
"Maaf saya terlambat," ucap Gibran seraya menundukkan tubuhnya dengan cara bersila di atas lantai karpet sebuah mesjid ternama di kota Jakarta. Ia menolehkan kepala dan tersenyum pada Sabina yang duduk tak jauh darinya dengan Athalla yang berada di pangkuannya. Anak lelakinya itu kini telah berusia 2 tahun dengan paras wajah mirip dirinya namun kulit seputih ibunya.
Hari ini ia akan menjadi saksi pernikahan temannya Andre. Bagaikan dejavu, dulu pun ia pernah akan melakukan hal yang sama namun temannya itu memilih untuk melarikan diri bersama wanita yang menjadi kekasihnya saat itu
Hal itu terjadi 3 tahun yang lalu, sudah tak ada amarah apalagi rasa dendam dalam dirinya karena sebagai gantinya Gibran telah menemukan belahan jiwa yang sesungguhnya.
Begitu pun Sabina, ia tak merasakan sakit hati atau pun marah melihat mantan kekasihnya yang kini telah bersiap untuk melakukan ijab kabul dengan wanita yang dicintainya. Seperti halnya Gibran, Sabina pun telah menemukan lelaki terbaik yang diberikan Tuhan padanya.
Bagi Sabina hati dan pikirannya telah dipenuhi oleh Gibran Fahreza seorang. Lelaki yang telah membuatnya jatuh cinta dengan dalam sehingga ia tak menginginkan lelaki lain selain suaminya.
Andre ikut menolehkan kepala dan tersenyum pada Sabina yang duduk dengan memangku anak lelakinya.
"Fokus, Dre. Fokus !" bisik Gibran yang merasa tak suka jika Andre tersenyum pada istrinya.
"Elah, posesif bener jadi laki." ucap Andre kesal. Padahal ia telah menerima kenyataan jika Sabina bukanlah jodohnya.
"Inget perjuangan 2 tahun lo dapetin Alya." ucap Gibran mengingatkan.
Ya...
Butuh waktu 2 tahun bagi Andre untuk bisa bersatu dengan Alya. Setelah acara makan malam waktu itu ternyata semuanya tak berjalan seperti yang Andre inginkan.
Ibu dan salah satu adiknya tak menyetujui hubungan ia dan Alya karena dianggap akan menjatuhkan nama baik keluarga Tama. Hingga Alya yang sebenarnya telah menerima lamaran Andre pun mundur dan menghilang bersama anaknya.
Andre yang frustasi kembali jatuh sakit hingga Gibran juga lah yang membantunya untuk sembuh. Melihat anak mereka yang kembali menderita akhirnya keluarga Andre sadar dan menyetujui hubungannya dengan Alya bahkan membantu mencari keberadaan wanita itu.
Beruntung bagi Andre karena Alya masih merasakan hal yang sama hingga mereka pun memutuskan untuk mengikat cinta dalam sebuah pernikahan.
Andre membuat keputusan besar untuk membuat hidupnya lebih tenang yaitu meninggalkan perusahaan Tama milik keluarganya, ia akan memulai lagi segala sesuatunya dari awal dengan Alya dan Raka.
Andre sadar Tuhan masih menghukumnya atas segala perbuatan buruk yang pernah ia lakukan di masa lalu hingga ia harus kehilangan segalanya, namun meksipun begitu Tuhan masih memberikan belas kasihnya dengan mengirimkan Alya sebagai teman hidupnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Alya Fahrani binti Dedy Mulyana dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai." Ucap Andre dengan jelas dan tegas.
"Bagaimana saksi?"
"Sah," jawab Gibran dan saksi yang lainnya tanpa ragu.
Kini seorang Andreas Tama telah resmi menjadi suami dari Alya dengan segala kerja keras dan pengorbanan yang ia lakukan.
"Selamat ya semoga kalian bahagia." ucap Sabina ketika ia menyalami kedua pengantin.
Pernikahan yang amat sederhana bagi seseorang yang datang dari keluarga Tama, tak se- mewah ketika Andre akan menikahi Sabina dulu.
Kedua orang tua Andre yang hadir disana memandang Sabina dengan perasaan tak menentu. Karena seharusnya Sabina lah yang menjadi menantu mereka.
Sadar jika Sabina menjadi pusat perhatian, Gibran pun segera menarik pinggang istrinya itu agar dekat dengannya, ia menunjukkan pada semua jika Sabina adalah miliknya dan Sabina pun melakukan hal yang sama. Ia menunjukkan pada semua jika ia adalah milik Gibran seutuhnya.
"Kapan kalian pergi ?" tanya Alya.
"3 hari lagi." jawab Sabina.
3 hari mendatang Sabina akan terbang ke negeri ginseng Korea untuk melakukan serangkaian operasi yang bertujuan untuk menyembuhkan kakinya.
"Rencananya berapa lama disana ?" tanya Alya lagi.
"Sekitar satu tahun, dengan terapi dan sebagainya." kini Gibran yang menjawabnya.
"Semoga semua berjalan lancar dan kamu cepat pulihnya." Andre mengucapkan doa yang tulus untuk wanita yang dulu menjadi kekasihnya.
"Terimakasih." ucap Sabina seraya tersenyum pada pasangan pengantin itu.
***
Esok harinya Andre dan Alya juga Raka mendatangi suatu tempat dengan 2 buket bunga yang mereka bawa.
"Papa datang, Lili dan perkenalkan ini kakakmu Raka." ucap Andre seraya menatap batu nisan yang bertuliskan nama 'Liliana Andreas'. Ia memberikan nama itu sesuai anjuran Alya. Tak ada nama Tama di sana karena keluarga Andre masih tak bisa menerimanya.
"Mungkin kedepannya Papa tak bisa sering mengunjungimu karena kami akan pindah kota, tapi namamu akan selalu hadir dalam doa Papa," ucap Andre lagi seraya meletakkan karangan bunga itu di atas makam anaknya.
Andre pun menatap makam Amanda dan memanjatkan doa untuk wanita yang pernah mengisi hidupnya itu, kemudian sebelum mereka pergi Alya meletakkan buket bunga yang lain di atas makam Amanda.
Ketiganya pun berjalan meninggalkan area pemakaman itu setelah berpamitan. Andre memutuskan untuk memulai hidup baru di kota yang baru dimana orang-orang tak ada yang tahu tentang kehidupan lalunya yang kelam.
***
Gibran dan Sabina tengah membenahi banyak koper yang akan mereka bawa ke Korea. Gibran akan ikut menemani istrinya tinggal disana selama proses pengobatan itu dilaksanakan.
Gibran mengajukan cuti panjang pada rumah sakit yang kini jadi miliknya. Ia juga telah menyediakan dokter pengganti di kliniknya yang dulu.
"Tentu saja, ibu juga sehat-sehat disini," jawab Gibran seraya memeluk hangat ibunya.
"Kamu jangan khawatir, ibumu akan baik-baik saja. Kami akan menjaga beliau sepenuh hati." Ayah Sabina berucap dengan sungguh-sungguh.
"Terimakasih Ayah," Gibran menitikkan air matanya ketika mengatakan itu.
Keluarga Mulia memperlakukan ia dan ibunya dengan begitu baik. Selama Gibran pergi menemani istrinya, sang ibu akan dijaga beberapa pelayan yang disediakan oleh ayah Sabina.
"Ayah pun akan membawa ibumu ikut serta ke Korea jika nanti berkunjung." ucap ayah Sabina lagi dan Gibran tersenyum lega mendengarnya.
"Jangan pikirkan apapun, Ayah titipkan Sabina padamu." Mata ayah Sabina mengembun ketika mengucapkan itu.
Mengembun karena rasa haru bahagia, hatinya merasa lega karena putri kesayangannya kini berada di tangan lelaki yang tepat. Lelaki yang mempunyai cinta yang sama besarnya dengan dirinya.
"Saya akan menjaga Sabina dengan segenap jiwa dan raga. Ayah tak usah khawatir." Jawab Gibran tanpa ragu.
***
"Welcome to Incheon International Airport."
Sabina dan Gibran juga Athalla baru saja mendarat di bandara internasional Korea. Diikuti beberapa orang kepercayaan ayah Sabina yang akan membantu menyediakan segala keperluan putrinya di sana.
Sabina menarik nafas dalam ketika ia melangkahkan kakinya menuruni pesawat. Dalam kepalanya masih terbayang wajah-wajah orang yang mencintainya, yang tadi mengantarkan kepergiannya. Seluruh keluarga inti dan ibu mertuanya mengantarkan Sabina dengan penuh rasa cinta.
Ini keputusan paling besar dalam hidup Sabina. Ia akan menghadapi sesuatu yang sebenarnya sangat dirinya takutkan.
Sabina menghentikan langkahnya ketika ia baru saja keluar dari pesawat secara sempurna. Kakinya terasa berat dan kaku seketika.
Gibran yang sedang memangku Athalla segera mendekati Sabina dan meraih jemari istrinya itu dalam genggamannya.
"Kamu bisa, Sayang. Kamu lebih kuat dan lebih berani dari yang kamu kira." ucap Gibran seraya menatap mata Sabina penuh cinta. Ia tahu jika istrinya tengah merasa takut.
Sabina membalas tatapan Gibran dengan cinta yang sama besarnya dan ia pun membalas genggaman tangan Gibran sama eratnya.
"Dan kamulah sumber kekuatanku." Ucap Sabina tanpa ragu.
"Ayo kita wujudkan mimpi kita berdua, Mama kelinci !! Kita akan menua bersama dalam cinta dan gelak tawa anak-anak kita." Ucap Gibran penuh semangat.
"Ya, ayo kita wujudkan mimpi dan cinta kita, Papa Kelinci !" Ucap Sabina dan mulai melangkahkan kakinya kembali tanpa rasa ragu.
Gibran mengikuti langkah Sabina tanpa memisahkan tautan jari mereka.
Cinta yang Sabina dan Gibran miliki amatlah besar hingga itulah yang menjadi sumber kekuatan bagi keduanya.
Dengan rasa cinta itu lah keduanya bisa melalui segala sesuatu dalam kehidupan pernikahan mereka.
Tak ada seorangpun pun yang menyangka jika mereka bersatu dari sebuah luka dan berakhir dalam sebuah cinta yang menggelora.
Di balik suatu cobaan yang menyakitkan Tuhan telah menyiapkan hadiah terbaiknya. Janganlah berputus asa bagi kalian yang sakit karena cinta.
-Tamat-
Terimakasih untuk semua readers yang membaca novel ini hingga akhir..
Terimakasih atas segala dukungannya, terimakasih untuk kalian yang telah merelakan poin dan votenya untuk novel ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan dengan memberikan kalian rezeki yang berlimpah dan berkah. Aamiin..
Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam novel ini.
Maaf jika ada kata, kalimat atau episode yang kurang berkenan di hati para reader.
Maaf untuk komentar yang belum saya balas.
Maaf jika balasan komentar saya menyinggung hati para reader semua.
Spesial terimakasih untuk Shanti, Eva Gelista, Madu Nurul, Mak suswati, Kak Queen, dan para reader lain yang gak bisa saya sebutkan satu persatu.
Sampai ketemu di novel saya yang lain Insyaallah.
Jangan di hapus dulu dari pavorit yaaa... karena Insyaallah akan ada bonus chapter 😍😍
Salam sayang dari Sabina dan Gibran