Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Kamu Nangis?


Abi masih setia menunggu Dara di kamar rawat VVIP yang dimintanya. Antasena sudah kembali ke perusahaan untuk menghandle semua pekerjaan disana dan sorenya diminta tolong Abi untuk membawa barang-barang Dara yang masih di ruangannya.


Betapa tadi rasanya dia ingin menjitak kepala Diana yang sudah membuatnya nyaris kehilangan jantungnya.


POV Abi


"Selamat ya, kamu bakalan jadi Daddy" bisik Diana sambil memeluk Abi.


Tubuh Abi menegang mendengar ucapan sahabatnya lalu memeluk Diana erat. Sahabatnya itu bisa mendengar kalau Abi menangis.


"Alhamdulillah... Alhamdulillah. Adaraku hamil" ucap Abi berulang kali.


Diana melepas pelukannya lalu menatap Abi yang masih menangis. Diselediki nya wajah tampan itu.


"Wow, Abimanyu Giandra bisa menangis kejer?" godanya. "Nggak kalah ma Duncan."


Sekejap wajah Abi langsung berubah jadi kesal. "Jangan ingatkan aku sama bayi posesif itu!"


Diana terbahak. "Bi, ingat. Dara lagi hamil, jangan suka membatin Duncan, bisa-bisa anakmu malah mirip dia sifatnya."


Abi langsung mengetuk-ngetuk tembok rumah sakit "Amit-amit." Diana makin terbahak.


Antasena yang melihat perubahan kakak sepupunya hanya bisa tersenyum.


"Alhamdulillah mbak Rara hamil" syukur Antasena.


"Aku mau Adara di kamar VVIP, Di" pinta Abi.


"Done!" jawab Diana. "Apa sih yang nggak buat kamu, Bi. Dara itu sudah seperti adikku sendiri."


"Terimakasih, Di." Abi memeluk Diana lagi.


Tak lama, dokter kandungan bernama dokter Anisa keluar dari ruang rawat.


"Suami ibu Adara?" tanya dokter berhijab yang sebaya dengan Yuna.


"Saya dok" jawab Abi. "Saya suami Adara, nama saya Abimanyu."


"Baik pak Abi. Ini hasil USG menunjukkan Bu Dara sudah hamil sekitar delapan Minggu. Kondisi janin dan rahim Bu Dara sehat semua, Alhamdulillah. Jangan terlalu capek saja di trimester pertama, makannya juga harus diperhatikan. Bu Dara bekerja kah?"


"Baru saja berhenti dok. Tadi pagi pamitan di tempat kerjanya" jawab Abi yang membuat Diana terkejut.


"Baik, jadi itu dulu pak Abi. Sementara Bu Dara biar dirawat saja disini dulu karena tampaknya agak kelelahan. Apa tadi kena sinar matahari agak lama pak?"


Abi mengingat-ingat "Sepertinya iya dok."


"Bisa jadi karena itu karena wanita hamil itu hormonnya berbeda" senyum dokter Anisa yang kemudian melihat pintu rawat terbuka dan tampak Dara diatas brankar masih terpejam.


Abi pun mengikuti Dara yang hendak dibawa ke ruang rawat VVIP yang sudah dibooking Diana.


"Haaaiissshhhh, anak satu itu!" omel Diana. "Sorry ya mbak Anisa, temanku itu nggak punya sopan santun main pergi aja." Diana mengatupkan kedua tangannya.


"Maafkan kakak saya ya dok. Panik bin bingung lihat istrinya pingsan tadi" Antasena pun meminta maaf atas nama Abi.


"Nggak papa kok, aku maklum, anak pertama soalnya kan?" kekeh Anisa. "Ohya mas, aku lupa kasih ini." Dokter cantik itu memberikan foto USG Dara. "Tolong diberikan pada kakaknya ya."


"Baik dok."


"Aku urus pasienku yang lain dulu nanti aku ke ruangan temanmu, Di. Mari mas. Permisi" pamit dokter Anisa.


"Silahkan" ucap Diana dan Antasena barengan.


POV End


Abi melihat foto USG Dara yang tadi diberikan oleh Antasena. Walaupun tidak tahu maksudnya apa tapi hatinya terharu ada calon Abi junior di dalam perut Dara.



Suara ketukan di pintu ruangan Dara terdengar dan tak lama pintu pun terbuka. Tampak dokter Anisa masuk pelan-pelan dan tersenyum kepada Abi yang masih melihat foto USG.


"Pak Abi" bisik Anisa.


"Eh dokter Anisa. Maaf saya tidak dengar."


"Tidak apa-apa pak. Mau saya jelaskan?" Anisa menunjuk ke foto yang dipegang Abi.


"Boleh dok" ucapnya sumringah.


"Adara hamil kembar atau tidak dok?" tanya Abi.


"Bu Dara hamil satu baby saja pak" senyum Dokter Anisa. "Apa pak Abi ingin punya anak kembar seperti dokter Diana?"


"Saya diberi kepercayaan memiliki anak bersama Adara itu suatu berkah dan kami tidak mempermasalahkan memiliki kembar atau tidak yang penting anak kami sehat, ibunya juga sehat dan saat kelahiran selamat semua" ucap Abi sambil melirik istrinya.


"Alhamdulillah. Aamiin pak, semoga lancar semua sampai lahiran nanti."


Suara erangan terdengar di telinga Abi yang langsung memegang tangan Dara. Pelan-pelan mata Dara terbuka dan netra coklatnya melihat wajah suaminya yang tersenyum mesra.


"Mas...? Mas Abi habis nangis?"


***


Ruang rawat Dara tampak ramai setelah Diana datang bersama Stephen yang baru pulang dari kantor. Tadi sebelumnya Dara melakukan video call dengan bapak dan ibu Haryono yang menceritakan kehamilannya. Tentu saja kedua orangtuanya sangat bahagia dan berencana datang ke Jakarta. Kakak laki-laki Dara, Andra pun mengucapkan selamat dan mengatakan akan jadi pakdhe keren.


Kini Diana dan Stephen tertawa terbahak-bahak ketika mendengar cerita Abi bahwa kalimat yang keluar dari istrinya setelah siuman adalah menanyakan apakah dia menangis.


"Lho aku kan nggak salah kalau menanyakan itu. Soalnya aku lihat ada bekas air mata di pipi mas Abi" bela Dara.


"Tapi kan bisa nanya yang lain Adara, kayak 'mas kenapa?' atau 'aku dimana', bukan nanya aku habis nangis!" cemberut Abi.


"Untung Yuna sudah pulang. Bisa habis kamu Bi, kena ledek kakak ipar gesrekku" kekeh Stephen.


"Halo" sapa Antasena yang datang bersama bik Tarsih membawakan baju ganti untuk Dara dan Abi.


"Hei anak ganteng yang udah gak jones" kekeh Diana sambil memeluk Antasena, disusul Stephen.


"Udah nggak dong! Anta udah mantan jomblowan" kekehnya.


"Nyonya, selamat ya. Akhirnya rumah nanti ada yang bikin ramai" ucap bik Tarsih sambil menggenggam tangan Dara.


"Doakan sehat selalu ya bik" ucap Dara.


"Selalu nyonya." Bik Tarsih kemudian menyalami Diana dan Stephen. Lalu ke Abi yang tanpa diduga pria tampan itu memeluk bik Tarsih yang seperti ibunya sendiri.


"Tuan, selamat ya" ucap bik Tarsih sambil mengusap air matanya terharu atas perlakuan majikannya.


"Tadi tuh pada ketawain apa sih kok heboh banget?" tanya Antasena.


Diana pun mengulang cerita Abi tadi yang membuat Antasena dan bik Tarsih tertawa membayangkan Abi pasti dongkol berat.


"Kamu sih keseringan kumpul sama Yuna jadi ketularan gesrek!" omel Abi.


"Iisshhhh nggak boleh gitu. Nanti anak kita ikutan gesrek lho" kekeh Dara.


"Haaaiissshhhh, udah tadi Diana bilang jangan jutek sama batita bule satu itu, sekarang ga boleh julid sama ibunya pulak! Sementara kalau Yuna ke Jakarta, kamu nggak boleh ketemu!" ancam Abi.


"Lho kok gitu?" protes Dara sama Diana tidak terima sahabat dan kakak iparnya dicela Abi.


"Aku nggak mau Adara otaknya terkontaminasi kegesrekan keluarga Pratomo yang bisa menular ke anakku!" jawab Abi tegas.


"Teori dari mana itu Bi?" tanya Stephen jengah.


"Teoriku!" Abi tersenyum kemenangan.


"Haaaahhhh?!"


***


Yuhuuu


Udah empat chapter yaaaa


Lanjut besok yaaaa


Ini masih uwu-uwu dulu sebelum gedubrak


Thank you readers ku


Maaf bukan kembar anaknya ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu โค๏ธ๐Ÿ™‚โค๏ธ