
Di tempat lain..
mobil mewah tiba di sebuah rumah yang terbilang sederhana.
sekretaris Leo nampak membunyikan klaksonnya berkali kali
Tin..Tinn... tin...
seorang wanita kira kira berumur 40 tahunan segera membukakan pintu gerbang,
kemudian mobil terparkir di halaman yang tidak cukup luas, sekretaris Leo membukakan pintu mempersilahkan Marfin keluar dari mobilnya dengan sopan.
Marfin berjalan tergesa di ikuti oleh sekretarisnya dan wanita itu tadi.
tiba didepan pintu wanita itu membukakan pintu .
" terimakasih bu, ucap sekretaris Leo tersenyum ramah.
mana nyonya ? tanya Marfin kepada wanita itu. di balkon atas tuan jawabnya.
Marfin melebarkan langkahnya menaiki anak tangga yang tidak begitu panjang diikuti oleh sekretaris leo
. hingga di akhir anak tangga ia berhenti sejenak memandang sosok wanita yang terpaku seperti kehilangan harapan. tatapan wanita itu kosong , hidupnya seakan tak berwarna.
kulitnya yang putih namun tak berseri terlihat tak punya keinginan hidup. ia melipatkan kedua tangannya di pagar tembok balkon ,menatap keindahan kota.
air matanya ia tahan agar tak jatuh dipipinya. ia seperti ingin mencoba kuat.
Marfin menghela nafas sejenak kemudian melanjutkan langkahnya lagi.
" bagaimana keadaamu? tanya Marfin lembut.
Disudut lain sekretaris leo tersenyum sedih melihat Marfin.
" semenjak mengenal dua wanita ini, orang yang paling keras sekalipun bisa menjadi sangat lembut.
namun bagaimana jika tuan kehilangan dua wanita ini, yang satu sangat mencintainya dan yang satu ini sangat membutuhkannya.
oh tidakk... jangan sampai hal buruk terjadi .
wanita itu menghela nafas, kemudian membalikan badannya kearah Marfin.
" aku baik baik saya tuan?
bagaimana denganmu? istrimu? tanya wanita itu.
" aku baru saja kembali dari honeymoon bersama istriku, namun aku memikirkan keadaanmu makannya aku kemari.
Maaf aku tidak menghubungimu.
ucap Marfin.
" kau sudah menitipkan aku pada sekretaris leo bukan? dia kemari tiap hari, dia begitu memperlakukan aku dengan baik, ucapnya datar.
" apa bayi yang ada dalam kandunganmu baik baik saja? kau sudah chek up kemarin? tanya sekretaris leo.ia berdiri di samping wanita itu.
*aku tidak ingin bayi ini, jikapun ia mati. aku tidak perduli. lagi pula untuk apa kau menolongku kemudian setelah itu kau tinggalkan aku . harusnya kau sudah menabrak aku waktu itu.
jawab wanita itu menatap tajam Marfin.
" sabar tuann... sekretaris leo mengusap punggung Marfin.
" apa gunanya aku hidup tuan, aku tidak punya siapa siapa? aku sudah yatim piatu sejak aku kecil . aku hanya tinggal bersama paman dan bibi. kemudian bibiku meninggal karna serangan jantung menyusul pula pamanku meninggal karna saki sakitan mungkin karna beban fikiran karna di tinggal istrinya
.lalu aku diperkosa oleh orang orang yang tidak aku kenal.
hidupku hancur. siapa lagi yang aku punya?
aku seperti hilang arah tuan, aku tak punya tujuan. untuk apa lagi aku hidup. air mata wanita itu tak tertahankan mengalir begitu deras dipipinya.
tuan..kau kasihan pada anak ini? tanyanya dengan terisak isak menatap Marfin.
dia bayi yang suci tidak berdosa. lalu bagaimana dengan kehidupannya nanti. ketika dia bertanya siapa ayahnya. haruskah ku jawab bahwa dia adalah anak dari preman preman itu, anak hasil perkosaan. tidakkah hati anakku akan hancur. wanita itu mengeraskan volumenya air matanya makin deras dipipinya , suaranya terdengar tak jelas karna isakan tangisnya.
Marfin hanya terdiam mendengar ucapan wanita itu.
menahan air mata agar tidak keluar dari matanya.
hatinya seperti hancur, sakit rasanya.
hatinya berkecamuk" haruskah aku menikahinya? lalu bagaimana dengan Alika.
Aku sudah mulai mencintainya.
bukan lagi dendam yang ada di hatiku untuk Alika. tapi cinta...
lalu wanita ini, aku sama sekali tidak mencintainya. tapi hatiku sakit melihat kesengsaraan yang di alami olehnya.Batin Marfin.
beberapa jam Marfin bersama wanita itu, yang ia lakukan hanya menatap wanita itu dengan rasa kasihan.
Dret....drett.... ponselnya bergetar.
ia merogoh saku celananya kemudian melangkahkan kakinya sedikit menjauh dari wanita itu.
" haloo...
" kau dimana? tanya Alika disana.
" sebentar lagi aku pulang sabar ya, jawab Marfin dengan sangat lembut.
" ibu menanyakanmu, saudaramu jee juga sudah ada di sini.
Marfin menanggapi, baiklah aku akan segera pulang. sudah ya ucap Marfin.
Marfin menutup pembicaraannya .
"Maaf kan aku Alika. Batin marfin ia menundukkan kepalanya.
kemudian langkahnya kembali menghampiri wanita itu dan meminta izin untuk pulang.
"jagalah dirimu baik baik, jika aku tak bisa kemari . leo akan sering mengunjungimu.
wanita itu mengangguk mengerti memaksa wajahnya untuk bisa tersenyum.
.