Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
We're Rival Now!


Duncan menggandeng tangan Rhea dengan perasaan kacau balau. Dia tidak menyangka rival masa depannya tinggal bareng dengan gadisnya.


"Kok Gozali tinggal disini, Rey?" tanya Duncan menahan emosinya.


"Kata mommy, papa dan mama bang Gozali sudah di surga jadi Abang nggak ada papa mama. Tinggal disini deh" jawab Rhea.


Duncan hanya mengangguk.


"Abang Duncan, surga itu apa sih?" tanya Rhea.


Duncan berjongkok dan menatap Rhea. Sembari mengusap rambut panjangnya, Duncan berkata "Surga itu tempat orang-orang yang sudah meninggal. Tempat dimana orang-orang baik disana."


Rhea menatap Kakak bulenya yang selalu bersikap hangat dengannya. "Papa mama bang Gozali berarti orang baik ya Abang?"


"Iya Rey. Kamu kok gemesin sih Rey?" kekeh Duncan sambil mencium pipi Rhea.


"Iiihhh bang Duncan!" kekeh Rhea sambil mengusap pipinya yang dicium Duncan.


Lumayan curi ciuman awal deh!


"D! Kok kamu cium pipi Rhea?" tanya Yuna yang tanpa sengaja memergoki kelakuan putranya.


"Soalnya Rey gemesin, mom!" sahut Duncan.


"Lho kapan datang D?" suara Abi yang berjalan hendak mengambil minum dengan mengenakan bathrobe.


"Baru saja datang Oom" jawab D dengan posisi masih berjongkok depan Rhea.


"Awas lho ya! Jangan macem-macem sama Rhea!" ancam Abi dengan wajah sok judes.


Duncan hanya nyengir jahil.


"Halo Abi" salam Yuna.


"Hai Na. Mana si bre... Eh Edward?" tanya Abi hampir menyebut Edward breng**sek kalau saja Dara tidak menatapnya tajam.


"Masih ada urusan dengan Stephen, nanti katanya pada mau nyusul kemari." Yuna dan Dara pun duduk di meja makan.


"Mas, mandi terus ganti baju sekalian, kita sarapan bareng" ajak Dara.


"Oke."


Abi pun berjalan ke halaman belakang untuk memanggil kedua putranya yang masih berenang sedangkan Duncan dan Rhea sudah duduk di meja makan bersama kedua ibunya.


"Boys! Ayo udah selesai! Mandi, ganti baju, sarapan! Ditunggu mommy tuh!" seru Abi yang membuat kedua anak laki-laki itu keluar dari kolam renang.


Abi mencium Dara sekilas, mengusap kepala Rhea. "Mandi dulu" bisiknya ke Dara. "Yuna, D." Abi berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Ghani dan Gozali berjalan masuk ke dalam rumah dengan mengenakan handuk besar.


"Tante Yuna!" seru Ghani sembari menghampiri tantenya dan mencium punggung tangannya diikuti oleh Gozali.


"Abang D" sapa Ghani dingin.


"G!" balas Duncan dengan sama dinginnya lalu menatap bocah laki-laki yang berada di sebelah Ghani.


"Goz, kamu pengen tahu Abang Duncan. Tuh, yang nempel kayak Velcro ke adikku" ujar Ghani sambil meninggalkan keempat orang yang berada di meja makan.


Gozali menatap Duncan dengan tersenyum tipis yang dibalas tatapan dingin bocah bule bermata biru itu.


"Goz, mandi dulu sana. Habis itu kita sarapan ya."


"Baik Bu. Permisi Tante Yuna, Duncan, dik Rhea" pamit Gozali sopan lalu menuju lantai dua.


"He's very polite kid" puji Yuna.


"Iya mbak, bahkan kamarnya lebih rapi dari G" kekeh Dara.


Duncan memasang wajah jengah mendengar mommy dan tantenya bercerita membahas rivalnya.


"Abang Duncan, kata mommy Abang di London?" tanya Rhea mengalihkan perhatian Duncan dari kedua wanita dewasa di hadapannya.


"Iya. Rey mau tanya apa sama Abang?" tanya Duncan lembut.


"Abang pernah naik bianglala besar itu?" Rhea tahu ada bianglala di kota London dan meminta besok liburan Natal pertengahan bulan ini untuk jalan-jalan ke London.


"London eye? Pernah!"


"Abang takut nggak?"


"Nggak. Malah seru. Rey kapan ke London?"


"Rhea minta liburan Natal kesana tapi Daddy belum bilang oke" senyum Rhea yang membuat jantung Duncan berdegap kencang.


Untung jantungku kuat.


"Well, ada berita apa dari London?" tanya Abi yang sudah tampak segar mengenakan kaos dan jeans duduk di sudut meja makan. "Wah, bubur ayam sayang?"


"Bubur macam-macam dengan toping suka-suka" kekeh Dara.



"Mom, ayo makan. Aku lapar!" seru Ghani yang sudah segar dan turun bersama dengan Gozali lalu mengambil posisi duduk di sebelah Duncan sedangkan Gozali duduk di sebelah Yuna.


"Yuk maem. Nanti jangan lupa habiskan susunya ya." Dara memang selalu menyediakan susu setiap pagi untuk ketiga anaknya.


"Tenang mbak, masih banyak kok. Tadi aku, pak Harry, Hasan dan Mirna membuat untuk semua orang di rumah" sahut Dara.


"Modusin terus ya bang?" bisik Ghani sebal ke Duncan.


"Bomat G. Kan sesuai dengan apa yang kubilang dulu!" balas Duncan dengan dingin.


Gozali melihat kedua bocah di hadapannya seperti bermusuhan hanya tersenyum tipis.


"Kapan Abang balik ke London?" tanya Ghani cuek.


"Buset lu G. Abang baru sampai kemarin dah diusir pulang?" seru Duncan sambil mendelik.


"NMP!"


"Hah?" tanya Duncan.


"Not My Problem!" sahut Ghani cuek.


"G! D! Makan! Bukan berantem! Kalau mau berantem, nanti habis makan!" tegur Dara dengan tatapan tajam.


"Baik mom."


"Iya Tante."


Gozali dan Rhea tertawa melihat kedua kakaknya dimarahi Dara. Abi dan Yuna tersenyum melihat kedua anak mereka tidak berkutik kena tegur.


Duncan melirik Rhea yang tertawa.


Ya ampun beneran cantik banget Rey.


Gozali melihat bagaimana Duncan menatap Rhea yang membuat dirinya merasa sesak.


Perasaan apa ini?


***


Edward datang menjelang siang hari ke rumah Abi. Tanpa sepengetahuan Dara dan anak-anak, Abi memang berencana mengajak mereka liburan ke London sesuai dengan request putrinya yang ingin naik London Eyes.


"Jadi kamu berencana membawa anak-anak liburan Natal besok?" tanya Edward sembari memakan bubur yang masih ada di panci dapur. Pria bule itu menolak dibuatkan makanan lain dan lebih memilih bubur dengan toping ayam dan udang rebus beserta cakwe plus daun bawang.


"Anak-anak terakhir liburan itu tahun lalu ke Singapore. Tahun ini tahun yang berat buat Gozali, aku dan Adara ingin mengajaknya refreshing."


"Stephen bilang kalian berdua hendak mengadopsi Gozali apalagi setelah mengetahui next of kin nya seperti itu?" tanya Edward.


"Iya. Besok Senin kami hendak mengurus semua administrasi nya." Abi menyesap jus jeruknya.


"Pasport dan Visa sudah beres semua kan Bi?"


"Alhamdulillah sudah beres semua. Tinggal berangkat. Tiket pesawat pun sudah dipesan."


"Kenapa tidak meminjam pesawat kami?" tanya Edward.


Abi terbahak. "No, Ed. Aku ingin mengajarkan anak-anak menikmati proses perjalanan seperti keluarga lainnya meskipun tetap saja kita mengambil business class."


"Kabari kalau kalian sampai di London."


"Absolutely!"


***


"Jadi kamu yang namanya Gozali?" tanya Duncan sambil memindai bocah yang lebih muda darinya.


"Iya bang. Aku Gozali."


"Jauhi Rey!"


Gozali bingung. "Jauhi siapa bang?"


"Jauhi Rhea!"


"Bagaimana aku bisa jauhi dik Rhea kalau aku nantinya menjadi bagian dari keluarga pak Abimanyu? Bahkan serumah?" kekeh Gozali tidak paham dengan jalan pikiran bule tampan di depannya.


"Apa maksudmu?"


"Besok Senin, pak Abi mau mengurus proses adopsi aku dan akan resmi menjadi kakak G dan dik Rhea karena aku lebih tua setahun dari G. Jadi bagaimana pun, aku tidak bisa menjauhi dik Rhea karena dia adikku." Gozali menatap Duncan dengan tenang.


"Apapun, bagaimana caranya, pokoknya jauhi Rey!" Duncan menatap Gozali dengan tatapan mengintimidasi.


"Kalau aku tidak mau?" senyum Gozali.


"Berarti kamu adalah rivalku!"


***


Yuhuuu


Up pagi dulu


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️