Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
The Savage Dara


Abi terhenyak melihat dokter Anisa tergeletak pingsan. Dipegangnya kepala dokter itu dan Abi bisa melihat ada darah di jari telunjuk dan tengahnya.


"Ini gimana ceritanya kamu mukul dokter Anisa?" tanya Abi bingung.


"Aku sudah bilang kalau dia mau membunuh anakku, mas" jawab Dara kalem.


Edward dan Damien pun masuk ke kamar Dara dan terkejut melihat bumil itu santai saja sedangkan Abi memandang istrinya bingung.


"Dara" panggil Edward.


Dara pun menoleh dan melihat Edward serta Damien. "Syukurlah, aku nggak mimpi." Tiba-tiba Dara pun pingsan, yang langsung dipegang Edward dan Abi.


"Bawa ke mobil, Bi. Kita ke rumah sakit sekarang! Dokter Andrei sudah ada di dalam mobil!" perintah Edward ke Abi yang membopong Dara.


"Pergilah kalian! Aku bereskan semua disini" ucap Damien.


Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa dokter ini hendak membunuh Dara dan anaknya? Apa hubungannya dengan Firman?


Ponsel Damien berbunyi lalu mengangkatnya.


"Tuan McGregor."


***


Rombongan Abi sampai di RS Maleo dan Dara langsung ditangani oleh dokter disana bersama dengan dokter Andrei yang merupakan dokter yang dibawa Damien dari Moskow. Abi mondar mandir di depan ruang rawat IGD sedangkan Edward masih sibuk dengan ponselnya.


"Suami pasien Nyonya Adara?" panggil seorang suster.


"Saya Sus!" Abi pun segera menghampiri suster itu.


"Mari ikut saya, pak."


Abi pun mengikuti suster itu diikuti oleh seorang pengawal Edward di belakangnya.


Seorang dokter yang sudah berumur menghampiri Abi setelah suster itu mengatakan bahwa dia adalah suami pasien.


"Selamat siang menjelang sore pak. Nama Saya dokter Paulus, saya yang bertanggung jawab pasien bersama dengan dokter Andrei."


"Sore dokter Paulus, saya Abimanyu suami Adara."


"Mari pak Abimanyu, saya hendak berbicara dengan anda." Dokter Paulus mempersilahkan Abi duduk di meja tempat dokter itu menerima pasien sedangkan dokter Andrei tetap mengawasi Dara.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Abi cemas.


"Don't worry pak, Bu Dara baik-baik saja hanya saja masih dalam keadaan shock. Terlalu memforsir adrenalin disaat hamil memang bisa membuat orang shock dan setelah peristiwa yang membuatnya tegang berakhir, hanya lemas saja yang tertinggal karena sudah memperoleh kelegaan" dokter itu lalu melap kacamatanya "Ini tinggal lemas saja pak Abi. Saya hanya memberikan infus dan vitamin untuk ibu hamil."


"Anak saya bagaimana dok?" Abi tahu istrinya bukan tipe wanita yang bar-bar jadi mengalami emosi karena memukul dokter Anisa pasti membuatnya shock.


"Puji Tuhan, bayi anda sehat pak Abi. Ohya selamat, anda akan memiliki putra" senyum dokter Paulus.


Abi melongo. "Putra? Anak saya baby boy?" Dokter Paulus tersenyum.


"Alhamdulillah! Terimakasih ya Allah!" Abi pun menitikkan air mata. Drama tiga hari ini benar-benar menguras energinya bahkan sakit di kepalanya seperti menguap mendengar dirinya akan memiliki anak laki-laki.


"Excuse me. Mr. Abimanyu, you're wife is looking for you." Dokter Andrei menghampiri Abi yang sedang menjabat tangan dokter Paulus dengan wajah sumringah.


"Terima kasih dokter." Abi pun menuju ke tempat Dara.


Dokter Andrei dan dokter Paulus hanya tersenyum melihat Abi bahagia.


"Actually what's going of them?" tanya Dokter Paulus kepada dokter Andrei.


"It's a long story but I'm so glad it's happy ending. So, doctor, do you have time to hear the story?" tanya Dokter Andrei.


"I have a lot of time, doctor."


***


Abi mencium wajah Dara dengan penuh sayang dan cinta membuat bumil itu kegelian.


"Mas, udah dong. Basah semua ini mukaku kayak diciumin kucing" kekeh Dara.


"Apa? Kamu nyamain aku sama kucing?" Abi mendelik. Tiga hari dia panik, bingung, berbagai macam rasa yang bergejolak di hati dan pikirannya malah dibilang seperti kucing.


Dara mengelus sisi kanan kepala Abi yang tampak jahitan disana.


"Masih sakit?" tanyanya lembut.


"Nggak setelah ketemu kamu."


"Kamu gimana bisa memukul dokter Anisa?" Abi sungguh penasaran istrinya bisa berbuat seperti itu.


"Untung aku selama hamil, nontonnya detektif Conan jadi bisa menjaga diriku" kekehnya namun melihat wajah Abi yang penasaran, Dara terdiam.


"Oke, aku ceritain. Jadi pas hari pertama aku ingat diculik, Firman selalu bilang bahwa aku adalah miliknya dan anakku adalah anaknya juga." Dara langsung menutup mulut Abi dengan tangannya sebelum pria itu mengumpat. "Dengerin dulu!"


Abi pun mengangguk.


"Malam itu Firman bilang bahwa ada seorang dokter yang sudah dia siapkan dan dia sudah memegang data ku semuanya. Aku pun sempat berpikir, data pasien itu rahasia dan aku ingat hanya dua rumah sakit yang kita datangi. Pertama sewaktu aku pingsan di rumah sakit tempat mbak Diana bekerja sama rumah sakit dekat mansion tempat kita kontrol baby."


Abi mengingat bahwa usai Dara pingsan dan dia tahu kehamilan istrinya, mereka tidak pernah kembali ke rumah sakit tempat Diana bekerja. Dara lebih memilih rumah sakit ibu dan anak dekat mansion karena memperhitungkan jarak. Bahkan Dara sudah minta untuk melahirkan disana karena dia sudah merasa nyaman.


"Lalu?"


"Aku hanya mengikuti permainan Firman, maunya apa sembari aku menyusun strategi. Malam itu dokter Anisa datang ke rumah dan aku hanya berusaha patuh apa maunya Firman. Di kamarku, dokter Anisa mulai memeriksa ku dan mengatakan bahwa aku adalah biang keladi Firman seperti itu. Lalu aku bertanya dia apanya Firman, dia mengatakan bahwa dirinya adalah kekasihnya. Tapi karena Firman bertemu lagi denganku disaat reuni, obsesinya kembali lagi."


"Firman kan seumuran dirimu, Anisa seumuran Yuna sekitar 35 tahun." Abi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dara tersenyum. "Lupa apa dulu ada yang menyukai wanita yang lima tahun lebih tua."


Abi tersentak. "Kamu tahu?" Dara mengangguk.


"Itu sudah masa lalu, Adara" ucap Abi sambil memegang tangan Dara.


"I know. Oke aku lanjutkan. Dokter Anisa memberikan aku obat yang aku tahu pasti itu bukan vitamin karena bentuknya berbeda dan dia memintaku meminum obat itu di depannya. Aku pun berpura-pura meminumnya padahal obatnya aku jepit di sela-sela jariku."


"That's my girl!" puji Abi.


"Setelah dia pergi, aku pun masuk kamar mandi membuang obat itu. Kamu tahu mas, kamarku sudah dipasang CCTV kecuali kamar mandi dan disana pun tidak ada jendela sama sekali. Aku pun mengganjal pintu kamarku dengan kursi."


"Bukankah kau sudah berpengalaman akan hal itu" kekeh Abi yang membuat pipi Dara memerah.


"Hari kedua, aku mulai bisa meraba hubungan kedua orang psycho itu. Mereka memliki hubungan toxic yang menurutku parah. Dokter Anisa dengan rasa cintanya ke Firman yang membabi buta, Firman dengan obsesinya ke aku sehingga dia memanfaatkan Anisa dan memanipulasinya. Namun masing-masing dari mereka memiliki kepentingan yang sama-sama abnormalnya."


Abi memberikan segelas teh manis untuk Dara minum. Setelah habis sekitar setengahnya, istrinya pun melanjutkan ceritanya.


"Hingga tadi pagi, aku mendengar bahwa kalian dalam perjalanan kemari. Aku tidak berharap mas ikut karena aku tahu mas terluka parah karena Firman bilang anak buahnya sudah menghajar mas hingga parah." Dara terisak mengingat saat kesadarannya hampir hilang melihat suaminya dihajar dengan tongkat baseball.


Abi mengusap pipi istrinya dan memberikan ciuman disana. "Mas baik-baik saja. Apalagi mas tahu kamu sudah ditemukan, rasa sakit itu menghilang seketika. Oh mas melihat kamu dengan wajah berantakan di depan jendela itu kenapa?"


"Aku hanya berakting nelangsa agar Firman mengira aku lama-lama menyerah dengannya. Kamu tahu mas, dia mencoba melakukan Stockholm syndrom ke aku."


"Dia tidak menyentuhmu kan?" tanya Abi dengan geram.


Dara menggeleng. "Aku menjaga kehormatanku mas. Lalu dokter Anisa masuk ke dalam kamarku dan dia memakiku bilang kalau aku berhasil menghubungi mas. Aku membantahnya karena aku sendiri tidak memiliki ponsel atau alat komunikasi lainnya. Dia semakin kalap mengatakan aku sumber masalah hubungannya dengan Firman. Kamu tahu mas, dia membawa pisau bedah dan mengatakan akan mengeluarkan anakku. Aku mengatakan padanya bahwa hubungannya dengan Firman adalah hubungan tidak sehat. Dia tidak mau mendengarkan apalagi di luar terjadi keributan yang aku tidak tahu apa. Dokter Anisa melihat keluar dan banyak orang-orang berbaju hitam membawa senjata berhasil membekuk semua anak buah Firman termasuk Firman sendiri. Sebelum dia berbalik, aku pukulkan vas bunga ke kepalanya dan ketika dia masih hendak bangun aku tinju wajahnya hingga pingsan."


Abi melongo. Fix! Jangan kumpul dengan Yuna Pratomo!


"Kamu meninjunya?" bisik Abi tidak percaya.


"Dia berani hendak mengeluarkan anakku! Dia tidak pantas menjadi seorang dokter dan saat itu senjata yang aku punya hanya tanganku ya sudah aku tinju saja dia. Ternyata latihan selama ini dengan samsak ada gunanya" kekehnya. "Setelah dia pingsan, aku ikat dia dan menunggu kalian datang."


Abi hanya mengusap wajahnya dengan kasar.



Astaga istriku! Kebanyakan nonton detektif Conan ini!


***


Yuhuuu Up sore Yaaaa


Eniwaiii, namanya emak kalau udah soal anak mau dicelakai, wohohoho jiwa bar-bar emak pasti muncul.


Dara yang lembut malah bisa savage lho!


Mamaciihh readers ku terchayank atas semua like gift n komennya.


Oh, Dara kan anak psikologi jadi setidaknya dia bisa membaca karakter orang.


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


- Kalau agak khilaf, tar malam up tapi kalau nggak, besok yeee -


Muah muah