
Marfin menyapu bersih tatapannya kepada Alika yang duduk dan masih melanjutkan tangisnya di kamar.
kemudian dengan langkah yang sangat pelan ia menghampiri istrinya .
" apa yang harus aku lakukan lagi, haruskah aku meminta maaf?
tapi memang aku yang salah , mengapa tangan kotorku menyentuh gadis sesuci dia. Batin Marfin memberontak menyesali perbuatannya.
tapi bukankah aku ini suaminya, seburuk apapun aku pantas menyentuhnya , karna dia milikku, aku juga sangat mencintainya.Batin Marfin terus saja berujar seolah tidak
ada habisnya.
dia hanya terpaku bisu di hadapan istrinya, matanya sayu menatap wajah yang memerah karna terlalu banyak mengeluarkan air mata.
ia memberanikan diri melekukkan lututnya ke lantai pas di bawah kaki istrinya .
" Maafkan aku gadis bodoh. marfin mengusap lembut lutut istrinya.
" mengapa dia selalu menegaskan kalo aku ini bodoh,
Batin Alika menatap lirih suaminya.
" *iya aku memang bodohh, kalo di ajak lomba lari aku pasti kalah, aku ini memang bodoh,
.Alika memajukkan bibirnya mengeraskan volume tangisnya kemudian menundukkan kepala.
Marfin tertawa terpingkal pingkal sampai suaranya bergema di seluruh ruangan.
Hahahaa.....
sudahlah, aku tau kau marah. ucap Marfin. sambil mengelus pelan lutut istrinya.
" hey tapi kau memang bodohh bukan,? Marfin memiringkan kepalanya bertanya kepada Alika yang menundukkan kepala sambil tersenyum menggoda.
Alika mengangkat kepalanya , menatap dalam dalam mata suaminya kemudian menunduk dan menangis lagi.
" Apa kau ingin aku menciummu lagi? marfin memiringkan kepala dan membelai halus rambut istrinya.
Alika langsung mengangkat kepalanya, bersikap seolah tidak senang mendengar ucapan suaminya tersebut.
" *jangan sentuh aku, aku kotor. Alika memajukan bibirnya sambil terisak isak.
Marfin tersenyum lebar mendengar kata Alika, karna baru kali ini ia melihat istrinya seperti kekanakkanakan dan manja.namun hatinya sangat senang*.
bagaimana jika kita pulang saja? ucap Marfin.
sebenarnya aku sudah membelikan tiket kita pulang. ucapnya lagi dengan nada yang ia buat selembut mungkin agar tak menambah volume tangis istrinya.
Alika mengangkat kepala nya dan berdiri dengan ekspresi seolah olah bahagia seperti anak kecil yang diajak main jauh tiba tiba minta pulang.
ayoo.... ajak Alika.
" bagaimana ini bisa di sebut bulan madu, jika keadaannya menyebalkan seperti ini. Batin Alika.
Alika segera mengambil koper dan memasukkan semua baju yang ada didalam lemari.ekpresinya seperti sedang marah.
sore harinya.
Alika melebarkan langkahnya menuntun koper miliknya ,supirnya terburu buru mengambil koper yang ada di tangan Alika.
biar saya bawa nona. supirnya menawarkan sambil merebut koper dari tangan Alika.
Alika langsung menatap tajam supirnya , dari matanya amarah itu masih terpendam.
supirnya mengerti kemudian melepaskan genggaman koper tersebut dan membiarkan Alika membawa kopernya sendiri.
" Marfin menggeleng gelengkan kepala melihat kelucuan istrinya saat sedang marah.sesekali ia tertawa kecil.
sepanjang perjalanan Alika, tak berkata apa apa dia hanya diam, ketika dia di tanya oleh suaminya atau orang lain dia hanya mengekspresikan gerak tubuhnya.
sekretaris Leo telah menunggu kedatangan mereka di bandara bersama asisten pribadinya.
" nyonya apa kabar? sapa sekretaris leo.
tuan? tanya Leo kepada Marfin.
keduanya hanya membalas senyum
sekretaris Leo terheran dengan sikap keduanya , mengapa mereka, adakah mereka sedang ribut. Batin sekretaris Leo.
di perjalanan nampak sunyi, hanya terdengar suara kendaraan berlalu lalang.
sektetaris leo sesekali melihat spion dan melihat kebelakang, ia tersenyum melihat nona dan tuan mudanya nampak seperti anak anak dengan polah mereka.
sesekali juga sekretaris leo membuka percakapan namun keduanya menjawab begitu simple tak banyak bicara.
tiba di rumah kediaman wijaya.
Tiinn...Tiinn
Leo membunyikan klaksonnya , nampak seorang laki laki buru buru membukakan pintu gerbang, kemudian mobil masuk ke jalanan rumah yang panjang, Rumah yang berdiri diatas tanah 700 hektare, sebuah rumah yang mewah dan megah.
Alikapun baru sekali di ajak keliling melihat lihat fasilitas rumah namun tak bisa ia hapal dalam sehari . hanya kamarnya saja yang begitu ia hapal.karna letaknya tak jauh dari pintu utama kemudian menaiki lantai ke dua tepat di depan tangga itulah kamarnya.
mobil berhenti di depan rumah megah bergaya modern itu, sekretaris leo segera membukakan pintu dan mempersilahkan keduanya .
bu Risma nampak mempersiapkan hidangan lezat untuk menyambut kepulangan mereka.
semua pelayan di rumah wijaya nampak sedang berbaris menyambut kedatangan tuan muda dan nona muda.
" bagaimana sayang, apakah kalian bahagia?Bu risma bertanya kepada keduanya.
" tentu saja bu,dia sangat memanjakan aku, aku makin tergila gila denganya. jawab Alika menatap tajam Marfin.
" Tapi bohong, Batin Alika.
Marfin tersenyum dan menanggapi ucapan Alika." iya bu bagaimana dia tidak tergila gila padaku, aku sangat tampan bukan.
Marfin menunjukkan ekspresi keangkuhannya .