
*Marfin dan leo sudah selesai dengan keperluannya.
ia kembali ke minimarket menemui Dea.
" cuma segini? tanya Marfin.
mengangkat salah satu barang yang di beli Dea.
" *iya , aku cuma punya uang sedikit. tidak cukup jika aku berbelanja banyak. lagi pula ini saja yang kubutuhkan. Ucap Dea.
" oh ya ampunn.Marfin menggeleng gelengkan kepalanya.
bawa ini, perintah Marfin kepada Leo yang membuntutinya dari tadi.
kemudian dengan cepat Leo mengambil alih troli yang di tangan Dea.
" ambil semua yang kau mau? ucap Marfin tegas sepertinya sikap seorang direktur mulai terlihat, ia memasukkan tangan ke saku celananya.
" ta...tapi, hanya ini saja yang aku butuhkan, sudah kita tidak perlu boros boros. Dea mengambil Alih troli dari tangan Leo.
ucapan Dea seperti kepada seorang laki laki biasa yang punya uang paspasan sehingga ia harus berhemat , ia lupa sedang bersama dengan seorang laki laki yang kaya raya , jadi tidak perlu baginya untuk berhemat apalagi hanya soal makanan .
Marfin mengela nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar.
" untuk stok mu dalam waktu lama, jadi kau tidak perlu seminggu sekali, atau dua kali berbelanja.
kau sudah lama tidak belanja kan? Tanya Marfin.
Dea mengangguk.
tapi, pelayanmu yang berbelanja. ucapnya kemudian menundukkan kepalanya.
tanpa fikir panjang Marfin memasukkan makanan atau apapun yang di lihatnya kedalam troli meski itu sebenarnya tidak terlalu di butuhkan oleh Dea.
kini belanjaannya penuh 5 troli penuh dengan belanjaan.
" *tapi tuan, apa yang harus aku lakukan dengan makanan ini?
uangku juga tidak akan cukup untuk membayarnya. Dea mengeluarkan dompetnya berisikan beberpa saja uang tunai lembaran.
" Marfin tersenyum melihat Dea,
Dia ingat betul kepada istrinya. ada kesamaan antara Dea dan Alika.
mereka sama sama lucu, dan sudah tidak memiliki orang tua , hanya saja bedanya nasib Alika jauh lebih baik dari pada Dea, Alika bisa melanjutkan saat SMA ia satu sekolah dengan Marfin,artinya sekolahnya sangat Mahal atau paling tidak sekolahnya adalah sekolah terbaik di kota itu, karna seorang Marfin yang kaya raya tidak mungkin bersekolah di sekolah yang biasa biasa saja kualitasnya. dan setelah lulus SMa Alika masih melanjutkan studynya ke university dengan bantuan paman dan bibinya.
ya meski setelah kuliah ia hanya membantu bibinya membuat kue tak sempat mencari pekerjaan kemudian dia menikah dengan Marfin.sementara Dea, ia orang yang tidak punya apa apa, ia hanya lulus SMA saja sangat bersyukur , sejak kecil ia sudah menjadi yatim piatu, kemudian seseorang yang di anggapnya sebagai pengganti orang tuapun akhirnya dua duanya meninggal, kemudian dia di perkosa oleh sekelompok orang.
kasian sekali Dea.
Marfin menatap lembut mata Dea
kemudian ia mengeluarkan kartu Debit untuk membayar belanjaan yang mereka beli.
sekretaris leo di bantu oleh petugas mini market membawakan belanjaan ke mobil.
di tengah perjalan tampak hening, Marfin melihat sekeliling jalanan kota.
tiba tiba terlintas di fikirannya mengenai Alika, bagaimana keadaan istrinya hari ini sudah lama rasanya ia tak bertemu dengan istrinya tersebut, sudah sejak ia berjanji akan mengajak Alika keluar malam hari mengajaknya Dinner malam romantis. namun gagal karna pelayan yang ada dirumah Dea waktu itu menelpon memberitahu keadaan Dea. Dia pergi dengan alasan pekerjaan, kemudian setelahnya dengan kesal Alika berinisiatif pergi berkunjung kerumah paman dan bibinya. Marfin berjanji akan menyusul, namun ia tidak tega meninggalkan Dea dengan kondisinya saat itu. dan saat pagi menjelang Dea malah mengajaknya keluar, pasti membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
sementara pagi tadi dia menelpon namun tak ada jawaban.
*****
setelah selesai sarapan , membantu bibinya melakukan pekerjaan rumah.
Alika cepat cepat menaiki tangga menuju kamarnya.
ia mendorong pintu yang tidak di kuncinya, kemudian ia mendapati ponselnya diatas ranjang.
" my husband"
kemudian segera ia memanggil kembali panggilan tersebut dengan video call.
***
pas ketika Marfin akan mengiriminya pesan namun terlebih dahulu ponselnya berdering, Alika meminta Video call kali ini.
Marfin melirik kearah Dea, seolah ragu mengangkat v_ call dari istinya, Dea tersenyum melihat Marfin meliriknya.
" siapa yang telpon tuan, angkat saja.
"istriku, ucap Marfin memperlihatkan ponselnya.
ia menyadari bahwa Dea bukan siapa siapa baginya, untuk apa dia merasa canggung di hadapan Dea ketika akan melakukan komunikasi dengan istrinya. Dia seolah menjaga perasaan wanita itu, menjaga hati wanita yang ia tolong dan berjanji akan menikahinya, namun belum ia nikahi.
Entah Dea berharap atau tidak ia nikahi, karna Dea belum menagih janji tersebut.
" ya kalo begitu angkat saja tuan, ucap Dea.
dengan pelan Marfin menggeser tombol untuk menjawab.
" assalamualaikum.
ucap Alika disana.
wa' alikumsalam. jawab Marfin.
" dimana sekarang ? kau sedang didalam mobil, apa kau sedang on the way kemari, menjemputku? tanya Alika dengan tersenyum senang.
" aem... iya aku on the way kesana. tunggu ya. jawab Marfin berbohong.
dengan siapa? tanya Alika.
siapa lagi, hanya ada sekretaris leo yang menemani.
disudut lain Dea menundukkan kepala saat Marfin tidak menyebut bahwa dirinya tengah bersamanya.
" aa..... mana sekretaris leo aku ingin bicara, berikan ponselnya padanya. pinta Alika.
" untuk apa kau ingin bicara dengannya. jawab Marfin datar.
tidak perlu tahu, ayo cepat berikan ponselmu padanya.
Marfin menyodorkan ponselnya kepada sekretaris leo yang duduk di kursi depan sementara Marfin duduk berdua bersama Dea di kursi belakang.
Leo kemudian menepikan mobilnya.
" ada apa nona? tanyanya sambil melihat kearah Marfin yang sudah berpindah duduk di sebelahnya.
Marfin sepertinya ingin mendengar lebih jelas apa yang di bicarakan sekretaris leo dan istrinya.
" *kau mengajak tuanmu kemana saja kemarin, tanya Alika.
" aa... Leo melirik kesebalah kanan, disitu ada Marfin yang tengah duduk mengisyaratkan dengan kedua tangannya bahwa Leo harus berbohong kepada Alika.
" tuan sangat sibuk nona, tidak ada hari libur baginya, kemarin dia harus meeting bersama Direktur dari perusahaan X untuk membicarakan kerjasama perusahaan kita dan perusahaan X.
" Eummm.. lalu setelah itu? Alika memiringkan bibirnya seperti sedang mencerna jawaban dari sekretaris leo.
meeting paling lama hanya 2 atau 3 jam, kemudian sisanya kemana fikir Alika.
Marfin meminta ponselnya kepada Leo.
Leo kemudian memberikannya kepada Marfin ia kembali menyetir.
sementara Marfin masih melanjutkan pembicaraannya dengan Alika.