
Happy reading ❤️
"Aahhhh yaaa Binaaa,"
Lenguh Gibran seraya memejamkan mata dan mengepalkan tangan ketika pelepasannya tiba.
Ini yang kedua bagi Gibran dan entah yang ke berapa kali bagi Sabina. Karena malam ini Gibran menyentuhnya berulang kali dengan lembut dan penuh perasaan seolah menyatakan rasa rindunya yang telah lama terpendam.
"Tunggu sebentar lagi sayang," gumam Gibran. Ia menahan pinggul Sabina untuk tidak turun dari atas ketegangannya.
Ya saat ini sang istri duduk di atas tubuh polos suaminya dan sungguh Gibran sangat menyukai pemandangan indah di atasnya. Wajah merona merah karena gair*h, rambut panjangnya tergerai tak beraturan namun membuat ia semakin terlihat menggoda ditambah dengan bagian tubuh Sabina yang kian berisi saja membuat Gibran semakin candu pada istrinya itu.
Hormon kehamilan Sabina juga sangat mempengaruhi. Gibran ingat bagaimana ia menggoda Sabina untuk menyalurkan hasratnya namun pada kenyataannya Sabina lah yang memimpin permainan malam ini. Gibran tersenyum puas karenanya. Ia hanya menuruti setiap komando yang Sabina perintahkan.
"Aku malu," cicit Sabina seraya menutupi area sensitifnya dengan kedua tangan. Saat ini tubuhnya masih menyatu dengan sempurna.
Dengan perlahan Sabina memisahkan diri dan merebahkan tubuhnya tepat di samping Gibran.
"Terimakasih, kamu sangat luar biasa." Bisik Gibran seraya mencium dahi Sabina dengan lembut.
"Tidurlah, ini sudah pukul 2 pagi." Ucap Gibran lagi dan ia pun menutupi tubuh polos Sabina dengan bedcover.
Gibran berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia tersenyum senang ketika melihat tanda kemerahan di sekitar leher juga dadanya. Sepertinya malam ini tak hanya dirinya yang melampiaskan rasa rindu.
Gibran kembali ke kamar tidur, dan melihat Sabina yang sudah terlelap. Ia duduk tepat di sebelah istrinya itu dan mengusap lembut kepala Sabina dengan jemarinya.
"Aku sangat mencintaimu, Bina. Rasanya aku hampir gila karenamu." Lirih Gibran.
Ia ingat beberapa hari terakhir ini dirinya begitu frustasi memikirkan bagaimana mendapatkan hati Sabina kembali. Ia sangat takut Sabina tinggalkan.
Sibuk memandangi wajah Sabina yang terlelap membuat Gibran tak sadar jika ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk.
Tak lama ponsel itu pun berkedip karena seseorang tengah menghubunginya.
Gibran pun meraih ponselnya dan menatap layar tanpa melakukan apapun.
Tertera sebuah nomor tak dikenal di sana.
"Siapa yang nelpon pagi buta begini ?" Tanya Gibran dalam hati.
Tak jua Gibran terima panggilan itu, akhirnya nomor tak dikenal itu menghentikan panggilannya.
Gibran pun masuk kedalam aplikasi pesan dan tertera nomor itu disana.
"Gibran, aku tahu aku salah menghubungimu selarut ini tapi aku butuh bantuanmu," isi dari pesan itu.
"Amandana," gumam Gibran membaca nama pengguna yang belum ia simpan itu.
Gibran segera keluar dari aplikasi pesan itu tanpa membalasnya terlebih dahulu. Ia segera mematikan daya ponselnya dan menyimpan kembali di atas nakas. Ia segera menaiki tempat tidur dan melingkarkan tangannya memeluk sang istri. Gibran amati cincin pernikahan yang melingkar di jari manis Sabina.
Ia ingat ketika Sabina menemaninya untuk membeli cincin itu. Cincin yang akan ia gunakan untuk melamar Amanda.
"Cincin yang cantik, aku sangat menyukainya. Aku akan langsung menerimanya jika kamu menyematkannya di jari manisku," ucap Sabina tanpa sadar sembari mengamati cincin yang ia pegang saat itu.
"Kamu akan menerimanya?" Tanya Gibran sembari mengulum senyuman.
Sadar telah salah berbicara, Sabina pun menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Mak... maksudku Amanda akan langsung menerimanya." Ralat Sabina dengan wajah merona dan Gibran tertawa melihatnya.
Tapi pada akhirnya, itulah yang sebenarnya terjadi. Gibran menyematkan cincin itu pada jari manis Sabina yang kini menjadi istrinya.
"Tak terasa itu terjadi hampir satu tahun yang lalu dan kamu masih mengenakannya." Lirih Gibran.
Gibran tak menyangka tinggal beberapa Minggu lagi ia dan Sabina akan genap satu tahun mengarungi biduk rumah tangga dan kini Sabina tengah mengandung buah cinta mereka.
Ya Gibran telah jatuh cinta dengan dalam pada wanita yang terpaksa ia nikahi. Dulu pernikahan ini bukanlah sesuatu yang Gibran inginkan namun kini ia yang berusaha setengah mati untuk tetap menjaga pernikahan itu agar tetap utuh.
"Aku tak akan berhubungan lagi dengan Amanda. Aku berjanji padamu, Sayang. Kita akan buat pernikahan ini berhasil dan untuk selamanya." Bisik Gibran dan ia pun mencoba untuk memejamkan mata.
***
Amanda menunggu dengan cemas balasan pesan yang ia kirimkan.
Tandanya telah berubah biru menandakan jika pesan yang ia kirim telah dibaca namun ternyata Gibran memilih untuk tak membalasnya.
Padahal sudah satu Minggu ini dirinya tak lagi menganggu Gibran. Amanda putuskan untuk tidak lagi mendekati mantan kekasihnya itu setelah apa yang Gibran ucapkan ketika mereka terakhir bertemu membuat Amanda berpikir dan menyadari bahwa ia telah memanfaatkan kebaikan Gibran yang telah menolongnya dengan tulus.
Lelaki itu mengatakan dengan jelas bahwa ia sangat mencintai Sabina istrinya. Gibran terlihat putus asa ketika mengatakan itu, membuat Amanda sadar sudah tak ada tempat sedikitpun di dalam hatinya.
Dan itu adalah salahnya sendiri. Ia meninggalkan Gibran untuk lelaki lain hampir satu tahun yang lalu.
"Tak terasa waktu begitu cepat berlalu." Gumam Amanda dan ia pun berdiri untuk membersihkan diri.
Amanda tertegun melihat bayangan dirinya sendiri di depan cermin. Wajah cantik penuh goda sudah tak nampak lagi. Yang ada hanya wajah sayu tak terurus dengan perut yang membesar.
"Yang kuat di dalam sana, Nak. Bertahanlah... Mulai sekarang ibu akan menjagamu dengan baik." Cicit Amanda seraya mengusap perutnya.
Seminggu terakhir ini Amanda mulai mengungkapkan perasaan sayangnya pada bayi yang ia kandung. Karena sebelumnya ia tak peduli bahkan menganggap kehamilannya sendiri sebagai beban. Bahkan ia telah berencana untuk memberikan sang bayi pada orang lain ketika ia lahir nanti.
Namun kini tidak lagi, Amanda berencana akan mengurusnya sendiri.
"Kita akan bersama selamanya, ibu akan berjuang untukmu," ucap Amanda seraya mengusap air mata yang membasahi pipinya.
***
"Bolehkah saya bekerja di sini ?" Tanya Amanda pada seorang wanita paruh baya pemilik warung makan yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya.
"Bukankah kamu ini sepupunya dokter Gibran ?" Tanya wanita itu.
Amanda memang mengaku sebagai sepupu dari Gibran pada warga sekitar agar mereka menghormatinya juga agar mereka tak curiga jika dirinya tinggal di rumah Gibran tapi semuanya tak berjalan sesuai rencana. Nyatanya Gibran terus menerus menolaknya untuk tinggal disana.
"Mmm iya, saya sepupu jauhnya." Jawab Amanda terbata.
"Saya memang memerlukan seseorang untuk mencuci piring tapi saya akan merasa tak enak jika menawarkan itu pada saudaranya pak dokter." Ucap ibu itu.
"Tak apa-apa, aku sangat membutuhkan pekerjaan ini karena aku juga tak mau selalu merepotkan Gibran sepupuku." Amanda beralasan.
"Tapi kamu lagi hamil..."
"Saya kuat kok, Bu. Hanya sekedar mencuci piring sih saya bisa. Saya sangat butuh pekerjaan ini untuk dia." Amanda memotong pembicaraan ibu itu sembari mengusap perutnya.
"Baiklah jika begitu. Kamu bisa bekerja mulai hari ini. Tapi maaf upah yang saya berikan tak menentu, tergantung dari jumlah pengunjung yang datang."
"Tak masalah." Jawab Amanda dengan senyumnya.
"Syukurlah kita mendapatkan pekerjaan. Ibu akan menghidupimu dengan uang yang halal, Nak." Cicit Amanda sembari meneteskan air mata.
***
Telah satu Minggu berlalu dan Amanda masih bekerja di warung makan itu sebagai buruh cuci piring. Ia tak lagi mendatangi Gibran. Pesan yang Amanda kirim pun tak pernah Gibran balas. Dari saat itu Amanda sadar jika Gibran sudah tak mau lagi berurusan lagi dengannya.
Sejauh ini Amanda pun tak pernah memeriksakan lagi kandungnya karena keterbatasan waktu juga uang yang ia miliki.
"Manda kamu baik-baik saja ? Wajahmu terlihat pucat." Ucap sang ibu pemilik warung makan itu.
"Aku baik," jawab Amanda namun sedetik kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.
***
Ponsel Gibran berdering tepat ketika ia akan pergi meninggalkan tempat prakteknya.
Tertera nama dokter Risa di layarnya. Ia adalah dokter kandungan yang Gibran rekomendasikan pada Amanda dan ia juga berteman cukup baik dengan dokter itu.
"Gibran, Amanda masuk rumah sakit karena pendarahan dan tak ada satupun yang mengaku menjadi walinya. Aku menghubungimu karena kamulah satu-satunya orang yang mengenal Amanda di kota ini." Ucap dokter Risa tanpa basa-basi dan Gibran pun terkejut mendengarnya.
"Halo, Gibran ?"
"Ya...ya aku disini." Jawab Gibran seraya meraup wajahnya.
"Aku tunggu kedatanganmu di rumah sakit sekarang juga."
To be continued ❤️
Thank you for reading 😘❤️
Terimakasih banyak untuk yang sudah memberikan vote juga hadiah. semoga Allah melancarkan rezeki kalian semua ❤️