
burung burung bernyanyi ria, menyambut *pagi, angin bertiup kesana kemari dinginnya menembus kulit.
ombak berkejar kejaran menerpa karang di tepi laut.
nelayanpun menepikan perahunya untuk menghitung tangkapannya yang didapat semalam.
oh pantai....Alangkah indahnya, Gumam Alika.
Alika melindungi tubuhnya dengan mengangkat kedua tangannya kedada, Marfin meletakkan jaket ke pundak istrinya .
" aku akan membawakan teh hangat kemari tunggulah sebentar.pinta Marfin.
Marfin datang membawakan Alika teh hangat,
" terimakasih tuan ucap Alika.
*bagaimana jika nanti sore kita berbelanja kemudian makan di pinggir jalan. pinta Alika.
Marfin hanya mengerutkan kening,dan mengangkat jempolnya mengisyaratkan bahwa ia menyetujuinya.
" Dasar patung, Batin Alika.
Alika kesal kemudian ia pergi, Marfin tampak sedang menikmati panorama di pandangan Matanya sehingga tak menyadari istrinya telah meninggalkannya.
Alika berjalan menyelusuri trotoar, ia duduk sembari meluapkan kekesalannya.
ia menendang bekas botol minuman yang ia temui di depan matanya.
plakk....suara botol mengenai seorang pria yang tengah santai memain kan ponsel di depan mobil .
Aduhh....jerit seseorang tersebut.
melihat Alika begitu santainya duduk seolah tidak melakukan kesalahan apapun orang tersebut marah besar dan menghampiri Alika seraya meyodorkan botol minuman yang tepat mengenai kepalanya.
" botol siapa ini? lelaki itu menyodorkan bekas botol dengan suara datar.
"tidak tau, buanglah sampah pada tempatnya. ucap Alika santai.
" heyy.... kau yang membuang botol ini tepat mengenai kepala ku.
Alika menatap kaki pria itu kemudian tatapannya naik mengenai mata yang tajam.
Alika kemudian berdiri dengan rasa gugup.
" maaf. kata Alika
Laki laki itu tampak semakin kesal melihat ekspresi Alika yang tampak santai merasa tidak bersalah.
" heh berdiri cepat. bentak pria tadi.
Alika kemudian berdiri,
" aku sudah minta maaf lalu apa lagi,
tadi mengenai tepat dikepalaku ,kau tau rasanya sangat sakit. ucap pria tadi.
" ya ampunn , aku sudah bilang aku minta maaf dasar laki laki bodoh... Alika menjawab sambil berjalan matanya hanya mengarah kepada jalan yang didepannya. dia tidak sedikitpun menoleh kepada pria itu. kemudian Alika menghentikan taksi.
" hey siall , mau pergi kemana. teriak pria itu.
ponsel Alika berbunyai.
Alika : Hallo?
Alika : aku tadi jalan jalan sebentar,sekarang aku akan pulang.
Marfin : katakan sekarang kau dimana aku akan menjemputmu.
Alika : tidak usah , aku bisa pulang sendiri.
Marfin : memangnya kau tau jalan pulang hah?
pak tolong antarkan saya ke jalan XX ya pak.
siap non. ucap supir taksi.
Alika : kau dengar ? supir disinj tau jalan. jadi aku akan sampai kerumah.
Marfin : terserah, dasar bodoh.
dari cara berbicara marfin nampak kesal kepada Alika ia kemudian mengakhiri pembicaraannya.
Marfin mondar mandir di teras villa menunggu kedatangan istrinya. ia tampak sangat cemas. beberapa menit setelah ia selesai bicara dengan Alika. taksi berhenti di depan villanya, cepat cepat Marfin menghampirinya dan membukakan pintu.
" gadis bodoh , Ayoo. tarik Marfin.
Marfin terus menggenggam tangan istrinya kemudian menuntunnya kedalam kamar . dengan kesal ia menatap tajam Alika.
Marfin : aku sangat mengkhawatirkan mu kau enak jalan jalan, Marfin memegang wajah Alika kemudian menghempaskannya lagi.
Alika : memangnya kenapa kalo aku pergi, apa peduli mu? bukankah kau sedari tadi hanya bisa diam. jadi kenapa kau bicara saat aku tidak ada.
Marfin : jika sesuatu terjadi padamu , keluargaku dan keluargamu tidak akan mengampuniku. ucap Marfin kesal.
Alika: kau tidak usah memperdulikanku, bukankah aku hanya mempunyai status istri tapi tak mempunyai hakku sebagai istri,jadi jangan bertanggung jawab atas aku.
Marfin :kau tau ? saat kau terkulai lemas dengan bersimbah darah, karna apa? karna kau juga meninggalkan pesta malam itu. bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkanmu saat tadi kau menghilang tiba tiba, aku sangat takut sesuaty terjadi lagi padamu. Marfin tersudut emosi tanpa sadar apa yang di ucapkannya.
kepalan tangan Marfin memukul tembok hingga terluka.
Alika ketakutan , ia menangis namun bahagia karna perkataan Marfin yang demikian meyakinkan Alika bahwa benar yang telah menyelamatkannya waktu itu adalah suaminya.
" kau berdarah , alika memegang tangan Marfin. Marfin menghempaskan genggaman Alika .
biar ku obati dulu lukamu, Alika tergesa gesa mengambilkan obat untuk suaminya.
" jadi kau yang telah menolongku waktu itu. tanya Alika memastikan sambil mengobati luka Marfin.
" apa maksudmu, menolongmu, waktu itu, apa? tanya Marfin gagap.
" mengapa kau merahasiakannya padaku ? tanya Alika lagi.
rahasia apa? Marfin pura pura tidak mengerti.
sudah, bentak Marfin. Marfin menghentikan tangan Alika yang berusaha mengobati lukanya .
pergilah . pinta Marfin kepada Alika.
Alika meninggalkan Marfin dan membawa kembali obatobatan di tangannya.
" mengapa dia merahasiakan ini dariku, dia bahkan sangat tidak ingin aku mengertahuinya, pasti ada sesuatu.
sekretaris leo pasti tau benar akan hal ini. Batin Alika*.