
Happy reading ❤️
Gibran mengepalkan tangan dan nafasnya memburu manahan rasa marah yang siap meledak ketika mendengar itu. " Jaga mulut Lo !!" bentak Gibran seraya menggebrak meja dengan begitu kerasnya.
Ria yang terkejut melonjakkan tubuhnya ke belakang,
"jangan pura-pura pak dokter, saya tahu anda sendiri yang memilih saya kepada kepala yayasan. Dan Ibu Sabina selalu menghalangi kita untuk bertemu, pasti karena dia tahu jika anda menginginkan saya." Ria masih bersikukuh dengan pendapatnya.
"Yayasan yang rekomendasikan Lo karena mereka pikir nilai lo paling tinggi diantara semua ! tapi sayangnya walaupun nilai akademis lo bagus, tapi hati nurani lo, Nol ! Pantas saja Sabina menghalangi, karena dia tahu wanita macam apa lo ini !" Bentak Gibran seraya berjalan mendekati dan Ria berjalan mundur untuk menghindari Gibran yang terlihat marah saat ini.
"Apa yang salah ? istri anda memang cacat. Setiap lelaki normal pasti menginginkan istri yang sempurna." Jawab Ria gusar.
"Jangan pernah hina Sabina, istri gue ! Tak ada yang lebih sempurna di mata gue selain dia ! apalagi di bandingkan dengan lo yang bisa-bisanya berusaha mencoba menyakiti wanita lain padahal kalian sama-sama wanita." Lanjut Gibran sembari terus memojokkannya dan Ria kini menangis dan gemetar ketakutan.
"Dan yang pasti Sabina tak pernah melakukan hal hina seperti yang lo lakuin saat ini. Apa untuk mendapatkan seorang lelaki, Lo harus membuang semua harga diri? tak apa Sabina cacat fisik, tapi setidaknya dia bukan wanita jal*ng seperti lo !" ucap Gibran seraya menunjuk wajah Ria dan mata berkilat karena marah.
Suara Gibran yang nyaring membuat Mbok Inah memasuki ruangan itu dengan pintu yang sama Ria gunakan untuk masuk dan terkejut ketika melihat Gibran menyudutkan suster baru itu dan memarahinya.
"Pak, pak dokter. Tenanglah..." ucap mbok Inah takut-takut.
"Diam, Mbok ! ini bukan urusanmu." jawab Gibran masih dengan emosinya yang memuncak.
"Tak ada seorangpun yang boleh menghina istri saya !" Lanjut Gibran masih dengan suaranya yang menggelegar.
"Sa... saya hanya bicara yang sebenarnya." Ria masih. bersikukuh dengan pikirannya.
"Jangan paksa gue buat bertindak kasar !" sentak Gibran seraya meninju dinding tempat Ria menyenderkan tubuhnya dan tentu saja itu membuat tubuh wanita muda itu semakin gemetar karena rasa takut.
"Pak.. pak dokter," lirih Mbok Inah.
"Sekarang beresin semua barang kamu dan tunggu tuntutan dari pengacara ku karena semua penghinaan yang kamu lakukan pada istriku !" lanjut Gibran tanpa mempedulikan mbok Inah yang terus berbicara lirih memanggil namanya.
"Pak... pak dokter, Non Bina..." lirihnya lagi dan seketika Gibran pun menolehkan kepalanya ke arah belakang.
Terlihat Sabina yang berdiri di ambang pintu dapur sembari mengusap kedua pipinya yang basah karena air bening yang terus jatuh membasahi.
Amarah Gibran menguap seketika, berganti rasa cemas luar biasa karena melihat istrinya yang menangis tersedu. Sedangkan Mbok Inah segera mendekati Ria yang menangis di sudut dapur dan membawanya keluar.
"Bina... Bina... Bina sayang...," ucap Gibran lirih. Ia segera mendekati Sabina dan membawanya kedalam pelukan.
"Sstttt... sayang jangan menangis. Jangan dengarkan apa yang dia katakan. Kamu sempurna, sungguh." bisik Gibran tepat di puncak kepala istrinya.
Tangisan Sabina terdengar semakin lirih dan itu membuat hati Gibran terasa semakin perih. Ia pun semakin erat memeluk istrinya itu.
Sabina menangis lirih bukan karena penghinaan yang Ria berikan padanya. Ia menangis karena tak menyangka jika Gibran akan membelanya seperti itu. Membela dirinya dengan segala kekurangan yang ia miliki. Ia pun membalas pelukan Gibran dengan sama eratnya
"Ku mohon jangan menangis... Jangan dengarkan apa yang ia ucapkan." gumam Gibran dengan suara bergetar. Ia tak mau Sabina merasa sedih dengan penghinaan yang Ria berikan.
"Tetaplah seperti ini, jadikan aku satu-satunya untukmu." Ucap Sabina lirih namun Gibran masih bisa mendengarnya.
"Tentu, tentu sayang. Takkan ada cinta yang lain. You are my one and only." jawab Gibran sungguh-sungguh. Ia pun mencium puncak kepala istrinya berulang kali.
Dada Sabina menghangat ketika mendengar apa yang baru saja Gibran ucapakan. Ia sungguh merasa bahagia karena dicinta oleh lelaki yang sangat dirinya puja itu.
"You too... you are my only love, Gibran. Kamu pun hanya satu milikku selalu. Aku sangat mencintaimu." Sabina mengungkapkan perasaannya seraya menangis tersedu di dada suaminya.
***
Ria masih menundukkan kepalanya karena rasa malu juga takut dengan ancaman yang Gibran berikan. Dengan tangan gemetar ia mulai membereskan segala barang miliknya. Malam ini ia akan dipulangkan kembali ke pada yayasan yang menyalurkannya.
"Saya gak nyangka kamu punya pikiran kaya begitu." ucap Mbok Inah yang tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Tapi meski begitu, ia ikut membenahi semua barang yang Ria miliki.
"Saya hanya berpikir jika dokter Gibran tertarik pada saya, Mbok. Kenapa dia memilih saya padahal banyak suster lain yang lebih berpengalaman."
"Tak mungkin dokter Gibran melakukan itu, dia sangat mencintai istrinya." timpal mbok Inah sedikit tersulut emosi.
"Tak mungkin seorang laki-laki normal bisa menerima keadaan ibu Sabina yang seperti itu."
"bohong ! ibu Sabina hanya seorang wanita yang ketus dan sombong." potong Ria cepat.
"Itu karena dia tahu kamu adalah ancaman bagi rumah tangganya. Tapi apa selama ini dia mengadu pada suaminya ? tidak. Dia masih memperlakukanmu baik, tak sedikitpun hak mu sebagai pelayan di langgar olehnya hingga kamu menunjukkan belangmu sendiri." ucap Mbok Inah lagi dan Ria pun tertunduk malu.
"Dan kini kamu harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kamu perbuat." lanjut Mbok Inah dan itu membuat tubuh Ria kembali bergetar karena rasa cemas akan tuntutan Gibran.
***
Di tempat lain Andre tengah menunggu dengan cemas kedatangan Alya dan anaknya Raka. Ia melirik jam yang membelit pergelangan tangannya dan menyadari jika Alya telah terlambat 10 menit padahal wanita itu adalah seorang yang tepat waktu.
Andre sudah berniat menjemputnya namun Alya menolak dengan alasan jarak yang terlalu jauh.
Setelah beberapa menit lagi menunggu akhirnya Alya dan Raka datang juga. Raka langsung berlari dan memeluk Andre layaknya seseorang yang menahan rasa rindu.
"Raka, gak boleh gitu." Alya dengan lembut menarik tubuh anaknya dari pelukan bosnya itu.
Raka mengangkat wajahnya menatap sang ibu dengan raut wajah kecewa menahan tangis
"Tapi Om Andre nya gak apa-apa, Ma." ucap Raka beralasan
"Tapi walau bagaimanapun om Andre itu atasan Mama, Nak. Jadi kamu harus sopan padanya." ucap Alya mengingatkan.
"Gak apa-apa, jangan sedih om punya hadiah buat kamu." kata Andre seraya memberikan sebuah kado yang ia sembunyikan di bawah kakinya.
Wajah Raka yang sendu berganti tawa dan dengan antusias ia menerima kado itu.
"Terimakasih, Om." ucap Raka seraya mencium kedua pipi Andre.
Hal sederhana yang Raka lakukan pada Andre membuat lelaki itu merasa disayangi. Rasa hangat mengaliri hatinya yang hampa.
Makan malam berlangsung dengan penuh canda tawa, beberapa kali Andre menceritakan lelucon dan Raka tertawa lepas ketika mendengarnya.
Alya memperhatikan dengan wajahnya yang datar, dalam hati ia merasa cemas. Ia takut jika Raka terlalu dekat dengan Andre membuat anak lelakinya itu berharap lebih dari hubungan ibunya.
"Selamat Pak Andre, kini anda telah sembuh. Tugas saya sebagai asisten pribadi telah selesai." ucap Alya dengan bahasa yang berubah formal membuat Andre menolehkan wajahnya.
"Kamu ngomong seolah-olah mau pergi jauh aja." timpal Andre dengan sedikit rasa kecewa
"Tidak, maksudnya mulai besok kita akan bekerja seperti biasa lagi."
"Sepertinya kamu senang banget ini semua audah selesai, apa kamu sebenarnya merasa jijik sama aku?"
"Bukan begitu." jawab Alya serba salah.
"Jika bukan begitu, bolehkah jika hubungan kita masih dekat seperti kemarin ?" tanya Andre penuh harap.
"Aku tak mau jika Raka salah paham tentang hubungan kita." ucap Alya beralasan.
"Alya, apa salah kalau gue punya sedikit rasa berlebih buat Raka ?"
"maksud kamu ?"
"Apa salah kalau gue sayang Raka ?" tanya Andre mulai terpancing emosi.
Alya pun menggelengkan kepalanya.
"Apa salah juga kalau aku punya rasa sama kamu ?"
to be continued ❤️
thanks for reading 😘😘😘
terimakasih banyak yang sudah memberikan hadiah juga vote.