Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Bukan Mauku


Happy Reading ❤️


Tak ada kata terucap dari bibir suaminya itu namun pundak Gibran yang bergerak naik turun menandakan lelaki itu tengah terisak karena menangis.


"Gib... Gibran ? Kamu kenapa ?" tanya Sabina terheran


"Biarkan aku seperti ini, Bina. Biarkan aku memelukmu." jawabnya lirih.


Sabina hanya terdiam, membiarkan suaminya melakukan itu walaupun ia tak paham. Ingin Sabina bertanya namun ia takut dengan jawaban yang akan Gibran berikan.


Tak ingin berdebat, tak ingin saling berteriak lagi hingga saling menyakiti. Sabina mengenyampingkan segala masalah demi kesehatan buah hati yang ia kandung. Sepertinya Gibran pun berpikiran sama karena ia tak pernah berbicara tentang perdebatan terakhir mereka seminggu yang lalu. Keduanya seolah sepakat untuk tidak membahas hal itu dulu.


"Sudah siang, nanti kamu terlambat." ucap Sabina lirih namun terdengar jelas oleh Gibran. Rasanya cukup lama Gibran memeluknya dengan erat.


Gibran pun menguraikan pelukannya, "Ah iya , aku harus pergi sekarang. Tunggu ya, aku gak akan lama." jawab Gibran seraya mengacak puncak kepala Sabina dengan gemas.


"Hah ? takkan lama ?" tanya Sabina tak paham tapi Gibran tak menjawab. Yang suaminya lakukan malah keluar dari mobilnya dan berlari kecil memutari, hingga tiba di sebelah pintu Sabina dan membukanya.


Sabina pun keluar dan Gibran mengantarkan istrinya itu hingga memasuki rumah. "Aku pergi." Gibran kembali berpamitan. Sabina hanya menganggukkan kepala tanpa bersuara.


Di dalam mobilnya Gibran kembali terisak, ia menundukkan kepala di atas setir. Mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Tak terbayangkan jika ia harus kehilangan Sabina sang istri yang dengan tulus mencintainya.


"Aaarrggghhhhh," teriaknya tertahan. Sungguh Gibran merasa menyesal juga malu dengan apa yang telah ia lakukan pada istrinya itu sehingga Sabina harus merasakan sakit hati karena dirinya dan berpengaruh terhadap kehamilannya.


***


Di dalam rumah, Sabina terdiam tak paham dengan apa yang terjadi pada Gibran. Ia masih tak berani untuk bertanya karena takut yang Gibran katakan akan kembali membuatnya sedih. Sabina takut jika jawaban yang Gibran berkaitan dengan Amanda.


"Non, sudah pulang ? Mbok siapkan makan ya ?" tanya mbok Inah yang baru saja datang ke ruang tamu dari arah belakang.


"Aku udah sarapan, Mbok. Terimakasih." jawab Sabina.


"Mbok, buket bunga yang kemarin sudah di buang kan ?" Tanya Sabina sebelum ia menaiki tangga.


" Sudah Non. Sebenarnya sayang banget mau Mbok buang karena bunganya bagus."


"Iya sayang sekali, tapi gak apa-apa demi kebaikan bersama." jawab Sabina sembari tersenyum penuh arti dan ia pun berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 2.


***


Sementara itu di sebuah gedung perkantoran yang tinggi seorang lelaki tengah menunggu kabar dengan cemas. Siapa lagi jika bukan Andre yang saat ini beberapa kali memeriksa ponselnya berharap Sabina membuka blokiran nomornya dan mengirimkan pesan kata-kata terimakasih atas buket bunga yang ia kirimkan kemarin tepat di hari ulang tahun Sabina yang ke 24.


Sejak bertemu di rumah sakit, wajah Sabina selalu terbayang di kepalanya. Wanita itu terlihat semakin cantik dengan kehamilannya. Dalam hati kecil Andre, ia sangat berharap jika anak yang Sabina kandung adalah anaknya.


"Kita berdua pasti akan bahagia, Bina. Kamu akan jadi seorang ibu yang hebat dan aku akan menjadi ayah yang bertanggung jawab" Batin Andre dalam hatinya.


"Lagi nunggu telepon penting ?" tanya Alya yang kini membawa setumpuk berkas yang Andre minta sebelumnya.


Andre mengangkat wajahnya dari layar ponsel dan melihat Alya yang berdiri di hadapannya.


"Eh maaf, bukannya ingin tahu. Hanya saja aku telah beberapa kali mengetuk pintu tapi kamu gak jawab juga." ucap Alya yang merasa tak enak hati karena takut Andre mengira ia ingin ikut campur masalah pribadi atasannya.


"It's oke, aku lagi nunggu Sabina menghubungi aku." jawab Andre yang tak bisa menutupi perasaannya saat ini. Toh Alya juga telah tahu seluruh cerita hidupnya, dan seperti yang wanita itu janjikan ia tak pernah membicarakan tentang hidup Andre pada siapapun.


"Sabina ?"


"Hu'um, kenapa ?" Andre balik bertanya.


"Mmm bukannya dia telah menikah ?"


Andre menganggukkan kepala, " iya, bahkan dia sedang hamil besar." jawab Andre.


"Oh...," gumam Alya dengan raut wajah yang raut wajah yang sulit diartikan.


"Kenapa ?" tanya Andre lagi.


"Apa kamu gak kasihan sama dia ?" Tanya Alya takut-takut.


"Gue malah masih sayang sama dia." jawab Andre tanpa ragu.


Alya menatap mata Andre dengan dalam sebelum ia berbicara lagi.


"Jika masih sayang maka lepaskanlah..," ucap Alya pada akhirnya.


"Hah ?" Andre mengerutkan dahi tanda tak paham.


"Jangan hancurkan dunia Sabina untuk kedua kalinya." tutur Alya dengan jelas.


"Maksud kamu ?"


"Dulu kamu hancurkan dunia Sabina dengan meninggalkan dia tepat di hari pernikahan dan sekarang Sabina telah mempunyai kehidupan yang lain, dengan kehamilannya saat ini menunjukkan jika ia dan suaminya telah memiliki ikatan cinta. Bukannya kamu pernah bilang jika suaminya sangat pencemburu ? jadi jelas sekali pada akhirnya mereka berdua saling jatuh cinta. Dan kamu jangan masuk menjadi orang ketiga, jangan hancurkan dunia yang sudah menjadi milik Sabina dan suaminya. Waktumu dengan Sabina telah berlalu." Ucap Alya dan membuat Andre tercengang seketika.


"Bukan maksudku ikut campur masalah pribadi mu. Tapi Sabina berhak bahagia." lanjut Alya lagi sebelum ia meninggalkan Andre yang duduk di kursi kerjanya sembari memikirkan apa yang rekan kerjanya ucapkan tadi.


***


"Sabina mana ?" tanya seorang lelaki yang Sabina hafal betul suaranya. Lelaki yang terisak-isak menangis di pelukannya tadi pagi.


Sabina pun berjalan menuju tangga dan mencari tahu siapa yang datang dan tepat seperti dugaannya Gibran telah pulang dengan banyak kantong belanjaan.


"Bina udah makan siang, Mbok ?" tanya Gibran.


"Belum, Pak."


"Oh baguslah, biar saya yang siapkan." lanjut Gibran.


Sabina segera kembali ke tempat dirinya duduk tadi dengan pikirannya sendiri. "Tumben banget Gibran pulang. Harusnya kan nanti sore Apa dia gak praktek di kliniknya ?" dalam hati Sabina terus bertanya-tanya. Namun seperti sebelumnya Sabina tak ingin terlalu banyak bertanya jadi ia memilih diam seolah tak tahu jika suaminya itu telah pulang.


Sekitar 30 menit kemudian ia mendengar seseorang menaiki tangga dan Sabina yakin itu adalah suaminya.


Sesuai dengan dugaannya, Gibran datang dengan sebuah nampan berisikan banyak makanan diatasnya.


"Bina, ayo makan siang dulu. Aku sendiri yang memasaknya." ucap Gibran seraya meletakkan nampan diatas meja.


"Kamu gak ke klinik ?" tanya Sabina tanpa memperhatikan makanan yang di bawa Gibran


"Nggak," jawab Gibran sembari tersenyum.


"Ayo makan siang dulu, ingat kata dokter Dewi kamu harus makan teratur. aku suapi ya ?"lanjut Gibran lagi.


Wangi aroma beef terayaki menggoda indra penciuman Sabina saat ini dan entah kenapa tiba-tiba selera makannya muncul begitu saja.


Gibran menyendok sedikit nasi bercampur olahan daging dan juga sayur brokoli lalu menyuapkan makanan itu pada Sabina.


Sabina membuka mulut, menerima suapan dari suaminya. Tak ada rasa mual atau pun rasa tak ingin makan. Sungguh yang ia rasakan saat ini adalah makan siang ternikmat yang pernah Sabina rasakan.


"Suka ?"


Sabina pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan Gibran tersenyum bahagia melihat itu.


"Kalau begitu habiskan ya, aku masak spesial hanya untuk kamu." ungkap Gibran sedikit merayu.


Gibran dengan sabar menyuapi istrinya sedangkan Sabina tak mengerti kenapa ia begitu menikmati makan siang buatan suaminya ini.


"kenapa gak praktek di klinik ?" tanya Sabina sembari menunggu Gibran menyendok makanan untuknya.


"Gak pa-pa, aku hanya ingin cuti saja."


"sampai kapan" tanya Sabina lagi.


"Entahlah, aku belum tahu."


"Apa karena aku ?" tanya Sabina cemas.


"Mmm karena aku ingin menjaga kalian." jawab Gibran.


"Aku tahu kamu sangat mencintai pekerjaanmu dan sangat menyukai orang-orang disana jadi kumohon jangan jadikan aku sebagai penghalang pekerjaanmu. Aku tak akan protes apapun lagi padamu. Kamu bisa lakukan apapun sesukamu."


"Sssttt, jangan katakan itu Bina. Ini semua sudah menjadi keputusan aku. Aku ingin menjaga anak kita dan yang paling utama aku ingin dekat lagi denganmu seperti dulu" jelas Gibran dengan perlahan.


"Hah ?" Sabina berkerut alis tak paham.


"Mulai hari ini aku akan luangkan lebih banyak waktu untuk kita nikmati bersama. Aku akan perbaiki semuanya."


"Tapi aku gak mau kamu korbankan pekerjaanmu hanya karena aku." ucap Sabina yang kini merasa sangat bersalah.


"Semua sudah ku pertimbangkan dengan matang. Ini kemauan aku... ku mohon Bina, izinkan aku untuk lebih dekat denganmu seperti dulu. Please...,"


"Bagaimana dengan ibu ? beliau pasti kecewa karena kamu meninggalkan pekerjaanmu begitu saja."


"Beliau pasti mengerti, dan aku masih bekerja di rumah sakit milikmu. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan." kata Gibran menenangkan.


"Bukan begini mauku," Batin Sabina dalam hatinya.


"Aku memang ingin menjadi bagian yang penting dalam hidupmu tapi bukan berarti kamu harus mengorbankan pekerjaan yang kamu cintai." Sesal sabina dalam hati.


"Bina ? jangan berpikiran yang tidak-tidak. Saat ini aku hanya ingin lebih banyak menghabiskan waktu denganmu juga anak kita. Boleh kan?"


Sabina terdiam membisu untuk beberapa saat, ia tak menyangka jika Gibran memutuskan sesuatu yang besar. Meskipun ragu, tapi akhirnya Sabina menganggukkan kepala tanda setuju.


"Terimakasih," jawab Gibran tanpa bisa menyembunyikan wajah bahagianya saat ini Senyuman kembali terukir di bibirnya.


Ya tak ada yang lebih penting bagi Gibran selain menjaga kehamilan Sabina dan menyelamatkan pernikahannya.


To be continued ❤️


Jangan lupa like yaaa...