Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Your Second Best


Happy reading ❤️


Rasa bersalah merambat memasuki hati Gibran saat ini. Betapa egoisnya ia, meminta Sabina untuk mengerti padahal sang istri pun butuh untuk dimengerti.


"Jika ayah bertanya tentang hasil pemeriksaannya, tolong katakan padanya hasilnya baik." Mohon Sabina pada dokter kandungannya.


Sang dokter memandang Sabina sesaat, ia mengulum senyum sebelum berbicara.


"Baiklah, tapi jika anda berjanji untuk tidak terlalu stress agar pola makan dan tidur kembali normal." Jawabnya.


"Iya saya berjanji... Mulai sekarang hanya bayiku yang akan aku pikirkan. Tak ingin memikirkan siapapun yang tak peduli pada kesehatan kami." Ucap Sabina dan membuat rahang Gibran mengeras seketika. Ia merasa yang Sabina ucapkan tidaklah benar. Dirinya pun sangat peduli terhadap Sabina juga anaknya.


Ingin Gibran memotong pembicaraan Sabina namun ia tak mau berdebat di hadapan orang lain.


Cukup lama mereka menunggu dengan membicarakan banyak hal hingga seorang suster membawa paper bag berisikan vitamin dan obat yang diresepkan untuk Sabina.


"Terimakasih atas waktunya," Sabina berdiri dan menyalami dokter itu diikuti oleh Gibran. Dan merekapun berjalan beriringan keluar.


"Bagaimana hasilnya, Non ?" Tanya Mbok Inah dengan tak sabaran.


"Mmm, semua baik kok. Mbok jangan khawatir." Jawab Sabina.


"Mbok takut Non Bina kenapa-napa soalnya makannya sedikit terus suka nangis sendiri juga."


"Mbok !" Sabina memelototkan matanya mengingatkan dan mbok Inah menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Gibran tersentak ketika mendengar itu. Ia ingin bicara banyak tapi ia tahu sekarang bukan saatnya.


"Bina, kamu mau apa ? Biar aku belikan. Ingat kata dokter, kamu harus banyak makan." Tanya Gibran.


"Gak usah, gak apa-apa. Nanti aku bisa beli sendiri. Kamu pasti udah terlambat untuk pergi ke klinik bukan ?" Sabina balik bertanya.


"Aku pergi tak akan lama," tutur Gibran.


"Jangan merasa terganggu karena aku, lakukan apapun yang menurutmu penting." Jawab Sabina.


"Kamu yang paling penting buat aku, Bina." Ungkap Gibran tak bisa lagi menahannya dalam hati.


"Aku paling penting ?" Tanya Sabina sembari tertawa.


"Bina, aku...,"


"Kita sedang berada di rumah sakit. Akan tak baik bagi kita berdua bila berdebat disini. Tapi, aku sudah tak ingin berdebat. Aku ingin anakku bahagia dan itu yang paling penting." Potong Sabina.


"Kita akan membicarakan lagi soal ini nanti." Ucap Gibran.


"Tapi seperti yang aku bilang, aku sudah tak ingin berdebat."


"Bukan berdebat, kita akan bicarakan lagi nanti." potong Gibran dan Sabina hanya terdiam tak berkata lagi.


***


Gibran datang terlambat di kliniknya dan langsung membuka praktek meskipun semua fakta tentang Sabina dan kehamilannya sangat menganggu pikirannya saat ini hingga Gibran pun mengambil sesuatu keputusan yang besar.


Gibran membereskan meja kerjanya hingga rapi. Membawa beberapa barang yang dianggapnya penting dalam sebuah kotak.


"Pak dokter mau kemana?" Tanya Rani terheran.


"Saya akan tutup praktek untuk beberapa  waktu." Jawab Gibran sembari terus membereskan barang-barangnya.


"Mau cuti berapa lama ?" Tanya Rani lagi.


"Entahlah, saya tidak bisa memastikan. Mungkin sebentar atau selamanya tapi jangan khawatir gajimu masih aku bayar." Jawab Gibran lagi.


"Dok ?" Tanya Rani tak paham.


"Sampai istri saya sehat kembali. Aku sibuk hingga lalai terhadap seseorang yang seharusnya menjadi prioritas utama ku." Jawab Gibran.


"Ibu Sabina sakit ?"


"Bisa dikatakan seperti itu, dan akulah penyebabnya." Jawab Gibran penuh sesal.


"Lalu bagaimana dengan ibu Amanda?" Tanya Rani lagi.


"Mmm, saya sudah memberikan uang yang cukup banyak. Semoga cukup hingga ia melahirkan. Dan katakan padanya untuk tidak menemui aku lagi apapun alasannya."


"Ba... Baiklah."


"Tolong buatkan pengumuman perihal tutupnya praktekku dan permintaan maaf karena tidak dapat dipastikan hingga kapan." Titah Gibran dan Rani mengangguk patuh.


"Kami pasti akan kehilangan anda, Dok. Semoga istri anda segera sembuh seperti sedia kala." Ucap Rani tulus.


"Terimakasih, saya pamit pulang." Gibran pun pergi dengan sekotak besar yang berisikan barang-barang pribadinya.


Ya Gibran memutuskan untuk menutup klinik kecilnya entah untuk berapa lama. Ia lebih memilih untuk lebih memperhatikan Sabina dan kehamilannya karena itulah yang paling penting untuknya.


***


Sepulangnya Sabina dari rumah sakit, ia dikejutkan oleh datangnya kiriman buket bunga lily dan mawar putih. Keduanya adalah bunga kesukaan Sabina.


"May happiness always bloom in your heart. Happy birthday. Love, keluarga Tama." ( Semoga kebahagiaan selalu bermekaran dalan hatimu. Selamat ulang tahun. Dengan cinta, Keluarga Tama.)  Sabina membaca kartu berwarna merah muda yang berada di dalam buket bunga tersebut. Ia tahu Andre lah yang mengirimkannya meskipun di sana tertulis nama keluarga Tama.


Terlalu larut dalam masalahnya bersama Gibran membuat Sabina lupa dengan hari ulangtahunnya sendiri.


Ia pun mencari benda pipih dari dalam tas tangannya dan ternyata dalam keadaan mati karena kehabisan daya.


Sabina pun segera mengisi daya ponsel dan menyalakannya.


"Sudahlah Bina, kamu harus kuat demi bayi yang ada dala perutmu. Seharusnya kamu tak merasa kecewa seperti ini karena bukankah kamu sudah sadar jika selama ini kamu hanya second best ( bukan yang terbaik atau bukan prioritas ) bagi Gibran." Ucap Sabina dalam hatinya. Dan ia pun tersenyum masam.


"Apa tak ada pesta makan malam untuk yang berulang tahun ?" Tanya ayah Sabina yang kehadirannya tak Sabina sadari. Tiba-tiba ia berada tak jauh dari tempat dirinya berdiri dan mengamati buket bunga mawar yang ukurannya cukup besar itu.


"Keluarga Tama ? Andre ?" Tanya sang ayah.


"Iya, dan sejak kapan ayah berada disini ?" Tanya Sabina dan ia pun menyalami ayahnya itu dengan mencium tangan juga memeluknya.


"Sejak tadi, ayah sudah mengucapkan salam tapi kamu asik dengan ponselmu. Selamat ulang tahun, Sayang."


"Terimakasih dan maaf aku sampai tak sadar akan kehadiran ayah."


"Bagaimana jika makan malam di rumah ayah ? Kita undang beberapa keluarga terdekat. Ayah tak menyiapkan pesta karena kamu kini telah menikah. Ayah pikir sekarang ini suamimu yang lebih berhak untuk melakukan apapun untukmu."  Jelas ayah Sabina dan membuat hati putrinya terasa kecut.


"Bahkan dia tak ingat hari ulang tahunku, atau mungkin dia tak tahu." Batin Sabina dalam hatinya.


"Gibran sangat sibuk, lagian kini aku sudah malu untuk sebuah pesta. Aku bukan lagi anak gadis." Jawab Sabina seraya tertawa. Bahkan ia masih membela Gibran di mata ayahnya sendiri.


"Bilang Gibran jangan terlalu sibuk karena kini tugas terbesarnya adalah menjaga kamu."


"Ayah jangan khawatir, Gibran memperhatikan aku kok." Jawab Sabina. Meskipun dalam hati ia mengingkari ucapannya sendiri.


"Syukurlah jika begitu," ungkap ayah Sabina yang kini terlihat lega.


"Baiklah, nanti malam ayah tunggu di rumah. Kita makan malam bersama. Tapi sekarang ayah harus pergi dulu karena ada keperluan." Ayah Sabina pun mengecup puncak kepala anaknya itu penuh kasih sayang sebelum ia pergi.


***


Gibran datang lebih awal dari biasanya. Ia memasuki rumah dan berjalan menaiki tangga menuju lantai 2 ke kamarnya yang dulu dengan Sabina tempati. Ia tak lagi memasuki kamar tamu seperti waktu sebelumnya.


"Aku pulang," ucap Gibran dan ia terheran melihat Sabina yang kini sedang berdandan di depan cermin.


"Kamu mau kemana ?" Tanya Gibran.


"Ayah mengajak untuk makan malam di rumahnya."jawab Sabina singkat. Ia melihat Gibran meletakkan sebuah kotak di atas meja kerjanya tanpa bertanya apapun. Seperti yang sudah Sabina katakan ia tidak mau berdebat lagi.


"Tunggu, aku mandi dulu." Ujar Gibran dan ia pun segera memasuki kamar mandi.


Mbok Inah datang memasuki kamar Sabina  dengan membawa beberapa potong pakaian Gibran di tangannya.


"Saya disuruh pak dokter untuk membawa pakaiannya kemari."


Sabina hanya menganggukkan kepala tanpa menjawabnya dan mbok Inah pun segera pergi keluar.


Beberapa menit kemudian Gibran keluar dari kamar mandi namun tak menemukan Sabina di kamarnya.


"Apa dia ninggalin aku ?" Tanya Gibran dalam hati. Ia pun segera bersiap dengan secepat kilat.


Setelah selesai bersiap, Gibran jalan menuruni tangga dan merasa lega melihat Sabina tengah duduk di ruang tamu. Istrinya itu terlihat sangat cantik dengan gaun merah marun yang begitu sempurna membelit tubuhnya.


Langkah Gibran terhenti ketika melihat sebuah karangan bunga yang indah. Padahal sebelumnya ia tak sadar akan kehadiran buket bunga tersebut. Ia pun segera membaca kartu yang berada disana dan malu karena tak ingat hari ulang tahun istrinya bercampur dengan rasa cemburu karena tahu pengirim buket bunga itu adalah Andre.


"Maaf, aku lupa hari ulang tahunmu." Ucap Gibran penuh sesal.


"Its oke," jawab Sabina singkat.


"Kamu menerima bunga dari Andre ?" Tanya Gibran tanpa bisa menyembunyikan rasa cemburunya.


"Kurir yang mengirimnya. Tak mungkin aku menolaknya bukan ? Mungkin Andre hanya ingin memulai pertemanan." Jawab Sabina tenang.


"Tapi kalian mempunyai sejarah dibelakangnya." protes Gibran mulai gusar.


"Begitu pun kamu dengan Amanda." Timpal Sabina.


"Itu berbeda, aku hanya menolongnya sebatas rasa kemanusiaan."


"Meskipun istrimu ini memintamu untuk memilih yang lebih penting ? Dan ya kamu memilih dia."


"Kamu yang lebih penting bagiku, Bina. Karena aku mencintaimu." Ungkap Gibran dengan perasaan menggebu.


"Salahnya aku membuatmu sebagai prioritas utamaku, sedangkan aku hanya sebuah pilihan kedua bagimu." Sabina pun mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.


"Apa maksudmu ? Kamu pun yang utama bagi aku" Gibran tak terima dengan apa yang Sabina ucapkan.


"Maaf tapi aku tak merasa seperti itu. Kamu ingat ? Ketika aku memintamu untuk pulang tapi kamu lebih memilih untuk menolongnya disitulah aku sadar jika aku ini hanya sekedar cadanganmu. Jika kamu punya pilihan antara aku dan Amanda. Pilih dia karena jika kamu benar-benar mencintaiku seharusnya tak pernah ada pilihan. Dan kamu pun melakukannya. Kamu lebih memilih untuk terus mengurusinya padahal sudah ku bilang jangan. Jadi aku tahu posisiku seperti apa sekarang ini. Setelah anak ini lahir mari kita berpisah secara baik-baik."


"Tidak Bina, bukan seperti itu. Apa yang kamu pikirkan itu salah. Aku sangat mencintaimu meskipun aku telah membuatmu kecewa. Tapi percayalah hanya kamu satu-satunya yang aku cinta dan seperti yang telah aku katakan dulu, aku tak akan pernah mau berpisah darimu" Ucap Gibran tanpa ragu.


To be continued ❤️


Makasih yang sudah baca, like dan komen.


Terima kasih juga untuk yang sudah memberikan vote juga hadiah.


Episode ini didedikasikan untuk reader aku yang kemarin berulang tahun.


Selamat ulang tahun kak Queen 😍❤️ semoga diberikan umur panjang dan berkah serta dikabulkan segala harapannya. Aamiin.



Masih dalam puncak konflik yaa... Menuju ending insyaallah. jadi sabar2 bacanya.


love u genks ❤️