
Abi menelpon Dara menjelang jam pulang kantor istrinya. Hatinya sedang berbahagia membuat moodnya bagus seharian ini menular ke seluruh pegawainya yang semangat bekerja.
"Assalamualaikum mas" jawab Dara setelah deringan ketiga.
"Wa'alaikum salam, Adaraku sayang."
Terdengar Dara terkekeh di seberang membuat Abi merona pipinya. Kok aku bisa ngegombal ya?
"Ada apa mas? Ini aku mau pulang, absen lalu menunggu pak Sigit" jawab Dara membuat Abi melirik jam tangan mahalnya yang menunjukkan pukul 15.55.
"Kamu mau sesuatu nggak?"
"Hah? Maksudnya gimana mas?"
"Pengen makan sesuatu gitu?" Entah kenapa hari ini Abi ingin membelikan makanan tanpa membeli online.
"Hhmmm donut boleh deh!"
"Rasa apa?"
"Mas Abi mau beli berapa? Satu lusin? Kalau iya yang rasa coklat sama strawberry dibanyakin."
"Consider it's done, sayang."
"Makasih mas."
"Gitu ajah?" suara Abi mulai terdengar merajuk seperti anak kecil.
Dara tertawa. Makin kesini suaminya makin menggemaskan. "Terimakasih suamiku sayang."
Abi tersenyum lebar mendengar ucapan Dara. "Sama-sama my dear Adara. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Hati-hati pulangnya."
Abi semakin bahagia mendapatkan pesan dari istrinya. Ditatapnya wallpaper ponselnya bergambar Dara yang diambilnya pada malam di VR.
Tidak bosan-bosannya dia memandang wajah Dara yang menurutnya semakin cantik setiap hari.
"Haaaahhhh I love you Adaraaaaa!" teriaknya yang membuat Jun hendak mengetuk pintu membatalkan tujuannya masuk ke ruangan bossnya.
Boss lagi mode bucin akut!
***
Abi dengan santainya mengantri di sebuah cafe donut dekat kantornya. Dia ingin memilih sendiri donut buat Adara. Banyak mata kaum hawa yang kagum melihat dirinya mengantri dan ingin mengajak kenalan namun Antasena menutup akses dari para pengganggu.
"Mas Abi tuh keterlaluan tebar pesonanya!" umpat Antasena yang melihat kakak sepupunya sudah melepas jasnya jadi tampak santai.
"Memangnya kamu nggak?" balas Abi sambil nyengir.
Antasena melirik pakaiannya yang nyaris sama outfitnya dengan sang kakak dan banyak cewek melirik dirinya juga.
"No no no, aku hanya milik Naina!" monolog nya yang didengar oleh Abi.
"Naina nih yeeee" ledeknya.
Antasena mengangguk mantap. Ketika giliran Abi memesan donut dia membeli sesuai keinginan Dara. Antasena memilih hot choco sedangkan Abi memilih Carmel cappucino.
Usai membayar, kedua pria tampan itu menuju Mercedes GLC silver Abi yang berada di parkiran dan tak lama meluncur menuju rumah.
***
Sesampainya di rumah, Dara segera membersihkan diri dan melaksanakan sholat asar. Lalu dia turun ke dapur untuk menyiapkan teh wasgitel favoritnya dan membantu bik Tarsih dan pak Harry menyiapkan menu makan malam.
Menjelang pukul enam sore, mobil Mercedes Abi memasuki halaman rumah bertepatan Dara selesai menata makan malam bersama Mirna.
"Assalamualaikum" sapa Abi dan Antasena bersamaan.
"Wa'alaikum salam" sapa Dara menyambut suaminya. Abi mencium kening dan bibirnya sekilas yang membuat Antasena jengah.
"Duh, kalian tuh yaaaa! Jomblowan eh nanti bakalan mantan jomblowan Ding! Ternoda ini mataku mas!" umpat Antasena.
"Eh sebentar, bakalan mantan jomblowan?" selidik Dara ke arah Antasena yang berjalan ke arah kamarnya. Antasena hanya memberikan cengiran lebar ke arah Dara lalu masuk ke dalam kamar.
"Naina" jawab Abi.
"Maksud mas, dik Sena sama Naina?" tanya Dara memastikan. Abi mengangguk. "Alhamdulillah."
"Ini donutnya sayang" Abi menyerahkan kotak donut warna kuning yang dibawa Dara ke meja makan.
"Hhhmmm yummy!" Dara mencomot donut berselai strawberry tanpa sadar ada krim menempel di atas bibirnya.
Abi yang melihatnya langsung mencium bibir Dara untuk menghilangkan krim yang menempel.
"Astaghfirullah, tuan, nyonya!" seru bik Tarsih kaget sekaligus malu melihat kemesraan majikannya.
Abi segera melepaskan pagutannya sedangkan Dara menunduk malu ketahuan pelayanannya.
"Maaf tuan, nyonya. Permisi." Bik Tarsih langsung kembali ke dapur setelah meletakkan semangkuk besar chicken salad.
Dara menatap tajam Abi yang berlagak bomat ketahuan bik Tarsih.
"Mas tuh ya!" omelnya.
"Lho bener kok tadi ada krim nempel di bibir kamu kan nggak mungkin mas bersihin pakai jempol karena mas belum cuci tangan. Ya pakai bibir lah" ngeles Abi.
"Adara! Woi mau kemana?" tanya Abi yang tiba-tiba kaget ditinggal istrinya.
"Siapin air buat mandi sama sholat Maghrib berjamaah" jawab Dara sambil naik tangga.
"Mandi? Yuk!" Abi langsung menyusul istrinya.
***
Menu makan malam adalah masakan Mexico. Tadi siang ketika jam istirahat, Dara mengirimkan pesan pada pak Harry untuk membuat chicken salad Mexico style dan chicken and rice enchiladas.
Abi dan Antasena menikmati makan malam yang dibuat Dara, bik Tarsih dan pak Harry. Kedua pria itu sekarang semakin jarang jajan di luar karena Dara suka eksperimen berbagai masakan baik Indonesia maupun luar negeri.
"Mbak Rara yakin ga mau buka resto? Mbak Rara pinter masak lho" komentar Antasena.
"Mbak senang masak cuma buat keluarga dik. Disini mbak banyak belajar dengan pak Harry dan bik Tarsih apalagi peralatan dapur di rumah lengkap bikin mbak senang eksperimen."
"Kebda kemarin enak lho" komentar Abi.
"Kebab kali mas" sahut Antasena.
"Kebda Eskandarani dik. Masakan Mesir dari hati sapi" sahut Dara.
Semenjak Dara menikah dengan Abi, meja makan menjadi ramai karena Dara lebih suka ngobrol disini walaupun awalnya Abi tidak suka, lama-kelamaan dia menikmatinya.
"Kok aku ga dapat?" protes Antasena.
"Kamu lagi nemenin para pemegang saham jadi aku yang makan lah" sahut Abi cuek.
"Jahat" bibir Antasena mengerucut. Dara tertawa sebab tampak kemiripan antara Abi dan Antasena kalau lagi merajuk.
"Kapan-kapan aku buatkan lagi" sahut Dara yang membuat Antasena berbinar-binar.
"Jadi kamu besok Jumat sore ke Solo?" tanya Abi.
"Jadi lah mas, aku dah pesen tiket kok" jawab Antasena.
"Selamat ya bisa meraih hati Naina" ucap Dara tulus.
"Terimakasih mbak Rara. Doakan agar aku bisa menyusul kalian."
"Aamiin."
***
Dara sedang memainkan piano dengan lagu-lagu yang dia suka sedangkan Abi asyik membaca Tintin di sofa ruang tengah. Antasena sendiri sudah masuk kamar dengan alasan mau kencan virtual.
Setelah bermain beberapa lagu, Dara pun menutup piano cantik itu dan duduk bersama suaminya.
"Mas" panggil Dara.
"Hhmmm" Abi masih membaca Tintin.
"Tadi aku dipanggil pak Ahmad, kepala sekolah tempat aku bekerja."
Abi menutup komik Tintinnya lalu menatap Dara intens. "Pak Ahmad manggil kamu kenapa?"
Dara kemudian menceritakan apa yang terjadi di ruangan pak Ahmad. Abi hanya diam mendengarkan dengan serius.
"Kamu maunya gimana?" tanya Abi setelah istrinya selesai bercerita.
"Satu sisi aku senang lama bekerja disana karena aku memang suka tapi satu sisi aku sudah berjanji dengan mas kalau hanya tiga bulan saja."
Abi tampak berpikir. Banyak faktor plus dan minus yang harus dipertimbangkan tapi menurutnya faktor paling minus adalah kedekatan Maya anak Damien Xavier terhadap Dara. Meskipun Maya anak Jasmine, tapi tetap saja Abi tidak menyukai Damien.
"Adara, apapun keputusan mas, itu buat kebaikan kamu dan kamu percaya itu kan?" tanya Abi.
"Aku percaya mas Abi. Sejujurnya aku berharap setelah tiga bulan bekerja, aku sudah hamil jadi pas waktunya untuk menikmati kehidupan aku menjadi istri dan ibu rumahtangga." Dara menatap Abi dengan senyum manis.
Abi terharu mendengar Dara adalah wanita yang sadar akan kodratnya dan menepati janjinya pada suaminya.
"Mas rasa kamu harus menolak tawaran itu."
"Aku tahu mas. Besok aku akan menghadap pak Ahmad untuk menolaknya."
"Bagus!" lalu wajah Abi mulai jahil dan Dara merasakan sesuatu yang tidak enak.
"Mas kenapa?" tanyanya penuh curiga.
Abi tidak berkata apa-apa namun menarik Dara dari sofa dan menggandengnya menuju kamarnya di lantai dua.
Setelah masuk ke kamar dan menguncinya, Abi menahan Dara di tembok dan menatap serius.
"Kamu tanya mas kenapa?" Dara mengangguk. "Mas mau membuat kamu hamil" bisiknya lalu membopong Dara ala bridal style.
"Mas!" cekikik Dara.
***
Yuhuuu
Udah tiga chapter yaaaa
Lanjut besok
See you.
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️