
"BERAPA?" seru Antasena emosi.
"Rumangsamu aku ga ngerti Kowe wong sugih? Kethok lah Seko penampilanmu. Sisan wae aku njaluk sakmono!" sahut Bu Sutarmi dengan senyum licik. "Itu sesuai dengan biaya sejak Imah meninggalkan aku dan tidak bisa kasih uang hasil dari tamu. Ada lah sembilan tahun!"
( Kamu kira aku tidak tahu kamu orang kaya? Kelihatan lah dari penampilanmu. Sekalian saja aku minta segitu! )
Antasena mengumpat dalam hati dengan semua kata-kata kasar kebun binatang dari A sampai Z. Ada ya ibu yang bangga mendapatkan uang anaknya dari hasil melacur! Gila nih orang!
Abi menepuk lutut adiknya supaya dia tenang.
Gala memanggil anak buahnya untuk melakukan video dan pemotretan untuk dokumentasi.
"Saya akan memberikan uang sesuai permintaan ibu, asal ibu tanda tangan" ucap Abi tenang. "Bisa saya minta nomor rekening ibu?"
"Ngono kan enak!" Ibu itu kemudian berdiri dan mengambil buku tabungannya dan memberikan pad Abi.
Abi pun menelpon asistennya Jun yang memang sudah dia suruh standby di kantor bank yang buka di hari Sabtu.
"Jun, bilang sama pak Frans, transfer dana sebesar 500juta ke nomor rekening ini." Abi menyebutkan nama Bu Sutarmi, nomor rekening dan bank yang dituju.
Tidak lama, suara notifikasi masuk ke ponsel Bu Sutarmi yang menunjukkan bahwa sudah masuk dana yang diminta.
"Mana yang harus aku tanda tangan?" sumringah Bu Sutarmi.
"Setelah saya transfer, ibu tidak ada hubungan lagi dengan Gozali Ramadhan dan jangan cari dia!" ucap Abi dingin.
"Ora pateken! Aku wegah ngurus cah cilik!" sahut Bu Sutarmi sembari tanda tangan semua berkas.
( nggak urusan! aku malas urus anak kecil ! )
Abi dan Antasena hanya mengelus dada bersyukur mereka melakukan tindakan yang tepat meskipun Bu Sutarmi itu nenek Gozali tapi tidak pantas Gozali tinggal di tempat dan orang seperti neneknya.
Setelah semua berkas sudah ditandatangani diatas meterai, Stephen memeriksa ulang agar tidak ada yang terlewat.
"Clear Steve?" tanya Gala.
"Clear."
"Baik Bu, karena tujuan utama kami itu, kami permisi dulu" pamit Gala yang berdiri diikuti Abi, Antasena dan Stephen.
"Sayang si Imah anaknya cuma satu, kalau dua aku bisa dapat 1M dalam satu hari dong!" kekeh Bu Sutarmi dengan nada licik.
Antasena yang sudah emosi ditahan oleh Abi dan Stephen.
"She's a fuc**** bit**!" maki Antasena.
"Sudah, Ta. Ayo masuk mobil" seret Abi.
Gala pun berbalik menghadap Bu Sutarmi.
"Kami punya surat pernyataan dan semua bukti hitam diatas putih! Jadi ibu jangan pernah ganggu keluarga Gozali karena ibu akan tahu akibatnya! Ohya, kami masih baik hati tidak melaporkan ibu pasal pemerasan!" Gala menatap Bu Sutarmi dengan tatapan intimidasi.
Ditatap Gala dan beberapa polisi di depan cukup membuat nyali Bu Sutarmi ciut juga karena tidak menyangka banyak polisi yang berada di jalan depan rumah kost-kostannya.
"Mboten pak. Saya tadi cuma bercanda soal 1M" bisiknya.
Gala pun berbalik menuju mobilnya yang terdapat Abi, Antasena dan Stephen meninggalkan Bu Sutarmi yang masih berdiri di depan pintu rumahnya.
***
"Mas, cari hotel yuk! Gue dah ga betah pengen mandi kembang sama ganti baju!" rengek Antasena risih.
"Lu mo cari kembang dimana Ta?" kekeh Gala melihat ayah satu anak itu blingsatan.
"Terserah! Pokoknya gue mau mandi besar!" ucap Antasena asal. "Jijik gue!"
Semua yang di mobil pun tertawa mendengar ucapan cowok yang masih tampak imut itu.
"Dah ke hotel Sheraton saja dulu, kita mandi dan ganti baju di sana daripada kena sawan" kekeh Abi.
"Lu kira kita dari kuburan apa ya Bi?" gelak Gala.
***
Abi, Antasena dan Stephen membawa duffle bag masing-masing yang sudah disiapkan oleh para istri mereka. Gala hanya membawa sebuah tas ransel.
Begitu pintu kamar terbuka, Antasena langsung lari ke kamar mandi.
"Gue duluan yak!" serunya.
Ketiga orang disana cuma mengiyakan.
Kini Abi, Stephen dan Gala membahas tentang adopsi resmi yang akan diajukan Abi ke pengadilan.
"Dengan adanya surat ini, kamu bisa secepatnya mengajukan Bi. Cepat kok prosesnya, nanti aku yang atur" ucap Stephen.
"Lu gak papa keluarin duit segitu demi Gozali? Dara apa nggak marah?" tanya Gala.
"Adara ma aku semalam sudah berbicara panjang lebar. Kami tahu bahwa pasti UUD, ujung-ujungnya duit tapi kami tidak masalah asalkan Gozali menjadi anak kami" sahut Abi sambil minum air mineral yang disediakan hotel.
"Jangan sampai Gozali tahu akan hal ini!" ucap Stephen.
"Tentu tidak. Aku tidak mau anak itu terluka dan terbebani mendengar neneknya sendiri menjualnya ke aku."
"Ga, apa benar di rumah Sukri cuma ditemukan uang 300ribu dan buku nikah saja?" tanya Stephen.
Gala menyeringai. "Tentu saja tidak."
Abi dan Stephen menatap Gala bingung.
"Anak buahku menemukan tas kecil berisi perhiasan. Ternyata keduanya adalah orang yang tekun jadi sedikit demi sedikit menabung untuk bisa membeli perhiasan sebagai tabungan."
"Berarti itu warisan buat Gozali!" celetuk Abi.
"Nanti sepulang dari sini, kamu ajak Gozali bicara mau diapakan perhiasan ibunya. Mau disimpan atau dijual." Stephen menatap Abi yang masih tidak percaya Gozali memiliki harta warisan kedua orangtuanya.
"Kamu tahu Bi, kata tetangga sekitar, semenjak Gozali kamu sekolahkan tiga tahun lalu, mereka hidup berkecukupan bahkan menjadi lebih baik" ucap Gala sembari mengambil air mineral, membukanya dan meminumnya.
"Mereka itu orang baik. Adara selalu bercerita bagaimana mereka memiliki attitude yang baik jadi kalau istriku ada acara di mansion, selalu meminta keduanya membantu."
Gala meletakkan botol air mineralnya lalu mengambil sesuatu di tas nya.
"Ini tas kecil milik Imah. Sudah diinventarisasi sebagai barang bukti tapi karena pelaku tewas jadi kasus ini gugur. Aku berikan padamu Bi, supaya Gozali tahu orang tuanya meninggalkan warisan untuknya."
Abi menerima tas kecil bertuliskan nama toko emas di pasar dekat mansion dan membukanya. Terdapat sepasang giwang, sebuah kalung dan cincin kawin dua buah beserta dengan surat-suratnya.
"Kalau boleh memilih, Gozali pasti lebih menginginkan kedua orangtuanya hidup, bukan perhiasan emas ini." Abi memasukkan kembali perhiasan milik Imah.
"Betul. Meskipun kamu dan Dara orang tua yang baik juga tapi bagaimana pun berbeda rasanya dengan orang tua kandung" sahut Stephen.
Suara pintu kamar mandi terbuka.
"Siapa nih mau mandi? Aku dah lapar euy! Kita bis ini makan siang makanan khas Jawa Timur yak! Kata Naina harus coba rujak cingur nya!" cengir Antasena yang sudah segar mengenakan Hoodie dan jeans.
"Bajumu jadi dilego Ta?" tanya Gala geli melihat baju Antasena yang dimasukkan ke kresek.
"Jadilah! Najis gue!" umpat Antasena sambil cemberut.
***
Yuhuuu
Up sore yaaa
Maaf yang ikutin Joshua dan Miki ( You're The Only One ) aku up besok Yaaaa. Biasa otak mampet.
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️