Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
66..


"lalu apa kau mencintainya? tanya Yuda.


" *aku tidak ingin membahasnya lebih jauh, yang aku fikirkan sekarang adalah Rachel .itua aja yud, pungkas Dea.


"aku bisa melihat cinta untuknya di matamu,Batin yuda.


" tidak ada yang lebih sakit dari mencintai seseorang yang mencintai orang lain Dea, tutur Yuda.


kata kata yuda seperti bom yang siap meledak, mengobrak abrik perasaannya, ia terlihat salah tingkah mendengar kata yang di ucapkan oleh yuda.


" kau pernah merasakannya? balik bertanya.


yuda tersenyum.


" saat inilah aku merasakan itu, tidakkah dapat kau lihat ? batin yuda.


" tidak, aku tidak pernah merasakanya, jawab yuda.


Dea balas tersenyum,


"lalu mengapa sejauh ini kau membantuku, bukankah sudah ku katakan aku tidak punya apapun untuk membayarnya, kata Dea.


" Marfin membantuku, dia memberiku segalanya , bahkan bahunya tempat ternyaman dimana aku bisa menumpahkan segala keluh kesahku disana, akankah kau meninggalkanku juga seperti Marfin? tanya Dea.


" tentu berbeda, Marfin sudah mempunyai isteri, salah jika kau menjadikan dia tempat ternyamanmu karena senyaman apapun dia di tempat orang lain, namun Rumahnyalah atau isterinya tempat kembali.


sedangkan aku, meski kau nyaman bersandar denganku, aku tidak akan membuatmu terjatuh karena bergeser dan berpindah pada orang lain, percayalah... sejatinya Marfin adalah laki laki baik, kau tidak perlu menyesal atas apa yang terjadi, yang harus kau perbaiki,adalah kualitas dirimu,tutur Yuda.


" apa kau akan meninggalkanku jika kualitas diriku tidak baik seperti yang kau inginkan? tanya Dea.


" aku tidak akan bisa mengubahmu Dea, namun aku akan memilih wanita yang baik untuk anak anak ku kelak, tegas yuda.


" apa aku tidak cukup baik bagi siapapun? dea kembali bertanya.


" kau akan di sebut tidak baik, selama kau menyakiti hati sesama wanita, jawab Yuda.


" kenapa kau sedari tadi memojokkanku? tanya Dea sedikit keras.


emosi, setiap perkataan yuda benar benar menusuk hatinya.


" aku bisa pergi dari sini,jika kau mau. sergah Dea bangkit dari tidurnya mengambil koper kecil miliknya.


" heii... mau kemana ! cegah Yuda.


" di depan bu Risma kau membelaku, tapi didepanku kau memojokkan aku, sudahlah biarkan aku sendiri, ujar Dea kesal.


dengan sabar yuda membalas amarah itu dengan senyuman.


" orang yang mencintaimu ,akan menegurmu bahkan dengan kata kata menyakitkan sekalipun,percayalah..


aku tidak bermaksud menyakitimu, aku hanya ingin kau membuka mata dan hatimu, bahwa perasaanmu itu salah !!!


" kau bisa mengatur perasaan seseorang ? tanya Dea menatap lirih.


" tidak bukan begitu,,!!


Dea menyeret kopernya keluar dari apartement, meski yuda telah mencegahnya.


*****


Dua pria tampan sedang duduk berhadapan, mendiskusikan sesuatu atau malah meributkan sesuatu.


" tugasmu selesai kawan, biar aku yang menjaganya sampai nanti, kata marfin memulai pembicaraan.


" tentu saja, dia istrimu kau harus menjaganya, jika tidak ! " aku akan merebutnya drimu , ujar Alfino tersenyum miring.


" tidak akan kubiarkan hal itu terjadi kawan, percayalah,kata Marfin.


" aku tidak bisa mempercayaimu tuan, sebab kau sudah pernah mengecewakannya, buktikan saja dulu, jika Alika memilih hidup kembali denganmu, bahagiakan Dia !" ancam Alfino.


" Terimakasih Tuan Alfino fernandes, aku tidak akan mengecewakan lagi, ujar Marfin.


Di sela sela pembicaraan muncullah seorang pria yang sedikit lemah gemulai dengan gayanya.


" wah bro, kalian disini ! katanya menepuk bahu keduanya.


" berapa harus ku bayar, tanya mereka serentak.


saling tatap, kemudian saling berebut.


" cepat kirimkan rekeningmu, aku akan mengirimkan nominal yang cukup besar, kata Alfino.


" Tidak ! dia adalah tanggung jawabku, jadi aku yang akan membayarnya, cepat kirimkn nomor rekeningmu, Kata Marfin sembari menyodorkan hapenya kepada Raka untuk mengetikkan nomor rekening.


Memperhatikan keduanya, Raka tertawa.


"wah wah... tuan _tuan ! kalian begitu banyak uang, katanya sambil tertawa melihat wajah mereka.


" bukan masalah uang, tapi karena dia sangat berarti untukku, jawab Marfin.


" lalu bagaimana denganmu tuan Alfino, siapa anda sampai rela mengeluarkan banyak uang untuk Alika, Raka balik bertanya kepada Alfino.


Alfino tersenyum menatap pria yang ada di hadapannya, bagaimana jika ia mengatakan bahwa karena dia juga berarti untukku, akankah pria ini Marah besar terhadapku?


" tidak..... karena dia sahabatku, itu saja.jawab Alfino singkat sembari menyimpulkan senyum dibibirnya, ya meski senyum itu adalah senyum kepalsuan.


" *tapi sungguh, Alika memang luar biasa, dia cantik, baik, pintar... Omg, Raka sengaja menggoda keduanya sambil menggerakkan kepalanya.


" Tentu saja !! jawab Alfino dan Marfin serentak.


kaget dengan kekompakan masing masing mereka saling adu tatapan sinis, melipatkan kedua tangannya.


" ya ampun.... kalian berdua memang cocok, jangan jangan kalian kembar, kata Raka hanya mengada ngada.


" aku.... jangankan kembar, menjadi saudaranya saja aku tidak mau, bahkan saudara jauh sekalipun, aku tidak mau.sungut Alfino.


seketika di sambut gelak tawa oleh Raka dan Marfin.


" baiklah fin.... lalu mengapa kau membenarkan kata kata Raka,hah? tanya Marfin.


" ya tentu saja dia seperti itu, anda saja yang bodoh menyia nyiakan berlian seperti itu, sindir Alfino.


"ah... sudah sudah, bubar bubar... kata Raka menarik keduanya agar bangkit dari duduknya dan pergi.


" hey... lalu bagaimana? ayo kirimkan rekeningmu, kata Marfin.


Alfino menarik nafas dalam dalam, melirik ke sekitar dengan tajam lalu meninggalkan mereka berdua tanpa kata.


*****


Marfin berjalan pelan menuju ruangan Alika, sementara orang tuanya dan yang lainnya sudah pulang ke penginapan untuk membersihkan diri sejenak.


Marfin duduk di kursi sebelah Alika,


Alika yang terbaring lemas, dengan infus yang menempel padanya, baju berwarna putih dari rumah sakit serta selimut yang menyelimutinya.


" Sayang.... bangunlah sayang, kau tidak ingin melihat anak kita? kata Marfin sambil menggenggam tangan Alika dan menempelkannya di pipinya.


" *entah mana yang lebih sakit, di tinggalkanmu ketika kamu tersadar, atau terus bersamamu saat keadaanmu seperti ini,


dua duanya menyakitkan, aku tidak bisa memilih salah satunya, namun kumohon cintai aku sekali lagi, Marfin membendung air matanya disana.


Marfin meluapkan kesedihannya, membayangkan semua hal buruk terjadi, ia merebahkan kepalanya di sebelah Alika,tangannya masih menggenggam jemari istrinya.


suara patient monitor terdengar, memonitoring kondisi kesehatan pasien secara realtime.


Marfin merasakan tangan yang ia genggam itu sedikit ada pergerakkan,ia mengangkat kepalanya kemudian bangkit dari duduknya.


" sayang, apa kau mendengarku? tanya Marfin menelisir mata istrinya.


tangis bahagia menyelimutinya, ia berlari kocar kacir memanggil dokter untuk mengecek keadaan istrinya.


" Dok... tangan istri saya bergerak dok, tolong periksa dok, ucapnya setengah berteriak.


Dokter dan perawat berlarian keruangan Alika, Dokter langsung memeriksa detak jantung pasien dengan stetoskopnya.


" alhamdulillah,, keadaan nyonya semakin membaik tuan, sebentar lagi ia akan membuka matanya, tutur Dokter.


"ya allah, terimakasih .... Ucap Marfin girang, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


tunggu beberapa menit tuan, nyonya akan segera bangun, kata Dokter ikut bahagia.


*****


mereka sudah berkumpul di sekeliling Alika, menunggu Alika membuka matanya dengan wajah tampak khawatir,


" mahh...... pah....Suara lemah terdengar di balik masker oksigen yang ia kenakan.


matanya terbuka dengan kata pertama yang ia sebut adalah almarhum orang tuanya.


mereka menghampiri Alika dengan wajah berseri seri, Alika menarik pelan masker oksigen yang ia kenakan.


" sayang? ucap bu tety mengusap lembut pangkal kepala Alika dan menciumnya


" kenapa bibi menangis, Alika baik baik saja, kata Alika dengan wajah pucat namun menunjukan senyumnya.


" bibi tidak akan menangis lagi sayang, cepat sembuh. kata bu tety.


sementara bu Risma menundukkan kepala, menangis tanpa suara.


" ibu, apakah ibu tidak ingin memelukku? kata Alika, sembari sedikit mengangkat tangannya.


" sudah,tidak perlu banyak bergerak, kata bu Risma menghampiri Alika mencium pangkal kepalanya dan memeluknya.


" ibu... mana anakku? tanya Alika.


seorang bayi laki laki dan perempuan tengah di gendong oleh kedua pengasuhnya, mereka menghampiri Alika.


" ini nyonya, putera dan puteri nyonya, tuturnya memperlihatkan.


menutup mulutnya dengan satu tangan, Alika menangis bahagia, begitu baiknya tuhan menitipkan anugerah terindah dalam hidupnya.


pria yang berada di sampingnya geming tak bersuara, air matanya sudah mengalir di pipinya.


Alika melirik laki laki itu, fikirannya seperti tanpa beban,ia menyapa lembut laki laki itu.


" apa kabar Mas? tanya Alika melihat kearahnya.


Marfin mengangkat kepalanya kemudian mendekati Alika, ingin mencium kening istrinya namun Alika mengangkat tubuhnya dan menyenderkannya.


apakah itu bentuk menghindar?


" sini anak mamah? kata Alika mengangkat tangannya.


salah satu pengasuh memberikan seorang puteri kepadanya,


" ya ampun, cantik banget sayang, puji Alika dengan suara manjanya meski masih terdengar lemas.


" aku ingin keduanya, kemari. kata Alika kepada salah satu pengasuh yang masih mengais puteranya.


kini tangan Alika penuh dengan anak anaknya, senyumnya merekah meski terlihat di matanya,ada mendung yang ia tahan untuk tidak turun.


" sudah sayang, dia masih sangat rentan ,hati hati,kata bu Risma mengambil salah satu bayi Alika.


" ini papah Marfin mau kasih nama apa? tanya bu Risma sambil tertunduk menatap bayi mungil.


" aku akan memberinya nama Raffi zayn dan puteri zunaira alessia,jawab Alika.


semua mata tertuju pada Alika,


"bagus nak namanya, puji bu Risma.


marfin tersenyum,


cekrek, pintu di buka oleh seseorang.


Alfino berdiri disana tersenyum menyapa semua orang,matanya langsung kepada Alika yang menggendong bayi.


" eh ada om fino dateng ,kata Alfino seolah menjelaskan kepada anaknya.


" hay al, apakabar? tanya Alfino menghampiri semuanya.


" aku baik, jawab Alika.


Nyonya.... biar saya periksa kembali, kata Dokter.


setelah di periksa kesehatannya oleh Dokter Alika di pastikan akan segera pulih dan di perbolehkan untuk pulang.


****


" hati hati sayang, kata bu Risma membantu Alika turun dari ranjang


sementara Marfin di hadapannya menawarkan bantuan,namun seolah mendapat penolakan.


sementara bu Tety membereskan peralatan Alika selama di rumah sakit.


" nanti setelah kami benar benar pulih, kita kejakarta aja ya nak,kerumah ibu sama ayah,kata Bu Risma.


tak ingin mengecewakan bu Risma, Alika hanya tersenyum.


Rasanya berat, semua tak mungkin kembali seperti dulu.


" biar aku bantu, Marfin menawarkan kepada Alika karena melihat kondisi badannya yang masih terlihat lemas.


" tidak usah, terimakasih,, jawab Alika. ia berjalan mendahului marfin.


Alfino berdiri di kejauhan menatap kepulangan Alika, andai mungkin Alika tidak mengalami musibah seperti ini, mungkin saja ia yang akan membawa Alika pulang.


Sejenak langkah Alikapun terhenti, menatap Alfino disana, Marfin melihat tatapan Alika tertuju kepada Alfino.


hatinya terbakar cemburu, namun berusaha ia menepisnya dengan senyuman.