Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Mas...


*****


jee....


aku menghubungi Marfin berkali kali tapi tak ada jawaban. Bu Risma khawatir.


,tenang, mungkin saja dia sudah berada di tempat Alika. ucap jee santai sambil membaringkan tubuhnya diatas sofa. sementara bu Risma mondar mandir khawatir.


" bagaimana jika kita berdua mengunjungi rumah Alika. Bu risma memberikan ide sambil masih mondar mandir di hadapan Jee yang sedang berbaring di sofa sambil memainkan ponsel di tangannya.


" tapi tante... mereka berdua akan baik baik saja tenanglah. Jee menggibas gibaskan tangannya.


" *ah sudahh, baiklah akan kucoba tanyakan kepada pak Adi.


bu risma memanggil ponselnya dan menelpon ke tepon rumah kediaman pak Adi.


Tringgg.......Tringg.... suara telpon rumah berbunyi berkali kali.


bu, ada telpon , cepat Angkat. teriak pak adi kepada istrinya. pak Adi sedang sibuk membaca berika koran hari ia tampak santai di temani makanan ringan yang tersedia di atas meja.


bu Tety : hallo, dengan siapa? saya bicara dari kediaman Adi nugroho?


bu Risma : ah, assalamualaikum,


bagaimana keadaanmu, ?


ini aku Risma. ucap Risma terdengar seperti berbicara riang dan tersenyum.


bu tety : wa' alaikumsalam, ya allah nyonya , alhmdulillah disini baik baik saja?


ada apa nyonya ?


Bu risma : Apakah ada Marfin disana ?


bu tety : iya ada nyonya, dia sedang ada di kamar bersama Alika.


bu Risma : bisakah kau panggilkan mereka berdua .suara Bu risma memelas dia terdengar cemas.


Aku menghubungi Marfin berkali kali tapi tak ada jawaban makanya aku menelpon kemari, aku sangat khawatir pada mereka.


bisakah panggilkan mereka, aku ingin bicara, ku mohon. ucap Bu Risma lagi.


Bu tety : ah tentu saja nyonya, tidak perlu memohon seperti itu. aku mengerti nyonya khawatir. akan ku panggilkan sebentar.


bu tety kemudian menutup telponnya .


ia bergegas cepat menaiki anak tangga.


Tok...Tokk..


***


didalam kamar mereka sedang asik asiknya bercinta.


belum mencapai klimaks tiba tiba terdengar ketukan pintu.


Alika kemudian buru buru buru mengenakan pakaian yang sudah terlepas semua di tubuhnya. sementara Marfin berlari ke kamar mandi.


" *sudah dulu sayang, nanti kita lanjut lagi. ucap Marfin mengecup kening istrinya.


Alika kemudian menghampiri pintu dan membuka gagang pintu. di lihatnya bibinya sudah berdiri di hadapannya tersenyum manis kepadanya.


" Maaf bi, lama ya membuka pintunya. Alika tersenyum malu.


" ah tidak, bibi kira kalian tidak mendengar . tadinya bibi mau kebawah lagi. bibinya kembali tersenyum.


" ada apa bibi? tanya Alika.


" itu, telpon dari mertuamu. dia ingin berbicara dengan Marfin?


" oh begitu, baik bi akan aku sampaikan. jawab Alika salah tingkah.


bibinya kemudian menuruni anak tangga.


Aahhhh.... Alika bernafas panjang lega.


rasanya belum puas bercinta tapi harus terputus begitu saja .


huh....


Alika menghempaskan kasar nafasnya kembali.


lalu ia kembali kedalam kamar.


" ya tuhan, aku dan dia berdua.


ah, aku sangat bahagiaa...... Alika melompat kecil di balik pintu kamar.


Rasanya tak percaya ia bercinta dengan suaminya dalam keadaan sadar.


ahh.... aku seperti benar benar menjadi seorang istri. gumam Alika didalam hati ia masih saja tersenyum senyum sendiri di balik pintu kamarnya.


Marfin membuka pintu kamar mandi.


ia nampak sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya.


ia melirik ke arah istrinya yang tampak sedang senyum senyum sendiri.


hey, siapa tadi yang datang tanya Marfin.


iii....ituu.. bibi. jawab Alika tersenyum.


ia kemudian pelan pelan menghampiri suaminya.


tampak suaminya sedang memakai baju handuk diatas lutut. dada bidangnya terlihat mempesona.


" Marfin tersenyum melihat kelakuan istrinya.


Mengapa dia hari ini tampak berbeda dari hari hari sebelumnya.


dia hari ini bahkan berani menggodanya duluan.


Marfin mengangkat kepalanya melihat kemudian ia melihat istrinya yang memeluk erat dirinya.


" sudahlah, apa kau belum puas? tanya Marfin meledek.


" puas apanya, lagi enak enaknya di ganggu. jawab Alika cemberut.


" hey, gadis bodohku.


Ucap Marfin tertawa kecil melihat bibir istrinya yang sudah bisa di kuncir karna cemberut. Marfin kemudian menggenggam tubuh istrinya dengan kedua tangannya.


" kau ingin lagi? tanya Marfin tersenyum mencubit gemas pipi istrinya .


" tidakk..Alika berpura pura menolak.


yasudah... Marfin melepaskan genggamannya.


" ayo bersiap siaplah, kita akan pulang. ucap Marfin tegas membelakangi Alika.


" tadi ibu menelpon, ucap Alika.


" ibu..?


" yaa.... apa kau sudah menghubunginya? tanya Alika dengan wajah masamnya.


" ya ampun aku lupa. Marfin menepuk keningnya.


" dasar kau.... spontan Alika masih terlihat kecewa.


" Marfin melirik istrinya, nampak masih cemberut.


ia senang apabila melihat istrinya seperti itu, ia tersenyum puas.


dengan cepat ia menghampiri istrinya.


Mundur.... Mundur.


Alika mundur cepat , karna Marfinpun dengan cepat menghampirinya.


jedak


..


tubuh Alika bersandar di tembok.


kini tubuhnya berada lekat dengan Marfin.


Marfin menatap Wajah itu,


" kau tidak lagi takut denganku? ucap Marfin kemudian memasukkan jari jemarinya ke jemari Alika .


Alika menatap suaminya dengan cinta.


ia seperti tak terlihat takut lagi, kejadian dahulu lagi di ingatnya , trauma dari kejadian di malam ulang tahun itu sudah ia lupakan.


yang ada di matanya hanyalah sorot rasa rindu sentuhan seorang suami.


" a... aku tidak takut ,kau saja yang tidak ingin memaksaku. ucap Alika tubuhnya bergetar karna tidak tahan menahan Marfin yang menempel padanya.


" apa? sekali lagi , katakan. Marfin berkata pelan sambil menyodorkan telinganya.


" apa kau tidak dengar, ka....u tuli ya. Ucap Alika memaksa senyumnya.


" nona, aku ini suamimu, jangan panggil aku ..


kau.... kau...kau....


tidak sopan ! bentak Marfin kemudian mengangkat tangan Alika di tembok dan tangannya juga menggenggam tangan itu. tubuh Alika terkunci.


Alika menjadi gemetar lagi , kali inu karna takut bentakan dari suaminya. ia memejamkan mata ketika suaminya membentaknya.


dengan halus Marfin mencium Mata itu.


cup..


ciuman itu mendarat.


a...Mata Alika terbuka.


" aku siapa? tanya Marfin tersenyum.


" suamiku? Alika menjawab.


" kau mau panggil aku apa sayang? Marfin melepaskan pertahanan tangannya dan membelai wajah istrinya.


" aku panggil apa, ?


" iya, kau mau memanggilku dengan sebutan apa ? dear, honey, darl, atau apa? Marfin mengedipkan matanya seraya menggoda.


" Mas.... bolehkah aku memanggilmu mas. ucap Alika dengan wajah polosnya.


Marfin tertawa keras melihat wajah itu.


hahaha.... Mas Marfin? aku. ia menunjuk dirinya sendiri.


Alika hanya menggaruk kepalanya bingung dengan sikap suaminya, kenapa dia tertawa? apakah jika aku memanggilnya Mas akan terdengar sangat lucu?