
Pagi ini Dara sedang membuat kopi untuk suaminya. Hari Sabtu adalah hari libur baik untuk Dara maupun Abi.
Kemarin Kamis, Dara sudah menyampaikan kepada pak Ahmad kalau dia menolak tawaran yang diberikan pihak yayasan dan sekolah karena selain suami tidak mengijinkan, Dara pun sudah berjanji pada suaminya hanya tiga bulan bekerja. Meskipun wajah pak Ahmad agak kecewa, namun dalam hati kecilnya dia sudah tahu pasti Dara akan menolaknya. Pak Ahmad berharap agar tuannya dapat mengerti kondisi Dara yang sudah memiliki suami pasti akan mematuhi imamnya.
"Adaraaaaa!" teriak Abi dari lantai dua membuat Dara dan para pelayan disana yang sudah terbiasa mendengar hanya menghela nafas panjang.
"Nyonya, sekarang tuan Abi lebih manja ya" komentar Mirna sambil terkekeh.
"Bayi Gedhe dia!" senyum Dara.
"Tapi rumah jadi menyenangkan sekarang nyonya, ramai dan hangat" komen Pak Harry yang masih membuat sarapan nasi goreng.
"Hehehe... Sebentar, saya ta openi mas Abi dulu." Dara pun berjalan menuju lantai dua.
Ketiga pelayan di dapur cekikikan mendengar istilah 'Bayi Gedhe'.
"Tuan Abi sekarang lebih hangat ya, nggak dingin seperti dulu. Nyonya Dara benar-benar merubah tuan Abi banyak" ucap bik Tarsih sambil membawakan poci teh ke meja makan.
"Semoga segera ada tuan atau nona kecil di rumah ini ya Bu, biar ramai" sahut Mirna.
"Aamiin."
***
Dara masuk ke kamar Abi yang terbuka dan betapa shocknya melihat walk in closet kamar Abi berantakan seperti kena rudal Scud.
"Ya Allah, maaaassss! Ini lemari kenapa berantakan gini?" omel Dara sembari memungut baju-baju Abi yang berantakan.
"Aku cari baju sepedaku, kok nggak ada!" Abi mengacak-acak rambutnya.
"Mau sepedaan?" Dara tahu kemarin mendengar percakapan Abi dengan Stephen.
"Diajak Stephen dan Edward" jawab Abi.
"Baju sepedamu itu lagi dicuci, kan baru beli jadi dicuci dulu lah" jawab Dara kalem sambil membereskan baju Abi satu-satu.
"Kenapa nggak bilang?" teriak Abi sebal.
Dara hanya tersenyum "Salahnya nggak nanya."
"Aarrgghhh!" Abi pun turun ke lantai satu untuk menanyakan baju yang dicari ke Mirna yang memang bagian bersih-bersih, mencuci dan setrika.
Dara terkikik mendengar Omelan suaminya. Suara ponselnya membuat kegiatan Dara pun terhenti. Sedikit berlari, gadis itu pun mengambil ponselnya. Tampak nama Yuna Pratomo di layar.
"Assalamualaikum mbak Yuna" sapa Dara ramah.
"Wa'alaikum salam Dara. Eh kamu ada acara nggak hari ini?"
"Nggak ada mbak tapi mas Abi katanya mau sepedaan sama mas Edward dan mas Stephen."
"Biarin ajah para laki itu kuatin betis, kita jalan-jalan yuk. Kamu biar kenalan sama Duncan, Neil dan Nadya. Tadi aku udah telpon Diana dan dia oke bawa anak-anak."
"Boleh mbak, jam berapa?" Dara melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah enam pagi.
"Jam delapan pagi gimana? Aku jemput saja karena paling Abi bawa mobil kan, nanti kalau sudah selesai biar dia jemput kamu. Soalnya Edward dijemput Stephen. Aku nanti bawa Range Rover ku saja biar muat banyak."
"Manut mbak Yuna saja, aku ta ijin mas Abi."
"Pasti dikasih ijin lah" kekeh Yuna.
"Hehehehe, iya mbak."
"Oke, aku jemput ke rumahmu ya. Kirim share lokasinya eh tapi aku sama Diana. Nggak usah deh, biar Diana jadi GPS-nya." Yuna tertawa. "Bye Dara, assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Dara pun meletakkan ponselnya setelah Yuna memutuskan panggilan.
"Siapa telpon?" tanya Abi yang sudah mendapatkan baju yang diinginkan.
"Mbak Yuna, ngajak jalan pagi."
"Pergi saja nanti mas jemput."
Dara pun sumringah. "Makasih mas!" ucapnya sambil mengecup pipi Abi.
"Tapi ada bayarannya" kerling Abi yang membuat Dara sebal melihat muka suaminya yang nakal.
"Dasar tukang perhitungan!" umpatnya sambil kembali membereskan baju di walk in closet.
"Doubel yaaaa" serunya sambil menuju kamar mandi.
***
Abi berangkat ke tempat pertemuan dengan Stephen dan Edward dimana sepeda mereka dititipkan di teman mereka yang memang hobi bersepeda. Dara menunggu jemputan Yuna di depan sembari ngobrol dengan Mirna yang sedang mengepel teras.
Pagi ini Dara memutuskan mengenakan blus long Sleeve warna kuning, dipadukan dengan jeans dan tas putih serta sneaker putih. Rambutnya dibiarkan tergerai berantakan. Entah kenapa dia malas sisiran.
Range Rover biru tua itu pun sampai di depan gerbang rumah Abi yang kemudian diijinkan masuk. Dara pun menunggu di halaman depan dan mobil Yuna itu pun berhenti di depan gadis itu.
Tampak Yuna dan anak kecil tampan di depan, sedangkan Diana berada di belakang bersama dua orang anak laki-laki dan perempuan.
"Yuk masuk" ajak Yuna. Dara pun membuka pintu belakang dan berkenalan dengan Neil dan Nadya yang sangat lucu. Duncan menengokan kepalanya ke belakang untuk menilai Tante yang baru dia lihat pertama kali. Setelah siap semua, ketiga mama cantik itu pun berangkat menuju cafe yang sudah disepakati oleh suami masing-masing.
Setibanya di cafe, ketiga mama cantik itu pun ramai bercakap-cakap. Yuna pagi ini memakai kaos crop yang terkadang memperlihatkan perutnya yang rata, topi, sneaker dan waist jeans sedangkan Diana lebih simpel memakai kaos putih, jaket baseball, kacamata hitam, jeans bootcut dan sneaker.
Sejak di dalam mobil, Nadya putri Diana, tidak pernah mau lepas dari pangkuan Dara. Ketika mommynya memintanya untuk duduk sendiri, Nadya pun menolak.
"Nad mau sama Tante Dara saja, soalnya Tante Dara cantik" ucap bocah Lima tahun itu.
"Haiissshh, mommymu diduakan" Diana memajukan bibirnya.
"Mommy buat Neil aja" kembaran Nadya itu langsung memeluk mommynya.
"Sana, Nad sama Tante Dara" cengir bocah cantik itu.
Duncan masih belum membuka suara namun dia selalu menatap Dara.
Bahkan ketika mereka duduk di sofa yang sudah disediakan, Duncan masih menatap Dara.
"Hello boy?" sapa Dara. "Why are you looking at aunty like that?"
Duncan Blair
Duncan hanya menyembunyikan wajahnya di balik tubuh mommynya.
"D, what's wrong?" tanya Yuna kepada putranya yang menggemaskan.
Duncan berbisik pada mommynya yang membuat mommynya tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun, kamu tuh bener-bener anaknya Edward Blair!" kekehnya.
"Memang Duncan bilang apa mbak?" tanya Diana kepo.
"D bilang kalau sudah besar mau sama Tante Dara soalnya cantik" kekeh Yuna.
Dara dan Diana pun tertawa bersama mendengar ucapan bocah tiga tahun yang memiliki bakat Casanova seperti ayahnya.
"Are you sure D? Mau sama aunty kalau sudah besar?" tanya Dara sambil tersenyum dan dia sangat suka melihat mata biru bulat bocah bule itu.
Duncan mengangguk, sekarang sudah lebih berani menatap tante-tantenya.
"I want with aunty Dara if I'm big enough" ucapnya khas anak kecil.
"Nggak boleh!" suara bariton di belakang Dara membuat bocah tampan itu melotot. Dara pun menoleh melihat Abi dengan muka judes menatap Duncan.
Astagaaaaa, bayi pun dilawan???
Tiba-tiba Dara merasa pening.
***
Babang Abi yang heboh cari outfitnya
Yuhuuu
Up pagi yaaaa
Thank you readers ku semuaaaaa... muah muah
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️