
Hari demi hari terlewati, namun waktu tak kunjung mempertemukan Marfin kepada istrinya.
mengapa demikian? padahal ia memiliki banyak uang untuk menyewa siapa saja orang yang bisa membawakan istrinya kembali kepadanya, namun bagaimana bisa terjadi? semesta seolah sedang menghukumnya dengan menyembunyikan keberadaan istrinya.
beberapa bulan kemudian,
Marfin
kembali kejakarta, sementara Alika kini sudah memasuki hamil tua,bahkan dokter sudah memprediksi kelahirannya.
****
" bayinya insyaallah sehat, harus siapkan mental ya nyonya, kata Dokter sembari membantu Alika bangkit dari senderan tempat tidur.
" Makasih ya dok, ucap Alika.
Alika keluar dari ruangan di bantu oleh nenek sumiati dan kakek Ramlan, perutnya kini sudah sangat besar berjalan saja ia seringkali menahan pinggulnya.
" hati hati ndok, ucap Nenek.
sementara dari kejauhan berlarian menghampiri Alika dengan nafas terengah engah.
" gimana kata dokter? Maaf aku telat, tadi sibuk banget ada banyak meeting terus jalanan macet tadi belum lagi kesininya jauh, keluh Alfino.
" iya tidak apa apa Al, lagi pula aku bisa sendiri kok, kamu gak perlu repot repot jauh jauh datang kemari, kata Alika sembari berjalan menjauhi kamar pemeriksaan.
" ayolah, kita kekota lagi, ajak Alfino.
"aku pastikan semuanya aman, sambungnya lagi mengikuti langkah Alika di belakang.
"engga Al, aku bentar lagi lahiran, nanti aja setelah lahiran ya, jawab Alika.
huh... Alfino menghela nafas kasar mendengar penolakan Alika.
" baiklah... lagi pula perjalanan jauh tidak baik untukmu, kata Alfino.
Alfino menggiring mereka kedalam mobilnya, dengan penuh perhatian Alfino membukakan pintu mobil juga membantu Alika duduk di kursi mobil kemudian ia memasangkan sabuk pengaman yang digunakan Alika.
" Maaf, biar aku pakaikan. ucapnya yang melihat Alika sedikit kesusahan.
"enggak usah, aku bisa. tolak Alika.
" sebentar.. ucap Alfino kemudian memakaikannya.
******
Marfin turun dari mobilnya dengan sangat gagah ia merapikan jas yang ia kenakan.
ia melirik di halaman ada mobil yang terparkir di sana.
ia berjalan cepat di ikuti sekretaris leo di belakangnya.
Dea tengah berbincang diruang tamu dengan seseorang.
" mas, sapa Dea yang kemudian bangkit dari tempat duduknya.
" oh lanjutkan, kata Marfin kepada Dea dan seorang pria yang duduk di hadapan Dea. mana Rachel? tanya Marfin. Marfin tak memperdulikan keduanya ia berlalu melewatinya dan mencari keberadaan putri kecil sudah berapa bulan ia tak berkunjung kerumah Dea.
leo menghampiri keduanya dengan tatapan tidak senang.
" halo.. perkenalkan saya yuda.
seorang pria memperkenalkan diri.
" ada keperluan apa kemari? tanya leo sinis.
" apa anda kekasihnya? tanya leo melirik Dea.
" tidak... bukan.. dia hanya mampir saja, jawab Dea dengan kekeh.
" owh begitu rupanya, Leo tersenyum miring.
Marfin kembali menghampiri keduanya dengan membawa Rachel di pangkuannya di ikuti bi ina yang membawakan gendongan.
Dea langsung berdiri melihat Marfin melewati ruang tamu begitu saja membawa puterinya.
"Mas mau apa? mau di bawa kemana puteriku? tanyanya khawatir.
" kenapa? apa kau fikir aku akan menjualnya, hah? kata Marfin dengan tatapan tajam yang menyeramkan.
" tidak bukan begitu, lalu mau di bawa kemana Rachel mas? tanya Dea dengan nada takut dan bergetar.
tak menjawab lagi pertanyaan dea Marfin dengan langkah cepat keluar dari dalam rumah menghampiri mobilnya.
" Mas tunggu Mas! teriak Dea mengejar Marfin, menahan lengannya.
laki laki yang bernama yuda ingin membantu Dea namun di tahan oleh sekretaris Leo.
"ini bukan urusanmu, tegas leo.
****
"Mas tunggu, ada apa? mau bawa Rachel kemana? rengek Dea.
" aku akan merawatnya, tegas Marfin sembari membuka pintu.
" apa maksudmu? Dea menutup pintu mobil yang akan di masuki oleh Marfin.
" kau tidak menginginkan Rachel kan ? jadi biar aku yang mengurusnya, minggir! tegas Marfin dengan wajah sangarnya.
" mas, aku mohon mas, saat ini cuma Rachel yang aku punya mas, aku menginginkan dia mas, dulu mungkin aku berfikir ingin membunuhnya mas, tapi kamu yang membuat aku sadar dan kembali mengenal dunia mas, tolong aku. Dea menangis memohon dengan melipatkan kedua tangannya sejajar dengan wajahnya.
" Diam, gara gara kau, aku kehilangan isteri dan anakku !
mata itu merah tapi bukan air mata, seperti penuh dengan amarah didalamnya.
"Minggir! perintahnya kasar kepada Dea yang terus menghalangi jalannya.
melihat kekasaran Marfin, lelaki yang bernama yudapun terpancing emosi.
" heh, anda siapanya! suaminya, lalu siapa mau paksa membawa anak orang sembarangan, ucapnya dengan nada tinggi.
" saya bisa laporkan anda atas kasus kekerasan dan penculikan ya, ancam laki laki itu.
tak gentar bahkan tersenyum puas Marfin malah memaki keduanya.
" kalian berdua adalah sampah! minggir!!! gertak Marfin kemudian memasuki mobil.
leo kemudian memacu mobilnya dengan cepat, dea tak putus Asa ia menggedor jendela mobil meski sedang melaju sampai akhir ia jatuh karna mobil di pacu dengan cepat.
" Mas!! kembalikan padaku, teriak Dea ditengah tangisnya.
sementara yuda membantunya berdiri, menenangkannya dalam pelukannya.
*****
" tuan, mengapa tuan tega memisahkan anak dari ibunya? tanya leo tak habis fikir.
tanpa di jawab ia melayangkan perintah.
" leo kau urus laki laki tadi, jika dia berani macam macam padaku, habisi saja dia! perintah Marfin tegas.
" apa tuan cemburu melihat laki laki tadi, sehingga tuan spontan bersikap demikian tanpa rencana sebelumnya? tanya Leo yang memancing amarah Marfin.
" kau ingin ku pecat hah, jangan banyak bicara. ikuti saja kataku, gertak Marfin.
hening, leo tak lagi berani bertanya ataupun menasehati bosnya tersebut, ia kemudian fokus pada setir mobil sampai memasuki villa kediaman Marfin.
*****
" Rasti!! teriak Marfin.
Rasti yang sedang membersihkan vas bunga dengan cepat menghampiri tuannya.
" iya tuan, ada apa? tanya Rasti,tak butuh waktu lama matanya langsung tertuju pada seorang anak yang ada di pangkuan majikannya.
" ini, kata Marfin memberikan bayi itu kepada Rasti.
suara tangis terdengar saat Rasti menggendongnya.
" kau harus bisa menenangkannya! kalo tidak, kau ku pecat! gertak Marfin.
" ba... baik tuan, jawab Rasti gugup sambil menundukkan kepalanya.
ia kemudian membawa Bayi itu kekamar tamu, menyediakannya susu dan keperluan lainnya.
Marfin merebahkan tubuhnya di kursi, merentangkan tangannya sambil menyilangkan kaki.
" leo, kau bawakan tiga baby siter kemari, kemudian kau urus kebutuhannya, tegas Marfin.
" aku mengurus kebutuhannya! konyol.
dasar bos gila! kegilaan apa ini, mengapa dia membawa anak orang lain, batin leo.
" baik tuan, ucap leo.
******
penjaga keamanan mencegahnya masuk, Dea berusaha keras melawan penjaga agar bisa masuk.
" lepaskan aku pak, aku ingin bertemu dengan majikan kalian!
" aduhh... tepat Dea menendang ******** penjaga dengan lututnya.
ia berlari menuju dalam rumah, berteriak memanggil Marfin hingga suaranya menggema di segala arah.
" Dimana anakku!!
penjaga yang tadi kembali menangkap dea dan menyeretnya keluar.
" lepaskan dia! perintah Marfin terdengar dari lantai atas.
perlahan ia menuruni anak tangga dan menghampiri wanita yang kini menangis di hadapannya.
" cepat kalian pergi ! perintah Marfin kepada penjaga.
penjaga itupun pergi meninggalkan Dea yang beruraikan air mata.
" Mas, apa mau mu? sudah berapa bulan kau tidak ada kabar? lalu tiba tiba datang dan membawa puteriku? tanya dea sembari terisak.
" mau ku??
Marfin menyeret Dea ke sebuah ruangan dan mendorongnya kasar ke sofa.
" mas, kau mau apa? tanya Dea dengan lirih.
" kenapa? apa kau fikir aku mau menodaimu, kata Marfin mendekatkan wajahnya kepada dea.
ia tersenyum puas, menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Dea.
"tidak mas... Dea menggelengkan kepalanya.
" ya tentu tidak! karna wanita sepertimu, akan dengan mudah menyerahkannya pada laki laki manapun.
" aku laki laki terhormat, yang bisa mendapatkan wanita manapun yang aku inginkan, mana mungkin mau menodai wanita kotor seperti mu! tegas Marfin.
air matanya semakin deras mendengar cacian Marfin, tak menduga laki laki yang selama ini menjadi pelindungnya kini berubah menjadi lebih kejam dari seekor harimau.
" karenamu aku kehilangan isteriku, karenamu dia pergi dariku, karenamu aku kehilangan anakku.
semua karena wanita seperti dirimu, ucap Marfin dengan nada tinggi, mengusap kasar wajahnya dengan tangan.
" mengapa karena aku, bukankah dia pergi atas inginnya sendiri ? kata Dea.
Marfin mendekati wajah Dea, mendekatkan bibirnya tak berjarak dengan bibir Dea.
keduanya saling beradu, Dea memejamkan matanya ketika Marfin seolah akan mencium bibirnya.
Marfin tertawa melihat mata terpejam dan bibir yang pasrah itu.
" haha... lihat dirimu, begitu murahannya!
kau fikir aku akan menciummu? apa kau menginginkanku?
kau pernah bertanya tentang perasaanku padamu bukan?
Marfin meremas wajah Dea dan melepaskannya kasar.
" aku bisa saja menikmati tubuhmu,lalu membuangmu di jalanan,tanpa harus takut dengan hukum.
"kau tahu? itu mudah bagiku.
tapi aku tidak melakukan itu, bisik Marfin ditelinga Dea yang duduk di sofa sementara Marfin di sampingnya tak berjarak.
" mengapa tidak kau lakukan? aku wanita kotor, aku akan dengan mudah menyerahkannya untukmu,
jawab Dea lembut di telinga Marfin sambil menggelayutkan tangannya di leher Marfin.
" kau sebut aku wanita murahan kan? kata Dea tersenyum miring.
"istrimu jauh lebih baik dari pada aku, kau kehilangan banyak hal gara gara aku.
anakmu, istrimu juga kepercayaan keluargamu? sekarang apa yang harus aku lakukan untuk membayar yang mungkin kau sebut hanya dosaku seorang? apa aku harus menjadi budak sexmu seumur hidupku? atau aku harus menggantikan peran istri yang baik untukmu, ujarnya sambil memainkan jari lentiknya di wajah Marfin.
Marfin tertawa jahat ia menyingkirkan jari lentik itu dengan kasar kemudian menariknya dari sofa dan mendorongnya kelantai.
" wanita Murahan!!! ujarnya sembari mengusap wajahnya.
Dea bangkit dari lantai dengan gontai, ada yang menancapkan belati tajam di dadanya.
sakit rasanya, inikah balasan dari menyakiti hati wanita lain?
********
"Dea, apa yang terjadi? kata yuda yang menunggunya sedari tadi.
Dea tak mengizinkan Yuda ikut campur urusannya termasuk mengikutinya kerumah Marfin, hingga yuda harus menunggunya di rumah.
Dea tersenyum getir, melangkah pelan menuju kamarnya. memasukkan semua baju kedalam koper, menariknya keluar.
" kau mau kemana? tanya Yuda.
"ini bukan rumahku, ini rumah orang yang menggapku murahan! senyumnya getir, suaranya bergetar, masih terngiang semua hinaan yang di ucapkan Marfin kepadanya ia berjalan keluar.
yuda menarik paksa kopernya dan memasukkannya kedalam bagasi mobilnya.
" non... teriak bi ina berlari dari dalam dengan tergopoh gopoh.
" mau kemana non ? tanyanya.
" mau pergi bi, ini bukan rumahku, ini rumah suami orang lain. ucapnya berjalan melewati yuda yang berdiri di hadapannya.
" non mau pergi kemana? kerumah bibi aja ya, bu ina menawarkan.
" tidak terimakasih, pungkas Dea.
yuda terdiam sejenak kemudian menarik tangan Dea dan memaksanya masuk kedalam mobil.
" masuk ku bilang! gertaknya.
setelah berhasil memaksa dea ,ia menutup kasar pintu mobilnya,membunyikan klakson beberapa kali kepada bu ina dan melajukan mobilnya.
*****
" ayo masuk? kata yuda.
" jangan membantuku, aku tak punya apapun untuk membayarnya, kata Dea menolak.
" kau bisa membayarnya dengan berubah menjadi lebih baik, ucapnya.
"heh, dea tersenyum getir mendengarnya.
" ayo masuk, yuda menggenggam lembut tangannya dan memboyongnya masuk kedalam rumah.
Dea duduk di sofa menangkupkan kedua tangannya di wajahnya.
sementara yuda membiarkannya meratapi semua yang telah terjadi.
" aku akan membuatkanmu teh hangat, ucapnya berdiri dan pergi kedapur.
****
" minumlah dulu, kata yuda.
dea terisak, dadanya masih sesak terasa.
" aku akan menyewa pengacara untuk mengambil kembali anakmu, ucap yuda menenangkan.
Dea mengangkat kepalanya, melotot mendengar ucapan Yuda.
" tidak perlu, biarkan saja anakku bersamanya, mungkin akan lebih baik.
dia bisa mengurus anakku dengan uangnya, jawab Dea.
" tapi apa kau yakin dengan menyerahkan anakmu kepada laki laki seperti dia ! tanya yuda tak habis fikir.
" dia lelaki baik, dia akan menjaga anakku dengan baik, meski itu bukan anaknya dia sangat menyayangi anakku dari dulu sedari dalam kandungan ketika aku terus saja ingin membunuh bayi itu. Dea menjelaskan.
" kalo begitu jangan menangis? kata yuda.
*****
Alika begitu bahagia menunggu kelahiran anaknya, sekarang ia sudah bersiap siap untuk menjadi seorang ibu.
" kamu harus kuat ya, kata Alfino menggenggam kuat tangan Alika memberikan semangat.
Alika yang berbaring di tempat tidur bersiap di bawa keruangan oleh tim medis untuk persalinan.
" Doain ya, kata Alika.
" ndok, semangat yaa... nenek dan kakek doain dari sini ya. ucap nenek sumiati juga memberikan semangat.
" tuan, seorang istri butuh dukungan dari suami, sebaiknya tuan masuk saja, pinta suster setelah Alika memasuki ruangan.
" hah.... Alfino melongok.
dengan keadaan fisiknya yang memungkinkan, Alika memilih melahirkan secara normal.
tanpa berfikir panjang Alfino menganggukkan kepala menyetujui untuk mendampingi Alika, ia tak mengatakan apapun perihal ia bukan suaminya, yang ia inginkan saat ini berada disisi Alika.