Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Masalah Baru


Happy reading ❤️


Sabina benar-benar bersikap dingin hari ini dan baru permulaan pun Gibran sudah merasa tersiksa luar biasa.


Gibran menjalankan mobilnya dengan kepala yang penuh dengan Sabina. Meskipun istrinya itu begitu lembut namun sangat tegas dan teguh dengan prinsipnya. Gibran yakin akan sulit untuk meraih kembali hati Sabina.


"Bina...," Gumam Gibran sembari memutar setir mobil menyusuri jalan raya.


Selama berkendara entah berapa kali Gibran memaki bahkan membunyikan klakson karena emosi. Perubahan sikap Sabina sangat Mempengaruhi suasana hatinya.


Masih dengan wajah yang ditekuk Gibran memasuki rumah sakit tempatnya bekerja. Tak satu kali pun senyuman terukir di bibirnya meskipun beberapa orang menyapa.


"Gibran," sapa seseorang sembari menepuk halus bahunya. Ia pun menoleh dan terlihat ayah mertuanya yang berjalan tepat di belakangnya.


Gibran pun menghentikan langkahnya dan menyalami ayah Sabina dan kemudian mereka berjalan bersama.


"Kamu baik-baik saja ? Ayah perhatikan dari tadi sepertinya kamu sedang tidak bersemangat."


"Hmm, baik. Hanya saja sedang ada yang dipikirkan." Jawab Gibran.


Mana mungkin ia bercerita pada sang ayah mertua jika anak kesayangannya tengah mendiamkan dirinya saat ini.


"Ayah sedang ada urusan disini ?" Tanya Gibran basa-basi.


"Ayah, mau melakukan medical cek up rutin. Oh ia nanti malam ada rapat pemegang saham, kamu harus ikut."


"Tentu, Ayah." Jawab Gibran.


"Baiklah, sampai ketemu lagi nanti malam." Ucap ayah Sabina ketika mereka harus berpisah di persimpangan lorong rumah sakit.


Gibran hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Mmm, bagaimana keadaan putriku Sabina ?" Tanya ayah mertuanya dan itu menghentikan langkah Gibran.


"Sabina baik-baik saja." Jawab Gibran dengan perasaan tak enak hati.


"Oh, syukurlah. Ayah pergi dulu."


"Baik, Ayah. Sampai bertemu lagi nanti." Ucap Gibran dan ia pun melanjutkan kembali langkahnya menuju ruang praktek.


2 orang suster yang menjadi asistennya hari ini berdiri dan menyambut kedatangannya namun seperti sebelumnya wajah Gibran kembali ditekuk dengan raut tak bersahabat membuat kedua orang suster itu saling beradu pandang penuh tanda tanya.


***


Sore harinya Gibran sudah bersiap pulang kembali ke kota Jakarta karena harus menghadiri rapat di rumah sakit ia bekerja.


Sepanjang hari ini tak ada satu pesan pun atau panggilan masuk dari Sabina istrinya. Padahal setiap hari Sabina akan menghubunginya meskipun hanya sekedar mengingatkan untuk makan siang.


Gibran beberapa kali memeriksa ponselnya dan mendapati sang istri tengah online di media sosialnya bahkan Sabina mengupdate status juga memposting beberapa photo tanaman yang tadi pagi disiramnya.


Ada sesuatu yang berbeda dari Sabina, istrinya itu tak pernah sekalipun memposting sesuatu yang menyindir Gibran atau berkeluh kesah dalam statusnya meskipun mereka sedang bermasalah seperti sekarang ini. Semua seolah baik-baik saja.


Tidak seperti wanita yang dekat dengan Gibran sebelumnya yaitu Amanda.


Amanda akan menuliskan status dengan kata-kata pedas untuk menyindir dirinya bila mereka bertengkar dahulu.


"Bina kamu lagi apa ?" Ketik Gibran.


Ia membaca kalimat itu berulang kali sebelum mengirimkannya. Namun Gibran menghapus kembali tiap huruf yang ia ketik karena ingat jika Sabina sedang tak ingin di ganggu olehnya. Gibran pun tersenyum masam ketika mengingat itu.


Sedangkan di tempat lain, Sabina melihat di aplikasi pesannya jika nama Gibran sedang menulis pesan. Untuk sesaat Sabina menunggu pesan apa yang akan Gibran kirimkan padanya namun setelah sekian lama ternyata tak ada satu pesan pun yang Gibran kirimkan. Sabina pun segera menutup aplikasi itu dan meletakkan ponselnya diatas nakas. Seolah tak lagi peduli pada Gibran suaminya.


***


Gibran terus menatapi layar ponsel yang menampilkan photo Sabina dengan perutnya yang besar dan tersenyum ke arah kamera.


"Ya Tuhan... Aku kangen kamu,"  gumam Gibran.


"Kangen siapa ?" Tanya Amanda yang kini duduk tepat di hadapannya.


Gibran pun mengalihkan pandangannya dari arah ponselnya dan menatap Amanda dengan malas.


"Eh kamu mau pulang ya ? Aku cuma mau ngasih tau hasil pemeriksaan dari dokter kandungan yang kamu rekomendasikan kemarin." Ucap Amanda seraya menyodorkan selembar kertas dan selembar photo hasil USG.


"Kamu bisa langsung konsultasi dengannya gak usah datang lagi kesini."


Ucap Gibran seraya menggeserkan kembali apa yang Amanda berikan padanya.


"Coba kamu lihat dulu. Kata dokter yang memeriksa, aku ada sedikit masalah." Paksa Amanda.


Terpaksa Gibran meraih kertas dan photo USG itu. Raut wajahnya berubah seketika. Ia tahu hasil pemeriksaan kandungan Amanda tidak begitu baik.


"Dokter Risa bilang apa ?" Tanya Gibran.


"Apa kamu tahu apa maksudnya ?"


"Plasentaku menutupi jalan lahir. Itu yang dokter katakan padaku."


"Apa kamu tahu resikonya ?" Tanya Gibran lagi.


"Pendarahan ?" Amanda balik bertanya.


"Apa kamu mengalaminya saat hamil ?"


"Iya, tapi ku kira karena pengaruh dari penyakit sifilis yang aku idap." Jawab Amanda.


"Apa ini pertama kali kamu periksakan kandungan ?" Tanya Gibran lagi.


"Iya," jawab Amanda sembari menundukkan kepala.


"Uang yang dulu kuberikan, kamu gunakan untuk apa ?" Tanya Gibran sedikit geram.


"Untuk makan dan kebutuhan sehari-hari." Jawab Amanda.


"Sudah kukatakan aku butuh uang Gibran, makanya izinkan aku bekerja disini."


"Tidak bisa Manda !" Jawab Gibran geram.


"Aku bingung harus bagaimana, temanmu yang dokter itu juga mengatakan bahwa aku tak boleh kerja yang terlalu berat karena akan berbahaya bagi kandunganku." Jelas Amanda dan Gibran meraup wajahnya frustasi.


Belum juga masalah dengan Sabina selesai namun kini timbul masalah yang baru. Bebannya tentang Amanda semakin bertambah. Mungkin sebaiknya dari awal  ia tak melibatkan diri dalam kehamilan dan sakitnya Amanda.


"Manda usia kandungan mu sudah memasuki usia 30 minggu dan ini semakin serius. Sebaiknya kamu melibatkan ayah sang bayi dalam masalah ini."


"Ta... Tapi... sekarang kamu lah ayahnya," jawab Amanda lirih dan Gibran menjatuhkan photo USG yang dipegangnya karena terkejut.


"Jangan bercanda Amanda !!! Jangan kamu buat orang berpikiran lain tentang ini." Ucap Gibran gusar.


"Apa kamu takut Sabina mengira kamu adalah ayahnya?" Tanya Amanda.


"Jangan libatkan Sabina disini." Ancam Gibran.


"Oh jadi Sabina gak tahu ya jika kita kembali berhubungan ?" Tanya Amanda dengan wajah ceria.


"Sabina tahu, dan kamu seharusnya malu karena dengan izinnya lah aku bisa membantumu." Jawab Gibran sedikit berbohong.


"Apa Sabina tahu tentang sakitku ?" Tanya Amanda cemas.


"Tidak," jawab Gibran dan sebuah senyuman terukir di wajah Amanda saat ini.


"Terimakasih Gibran, terimakasih karena telah melindungi aku." Ucap Amanda dengan mata berbinar.


"Aku melakukannya bukan karenamu, jangan senang dulu. Aku tak mengatakan pada Sabina hanya karena sumpah jabatanku." Timpal Gibran dan seketika membuat Amanda bungkam.


"Manda, jika kamu ingin mendekatiku karena uang maka yang kamu lakukan hanya sia-sia karena meskipun aku memiliki saham dengan jumlah yang besar di rumah sakit keluarga Mulia namun semua hasilnya aku berikan pada Sabina. Begitu juga dengan sumber keuanganku yang lain kini Sabina lah yang mengaturnya." Kata Gibran dengan menatap tajam mata Amanda dan membuat wanita yang duduk di hadapannya itu gugup seketika.


"Bu...bukan karena itu... Tentu saja karena aku masih memiliki perasaan cinta padamu," kilah Amanda dengan gugupnya.


"Haha, yeah right." Gibran tertawa mengejek. Ia tak percaya dengan semua pernyataan cinta Amanda padanya.


"Aku serius Gibran," Amanda bersikukuh.


"Ya, jika karena 'cinta' pun maka yang kamu lakukan adalah sia-sia belaka."


"Apa kamu sudah tak memiliki perasaan apapun padaku ? Bukannya aku ini cinta pertama kamu?" Tanya Amanda frustasi.


"Aku mencintai Sabina, sangat mencintainya hingga rasanya hampir gila." Jawab Gibran setengah putus asa mengingat kondisi rumah tangganya saat ini.


Amanda terdiam membisu ketika mendengar apa yang baru saja Gibran katakan dan lelaki di hadapannya itu tak terlihat sedang berbohong.


"Aku sangat mencintai Sabina.Baru kali ini aku mencintai seorang wanita dengan begitu dalam dan sangat takut kehilangannya." Ucap Gibran sungguh-sungguh.


"Apa kamu mencintainya lebih dari mencintai aku waktu dulu ?" Tanya Amanda seraya menelan salivanya.


"Sudah ku katakan... Baru kali ini aku jatuh cinta pada wanita dengan begitu dalam yaitu hanya pada Sabina seorang." Ujar Gibran sungguh-sungguh.


"Saat kamu terpuruk hanya ada aku dan Sabina yang memberikan pertolongan. Jika tak ada aku, kamu pasti sudah berakhir di jalanan. Jadi ku mohon jangan kamu rusak pernikahanku dengan Sabina. Jadi orang janganlah se-sadis itu." Ucapan Gibran bagai anak panah yang tepat mengenai sasarannya.


Amanda meresapi semua perkataan Gibran yang benar adanya. Tiba-tiba saja dadanya terasa begitu sesak.


to be continued ❤️


thank you for reading 😘