Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Mangga


Happy reading ❤️


"Untuk selamanya... Dan aku tidak bercanda soal ini. Aku sangat mampu melakukannya." Lanjut Sabina lagi dan Gibran pun dengan susah payah menelan salivanya sendiri.


Tentu saja Sabina sangat mampu melakukan itu. Dengan kuasa yang dimiliki oleh keluarganya Sabina dapat dengan mudah meninggalkan Gibran.


Hanya saja istrinya itu terlalu rendah hati, ia tak pernah besar kepala atau merasa di atas angin karena status sosial yang ia miliki. Sungguh Gibran lelaki yang sangat beruntung, Sabina sangat menghormati suaminya.


Begitu juga keluarga besarnya, beberapa kali Gibran mengikuti acara keluarga Sabina. Semua orang memperlakukan Gibran dengan baik tak ada batasan sama sekali. Tak ada yang memandangnya lain karena status sosial mereka yang berbeda.


Belum lagi kasih sayang yang berlimpah dari orang sekitar untuk Sabina akan dengan mudah bagi istrinya itu untuk pergi kemanapun yang ia mau dan banyak orang yang akan melindunginya.


Gibran kembali menelan salivanya sendiri ketika mengingat kenyataan tentang Sabina istrinya.


"Sudah ku katakan, kamu bisa percaya padaku Sayang. Aku mencintaimu, Bina. Sungguh." Ungkap Gibran seraya menatap dalam mata Sabina yang terlihat dingin dan ia pun mendekatkan wajahnya ke arah Sabina, menyatukan bibirnya dengan bibir Sabina dengan sempurna dan memagutnya lembut namun Sabina hanya diam. Tak membalas tak juga menolaknya. Gibran tahu, hati Sabina sedang tidak baik-baik saja.


Gibran menarik nafas pelan, kini ia harus bekerja keras untuk membuat istrinya percaya padanya.


***


Sudah 2 minggu berlalu sejak Amanda masuk rumah sakit. Sejauh ini hubungan Gibran dan Sabina pun masih mesra tak ada sesuatu yang buruk terjadi dan Gibran bersyukur akan hal itu.


Baru saja Gibran memarkirkan mobilnya di carport kliniknya namun seorang lelaki paruh baya sudah datang menghampirinya.


"Wah saya gak nyangka Pak dokter beneran datang lebih cepat." Ucap lelaki yang bernama Pak Yusuf itu.


Ia adalah pemilik pohon mangga yang rumahnya tak jauh dari tempat klinik Gibran.


"Ya, saya langsung pergi ketika Bapak kirim pesan bahwa ada beberapa buah mangga yang sudah matang di pohon." Jawab Gibran penuh semangat.


"Iya ada beberapa, tadinya mau saya ambilkan tapi kata Pak dokter mau ambil mangganya sendiri."


"Haha, iya."


"Emang Pak dokter bisa manjatnya ? Apa mau pakai bambu saja ?" Tanya pak Yusuf. Kini Gibran dan lelaki itu tengah jalan beringin menuju rumah pak yusuf untuk mengambil buah mangga yang Sabina inginkan.


"Dari kecil saya jago manjat pohon,Pak," jawab Gibran sembari tertawa.


"Gibran, tunggu ! Mau kemana ?"


Seorang wanita yang sangat Gibran kenal keluar dari ruang tunggu pasiennya. Siapa lagi jika bukan Amanda.


Dapat Gibran lihat jika Amanda kini sudah sembuh setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit. Ini pertama kali Gibran bertemu Amanda lagi sejak wanita itu meminta dirinya untuk merahasiakan penyakit yang ia idap dari Sabina.


"Kamu udah datang ? Cepet banget. Jadwal praktek aku masih 30 menit lagi." Ucap Gibran seraya melihat jam yang membelit pergelangan tangannya.


"Aku sengaja datang lebih awal." Jawab Amanda.


"Ohhh... Ya udah tunggu aku mau ke rumah pak Yusuf dulu." Ujar Gibran seraya menunjuk dengan matanya pada lelaki yang kini menunggunya di sebrang jalan.


"Ngapain ?"


"Sabina pengen mangga yang matang di pohon," jawab Gibran sambil lalu namun ternyata Amanda segera mengikutinya dari belakang.


"Aku ikut !" Ucap Amanda tanpa Gibran hiraukan.


Disinilah mereka bertiga di bawah sebuah pohon mangga yang cukup tinggi dengan banyak buahnya yang bergelantungan. Istri pak Yusuf yang sedang menggendong anaknya berdiri di atas teras dengan sebuah kantong plastik.


"Yakin mau naik sendiri, Dok ?" Tanya istri pak Yusuf itu meyakinkan Gibran.


"Haha, iya Bu. Saya ingin memilihnya sendiri untuk Sabina." Jawab Gibran yakin.


"Ngidam ya ?" Tanya nya lagi seraya tersenyum.


"Iya." Jawab Gibran dengan tersenyum juga. Sungguh ia merasa senang dengan kehamilan istrinya.


"Hamilnya manja banget." Gumam Amanda ketus, ia merasa geli membayangkan Sabina bersikap manja yang dibuat-buat.


"Apa gak repot punya istri begitu?" Tanya Amanda.


"Aku suka banget kalau sabina mau repotin aku." Jawab Gibran sembari mulai melepaskan sepatu yang ia kenakan. Dan jawaban Gibran membuat Amanda mendengus kesal.


Dengan mudahnya Gibran memanjat pohon mangga itu hingga ia kini berada di atas dan mulai memilih buah mangga yang telah matang dan terlihat mulus.


Cukup lama Gibran di atas sana dan menyebabkan beberapa helai daun jatuh karena ulahnya. Amanda memperhatikan mantan kekasihnya itu dengan seksama, ia merasa kesal hanya karena buah mangga saja Gibran harus serepot itu. Bukannya ia hanya perlu membelinya di supermarket ?


"Kamu masih lama ?" Tanya Amanda kesal sembari mendongakkan kepala.


"Kamu tunggu di klinik aja," jawab Gibran yang masih asik memilih buah mangga yang ia inginkan.


"Cckk," decak Amanda kesal. Ia pun segera mengambil sebuah sapu lidi dan mulai menyapukan daun-daun yang berguguran.


"Biar nanti sama saya, Mbak." Ucap pak Yusuf dan istrinya bersamaan.


"Mbak ini ? Mmm apanya pak dokter ?" Tanya sang istri dan pak Yusuf memanggil pelan istrinya itu agar tak bersikap ingin tahu.


"Saya, itu..."


"Pasien saya," potong Gibran cepat dan tanpa Amanda sadari sudah turun dari atas pohon dengan beberapa buah mangga dalam kantung plastik.


Lagi-lagi Amanda merasa kesal. Ia menyesal dahulu tidak berusaha akrab dengan penduduk sekitar padahal dulu ketika masih berpacaran dengan Gibran, lelaki itu beberapa kali mengajak Amanda untuk menemaninya praktek di klinik.


Amanda memang menyetujui untuk menemani Gibran. Namun ia hanya akan diam di dalam rumah sembari menonton TV ditemani banyak makanan agar ia tak merasa bosan. Ia tak mau hanya sekedar melihat Gibran bekerja. Baginya bergaul dengan kalangan menengah ke bawah bukan sesuatu yang menarik minatnya. Dan sekarang ia menyesali itu sehingga kini tak ada seorangpun yang mengenalinya.


"Kok cuma sedikit, Dok?" Tanya pak Yusuf.


"Banyak kok, ini ada 5 buah." Jawab Gibran.


"Kamu susah-susah manjat cuma buat 5 buah ini ?" Tanya Amanda terheran.


"Dirumah banyak buah. Kakak-kakaknya Sabina selalu mengirimkan makanan ke rumah lewat pesanan online." Jawab Gibran.


"Ya meski tinggal berbeda pulau namun kedua kakaknya selalu menghubungi Sabina dan menanyakan apa yang ia inginkan dan segera saja mereka mengirimkan apa yang Sabina pesan. Jadi aku senang sekali jika Sabina meminta hanya padaku. Akan aku lakukan apapun untuknya" Jelas Gibran dan membuat Amanda terdiam seketika.


"Kamu yang nyapuin daunnya?" Tanya Gibran ketika melihat Amanda dengan sebuah sapu lidi di tangannya dan Amanda pun menganggukan kepala. Gibran pun segera mengenakan sepatunya kembali.


Gibran melihat ke dalam kantung plastik nya dan memilih mangga dengan ukuran terkecil diantara semua.


"Ini buat kamu." Gibran pun menyerahkan buah mangga itu pada Amanda sebagai tanda terimakasih dan tanpa Gibran sadari, Amanda menerimanya dengan mata berkaca-kaca. Selama ia hamil baru sekarang seseorang memberinya sebuah mangga padahal ia sangat menginginkannya.


"Gak usah, Dok," tolak pak Yusuf ketika Gibran menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah. Dan itu pun menyita perhatian Amanda.


"Gak pa-pa, jadi saya gak kagok lagi kalau nanti istri saya mau mangga." Ucap Gibran sembari tertawa.


"Ini terlalu banyak." Pak Yusuf kembali menolak.


"Gak apa-apa, sisanya buat beli susu adek." Jawab Gibran dan ia pun segera berpamitan.


Amanda berjalan mengekori, ia menatap punggung kokoh Gibran dari arah belakang.


"Apa dirimu sudah di penuhi oleh Sabina sekarang? Hingga nama itu saja yang selalu kamu sebutkan." Lirih Amanda dengan manahan tangis.


Gibran memasuki kliniknya di ikuti oleh Amanda.


"Langsung masuk ruang praktek saja."


Amanda menuruti apa yang Gibran perintahkan dan duduk menunggunya.


Tak lama gibran pun duduk di hadapannya dan mengambil sesuatu dari dalam laci meja dan ternyata itu adalah satu paket obat yang telah Gibran sediakan untuk Amanda.


"Minumlah sesuai petunjuk dan kembalilah jika ada keluhan." Ucap Gibran tanpa basa-basi. Amanda sadar Gibran tak ingin ia berlama-lama duduk dihadapannya.


***


Gibran bersiul senang ketika ia keluar dari mobilnya dengan sekantung buah mangga dan Sabina menyambutnya dengan mata berbinar.


Bahkan Gibran bercerita bahwa ia sendiri yang naik pohon mangga itu hanya demi Sabina juga anak mereka.


"Terima kasih," ucap Sabina seraya mencium pipi suaminya itu dan Gibran tersenyum senang karenanya.


"Aku cuma ambil 5, kalau kamu masih mau nanti aku ambilkan lagi."


"Mmm, ada 4 kok," jawab Sabina terheran.


Seketika dada Gibran berdetak lebih cepat karena sadar 1 buah yang telah ia berikan pada Amanda. Seketika ancaman Sabina mulai menghantui ingatannya.


"Eh,oh iya... Sa.. satu buah aku berikan pada seorang ibu yang membantu menyapukan daun-daunnya." Jelas Gibran yang tiba-tiba merasa gugup.


"Dia hamil juga," Gibran beralasan.


"Ya ampun kenapa kamu kasih satu, kan kasian." Protes Sabina. Gibran tahu jiwa sosial Sabina memang tinggi.


"Eh tapi dia bukan amanda kan ?" Tanya Sabina curiga sembari memicingkan mata.


Gibran pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Sungguh ia takut Sabina mengira ia dan Amanda menjadi dekat lagi.


"Maafkan aku telah berbohong, Bina." Batin Gibran dalam hatinya.


To be continued ❤️


Maaf slow update yaaa🙏


Aku tepar 2 hari ini genks 🤕


Semoga semuanya sehat selalu ya .