
Happy reading ❤️
"Apa salah kalau gue sayang Raka ?" tanya Andre mulai terpancing emosi.
Alya pun menggelengkan kepalanya.
"Apa salah juga kalau aku punya rasa sama kamu?"
Alya tertawa hambar seraya menggelengkan kepala, "Candaan mu gak lucu." ucap Alya pelan dan Andre tercengang tak percaya.
" Apa yang aku ucapkan sungguh-sungguh, bagaimana jika aku mempunyai perasaan lebih padamu ?"
Alya menatap wajah lelaki di hadapannya, ia pun tersenyum tanpa bisa Andre artikan.
"Apa karena masa laluku ? apa karena penyakitku ?" seperti yang kamu tahu, aku sudah berubah dan penyakitku pun sudah sembuh total." jelas Andre dengan wajahnya yang berubah sendu.
"Dan kamu pun pernah mengatakan jika ini adalah kesempatan kedua yang diberikan Tuhan padaku. Maka, bolehkah aku menghabiskannya denganmu ?"
"Lihatlah aku, Andre." Jawab Alya dengan wajahnya yang memelas.
"Aku bukanlah dari kalangan mu. Status sosial kita begitu jauh berbeda dan jangan lupa aku juga telah memiliki anak. Aku yakin keluargamu akan menolak kehadiranku. Jadi kurasa inilah yang paling benar untuk kita berdua. Hanya sebatas teman, sebatas antara atasan dan anak buahnya." jelas Alya dan Andre mendengarkan dengan seksama.
"Bagaimana jika aku berjuang untuk kita ?" tanya Andre.
Alya tetap menggelengkan kepalanya sebagai penolakan.
"Bagaimana jika untuk Raka ? Kurasa Raka membutuhkan figur seorang ayah." tanya Andre seraya menatap anak lelaki di hadapannya.
Seketika wajah Alya berubah menegang dan ia pun memandangi anaknya yang kini tengah asik bermain dengan mainan barunya. Andre tersenyum samar, kini ia tahu kelemahan wanita yang selama ini dianggapnya kuat.
"Bagaimana jika kita bersama untuk Raka ? Aku menyayanginya, sungguh. Aku rasa dia pun menyukaiku. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hidup denganmu, dengan Raka. Aku akan menyayangi kalian dengan sepenuh hati. Aku akan belajar menjadi ayah yang baik bagi Raka."
"A... ayah ?" potong Alya terbata. Ia pun memalingkan wajahnya dan menatap Andre tak percaya.
"Ya tentu saja, aku gak mau hubungan yang tak ada tujuannya. Aku menyukaimu bukan untuk bersenang-senang." jawab Andre tanpa ragu.
"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan ?"
tanya Alya penuh selidik.
"Aku tak pernah merasa se-yakin ini dalam hidupku."
"Entahlah.. A... aku...," Alya menelan salivanya yang terasa kelat. Apa yang baru saja Andre utarakan terlalu mengejutkan hatinya.
Andre sadar jika Alya masih belum bisa menerima perasaannya, namun kali ini ia akan bersabar untuk menanti jawaban dari wanita yang telah mencuri hati dan pikirannya itu.
"Pikirkanlah dulu, jangan kamu putuskan sekarang namun yang pasti aku akan menunggu jawabanmu dan aku harap kamu memberikan jawaban yang sesuai dengan apa yang aku inginkan." Ucap Andre seraya membawa jemari Alya dalam genggamannya.
Alya kembali menelan salivanya karena rasa gugup yang meliputi dirinya. Namun tak hanya rasa gugup saja yang ia rasakan saat ini. Hatinya berdebar lebih kencang ketika Andre menyentuh tangannya, ini pertama kali ia bersentuhan dengan lelaki lain semenjak suaminya meninggal. Dengan perasaan canggung ia pun segera melepaskan genggaman tangan Andre pada jemarinya.
"Ma..maaf," ucap Alya.
"Its oke, harusnya aku yang minta maaf karena telah lancang menyentuhmu." jawab Andre seraya tersenyum malu.
Tak lama makanan yang mereka pesan pun telah datang dan dihidangkan di atas meja. Alya mulai sibuk melayani anaknya, sebelum ia menikmati makan malamnya sendiri. Apa yang Alya lakukan tentu saja menarik perhatian Andre yang duduk di di hadapannya saat ini.
***
Malam telah larut ketika Andre tiba di rumahnya. Ia tak menyangka jika ayah dan ibunya duduk berdua di ruang tamu menunggu kedatangannya.
Wajah ibunya terlihat dingin, begitu pun sang ayah. Andre yakin dirinya akan mendapatkan omelan lagi.
"Bagus sekali Andre ! Apa kamu bersenang-senang lagi di luar sana hingga pulang se-larut ini ? Apa kamu tak bisa seperti adikmu yang patuh pada kami ?" Tanya ayah Andre sembari berdiri dan suaranya yang nyaring terdengar menggema.
Andre menghentikan langkah dan membalikkan tubuhnya. Ia memutar bola matanya malas karena untuk kesekian kalinya dibandingkan dengan sang adik yang telah tinggal di rumah mereka sejak 2 Minggu lalu.
"Pergi kemana kamu ? pergi sama bawahan kamu yang janda itu ? ke hotel mana kamu bawa dia ?" tanya ibunya penuh sindiran.
"Mama !! jangan pernah berkata seperti itu tentang Alya !!" jawab Andre dengan suara meninggi.
"Kamu pikir, kita gak tahu ? Kita tahu jika beberapa Minggu terakhir ini kamu dan bawahan kamu itu selalu datang terlambat ke kantor secara bersamaan. Tak sangka ternyata dia seorang perempuan murahan dan kamu pun tak berubah sama sekali." Tuduh ibunya berapi-api.
"Apa betul yang dikatakan ibumu, Andre ?" tanya sang ayah penuh emosi.
"Alya tak seperti yang kalian pikirkan." jawab Andre lirih.
"Wanita yang mama anggap murahan itu adalah penolongku. Apa kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku ? anakku meninggal, tapi mama tak mau mengakuinya karena ia anak haram padahal akulah yang berdosa, dia tidak. Mama tak mau membahas ini lagi karena ia lebih memilih menyibukkan diri menyambut kedatangan adikku." jelas Andre dengan suara bergetar.
"Kematian anakku membuatku terpuruk dan merasa bersalah sepanjang waktu. Seperti halnya kalian sebagai orang tua, meskipun aku telah banyak melakukan kesalahan namun kalian masih berusaha menyelamatkan aku karena aku anak kalian. Ada ikatan diantara kita. Sedangkan aku, dengan kondisiku yang telah melakukan banyak kesalahan tapi dipaksa untuk tak peduli dengan kematian anakku yang tak berdosa. Selama itu berlangsung siapa yang menemani aku dan tak pernah menghakimi segala perbuatan burukku ? Alya, hanya Alya yang ada untukku." Lanjut Andre dengan air mata yang tak dapat ia tahan lagi.
"A...anak?" Tanya ayah Andre terbata dan menatap istrinya yang hanya terdiam tak berkata.
"Bukan hanya itu, aku pun sakit. Apa kalian tahu aku sakit apa ? aku sakit sifilis." lanjut Andre.
Ibu Andre menutup mulutnya dan Ayah Andre membulatkan matanya tak percaya.
"Ya, aku sakit sifilis. Sakit yang diakibatkan oleh segala perbuatan burukku di masa lalu. Tapi kini aku sudah sembuh total dan aku pun memiliki hasil tes laboratoriumnya. Apa kalian tahu siapa yang membantuku untuk sembuh ? Alya ! Ya, Alya menemani dan mensupport aku untuk sembuh tanpa tatapan mata jijik atau pun menghakimi segala perbuatan burukku. Ia yang menemani aku berobat selama 2 minggu terakhir hingga kami selalu datang terlambat ke kantor tapi meskipun begitu tak sekalipun kami lalai dalam pekerjaan." jelas Andre penuh emosi.
"Jadi tolong jangan nilai Alya seperti itu, dia wanita baik-baik yang berjuang dengan keras untuk anaknya. Karena aku yang telah berlaku buruk, bukan berarti Alya pun begitu. Bila kalian tak percaya bisa tanya Gibran yang telah memberikan pengobatan padaku." ucap Andre penuh mohon.
"Alya yang selalu mengingatkan aku untuk berubah ke arah yang lebih baik, dan aku yang memintanya untuk menemani aku di masa sulit ini." Lanjut Andre dan kedua orangtuanya tak dapat berkata-kata karena terlalu terkejut dengan apa yang baru saja Andre jelaskan pada mereka.
"Lalu kenapa kamu tak bercerita pada kami?" tanya ayahnya.
"Karena aku sadar telah melakukan hal yang sangat buruk dan telah membuat kalian kecewa. Aku tak ingin membebani kalian lagi." jawab Andre seraya mengusap pipinya yang basah.
" Dan malam ini aku mengajak Alya juga anaknya makan malam sebagai ucapan terimakasih atas segala kebaikannya. Hanya itu, aku tak melakukan hal yang lainnya karena Alya adalah wanita baik-baik."
"Ini akan menjadi skandal jika orang-orang di perusahaan tahu tentang masalah sakitmu. Kamu jangan gegabah, ini bisa membuat perusahaan goyah." ucap ibu Andre cemas.
"Jangan khawatir, Alya seseorang yang sangat bisa dipercaya dan mama juga jangan takut karena aku tak lagi mau menjadi pemimpin perusahaan. Aku sadar diri kesalahanku banyak dan tak pantas menjadi seorang pemimpin. Ku rasa adikku jauh lebih pantas untuk berada di posisi itu." Ucap Andre tanpa Ragu.
"Kamu yakin ?" tanya ayahnya.
"Sangat yakin, aku hanya ingin hidup tenang dan menjalaninya dengan baik. Itu saja cukup." jawab Andre.
"Ini semua karena kamu gagal menikah dengan keluarga Mulia, bisnis kita hancur dan harus mulai dari nol lagi. Kamu juga terkena penyakit dari wanita jal*ng itu." Ibu Andre masih terlihat kesal ketika mengucapkan itu.
"Ma, anakmu ini bukan lelaki baik. Tuhan menyelamatkan Sabina dariku dan dia sudah bahagia dengan suaminya. Aku sudah banyak belajar dari semua kesalahan yang aku lakukan. Dari semua kejadian ini aku belajar untuk hidup dengan cara benar."
"Benar apa yang telah Andre katakan, jika ia menikah dengan Sabina pun belum tentu membuatnya berubah dan semoga ini bukan hanya sekedar bualanmu saja." Timpal ayahnya menambahkan.
"Aku akan berusaha memperbaiki diri, aku janji pada kalian. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu ?" tanya Andre takut-takut.
"Minta apa ?" Tanya ibunya penuh curiga.
"Bolehkah aku meminang Alya untuk menjadi pendamping hidup ku?"
To be continued ❤️
thank you for reading 😘