Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Penolakan Andre


Happy reading ❤️


"Apa aku salah karena menginginkan kamu untuk peduli hanya padaku ? Apa aku salah karena telah merasa cemburu? Apa kamu sadar Gibran jika aku sangat mencintaimu ? hingga begitu takut kehilangan kamu." Batin Sabina dalam hatinya.


Sabina terus menangis hingga tendangan kecil dalam perutnya menyadarkan ia dari lamunan.


"Ah maaf sayang, seharusnya Mama juga memikirkan kamu." Gumamnya lirih.


"Iya Non, jangan banyak menangis kasihan bayinya akan ikut merasa sedih juga. Biarkan pak dokter menenangkan diri dulu, begitu juga Non Bina. Tapi maaf, apa yang dikatakan pak dokter benar. Jangan meninggalkan rumah dalam keadaan marah, nanti akan membuat masalahnya semakin berlarut-larut." Ucap Mbok Inah pelan.


"Maaf, tadi mbok tak sengaja mendengar perdebatan Non Bina dan pak dokter." Lanjut Mbok Inah takut-takut.


Sebenarnya ia tak mau lancang dengan ikut campur masalah rumah tangga majikannya namun melihat Sabina yang menangis tersedu ia pun memberanikan diri untuk berbicara.


"Terimakasih Mbok, tolong jangan bilang apapun pada ayah yang terjadi pagi ini."


"Ya Mbok gak akan cerita apapun asal sekarang Non Bina makan dulu ya kasian ade bayinya dalam perut." Bujuk Mbok Inah pada Sabina.


Sabina menganggukkan kepalanya dan Mbok Inah tersenyum melihat itu. Segera ia menyiapkan sarapan untuk Sabina dengan sigap.


Baru juga satu sendok suapan, Sabina sudah mengakhiri makan paginya.


"Kenapa Non ? Gak suka ? Mbok ganti yang lain ya?"


"Mmm gak usah, suka kok tapi aku sudah merasa kenyang. Terimakasih." Jawab Sabina seraya berdiri meninggalkan ruang makan untuk kembali ke kamarnya.


Mbok Inah menatap kepergian Sabina dengan hati yang pilu. Ia sangat menyayangi majikannya yang berhati lembut itu. Tak pernah Sabina memerintah dengan suara meninggi dan ia selalu berlaku sopan padahal mbok Inah hanya bekerja sebagai pembantu.


"Semoga semua berakhir baik." Doanya dalam hati


***


Beberapa makian dari pengemudi lain yang ditujukan pada Gibran saling bersahutan karena ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Pertengkarannya dengan Sabina sungguh  mempengaruhi hati dan pikirannya. Wajah Sabina yang sedang menangis karena ulahnya terus menghantui. Pada akhirnya Gibran sangat menyesali perbuatannya sendiri yaitu meluapkan amarahnya pada sang istri yang seharusnya Gibran ambil hatinya untuk meminta maaf.


"Tak bisakah kamu mengerti, Bina ? Aku mencintaimu, sangat cinta sama kamu. Aaaagghhhhh !!!" Geram Gibran sembari mengepalkan tangan.


Pada akhirnya Gibran sangat menyesali tindakannya menolong Amanda. Jika saja dari awal Amanda tidak mendatanginya dan andai saja Gibran tak memberikan bantuan tentunya kehidupan rumah tangganya dengan Sabina tak akan serumit ini.


"F*ck !!!" Maki Gibran dan tak terasa ia pun telah sampai di rumah sakit tempatnya bekerja.


Tak ada yang berani menyapanya secara berlebihan. Terlihat dari raut wajah yang menegang dan dingin, hampir semua orang tahu jika Gibran sedang dalam kondisi hati yang tidak baik.


Pukul 11 siang Gibran telah menyelesaikan praktek paginya. Ia pun bersiap untuk pergi ke kliniknya yang berada di pinggiran kota Jakarta dan letaknya cukup jauh.


Sungguh Gibran merasa lelah secara fisik juga mental. Ia hanya ingin pulang dan berbaikan dengan Sabina tapi itu tak mungkin dilakukan karena ia tahu Sabina masih dalam keadaan emosi yang tidak stabil, begitupun dirinya. Sekarang ini bukanlah saat yang tepat untuk saling berbicara karena Gibran tahu hanya pertengkaran yang akan terjadi jika ia memaksakan diri.


Gibran melirik jam mewah yang membelit pergelangan tangannya. Ia pun segera merogoh ponsel yang ada dalam saku celananya dan menghubungi seseorang.


"Ran, saya akan datang terlambat hari ini  karena harus menemui seseorang dulu." Ucap Gibran ketika hubungan telepon itu terhubung dan ia pun kembali menutupnya tanpa mendengarkan jawaban sang asisten.


Gibran memasuki mobil dan melihat sebuah amplop coklat berisikan hasil pemeriksaan Amanda yang memang sengaja ia bawa.


Setelah memakan waktu beberapa belas menit akhirnya Gibran tiba di sebuah gedung perkantoran yang setahun lalu masih sering ia datangi.


Dengan sebuah amplop coklat di tangan Gibran berjalan memasuki gedung itu dan menghampiri meja resepsionis.


"Saya ingin bertemu dengan Pak Andreas Tama, Direktur perusahaan ini. Saya memang belum mempunyai janji temu tapi katakan saja Gibran Fehreza ingin bertemu." Ucap Gibran pada seorang wanita muda yang menjadi petugas resepsionis siang itu.


"Maksudnya Pak Andreas Tama bagian marketing ?" Tanya wanita yang bernama Melly itu memastikan.


"Marketing?" Tanya Gibran terheran.


"Hanya ada satu orang yang bernama Andreas Tama di perusahaan ini dan beliau bekerja di bagian marketing." Jelasnya lagi.


"Iya pasti itu." Jawab Gibran.


Melly segera mengangkat gagang telepon dan menghubungi seseorang. Ia mengatakan jika seseorang bernama Gibran ingin bertemu dengan Andre.


Gibran pun mengikuti apa yang resepsionis itu katakan dan ia telah di sambut seorang wanita yang tak lain adalah Alya.


Mereka berjalan beriringan tanpa banyak bicara hingga tiba di depan sebuah pintu dari ruangan yang tak pernah Gibran datangi sebelumnya.


"Pak Andre telah menunggu anda," ucap Alya seraya membukakan pintu.


"Terimakasih," sahut Gibran dan ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan sederhana dan tak terlalu besar itu. Hanya ada 3 kursi yang saling berhadapan dengan meja kerja di tengahnya dan beberapa lemari untuk menyimpan file.


Andre duduk di meja kerjanya dengan sorot mata dingin menyambut kedatangan mantan sahabatnya itu. Padahal dulu mereka akan saling merangkul jika bertemu.


"Ngapain Lo nyari gue ?" Tanya Andre tanpa basa-basi.


Gibran mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Andre dan melemparkan sebuah amplop besar berwarna coklat ke atas meja.


Andre meraih amplop itu dan membukanya. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan membacanya untuk beberapa saat. Sebuah senyuman miring terbit di wajahnya yang sinis.


"Udah gue bilang, gue gak tertarik dengan segala urusan yang berkaitan dengan Amanda. Gue udah gak ada hubungan apa-apa lagi." Ucap Andre seraya menyerahkan kembali amplop coklat itu pada Gibran.


"Walaupun lo udah gak ada hubungan lagi sama Amanda tapi tetap lo harus bertanggung jawab dengan apa yang pernah lo lakuin sama dia. Amanda sedang bertaruh nyawa dalam mempertahankan anaknya yang dia klaim sebagai milikmu." Ucap Gibran dengan sedikit emosi.


"Belum tentu dia anak gue," Andre bersikeras.


"Tapi lo udah nidurin dia, jadi kemungkinan itu masih ada." Sela Gibran.


Andre berpikir untuk sesaat dan semakin menatap Gibran dengan tatapan tak bersahabat.


"Sebenarnya mau lo apa ?" Tanya Andre gusar.


"Gue pengen Lo bertanggung jawab dengan Amanda. Biar Amanda gak bergantung sama gue." Jawab Gibran.


"Seperti yang pernah gue bilang, gue hanya akan datang ketika dia melahirkan. Jika nanti hasil tes DNA anak itu ternyata memang milik gue, baru gue mau bertanggung jawab." Jawab Andre tak terbantahkan.


Gibran menatap muak lelaki yang berada di hadapannya. Ingin sekali ia melayangkan bogemnya namun Gibran menahan diri.


"Lo tau ? Gue selalu percaya dengan pepatah apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai. Amanda sedang menuai apa yang ia tanam, begitu juga lo, Andre. Jadi berhati-hatilah." Ucap Gibran kesal. Sepertinya bicara dengan Andre pun percuma. Seperti sebelumnya lelaki itu tak mau bertanggung jawab.


Gibran pun berdiri dan pergi meninggalkan Andre begitu saja dengan perasaan kesal.


Andre menyenderkan tubuhnya di kursi dan meresapi perkataan Gibran. Tanpa ia sadari sesungguhnya saat ini Andre sedang menuai hasil dari perbuatannya yang lalu yaitu dengan turunnya jabatan yang ia miliki dan juga penyakit sifilis yang diidapnya.


"Jika anak Amanda ternyata memang


anakku, apalagi balasan yang akan aku dapatkan ya Tuhan?" Ucap Andre frustasi.


***


Gibran menarik nafas dalam, prakteknya di klinik baru saja selesai dan ia ingin segera pulang.


Namun sebelumnya ia telah meminta Rani untuk membantu mengurusi Amanda. Penolakan Andre membuat Gibran harus kembali bertanggung jawab atas pengobatan Amanda.


"Siallaan kamu, Andre." Umpat Gibran.


Sore menjelang malam Gibran telah sampai kembali di rumahnya. Ia duduk lebih lama dalam mobilnya sebelum memutuskan untuk turun.


Pertengkarannya dengan Sabina membuat Gibran merasa tak enak hati. Tapi walaupun begitu ia tak mau meninggalkan Sabina dalam keadaan marah ia tak mau masalahnya semakin berlarut-larut. Padahal apartemennya pun belum Gibran jual atau ia pun bisa tinggal di kliniknya untuk sementara waktu namun Gibran tak mau.


Dengan langkah gontai Gibran memasuki rumahnya yang tak terkunci. Tak ada siapapun di sana, membuat Gibran merasa takut jika Sabina meninggalkannya.


Suara Sabina dan mbok Inah yang terdengar samar-samar membuatnya bisa bernafas lega. "Sabina tak pergi." Gumam Gibran seraya melengkungkan senyum di bibirnya.


Gibran berjalan memasuki kamar tamu yang berada di lantai satu dan letaknya tepat berada di bawah kamar Sabina yang berada di lantai dua.


Untuk sementara waktu Gibran memutuskan tinggal di kamar tamu hingga masalahnya dengan Sabina menemui titik temu.


To be continued ❤️