
"Bang!" panggil Ghani melihat Duncan sedang bersiap-siap dengan duffle bag Prada nya.
"Apa G?" tanya Duncan tanpa mengalihkan pandangannya dari baju-baju yang hendak dibawanya.
"Abang mau ke Jakarta?"
Duncan menoleh ke arah Ghani. Bocah kecil yang selalu ribut dengannya kini menjelma menjadi remaja tampan yang disukai para mahasiswi baru seangkatannya maupun kakak kelas.
"Iya, Abang mau ke Jakarta. Kamu disini saja kan Abang dah selesai skripsinya tinggal maju sidang" ucap Duncan yang memakai rompi jeans, kemeja putih dan jeans belel.
"Salam buat mom, dad dan dik Rhea ya."
"Iya." Duncan pun menutup tas Pradanya dan bersiap pergi. "Kalau kamu butuh sesuatu, bilang sama Sam atau hubungi Abian, sepupu Abang yang di MIT. Hati-hati G, banyak yang ngincer kamu."
"Aku tahu bang. Tapi mereka tahunya aku adikmu jadi tidak ada yang berani."
"Siapa yang berani macam-macam sama anggota keluarga McGregor-Blair, sama saja cari mati!"
"Ini nih yang bikin aku nggak ikhlas Rhea sama Abang" kekeh Ghani.
"Tapi Rey maunya sama aku tuh" gelak Duncan.
"Bang, sejak kapan ada Tattoo di tangan Abang?" Ghani baru lihat Tattoo berbentuk burung di pergelangan tangan kiri Duncan.
Kalau Dad tahu, bisa dicoret bener deh dari daftar calon mantu!
"Setelah skripsi Abang selesai."
"Ampun deh abangku satu ini!"
Duncan tertawa. "Abang pergi dulu ya!" ucapnya sambil menepuk bahu Ghani.
"Hati-hati."
***
Duncan sampai di Jakarta lalu menuju sopir yang sudah menunggunya.
"Selamat siang tuan muda."
"Siang. Kita langsung pulang ke rumah ya pak. Saya benar-benar kena jetlag."
"Baik tuan."
Duncan menyalakan ponselnya dan tampak notifikasi dari dad dan mommynya serta Rhea.
Abang D katanya ke Jakarta. Mas Ghani yang cerita.
Duncan tersenyum.
Iya. Abang baru saja sampai Jakarta tapi Abang pulang ke rumah dulu mau tidur. Besok baru ke rumah Rey ya.
Suara notifikasi masuk.
Selamat istirahat Abang.
Duncan tersenyum membaca pesan dari Rhea.
***
Keesokan harinya jam empat sore Duncan sudah sampai di mansion Giandra. Semua penjaga dan pelayan sudah hapal pria bule tampan itu.
"Tuan Duncan, silahkan masuk."
"Terimakasih."
Duncan pun masuk ke rumah yang sudah menjadi rumah keduanya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam" sapa orang di ruang tengah. "Bang Duncan!" seru Rhea yang langsung memeluk pria bule itu.
"Rheaaaa!!!" teriak Abi melihat putrinya main peluk-peluk.
"Ih Daddy mah gitu!" cebik Rhea sambil menggandeng Duncan masuk ke ruang makan.
"Oom Abi" sapa Duncan sambil mencium tangan Abi.
"Wait!"
Abi memegang tangan Duncan dan melihat Tattoo yang ada di pergelangan pria bule itu.
"Ini apa D?" Tanya Abi dengan tatapan tidak suka.
"Tattoo Oom" jawab Duncan kalem.
"Astaghfirullah! Daddymu tahu?"
"Tahu Oom."
"Ok Ok coret kamu dari daftar mantu!" ucap Abi tegas.
"Dad!" seru Rhea.
"Apa ini ribut-ribut?" tanya Dara yang keluar bersama Mirna..
Dara melihat Tattoo dan tersenyum. "Bagus Tattoo nya."
Abi dan Duncan menganga.
"Whoah! Aunty Dara emang the best deh!" ucap Duncan bahagia.
"Adara, sayangku. Ini Tattoo lho! Permanen!" Abi menatap tidak percaya kalau istrinya santai saja.
"Iya, tahu. Tapi menurutku pantas kok di tangan D."
"Mommy emang paham sekali apa yang ada di pikiran anak muda!" puji Rhea sambil memeluk Dara.
"Mas, kamu tahu kan Duncan anak siapa?" senyum Dara.
"Tapi Edward nggak bertattoo, sayang."
Duncan tertawa. "Dad itu takut jarum suntik! Makanya ga mau bertattoo."
"Wah, akhirnya aku tahu kelemahan Edward selain Yuna" seringai Abi licik.
"Jadi? Mas masih coret Duncan dari daftar calon mantu?" tanya Dara sembari menggandeng Abi ke meja makan.
"Masih lah!"
"DAAADDD!" teriak Rhea.
***
Abi dan Duncan sekarang berada di ruang kerja pria berusia 46 tahun itu. Ayah yang masih tampan itu menatap pria bule yang hampir berusia 20 tahun.
"Kamu masih tetap mau sama Rhea, D?"
"Itu keinginanku dari sejak Rey masih dalam perut, Oom."
"Oom hanya minta kalau kamu mau melamar Rhea yang benar, tunggu sampai dia berusia diatas 20 tahun, D."
"Kalau itu aku sudah paham Oom. Rey kan pengen masuk Julliard School kan? Makanya aku tidak mau mengganggu konsentrasinya. Rencananya aku akan melamar Rey di usianya yang ke 22 tahun."
"Bagus itu. Oom setuju karena Oom tidak mau Rhea menikah muda, dia masih banyak yang ingin dicapai."
"Jika nanti Rey masih ingin menjadi pianis, aku tidak melarangnya Oom karena itu passionnya. Tapi kalau misal kami menikah, Rey memilih menjadi ibu rumah tangga pun aku tidak keberatan."
Abi seperti déja vu melihat Duncan. Teringat dulu dia juga mengijinkan Dara untuk bekerja menjadi guru selama tiga bulan dan Dara sendiri yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Semenjak punya Ghani, Dara semakin tidak tertarik bekerja dan mencurahkan semua ilmunya untuk mendidik anak-anak mereka.
"Terimakasih kamu menjadi dewasa D."
"Bukankah aku kandidat menantu yang bagus?"
"Masalahnya, Rhea hanya memilih dirimu dan sialnya kamu lebih baik dari ayahmu, kecuali tattoo di tanganmu."
Duncan terbahak. "Tenang Oom, aku akan selalu menyayangi Rey."
"Oom pegang kata-katamu."
Duncan tersenyum. "Aku seorang pria Oom, yang dipegang adalah kata-katanya dan perbuatannya."
"Kamu jujur sama Oom. Kamu masih perjaka?"
"Seriously Oom?" gelak Duncan.
"Hei, ayahmu itu dulunya Casanova. Siapa tahu kamu ada gen seperti itu."
"Oom, aku hanya ingin melakukannya dengan Rey meskipun harus menunggu lama karena itu resiko yang aku terima mencintai gadis dari bayi ditambah perbedaan usia kami yang jauh sekitar tujuh tahun. Alhamdulillah, aku masih menjaga diriku sendiri."
Abi mengangguk dan bersyukur dalam hati. Terlepas dari Tattoo di tangannya, Duncan menjawab dengan jujur semua tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Oom akan selalu menjaga Rhea begitu juga dirimu. Kamu sidang skripsi kapan?"
"Insyaallah Minggu depan. Wisuda akan dilakukan April."
Abi melihat kalender digitalnya. "Rhea ada resital di New York bulan April karena itu untuk menjadi salah satu resume dirinya masuk ke Julliard."
"Berarti Oom bisa hadir di wisuda ku dong!"
"Insyaallah dan sekalian juga Oom menengok Ghani."
"Aku suka kita bisa bicara seperti ini Oom, sebagai camer dan Camen."
"Hah?" tanya Abi.
"Calon Mertua dan Calon Menantu."
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Kalau author masih ada sisa stok melek, insyaallah lanjut malamnya. Kalau nggak yaaaa lanjut besok.
Eniwaiii ini dah mau end yaaaa
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️