
Selamat membaca ❤️
Untuk sementara waktu Gibran memutuskan tinggal di kamar tamu hingga masalahnya dengan Sabina menemui titik temu.
"Mbok, tolong ambilkan beberapa potong pakaian dan alat mandi saya di kamar atas." Ucap Gibran pada Mbok Inah yang baru saja menuruni tangga.
"Bagaimana Pak ?" Tanya Mbok Inah tak paham.
"Saya akan tinggal di kamar tamu untuk sementara," jelas Gibran dengan singkat dan Mbok Inah pun menuruti perintah Gibran meskipun ia sebenarnya lebih memihak pada Sabina.
Dengan berat hati, Mbok Inah kembali ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Sabina.
"Non, ini saya." Ucapnya dari balik pintu.
Sabina pun berjalan dan memutar kunci pintu kamarnya.
"Kenapa lagi, Mbok ?"
"Pak dokter sudah pulang."
"Saya tahu," timpal Sabina.
"Pak dokter minta beberapa pakaian dan alat mandinya untuk di bawa ke kamar tamu, katanya bapak akan tinggal disana untuk beberapa waktu." Jelas Mbok Inah pelan.
"Ambil semua, Mbok. Sekalian sama kopernya." Sahut Sabina dengan malas.
"Non, saya cuma nurutin perintahnya pak dokter aja."
"Saya tahu, maaf ya mbok... Bukannya saya marah sama mbok Inah tapi sama dia." Jelas Sabina.
Sabina pun memasukkan banyak baju Gibran dan barang-barang lainnya ke dalam koper besar milik suaminya itu dan menyerahkannya pada mbok Inah.
"Takutnya dia mau sekalian pulang." Ucap Sabina ketus dan mbok Inah dengan pasrah menerimanya.
Gibran menunggu di ujung tangga lantai bawah dan terkejut ketika melihat koper besar yang di bawa pelayannya itu. Segera Gibran berjalan menaiki tangga untuk membawa koper itu sendiri.
"Kok pake koper, Mbok ? Saya bilang beberapa saja." Tanya Gibran sedikit takut. Ia takut Sabina mengusirnya.
"Kata non Bina biar gak usah bolak-balik." Jawab mbok Inah bohong. Ia tak mau kedua majikannya kembali bertengkar.
"Sabina sedang apa ?"
"Non Bina sedang mengaji."
"Apa dia udah makan ?" Tanya Gibran lagi.
"Su... Sudah.." jawab mbok Inah dengan gugup. Ia ingin mengatakan jika Sabina makan dengan jumlah yang sangat sedikit namun ia takut perkataanya membawa masalah.
"Saya titip Sabina ya, Mbok. Tolong jaga dia ketika saya tak ada."
"I.. iya pak."
"Saya gak mau perkataan saya membuatnya sakit hati lagi. Oleh karena itu saya akan tinggal di kamar tamu dulu. Maaf mbok inah harus melihat pertengkaran kami tadi pagi." Ucap Gibran penuh sesal.
"I.. iya.. tapi saya harap Bapak dan non Bina segera berbaikan." Ujar Mbok Inah dengan tulus.
Gibran tersenyum mendengar apa yang Mbok Inah ucapakan. "Terimakasih," tutur Gibran dan ia pun memasuki kamar tamu untuk beristirahat.
"Makan malamnya mau saya siapkan ?"
"Gak usah, saya belum lapar." Jawab Gibran. Masalah dengan Sabina yang belum selesai membuatnya tak berselera untuk makan seharian ini.
Gibran memilih untuk memasuki kamar tamu dan beristirahat.
***
Telah berjalan selama 6 hari sejak Gibran dan Sabina saling meluapkan emosi. Dan sudah 6 malam juga mereka tidur terpisah tanpa pernah saling bertemu.
Sabina tinggal di lantai atas dan Gibran di bawahnya.
Gibran hanya akan menanyakan keadaan istrinya itu melalui Mbok inah, begitu pun sebaliknya.
"7 hari lagi." Gumam Gibran sembari melihat kalender yang ada dalan ponselnya. "Aku harus memesannya hari ini juga." Lanjutnya lagi.
Khusus hari ini Gibran dengan sengaja membatasi jumlah pasien yang datang karena ia ada keperluan.
Dan disinilah ia sekarang di sebuah toko perhiasan yang kurang lebih satu tahun lalu ia datangi dengan seorang wanita yang kini menjadi istrinya.
Gibran berjalan memasuki toko itu dan matanya memperhatikan beberapa cincin yang dipajang di atas meja kaca.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu ?" Tanya seorang lelaki dengan setelan jas hitam. Ia adalah pelayan di toko perhiasan itu.
"Saya sedang mencari cincin untuk melamar seseorang." Jawab Gibran.
"Kebetulan kami memiliki banyak model cincin pernikahan." Ucap lelaki itu dan ia mengarahkan Gibran ke meja yang banyak memamerkan cincin pernikahan dengan mata berlian yang begitu indah.
Mata Gibran menelisik dengan seksama, namun tak ada satu pun yang ia suka.
"Apakah bisa memesan dengan model lain ?" Tanya Gibran.
"Tentu, Anda ingin yang seperti apa ?" Tanya pelayan itu dengan sopannya.
"Saya ingin cincin dengan desain yang sederhana namun terlihat cantik, kokoh dan bermatakan berlian terbaik yang dimiliki toko ini." Jelas Gibran sembari membayangkan seorang wanita yang sangat ia cintai.
"Oh kalau begitu tunggu sebentar, silahkan Bapak tunggu di ruangan ini." Ucap pelayan itu dan membawa Gibran ke sebuah ruangan VIP dan duduk disana bahkan ia disuguhi segelas sampanye sembari menunggu seorang wanita yang membawakan sebuah buku bersampul hitam dan berisikan banyak model cincin pernikahan dengan model yang lebih exclusive.
"Tuliskan nama Gibran Fahreza dengan jelas dalam lingkarannya." Ucap Gibran lagi dan wanita itu mengangguk paham.
"Saya akan menghubungi Anda ketika cincin ini telah selesai."
"Ingat, saya ingin cincin ini selesai sebelum tanggal 7." Ucap Gibran seraya menyerahkan kartu debitnya untuk melakukan pembayaran.
"Tentu," jawab wanita itu.
Setelah selesai dengan urusan pemesanan cincin, Gibran bergegas menuju mobilnya yang terparkir. Ia harus segera pergi ke kliniknya.
Gibran menepuk dahinya dengan tangan karena telah meninggalkan tanpa sengaja buku jurnal dan beberapa dokumen penting lainnya di atas meja prakteknya di rumah sakit.
"Ah shiiit, musti balik lagi." Kesal Gibran sembari memutar setirnya menuju arah rumah sakit. Padahal ia sudah cukup terlambat.
Dengan kecepatan tinggi Gibran memacu mobilnya dan menyalip beberapa mobil hingga ia bisa sampai di rumah sakit dengan waktu yang lebih cepat.
Gibran memarkirkan mobilnya bukan di tempat biasa karena terburu-buru. Bahkan ia harus berlari kecil untuk mempercepat langkahnya.
"Ketinggalan ini ya, Dok ?" Tanya seorang suster yang menjadi asistennya tadi pagi. Beruntung bagi Gibran karena bertemu asistennya itu di lobi rumah sakit.
"Ah iya terimakasih. Tadi saya buru-buru pergi." Jawab Gibran dengan nafas terengah.
"Duduk dulu, Dok." Ucap asistennya dan ia memberikan Gibran sebotol air mineral.
Gibran pun mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di lobi rumah sakit dan letaknya tepat berhadapan dengan pintu masuk. Ia menerima tawaran air mineral itu, membukanya dan menenggaknya dengan tak sabaran.
Sementara itu, sebuah mobil mewah Range Rover berwarna biru terparkir tepat di depan gedung rumah sakit. Di dalamnya terdapat 2 orang wanita yang tengah menunggu dengan cemas.
"Mobil Dokter Gibran tak ada di tempat parkirnya, sepertinya beliau sudah berangkat ke klinik." Ucap Pak Anwar yang merupakan supir pribadi Sabina.
"Pak Anwar yakin ?" Tanya Sabina meyakinkan.
"Iya, saya sudah memeriksanya 2 kali." Jawab lelaki itu.
Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungannya, ia sengaja datang siang hari untuk menghindari suaminya. Walaupun Sabina merasa kesal karena Gibran lupa padahal tak sekalipun suaminya itu melewatkan kesempatan untuk menemani Sabina menemui dokter kandungan.
"Baiklah kalau begitu. Ayo Mbok kita turun." Ajak Sabina pada Mbok inah yang kali ini akan menemaninya untuk menemui dokter kandungan.
Sabina keluar dari mobilnya dan diikuti oleh Mbok Inah dan berjalan berdampingan.
Langkah Sabina terhenti ketika sebuah tangan menahan lengannya.
"Bina ? Senang bisa bertemu kamu disini." Ucap lelaki yang sangat Sabina hapal suaranya.
Dengan dada berdebar karena terkejut, Sabina pun menolehkan kepalanya pada sumber suara.
"Bina, apa kabar ?" Tanya lelaki itu dengan suara lirih.
"An.. Andre, aku baik-baik saja. Dan kamu ?"
"Aku juga baik," jawab Andre dengan penuh tatapan Rindu.
Sabina sadar jika mata Andre terus menatapnya dengan sayu dan ia merasa tak enak hati karena takut ada yang melihat kebersamaan mereka dan berpikiran buruk.
"Andre, aku permisi duluan ya." Pamit Sabina.
"Kamu mau kemana ?" Tanya Andre
"Aku sudah ada janji temu dengan dokter kandungan." Jawab Sabina dan itu membuat hati Andre terasa ngilu. Ia menurunkan pandangannya pada perut Sabina yang membuncit.
Ada rasa menyesal luar biasa yang Andre rasakan saat ini. Ia menyesali perbuatannya karena telah meninggalkan Sabina hanya untuk seorang wanita murahan yang kini membuatnya sengsara karena mengidap penyakit menular yang memalukan.
"Berapa usia kandunganmu ?" Tanya Andre.
"Mmm.. memasuki bulan ke 8. Aku benar-benar harus pergi Andre." Jawab Sabina berusaha menghindar dari lelaki yang telah meninggalkan dirinya untuk wanita lain.
"Tunggu Bina, suamimu pasti sudah pulang. Apa kamu mau menemui dokter kandunganmu sendirian ?" Tanya Andre yang kini mengekori langka Sabina.
"Hu'um, iya." Jawab Sabina membenarkan.
"Kenapa sendiri ? Kenapa suamimu tak menemani ?" Tanya Andre lagi.
"Gak papa, aku ditemani mbok inah kok." Jawab Sabina dengan terus melangkah sedangkan Andre terus mengikuti.
"Biar aku temani. Bina. Lagian kenapa Gibran gak nemenin kamu sih ? Padahal kamu lagi hamil besar begini." Kesal Andre.
"Gibran sedang sibuk, makanya aku ditemani Mbok Inah. Gak apa-apa, kamu nggak usah temani aku." Tolak Sabina tapi Andre dengan keras kepalanya terus mengekori langkah Sabina hingga mereka pun memasuki pintu utama yang terbuka secara otomatis.
Sabina berjalan dengan Andre di sebelahnya dan mbok Inah di sisi yang lain. Sedangkan Gibran tengah duduk di kursi yang letaknya berhadapan lurus dengan pintu yang baru saja Sabina masuki.
Pandangan mata mereka bertemu dan saling terkunci. Ini adalah pertemuan pertama semenjak mereka berseteru 6 hari yang lalu.
Alis Gibran berkerut tanda tak suka, bibirnya yang berisi terkatup rapat dan rahangnya mengeras karena rasa cemburu yang ia rasakan ketika melihat Sabina diikuti seorang lelaki yang ia kenali. kedua tangannya mengepal di bawah meja menahan rasa panas dalam dadanya yang telah siap untuk meledak.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘
Sampai ketemu Senin insyaallah..