
****
Tatapan mata alfino seolah mengisyaratkan sebuah perasaan yang mendalam di hatinya terhadap Alika.
Alika dapat mengartikan tatapan itu, namun ia berusaha menepisnya.
" em... al, ada apa? apa yang kau bawa?mengapa repot repot? tanya Alika.
Alfino menurunkan tatapan matanya dengan cepat dan sedikit gugup.
"ini buah untukmu, kata alfino meletakkan buah di meja.
Alika kembali tersenyum tanpa menatap laki laki yang kini di hadapannya.
"terimakasih, lain kali jangan repot repot, ini nenek juga menyuguhi aku banyak makanan sehat, kata Alika.
Nenek sumiati yang sedari tadi berada di tengah keduanya itu pamit ke belakang untuk membuatkan minuman Al.
" aden mau minum apa? nenek sumiati bertanya sekaligus menawarkan.
"tidak perlu repot repot nek, nanti kalo Al mau, al bisa buat sendiri kok, kata Alfino.
"nenek istirahat saja, sambung Al lagi.
nenek sumiati tetap membuatkan minuman walaupun hanya sekedar teh hangat,
keduanya berbincang serius di ruang tamu, sementara nenek sumiati dan kakek Ramlan melihat mereka berdua menjadi terkesan.
" aden fino itu kurang apa ya pak?
wes ganteng, kaya raya juga, baiknya masyaallah ya pak? ucap nenek sumiati memuji alfino.
" iya ya bu, mereka berdua memang cocok banget ya, semoga aja cucu kita juga dapet jodoh yang kayak aden Alfino ya bu, ucap kakek Ramlan.
tapi mereka juga berkata kemalangan nasib Alika, mengapa ada yang tega menyakiti hati wanita baik dan secantik Alika, padahal ia bisa mendapatkan pangeran tampan juga kaya raya sekalipun.
sementara Alika dan Alfino masih di ruang tamu, Alika duduk sembari memangku piring yang berisikan buah yang di berikan nenek sumiati tadi, sementara Alfino duduk di sofa tepat di depan Alika.
sesekali matanya menelisir kesegala arah ,ia ingin bicara serius namun takut ada yang mendengar.
" ada apa? tanya Alika sambil melihat arah yang dituju Alfino.
"tidak ada apa apa kok, aku minum tehnya ya, kata Alfino mengambil segelas teh.
Alfino menghela nafas pelan setelah meminum tehnya, dan sekali lagi Alika bertanya ada apa? karena melihat wajah alfino seperti ada hal serius yang ingin di sampaikan.
" bagaimana dengan Marfin? apakah dia selalu menghubungimu? tanya Alfino memulai pembicaraan.
"dia tidak mengetahui nomor ponselku, itu sebabnya dia tidak pernah menghubungiku,kata Alika.
" tapi bagaimana dengan anak yang kau kandung, bukankah itu artinya kau juga masih istrinya?
" iyaa... tentu saja, aku masih istrinya. jawab Alika singkat.
mendengar pernyataan Alika, Alfino menjadi diam tak berkata lagi hingga akhirnya ia pamit pulang.
" aku pamit pulang ya, ucap Alfino bergegas berdiri
"loh kenapa buru buru, cegah Alika bergegas berdiri juga.
" iya masih ada kerjaan, besok kamu jangan kerja dulu ya, biar kerjaanmu ada bela yang handle, tutur Alfino.
" tapi aku besok mau kerja, aku jenuh di rumah, kata Alika.
" keras kepala, kata Alfino sembari menggerakkan kepalanya.
"yasudah, terserahmu saja, sambungnya lagi.
Alika mengantar Alfino sampai kedepan pintu, ia berdiri disana sampai mobil yang dikendarai alfino hilang.
" hati hati, teriak Alika.
kemudian Alika menutup pintu dan kembali kedalam rumah.
****
" Selamat sore pak... ucap karyawan yang ia temui sepanjang jalan menuju keruangannya.
ia hanya menjawab dengan tersenyum manis,
" bella... alfino memanggil.
"iya pak, bella langsung sigap berdiri.
" keruangan saya, pinta alfino.
"baik pak,ucap Bella menyanggupi sembari sedikit membungkuk.
" waduh, ada apa ya kok pak fino tidak biasanya manggil aku, batin bella cemas.
Alfino membuka pintu ruangan kemudian duduk di kursi putarnya dengan menyilangkan kaki, kemudian sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya.
ruangan kerja Alfino sangat besar, sehingga jarak antar pintu dan mejanya juga cukup jauh, disana ada ruang tamu, tempat tidur,kamar mandi, ruang ganti juga ruang dapur.
"ya... jawabnya masih sibuk dengan berkasnya.
"bapak memanggil saya, tanya bella dengan wajah cemas.
"silahkan duduk, pinta alfino.
Bella pun dengan segan duduk di kursi tepat berhadapan dengan bossnya.
Alfino kemudian memberikan tumpukan berkas kepada bella,
"ini, saya ingin kamu menyelelesaikannya dalam waktu 5 jam, perintah Alfino tanpa melihat bela ia langsung sibuk dengan ponselnya.
" sebanyak ini, batin bella.
"kamu masih berdiri, ayo cepat selesaikan.
jika kamu tepat waktu, maka saya akan memberimu hadiah, tutur Alfino.
" wahh.... biarpun pak alfino itu sedikit galak, tapi dia baik sekali, oh my good tampan sekali, batin bella.
ia begitu terkesima hingga matanya membulat dan mulutnya sedikit terbuka saat melihat wajah tampan yang terlihat meski sedang sibuk dengan ponselnya.
" ada apa? tanya Alfino.
"tidak pak.... baik a... a.. akan saya usahakan pak,jawabnya gugup.
dengan bahagia bella keluar dari ruangan alfino dengan tumpukan berkas yang di bawanya.
"aduhh sibuk banget sih, ini banyak banget,kata lina melihat berkas yang di pangku kedua tangan bella hingga menutupi mata bella.
" iya nih cepat bantu,taro di mejaku, pinta Bella memberikan beberapa berkas kepada lina untuk membantunya.
lina pun dengan sigap membantu sahabatnya itu,
ya.... Alfino andriano dia baru beberapa bulan saja menjadi ceo di perusahaan ayahnya, meski begitu ia sudah di kenal dengan sikap galaknya dan juga baik hati, ia kerap kali memberikan hadiah kepada karyawan yang berprestasi hal itu ia lakukan untuk memacu semangat bekerja karyawan.
****
sementara itu di sebuah kamar, Marfin masih tergeletak di kasur di temani leo yang tidur diatas sofa.
"Alika..... Marfin mengigau.
seketika leo terbangun dari tidurnya mendengar suara Marfin.
"tuan, tuan baik baik saja, tanya leo.
"tidak akan ada orang yang baik baik saja ketika di tinggalkan orang yang sangat dia cintai, mengapa dia meninggalkan aku, apa yang salah denganku? apa yang tidak ku berikan untuknya, aku ingin anakku. suara Marfin terdengar lemas dan pelan.
Marfin berdiri sempoyongan kemudian leo membantunya, bu Risma datang dari balik pintu.
" kau sudah sadar? tanya bu Risma.
" ibu...??
marfin tersenyum miring melihat ibunya,
Dimana istriku bu? begitu banyak orang yang melindunginya hingga aku tak bisa melacaknya, bu dia hamil anak aku, tolong bu dimana Alika? tanya prustasi Marfin sembari jongkok dan memegangi tangan ibunya.
"berdiri, Tegas bu Risma.
Marfin menuruti perintah ibunya,sorot matanya memancarkan kesedihan yang teramat dalam, sikap sombongnya tak lagi terlihat oleh bu Risma.
"katakan,apa selama istrimu meninggalkanmu, kau juga sudah meninggalkannya? Tanya bu Risma sambil mencengkram pundak putranya.
"ibu? aku tidak Ada hubungan apapun Dengan wanita lain, ini salah bu? aku Hanya menolong wanita itu, Wajah marfin Memelas.
"menolong katamu nak?
menolong wanita lain, namun mencampakkan istrinya sendiri?
" tidak bu... tidak... Marfin menggerakkan kepalanya.
"kau sayang ibu? Tanya bu Risma.
"apa Maksud ibu? Marfin tidak mengerti.
bu Risma melepaskan cengkramannya.
"jika begitu? berjanjilah pada ibu, untuk tidak menyakiti istrimu,tinggalkan wanita itu! perintah bu Risma sambil memalingkan muka.
"baik bu, katakan dimana Alika?
********
" cinta adalah hasrat suci yang Penuh kegilaan, seperti awan yang rela menjadi hujan, seperti pelita yang rela terbakar atas nama pengorbanan,andai Ada harapan aku ingin menapaki kehidupan bersamamu meski harus melewati kedukaan, aku ingin menggenggam tanganmu Dan berkata" aku mencintaimu,"
wahai Nona, segenap jiwaku akan kutahan bibirku berkata demikian, karna aku menyadari haram bagimu untuk mencintaiku,dan akupun akan berdosa bila merebutmu.
Alfino menutup laptopnya kemudian ia membaringkan tubuhnya Di kasur.