
" apa yang kau lakukan sekarang, mana paman dan bibi? tanya Marfin datar.
aku lagi di kamar , sehabis membantu bibi membersihkan rumah. jawab Alika.
berapa menit lagi kau tiba di sini? Tanya Alika dengan penuh pengharapan.
memang tidak memakan cukup banyak waktu untuk kerumah paman Alika maksimal perjalanan mungkin hanya 3 jam itupun kalo jalanan macet.
Marfin merasa bersalah kepada Alika karna membohongi istrinya.
"*sabar ya, ini jalanan sangat macet.
" baiklah aku menunggu mu,
" iyyah .... jaga dirimu baik baik, Marfin melambaikan tangan kepada Alika sebelum menutup pembicaraannya.
kemudian sejenak Marfin termenung, ia memikirkan bagaimana caranya dia bisa sampai ketempat istrinya secepat mungkin sementara saat ini dia masih bersama dea.
melihat tuannya mengerutkan kening sepertinya Leo tau apa yang tuan muda fikirkan.
Leo kemudian kembali memacu mobilnya, tanpa membiarkan Marfin berpindah kursi kebelakang menemani Dea.
beberapa menit mereka sampai dirumah yang di tempati Dea,
seorang wanita parubaya bergegas menghampiri mereka dan membukakan pintu gerbang.
mobil terparkir di depan rumah minimalis , berlantai dua dengan warna cat Abu abu.
Leo turun dari mobilnya yang pertama ia bukakan adalah pintu Dea dan mempersilahkan dea keluar dari mobilnya, sementara Marfin membuka pintunya sendiri.
wanita parubaya itu ( bu Leni) ia membantu sekretaris leo membawa barang belanjaan.
" leo cepat kau cari kriteria laki laki untuk security di rumah ini sekaligus untuk menjaga Dea.pinta Marfin sambil melangkahkan kakinya di ikuti, leo, bu leni dan juga Dea.
" baik tuan, jawab tegas sekretaris leo.
leo dan Leni membawa belanjaan ke dapur setelah itu Leo membiarkan bu Leni membereskan semuanya sendirian.
****
tidak perlu tuan, ini sudah cukup, sudah berlebihan jika kau membayar security untuk menjaga rumah ini. ucap Dea.
mereka sedang berada di ruang tamu.
rumah itu memang tidak cukup luas hanya terdiri dari dua kamar ,satu kamar atas, dan satu kamar di bawah. kamar bawah biasa di tempati oleh Bu leni ketika ia menginap.
lalu dapur, ruang tamu, dan ruang ganti.
" tidak Dea, kau tanggung jawabku sekarang, Marfin menegaskan.
Dea sampai tak enak hati dengan kebaikan Marfin selama ini.
" rumah ini, isinya , pakaian yang kupake , makanan , bu leni? ini berlebihan tuan.
kau bisa membawaku ke kontrakan kecil tidak apa2 , aku sangat berterima kasih. ucap Dea.
Marfin tersenyum mendengar penuturan Dea, ia melihat jam yang ada di tangannya. sepertinya ia harus segera pergi meninggalkan Dea dan menjemput istrinya.
" Maafkan Aku Dea, aku harus segera pergi,Alika menungguku. ucap Marfin.
kau baik baik saja kan? sambungnya lagi.
" ah iya aku baik baik saja , jawab Dea.
pergilah. kata Dea lagi.
" kau tetap disini Leo ucap Marfin,
tapi tuan ? Leo ragu.
besok pagi aku akan menjemputmu berangkat kekantor,
" maksudnya aku menginap disini? tanya Leo.
Leo tak bisa menolak perintah bosnya itu.
Marfin kemudian mengeluarkan dompet dari dalam sakunya kemudian memberikannya kepada Dea.
" ini pakai?Marfin berdiri dan menyodorkan kepada Dea.
tidak tuan, aku ada sedikit uang. Dea kekeh tidak mau menerima.
namun Marfin meletakkan Kartu itu di atas meja.
ia segera pergi dengan kunci mobil yang di berikan leo.
Marfin memacu mobilnya lebih cepat, mengingat ia tadi berbohong pada istrinya bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju kerumah pamannya.
padahal jangankan dalam perjalanan kesana, ia harus mengantar Dea pulang dulu kerumah terlebih tadi banyak berbicang bincang dulu dengan Dea.
***
setelah kepergian Marfin ruang tamu yang hanya ada Dea dan Leo hening seketika, keduanya terlihat canggung.
" sepertinya , tuan sangat senang ingin bertemu dengan istrinya.
tapi bukankah tadi aku melihat istrinya pas belanja, lalu dengan cepat istrinya berada di tempat berbeda, aneh. Dea masih mencerna maksud dari semuanya.
ia tak mengerti , padahal Alika tadi ia temui sedang membawa mobil, mengapa Marfin menjemputnya? lalu Alika ( yg di maksud Dea adalah tiara yang mengaku istrinya Marfin ) dia juga waktu itu malah menghindari Marfin.
ah di kepala Dea banyak pertanyaan yang belum sempat ia tanyakan.
" nona, Leo kemudian memanggil Dea karna melihat mimik wajahnya yang terlihat bingung.
"apakah nona baik baik saja? tanya Leo.
eummm... iya itu aku baik baik saja. Dea tersenyum kecut.
" sepertinya wanita ini sudah dalam keadaan baik baik saja, apakah ada baiknya aku mempertanyakan semuanya sekarang, ini waktu yang tepat.
Leo memperhatikan mimik wajah yang masih terlihat bingung.
" nona, bolehkah aku bertanya sesuatu?
" eum... iya tentu saja, Dea menegakkan posisi duduknya.
" aku sangat senang sekarang kau sudah sehat, aemm... Leo menghentikan perkataannya mengerutkan bibirnya kemudian menatap Dea.
" ada apa tuan?
" *Apa kau tidak akan menceritakan sesuatu tentang kejadian yang menimpam? tanya sekretaris Leo.
Degg....Dada dea seperti di pukul keras.
tidak mudah baginya melupakan kejadian yang menimpanya, terlebih baru kali ini ia mencoba bangkit dari kisah pilunya tersebut , ia seperti tidak siap menceritakan semua pada siapapun termasuk kepada Marfin.
Marfin hanya di beritahu bahwa Dia diperkosa oleh sekelompok orang pada saat itu.
Marfin belum sempat mencerca Dea dengan segala pertanyaan karna kondisi Dea yang tidak dalam keadaan baik saat itu.
" *kau ingat wajah mereka yang memperkosamu? tanya Leo.
Dea sudah menduga pertanyaan itulah yang akan ia dengar.
Dea menggeleng gelengkan kepala.
matanya berkaca kaca mengingat kejadian itu.
" lalu bagaimana tuan bisa dengan mudah percaya pada wanita ini, bisa saja dia mengarang cerita. bisa saja ia hamil karna kekasihnya. kemudian ia sengaja menabrakkan tubuhnya ke mobil tuan karna dia tahu tuan adalah orang kaya, menikah dengan tuan adalah impian kebanyakan para gadis bukan.
" apakah wanita yang terlihat polos ini penipu,
Batin Leo. Leo selama ini menunjukkan ketidak sukaannya kepada sikap Marfin yang berlebihan pada Dea, padahal marfin sendiri baru mengenal Dea, mengapa begitu percaya ?
" baiklah ceritakan padaku bagaimana kejadiannya ? mengapa bisa kau tidak bisa mengingat wajah wajah orang orang itu. tanya Leo*