Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Real


Sesuai dengan request sang princess, keluarga Giandra kini menikmati sushi di restauran favorit mereka setelah Rhea menyelesaikan resital pianonya yang diadakan oleh sekolah musiknya.


Abi dan Dara pun semakin bangga melihat bakat dan skill yang dimiliki Rhea. Apalagi tadi gurunya meminta agar Rhea diijinkan bermain di sebuah konser tahun baru menggantikan salah satu temannya yang terpaksa mundur karena masih liburan dengan keluarga.


Rhea pun mau mengikuti konser yang diadakan pada tahun baru. Gadis cilik itu malah antusias mencari gaun untuk acara itu.


Duncan pun semakin bangga dengan Rhea yang semakin tambah pintar bermain piano.


Kini di restauran Jepang usai mendapatkan gaun yang diinginkan Rhea, mereka memesan makanan favoritnya.


Ketika pesanan itu datang, Duncan pun menagih janji Rhea.


"Rey, suapin Abang dong!" pinta Duncan tanpa malu yang sukses membuat Ghani dan Abi melongo, berbeda dengan Dara yang sudah tahu kalau putra sahabatnya meminta disuapi sushinya.


"Astaga bang! Kan punya tangan ituuu!" omel Ghani jengah.


"Dik Rhea dah janji kok kasih sushi ke Abang Duncan" cebik Rhea judes ke masnya. "Abang, aaaakk."


Duncan membuka mulutnya ketika Rhea memasukkan salmon sushi itu ke dalam mulutnya.


"Hhhmmm enak!" ucapnya sambil mengunyah dengan wajah sumringah.


"Astaga anaknya Edward!" umpat Abi sebal.


Dara hanya tertawa melihat keuwuan putri dan abangnya. Ya ampun anak jaman now tuh Yaaaa.


***


Ghani dan Gozali sedang asyik membuat coding di komputer yang diletakkan Abi di ruang tengah. Sesuai dengan perjanjian, Ghani dan Gozali masing-masing mendapatkan iMac karena prestasi mereka di sekolah yang memuaskan.


Namun untuk menjaga agar anak-anak tidak membuka situs dewasa, Abi mengaktifkan aplikasi parental lock. Dara meminta juga untuk meletakkan iMac mereka di tempat yang bisa diawasi oleh mereka. Abi pun setuju, bukan mereka tidak diberikan kebebasan dalam privacy tapi karena usia mereka yang masih harus dalam pengawasan.


Abi dan Dara sendiri berada di ruang tengah menonton acara TV yang menyiarkan film favorit Dara, sebuah film klasik Inggris Hercule Poirot, seorang detektif asal Belgia ciptaan Agatha Christie.


"Aku lebih suka Columbo mom daripada Hercule Poirot" komentar Ghani. .


"Kenapa?" tanya Dara tanpa mengalihkan pandangannya dari tv yang sedang memutar episode Death on Nile.


"Columbo lebih gigih cari faktanya. Nanti kalau G jadi detektif, akan bersikap kombinasi antara Columbo, Conan, Hercule karena dia sangat cinta kebersihan dan Sherlock Holmes."


Abi tertawa. "Kamu bener-bener serius jadi detektif G?"


"Serius Dad. Seru kalau bisa memecahkan masalah seperti bisa membuat rubik jadi semula setelah berantakan."


Abi dan Dara hanya tersenyum mendengar analogi putranya.


"Look G, apapun yang kamu inginkan jika besar nanti, asalkan itu positif dan memang keinginanmu, Mom dan Dad akan selalu mendukungmu. Begitu juga dirimu, Gozali. Bapak dan ibu akan mendukung cita-cita kamu. Kalau boleh, apa keinginanmu Goz?" tanya Abi.


Gozali menatap kedua orang tua angkatnya.


"Gozali ingin membuat perusahaan keamanan yang membuat aman semua orang."


"Bagus tuh Goz!" puji Dara. "Kamu mau membuat perusahaan untuk menyewakan bodyguard para artis atau CEO gitu?"


"Semacam itulah Bu, tapi tidak hanya terbatas orang-orang kaya saja sih."


"Bapak sih dukung saja rencana kamu. Kalau memang sudah siap, berikan proposal, nanti bapak pelajari. Kamu punya modal berapa, nanti bapak kasih pinjaman lunak untuk perusahaan kamu. Tapi ingat, kamu harus bisa mengelola perusahaan kamu dengan baik. Karena kamu mempekerjakan anak orang yang memiliki keluarga juga nantinya."


Dara menatap Abi kagum. Suaminya dengan bijak mengajari putra angkatnya untuk menghargai uang.


"Itu juga berlaku untukmu G. Kalau misal kamu ingin mengambil alih perusahaan Dad, kamu harus masuk dari bawah, dari karyawan biasa dulu agar kamu tahu seluk beluk perusahaan yang akan kamu pimpin."


"Baik Dad."


"Baik Pak."


Kedua bocah itu kembali berkutat dengan coding namun pikiran mereka lebih fokus dengan ucapan ayahnya.


"Mas belajar dari mana pola asuh begitu?"


"Mungkin bagi orang lain, mas dianggap nggak sayang anak tapi ini bukti sayang mas ke anak-anak agar lebih kuat dalam menghadapi kehidupan. Tidak selalu kita hidup mulus-mulus saja, pasti ada gejolak yang membuat anak-anak itu memilih berjuang atau menyerah? Dan mas mau anak-anak berjuang. Seperti kata Albert di Batman, Why do we fall? So we can learn to pick ourselves up. ( kenapa kita jatuh? Agar kita bisa belajar untuk bisa bangkit )."


Dara menatap suaminya tidak percaya kalau dia memiliki pola pikir semodern itu.


"Aku setuju dengan mu mas."


***


Di halaman belakang, Duncan dan Rhea asyik menonton konser David Foster. Rhea sangat antusias untuk memainkan winter's game besok pada saat konser.


"Dik Rhea mau main lagu ini."


"Abang cariin notes sheet nya ya." Duncan kemudian browsing dan menemukan lalu dengan bluetooth, dia mengeprint kertas note itu.


"Baaaannnnggg, ngeprint apa ini? Kok isinya kecebong nggak jelas!" teriak Ghani melihat hasil print out dari mesin printer.


"Punya Rey itu!" balas Duncan juga sama-sama berteriak.


Abi dan Dara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengarkan keributan kedua bocah tampan itu.


"Nih!" Ghani menyerahkan kepada Duncan.



"Thanks G" ucap Duncan yang langsung memberikan pada Rhea.


"Adek mau main itu besok tahun baru?" tanya Ghani.


"Hu um mas. Kan pas winter juga kalau di London" jawab Rhea.


"Main yang bagus ya, soalnya mas cuma bisa menikmati tapi nggak bisa baca kecebong gitu."


Rhea tertawa saban masnya mengatakan not balok sebagai kecebong.


"Mas Ghani kayak Conan Edogawa, buta not balok."


"Biarin!" ucap Ghani sambil meninggalkan Duncan dan Rhea.


Setelah Ghani pergi, Duncan menatap gadis cilik cantik itu.


"Rey, apapun yang terjadi, Rey selalu sama Abang ya."


Rhea menatap abangnya. "Dik Rhea janji."


Duncan mengulurkan jari kelingking kanannya. "Ini nggak virtual lho Rey."


Rhea tertawa. "Ini beneran ya bang."



"Love you my Rey" bisik Duncan.


"Abang bilang apa?" tanya Rhea.


"Abang bilang ini beneran."


Rhea tersenyum manis.


***


Yuhuuu Up pagi Yaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️