Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Keindahanmu Hanya Milikku


Happy Reading ❤️


"Mmm, ayah... aku memutuskan akan melakukan operasi untuk menyembuhkan kakiku." ucap Sabina dan ayahnya terdiam tak percaya.


Butuh beberapa waktu bagi ayah Sabina untuk mencerna apa yang Sabina katakan. Hingga tak terasa air matanya membasahi pipi ketika ia sadar jika anaknya mau untuk melakukan operasi.


"Apa kamu yakin, Nak ?" Tanya ayahnya dengan terisak menahan tangisnya.


"Sangat yakin," jawab Sabina tegas.


"Kenapa ? kenapa begitu tiba-tiba ?" ayah Sabina masih tak mengerti.


"Apa karena penghinaan yang Ria berikan padamu ? Kita akan menuntut dia dengan seberat-beratnya." ayahnya kembali bertanya dan Sabina menggelengkan kepala.


"Apa karena Gibran yang memintamu ?" tanya nya lagi.


"Bukan, saya tak pernah meminta Sabina melakukan itu karena seperti yang pernah saya utarakan dahulu, bagi saya Sabina sudah sempurna tak ada satupun dari dirinya yang ingin ku ubah." jawab Gibran seraya memandang Sabina penuh cinta dan membawa jemari istrinya itu dalam genggamannya. Hati Sabina menghangat ketika Gibran mengatakan itu


"Ini semua karena keinginanku, Ayah. Aku ingin sembuh dan berjalan dengan normal." Jelas Sabina tanpa mengatakan jika ia dan Gibran mempunyai mimpi yang sama yaitu membangun rumah tangga dengan banyak gelak tawa anak mereka.


Ayah Sabina menangis terharu mendengarnya. Bertahun-tahun ayah Sabina membujuk putrinya untuk melakukan pengobatan itu namun Sabina selalu menolak karena rasa takut dan juga rasa tersiksa setiap operasi itu dilakukan.


"Tak hanya operasi tulang, namun Sabina juga setuju untuk melakukan bedah estetika ( kecantikan ) untuk menghilangkan luka parut yang berada di sepanjang kakinya." jelas Gibran.


Ayah Sabina semakin terkejut mendengarnya, tentu saja ia merasa sangat bahagia dengan keputusan besar yang Sabina ambil saat ini.


"Tapi itu akan aku lakukan 2 tahun mendatang ketika Athalla tak lagi menyusu. Dan selama itu Gibran akan mencari tahu dokter dan rumah sakit terbaik untuk melakukan operasi ini." jelas sabina.


"Lakukan apapun yang harus dilakukan, ayah akan mendukung secara moral juga materi."


"Terimakasih," ucap Gibran dan Sabina secara bersamaan.


***


Di kediaman keluarga Tama, semuanya telah menanti seorang wanita yang akan Andre bawa untuk makan malam bersama. Walaupun sebenarnya ibu Andre masih setengah hati menerimanya, sedangkan ayah Andre hanya pasrah dan adik-adiknya yang lain belum paham apa tujuan makan malam yang di gelar malam ini.


Semua telah menunggu di meja makan ketika bel pintu berbunyi dan tak lama masuklah Andre yang datang dengan memangku seorang anak lelaki dan Alya berjalan tepat di belakangnya.


Adiknya yang kini memegang wakil direktur perusahaan mengenali wanita yang berjalan di belakang kakaknya itu dan menyambutnya dengan ramah.


"Semuanya, perkenalkan ini Alya dan Raka." ucap Andre seraya membawa pinggang Alya untuk lebih dekat dengannya.


Alya tersenyum seraya menganggukkan kepala sebagai tanda penghormatan.


"Ayo duduk, kita sudah lama menunggu." ajak ayah Andre se-ramah yang ia bisa. Bagaimanapun Alya adalah wanita yang menyelamatkan anaknya.


Andre menggenggam tangan wanita yang dicintainya itu untuk menenangkan. Mereka duduk bersama di ruang makan untuk lebih saling mengenal. Ini adalah kali kedua bagi Andre membawa wanita untuk bertemu keluarganya selain Sabina.


Setelah acara makan malam selesai dilakukan, mereka pun kembali duduk bersama di ruang keluarga dan dengan keberanian yang Andre miliki yang entah datang dari mana namun Andre yakin Alya lah salah satu yang membuat ia menjadi berani.


Andre menceritakan segala rahasia dalam hidupnya, termasuk rahasia hidupnya sebagai petualang wanita dengan segala uang dan kedudukan yang ia punya hingga menyebabkan kehilangan anaknya dan juga terjangkit penyakit yang memalukan.


Andre juga menjelaskan jika Alya lah yang membantunya bangkit dari keterpurukan hingga pada akhirnya ia sadar jika dirinya tak bisa hidup tanpa wanita yang menjadi penolongnya itu.


Semua terlihat syok dengan apa yang Andre ceritakan, dan tak mampu berkata-kata apapun karena mereka tak tahu perjuangan berat yang dihadapi lelaki itu. Bahkan ayah ibunya sendiri tak sadar dengan apa yang telah anaknya alami karena di hadapan mereka Andre seorang anak yang baik hingga ia melarikan diri di hari pernikahannya dan disitulah mulai terkuak siapa Andre sebenarnya.


Andre juga mengatakan jika ia telah menyesali segala perbuatannya dan akan berubah. Salah satu cara yang akan ia tempuh adalah dengan mencintai satu wanita saja yaitu Alya. Bahkan ia mengatakan keinginannya untuk segera melamar wanita beranak satu itu.


Semua yang mendengarkan sangat terkejut dengan keputusan yang Andre ambil termasuk Alya yang membulatkan matanya tak percaya.


***


"Alya, apa yang ku katakan tadi adalah sebenarnya. Aku ingin membenahi hidupku dan itu denganmu." ucap Andre ketika ia mengantarkan kembali wanita itu ke rumah kontrakannya yang sederhana.


"Ta... tapi kita baru saja saling mengenal,"


"Tapi aku sangat takut kehilanganmu, aku tak mau kehilangan wanita sebaik kamu."


"Aku tahu ini bukanlah pernikahan yang kamu inginkan, tapi aku akan bersabar menanti hingga perasaanmu yakin padaku. Aku tak akan menyentuhmu hingga kamu pun merasakan cinta yang sama. Aku hanya tak ingin jauh darimu. Aku tak ingin sendirian lagi." Ucap Andre penuh mohon.


Alya diam tak bicara, ia hanya pandangi wajah sendu di hadapannya dengan pergulatan batin yang hebat.


***


Sabina baru saja merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan tak lama Gibran pun menyusulnya.


"ada apa ?" tanya Sabina. Ia melihat wajah Gibran yang sendu seperti sedang memikirkan sesuatu.


"gak ada apa-apa" elak Gibran.


"Kamu gak bisa bohong sama aku. Kenapa, Sayang?" tanya Sabina penasaran.


"Bina sayang, aku sungguh bahagia kamu mau melakukan semua. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu padamu ?" Gibran balik bertanya dengan sedikit rasa ragu.


"Meminta apa ?" Sabina berkerut alis tak paham.


"Tapi berjanjilah kamu tak akan marah dengan apa yang akan aku katakan." ucap Gibran dengan wajahnya yang memelas membuat Sabina merasa begitu gemas dengan suaminya itu.


"Aku gak akan marah, janji." ucap sabina sembari mengangkat kedua jari tangannya.


"Bina, sayang...." kata Gibran sedikit ragu. Ia pun menghela nafasnya sebelum mulai berbicara.


"Apa sayang ?" tanya Sabina sembari tersenyum dan ia pun menyisir rambut suaminya dengan jemari tangannya. Saat ini keduanya tengah terbaring dengan saling berhadapan di atas tempat tidur mereka.


"Sayang... jika nanti kamu sudah sembuh total... bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Meminta apa ?" Sabina semakin penasaran.


"Bolehkah kamu tetap menutupi tubuhmu ?" tanya Gibran malu-malu.


"Hah?" Sabina mengerutkan keningnya karena tak juga mengerti apa yang Gibran inginkan.


"Aku ingin kamu tetap memakai baju yang tertutup, bukan yang kurang bahan."


"Maksud mu ?" tanya Sabina lagi.


"Aku tak ingin kamu mengenakan pakaian yang sek*i dihadapan orang lain karena keindahanmu hanya milikku seorang." jawab Gibran tanpa ragu.


"Hah ?" Sabina membulatkan matanya tak percaya.


"Kamu hanya milikku seorang, dan aku tak mau berbagi keindahanmu dengan siapapun." Gibran mengulang kembali ucapnya.


"Ten... tentu saja, aku tak akan berubah seperti itu " ucap Sabina yang terkejut dengan permintaan Gibran.


"Bina, aku ini sangat mencintaimu. Takut sekali kehilangan kamu." ucap Gibran seolah mengerti apa yang Sabina pikirkan.


"Apa kamu tahu ? aku lah yang takut kehilanganmu, Gibran. Aku yakin diluar sana banyak wanita yang sangat menginginkanmu."


"Tapi tak ada satupun dari mereka yang mencintai aku seperti kamu. Mereka hanya melihat apa yang aku miliki sedangkan kamu mencintaiku dari hati." ucap Gibran.


Bukan tanpa alasan Gibran mengatakan hal itu, ia mengingat kejadian setahun lalu ketika mereka baru saja menikah. Gibran yang kala itu menolak kehadiran istrinya bisa jatuh cinta dengan cepatnya karena sikap lembut Sabina yang sabina berikan padanya. Juga sikap Sabina yang menerima dan menghormatinya sebagai suami padahal status sosial mereka begitu berbeda. Bahkan istrinya itu masih menjaga nama baiknya dari seluruh keluarganya ketika pertengkaran hebat melanda mereka.


"Aku juga bersyukur karena kamu mau menerima aku yang memiliki kekurangan ini. Terimakasih telah mencintai aku dengan tulus." ucap Sabina seraya mengecup bibir Gibran dengan mesra.


Kecupan itu tentu saja Gibran balas dengan suka hati, ia menahan kepala Sabina agar tak menjauh.


Kecupan lembut itu berubah kian menuntut, keduanya sama-sama menginginkan lebih hingga dengan tak sabarannya kedua tangan mereka melepaskan kain yang menutupi tubuhnya masing-masing.


Tak lama aroma khas percintaan memenuhi kamar mereka.


To be continued ❤️


jangan lupa like dan komen yaaa 😘