
Selamat membaca ❤️
"Ku mohon Gibran...," Ucap Amanda diantara isakkan tangisnya.
Meski enggan, akhirnya Gibran meraih kertas itu dan membacanya dengan seksama. Dan tepat seperti dugaannya Amanda mengidap suatu penyakit yang cukup berbahaya.
Gibran menarik nafas dengan pelan, mencoba memahami apa yang terjadi sedangkan Amanda masih menunggu Gibran untuk berbicara dengan terus mengusap pipinya yang basah.
"Aku baru melakukan pemeriksaan beberapa hari yang lalu. Karena setelah kamu meresepkan obat untukku waktu itu, aku merasa jauh lebih baik. Tapi ternyata itu tak berlangsung lama," jelas Amanda sembari terisak.
Gibran hanya diam, ia masih fokus dengan kertas yang ia baca.
"Kamu positif terkena sifilis, salah satu penyakit menular seksu*l yang cukup berbahaya apalagi kondisi mu sedang hamil. Kemungkinan besar bakteri yang menjangkitimu bisa menular pada sang bayi dan menyebabkan beberapa hal yang dapat membahayakannya," jelas Gibran dan tangisan Amanda semakin menjadi.
"Berita baiknya, ini masih bisa disembuhkan dengan mengkonsumsi antibiotik yang tepat dan diminum secara rutin namun pemilihan obat juga sedikit sulit karena kehamilnmu. Aku akan merujukmu ke dokter spesialis yang menangani ini dan tolong jangan lakukan aktivitas seksu*l karena ini sangat beresiko menular." Jelas Gibran sembari mengambil beberapa lembar kertas dan mulai menuliskannya.
"Jangan.... Ku mohon jangan...," Lirih Amanda.
Gibran mengangkat wajahnya dan menatap Amanda dengan penuh tanda tanya.
"Aku memang penuh dosa, tapi aku juga manusia." Ucap Amanda lirih.
"Apa kamu tak sadar, Gibran? Ini aib untukku. Ini hal yang sangat memalukan yang membuatku merasa ingin mati saja. A... Aku memberanikan diri datang jauh-jauh kemari hanya untuk mengadu padamu, karena aku tak ingin orang lain tahu tentang aibku ini. Aku hanya percaya sama kamu dan sekarang kamu merujuk aku pada dokter yang lain maka aibku semakin banyak yang tahu. Apa itu yang kamu inginkan?" Tangis Amanda semakin menjadi ketika ia mengatakan itu dan Gibran mantapnya dengan datar.
"Gibran, aku hidup seorang diri. Aku sudah tak memiliki apa-apa lagi selain anak sialan yang aku kandung dan penyakit aib ini. Dan sekarang seseorang yang aku harapkan menjadi penolong bagi kami berdua, melemparkan aku pada orang lain. Sebaiknya aku bawa mati saja dia," ucap Amanda seraya mengelus perutnya yang cukup besar meski tubuh Amanda sendiri terlihat kurus tak terurus.
"Apa maksud kamu, Manda ?" Tanya Gibran tak suka.
"Terimakasih atas bantuanmu selama ini, kita tak akan pernah bertemu lagi. Aku tak akan mengganggumu lagi. Percayalah... Aku dan dia akan menghilang selamanya dari hadapanmu, Gibran." Ucap Amanda seraya berdiri dan pergi secepat kilat.
Gibran baru saja berdiri ketika terdengar teriakan beberapa orang dari luar kliniknya. Dengan rasa takut Gibran berlari keluar dan benar saja, tepat seperti dugaannya Amanda mencoba melukai dirinya sendiri dengan menabrakkan diri ke kendaraan yang melintas tepat di depan klinik miliknya.
"Ah shiiit," maki Gibran ketika ia melihat Amanda terbaring di sisi jalan dan sang pengendara motor yang menabraknya terlihat frustasi.
"Saya kira dia tidak akan menyebrang, tapi tiba-tiba dia bergerak dan berhenti di hadapan saya dan saya tidak dapat menghindarinya." Jelas seorang lelaki yang terlihat begitu syok.
"Apa dia gak apa-apa?" Tanya nya panik karena ia melihat rembesan cairan merah segar dari tubuh Amanda.
Gibran dan beberapa orang yang berada di sana segera mengangkat Amanda dan membaringkannya di atas kursi pasien. Segara Gibran pergi ke ruangannya dan mengambil alat-alat medis untuk memeriksa Amanda yang terbaring tak sadarkan diri.
Cukup lama Gibran memeriksa, dan terdapat luka robek di kepala Amanda karena benturan. Gibran pun memberikan pertolongan pertama dan tak lama sebuah mobil ambulan datang untuk membawa Amanda ke rumah sakit yang lebih besar yang letaknya cukup jauh dari klinik Gibran.
Mau tak mau Gibran pun ikut menemani Amanda ke rumah sakit karena ia satu-satunya orang yang mengenal Amanda.
Sesampainya di rumah sakit, Gibran menunggu Amanda yang kini mendapatkan perawatan lebih intensif di unit gawat darurat.
Tangan Gibran gemetar karena ia tak menyangka Amanda akan melakukan hal senekad itu, ia kira Amanda hanya menggertak saja. Ia menarik nafas dalam mencoba untuk menenangkan diri dan seketika teringat pada Sabina yang kini menunggunya di rumah. Segera Gibran, meraih ponselnya dalam saku dan menghubungi Sabina sang istri.
"Halo, Sayang." Sapa Sabina ketika hubungan telepon itu terhubung.
"Sayang, ini aku. Maaf sepertinya aku akan pulang terlambat karena ada kecelakaan lalu lintas yang terjadi tepat di depan klinik dan kini aku merujuknya ke rumah sakit." Ucap Gibran sembari memijit pangkal hidungnya karena pening yang ia rasakan.
"Ya Tuhan, apa korbannya terluka parah ?" Tanya Sabina sama paniknya.
"I... Iya." Jawab Gibran.
"Oh Tuhan, semoga ia selamat. Kamu tenang aja Sayang. Aku gak apa-apa, tapi berhati-hati lah ketika pulang nanti. Ingat aku dan anakmu menanti kepulangnmu di rumah."
"Ya tentu," jawab Gibran yang kini merasa lemah tak berdaya.
"Aku mencintaimu, Bina. Sungguh...," Lirih Gibran.
"A... Aku juga sangat mencintaimu." Jawab Sabina.
"Baiklah, aku harus pergi. Nanti aku hubungi lagi." Ucap Gibran dan ia pun mengakhiri panggilan itu.
Cukup lama Gibran menunggu hingga seorang dokter yang memeriksa Amanda datang menghampirinya mengatakan bahwa Amanda mulai tersadar dan mencari seseorang bernama Gibran dan tentu saja itu dirinya.
Gibran memasuki ruangan dimana Amanda terbaring dengan kain kasa yang membelit kepalanya yang terluka.
"Kenapa sulit sekali untuk pergi," ucap Amanda lirih ketika ia sadar Gibran berada di sampingnya.
"Kenapa Tuhan gak ambil aku dan anakku saja," ucapnya lagi dengan rasa putus asa.
"Mungkin Tuhan masih memberikan waktu untukmu bertobat Manda." Jawab Gibran dan Amanda meneteskan air mata ketika mendengarnya.
"Kamu harus tinggal disini untuk beberapa hari. Besok Rani akan datang kesini melihat keadaanmu. Jangan melakukan hal-hal yang buruk lagi Manda." Lanjut Gibran.
"Aku yang akan menanggung semua biayanya. Kamu jangan khawatir. Dan mengenai pengobatan penyakitmu kita bicarakan lagi nanti." Potong Gibran.
"Aku harus pulang, Sabina menungguku."
Ucap Gibran seraya berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Amanda yang kembali menangis tersedu.
***
Waktu menunjukkan pukul 11 malam dan kini Gibran memarkirkan mobilnya di salah satu kawasan apartemen mewah di pusat kota Jakarta.
Terakhir kali ia datang kemari beberapa bulan lalu dan berakhir dengan seseorang yang babak belur karena kepalan tangannya.
Dengan malas Gibran pun turun dari mobilnya dan bergegas memasuki gedung apartemen tersebut. Lift berhenti ketika ia sampai di lantai yang dituju dan Gibran pun berjalan keluar.
Ia membunyikan bel pintu apartemen dan tak lama seseorang yang Gibran kenal muncul dari balik pintu.
"Ngapain Lo kesini ?" Tanya Andre ketika pintu itu terbuka.
"Amanda hamil dan mengalami kecelakaan." Ucap Gibran langsung tanpa basa-basi.
"Gue gak peduli." Ungkap Andre dan ia pun segera menutup kembali pintu apartemen namun tangan Gibran menahannya.
"Amanda juga sakit." Kata Gibran seraya menyerahkan selembar kertas fotocopy hasil pemeriksaan laboratorium Amanda dan Andre pun meraihnya.
Seketika wajah Andre berubah pucat ketika ia membacanya.
"Gue rasa Lo juga harus periksa. Jangan sampai Lo nularin ke yang lain kalau emang Lo pun mengidap penyakit yang sama." Ucap Gibran dan Andre masih terdiam seribu bahasa.
"Amanda hancur saat ini, bagaimanapun Lo udah jadi bagian dari hidupnya. Jadi sebaiknya Lo bertanggung jawab dengan apa yang terjadi sama dia."
"Udah gue bilang, gue gak peduli." Jawab Andre.
"Walaupun dia ma*i, aku tetep gak peduli." Lanjut Andre lagi.
"Bisa jadi anak yang Amanda kandung adalah anak Lo, apa Lo gak ngerasa kasihan? " Tanya Gibran dengan sedikit emosi.
"Udah gue bilang sama dia, gue akan hadir kalau dia melahirkan untuk melakukan tes DNA. Selebihnya gue udah gak mau terlibat apapun lagi dengannya."
"Kenapa sih Lo jadi brengseek gini ?" Hardik Gibran seraya mencekal kerah kaos yang Andre gunakan.
"Lo peduli banget ma Amanda. Masih cinta? Boleh Lo ambil lagi, dan dengan senang hati gue akan kembali pada Sabina. Karena seharusnya Sabina menjadi milik gue." Ucap Andre dan langsung saja kepalan tangan Gibran kembali ia rasakan menghantam pipinya dan cairan segar berwarna merah kembali menetes dari sudut bibirnya.
"Bangssaaat," maki Gibran.
"Gue cuma lihat Amanda sebagai manusia biasa yang butuh bantuan gak lebih dari itu. Dan jangan pernah nyebut nama Sabina istri gue," hardik Gibran dengan suara meninggi.
"Kalau begitu Amanda jadi urusan Lo sekarang." Ucap Andre dan kali ini ia menutup pintu apartemennya dengan sempurna meninggalkan Gibran yang masih berdiri dengan frustasi.
Andre terduduk di sofa besar miliknya dengan sebuah kertas yang ia baca berulang-ulang.
"Sialaan Manda !" Maki Andre.
Dalam hati ia pun merasa takut luar biasa. Takut jika ia menderita penyakit yang sama.
***
"Bina mana ?" Tanya Gibran pada mbok Inah yang membukakan pintu untuknya.
"Non Bina udah tidur,Pak." Jawab mbok Inah dan Gibran pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Gibran memasuki kamarnya dengan perlahan, hatinya terasa hangat ketika melihat Sabina terbaring di sana. Ia pun memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menyusul Sabina ke atas tempat tidur.
Gibran pandangi wajah cantik Sabina yang sangat ia cintai. Dirinya merasa bingung bagaimana harus bercerita pada Sabina jika kini Amanda menjadi tanggung jawabnya padahal Gibran telah berjanji pada Sabina untuk tidak akan berhubungan lagi dengan Amanda.
"Bina, aku cinta banget sama kamu." Bisik Gibran tepat di telinga Sabina dan membawa istrinya itu dalam dekapannya.
To be continued ❤️
Thank you for reading ❤️
Yang suka ceritanya boleh vote ya mumpung Senin.
Maaciw banyak ❤️❤️❤️❤️❤️