuanya sudah berlalu," ucap Gibran dengan nada suara dingin seperti biasanya.
Amanda terpaku untuk sesaat, matanya menatap sayu pada lelaki yang dahulu kala sangat memuja juga mencintainya.
"Meksipun telah berlalu, namun hanya kamu yang selalu aku cinta. Apakah tak ada satupun dari kenangan kita yang berarti bagimu ?" Lirih Amanda seraya menundukkan kepala dan mulai meneteskan air bening di pipinya.
"Cukup, Manda !" Geram Gibran.
"Izinkan aku berbicara sekali ini saja," ucap Amanda terisak.
"Tahukah kamu, Gibran ? Aku selalu mencintai kamu hingga saat ini. Walaupun aku telah bersama lelaki yang lain tapi kamu yang selalu aku pikirkan jika sedang bersama mereka. Gila bukan ?" Tanya Amanda seraya tertawa dan menangis di saat bersamaan dan Gibran masih diam memperhatikan.
"Aku memang bukan wanita baik-baik, tapi aku sadar siapa lelaki yang aku cintai sepenuh hati." Amanda mengangkat wajahnya dan menatap mata Gibran penuh arti.
"Jika kamu mencintaiku tak mungkin kamu ninggalin aku, Manda." Potong Gibran cepat dan tersenyum muak.
"Ya, aku bodoh... Meninggalkan cinta pertama dan terakhirku demi lelaki yang pandai merayu." Kata Amanda dengan wajah sayu.
"Pergilah Manda, tak ada yang harus kita bicarakan lagi."
"Lihatlah Gibran, di saat terburuk pun aku hanya datang padamu karena kamu lah tempat aku pulang. Walaupun aku tahu sudah tak ada tempat lagi di hatimu untuk aku tinggali. Sadarkah Gibran, aku ini sangat cinta kamu. Sangat membutuhkan kamu. Hingga ku buang semua rasa malu hanya untuk bisa dekat denganmu."
"Stop, Manda ! Berhentilah...,"
"Tak bisa, aku tak bisa berhenti mencintai kamu. Aku cemburu melihat kamu bahagia dengan Sabina. Hatiku menangis melihat kalian, hatiku berharap aku lah yang menciptakan binar bahagia di wajahmu bukan dia." Tangis Amanda semakin menjadi ketika mengatakan itu sedangkan Gibran terdiam terpaku.
"Jadi tolong jangan bilang padaku untuk berhenti mencintai kamu. Karena aku tak akan mampu. Aku akui aku sangat salah, aku mohon pengampunan darimu. Tapi ku mohon Gibran... Jangan kamu biarkan aku sendirian melalui semua ini. Aku berjanji akan pergi dari hidupmu selamanya setelah bayiku lahir, tapi sebelum itu terjadi ku mohon izinkan aku berada di dekatmu sebentar lagi. Kamu tak usah membalas perasaanku, karena aku tahu cintamu telah menjadi milik Sabina seutuhnya dan aku sadar itu. Aku hanya ingin dekat denganmu sebagai teman pun tak apa. Akan aku terima segala cacian darimu, aku tak perduli."
"Maaf, aku tak bisa." Jawab Gibran. Seketika saja bayangan masa lalunya dengan Amanda menari-nari di dalam benaknya namun bayangan wajah Sabina melenyapkan semuanya.
"Aku tak akan menggoda kamu, karena kamu sendiri sangat tahu tentang penyakitku yang sangat menjijikan ini. Aku yakin kamu sudah tak ingin denganku. tapi saat ini aku sangat membutuhkanmu Gibran. Jadi ku mohon jangan jauhi aku.... please..." Amanda kembali memohon sembari mengatupkan kedua tangannya.
Belum juga Gibran menjawab, ponsel yang ia letakkan di atas meja kembali berkedip dan berbunyi. Baik Gibran maupun Amanda tahu siapa yang melakukan panggilan itu.
Dengan pandangan mata yang tak teralihkan dari Amanda, Gibran meraih ponselnya dan menekan tombol hijau pada layar.
"Mmm.. ya.. kenapa, Sayang ?" Tanya Gibran dengan matanya yang masih menatap Amanda dengan tajam. Pandangan mereka bertemu dan saling terkunci.
Tanpa Gibran sangka Amanda berjalan mendekat dan menjinjitkan kakinya.
'Cup !' Amanda mengecup pipi Gibran dan membelai lembut pipi lelaki itu seraya tersenyum.
"Aku pulang," bisik Amanda tepat di telinga Gibran membuat lelaki itu diam seketika. Ia tak lagi berkonsentrasi pada Sabina yang sedang bicara di telepon.
Sedangkan Amanda berjalan pergi meninggalkan Gibran di dalam rumah itu sendirian.
"Sayang ?" Tanya Sabina.
"Sayang, kamu dengerin aku kan ?" Tanya Sabina lagi Karena Gibran tak jua menjawab.
"Eehhh mmm, Ya Bina... Maaf bisa kamu ulangi perkataanmu ? Sinyal buruk di sini." Jawab Gibran bohong dan di seberang sana Sabina terdiam untuk sesaat. Perasaannya mengatakan jika suaminya kembali menyembunyikan sesuatu.
***
Amanda menangis tersedu di atas tempat tidurnya. Sumpah demi apapun apa yang ia katakan pada Gibran memang benar adanya. Ia memang bukan wanita baik-baik, namun perasaan cinta pada Gibran sangatlah nyata. Dari dahulu ia mencintai lelaki itu dari hatinya meskipun setahu Amanda Gibran bukan pria kaya seperti sekarang ini.
"Manda bodoh !!! Coba kamu tetap bertahan dengannya, tak hanya harta tapi juga cinta yang akan kamu dapatkan." Lirih Amanda diantara isakkan tangisnya. Bantal menjadi sasaran pukulan tangan Amanda saat ini.
Bisa Amanda rasakan bagaimana Gibran begitu terkesiap ketika ia melabuhkan bibirnya di pipi lelaki itu dan tatapan mata Gibran yang tajam seperti mengulitinya hidup-hidup. Amanda sadar, bahasa tubuh Gibran saja sudah sangat menolaknya. Tangis Amanda kembali pecah.
"Maaf sayang, maaf... Aku gak bisa lepasin kamu." Lirihnya lagi.
"Beri aku kesempatan untuk dekat dengannya lagi ya Tuhan, meksipun hanya sebentar," lirih Amanda frustasi.
***
Semua terjadi begitu cepat. Gibran tak menyangka jika Amanda akan berani mencuri sebuah kecupan dari pipinya. Dan pernyataan cinta wanita yang dulu pernah Gibran puja itu terus terngiang di telinganya.
"Aku memang bukan wanita baik-baik, tapi aku sadar siapa lelaki yang aku cintai sepenuh hati. Jadi tolong jangan bilang padaku untuk berhenti mencintai kamu. Karena aku tak akan mampu. Aku akui aku sangat salah, ku mohon Gibran... Jangan kamu biarkan aku sendirian melalui ini. Aku ingin dekat denganmu sebagai temanmu pun tak masalah. aku sangat membutuhkanmu, Gibran."
"Siallan, Manda !" Maki Gibran.
Ia sangat membenci Amanda karena telah meninggalkannya. Namun, ketika dengan wanita yang kini sedang dalam keadaan rapuh itu Gibran merasa sangat dibutuhkan. Sebagai laki-laki ada dalam hati Gibran yang merasa senang jika ia dibutuhkan.
Sedangkan kini hubungannya dengan Sabina meskipun terlihat baik-baik saja namun sebenarnya hubungan mereka naik turun.
Sabina lebih banyak mendiamkannya menjadikan Gibran merasa jika Sabina tidak lagi membutuhkannya. Bukankah seorang wanita yang sedang hamil selalu menginginkan ini dan itu? Tapi tidak dengan Sabina, terlalu banyak orang yang peduli dengannya hingga ia tak memerlukan bantuan Gibran untuk memenuhi segala permintaannya.
Bahkan Gibran tahu jika Sabina tak menyentuh buah mangga yang ia ambil sendiri dari atas pohon itu. Rasa kecewa merambat dalam hati Gibran ketika mengingat hal itu.
Hanya kejutan baby shower yang membuat Sabina sedikit mencair. Gibran bisa merasakan perhatian Sabina lagi padanya setelah acara itu.
"Semoga kamu tetap seperti Bina, karena aku sangat kesepian. Aku merasa sendiri dan aku tak suka itu."
To be continued ❤️
Thank you for reading 😘
maaf masih slow update yaa ...