Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Keputusan Bahagia


“Jadi Arkan sudah nongol lagi ?” tanya Henri saat Arumi menutup panggilan telepon dari staf kantornya.


“Ternyata ucapan Vino yang singkat dan padat mampu membuat Arkan goyah,” sahut Arumi sambil tertawa.


Setelah Henri keluar dari rumah sakit, keduanya memutuskan untuk kembali ke apartemen. Henri masih mencari-cari alasan supaya Arumi tidak pergi lagi darinya.


“Ternyata memang udah bucin sama Milea,”ujar Arumi sambil tertawa dan duduk di samping Henri.


“Aku juga sudah dobel bucin sama kamu, tapi gara-gara Emilia, kamu jadi nggak bisa percaya sedikit pun padaku,” lirih Henri sambil tertawa getir.


Arumi menghela nafas dengan wajah datar. Kalau Arumi rajin membuat catatan, permintaan maaf dan penyesalan Henri pasti sudah melebihi angka 100.


“Hei, jangan bete begitu, aku hanya mengungkapkan perasaan, tidak ada niat memaksamu untuk memaafkan aku saat ini. Tapi kalau kamu mau berdamai lagi denganku, aku nggak nolak,” ujar Henri sambil tertawa pelan.


“Kita akan membesarkan Emilia sebagai anak kita, bukan anakmu dan Dina.”


Kalimat yang meluncur dari bibir Arumi membuat Henri membelalak dan memutar badan jadi menyamping ke arah Arumi.


“Kenapa keputusan seperti itu yang kamu ambil ?” tanya Henri dengan dahi berkerut.


”Kenapa ? Memangnya ada jalan lain ?” mata Arumi menyipit, menelisik wajah suaminya.


Henri menarik nafas dalam-dalam dan meraih jemari istrinya lalu diletakkan di atas pahanya.


“Sayang, aku tahu kamu mungkin bosan kalau aku bilang betapa aku mencintaimu dan bahagia dengan pernikahan kita meski belum diberi kepercayaan untuk memiliki buah hati. Emilia adalah bagian gelap dalam hidupku yang di mata orang dianggap perselingkuhan. Aku ingin kita sama-sama melupakannya tapi kalau Emilia tinggal bersama kita, selamanya kenangan akan kejadian buruk itu akan selalu menghantui hidup kita.”


“Aku akan menganggapnya bukan perselingkuhan,” sahut Arumi dengan lirikan tajamnya.


Henri mengerutkan dahi, menatap istrinya dengan wajah bingung.


“Masalah Emilia terjadi sebelum kita menikah jadi mana bisa diperhitungkan sebagai perselingkuhan. Aku mencoba belajar menerima kalau ternyata aku menikah bukan dengan pria single tapi duda.”


Henri langsung melebarkan senyumannya lalu memeluk Arumi tanpa memikirkan Arumi akan marah atau menolaknya.


“Aku akan jadi duda yang paling keren untuk istriku tersayang.”


Bukan hanya sekedar memeluk, Henri pun menciumi wajah istrinya bertubi-tubi dan tidak memperdulikan omelan Arumi yang berusaha menjauhkan Henri.


”Terima kasih, Sayang, terima kasih.”


Arumi hanya mengangguk dengan kedua tangan Henri masih menangkup wajahnya. Kali ini matanya tidak melotot atau mendorong tubuh Henri saat wajah pria itu semakin dekat ke wajahnya.


Arumi malah memejamkan mata saat bibir Henri mulai menyentuh bibirnya dan ciuman Henri pun dibiarkannya.


Merasa istrinya tidak menolak malah memberikan angin segar, Henri yang sudah dilanda rasa rindu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ciumannya semakin dalam dan menuntut bahkan tangan Henri pun sudah menggerakan tubuh Arumi hingga berbaring di atas sofa.


Henri menumpahkan seluruh kerinduannya pada Arumi yang juga sudah rindu dengan sentuhan suaminya, hingga akhirnya gelora dan suara cinta mereka memenuhi ruangan apartemen.


Hingga hampir 1 jam kemudian, keduanya yang sudah pindah ke kamar berbaring bersisian dengan tubuh basah oleh peluh.


Seperti biasanya, Henri selalu mencium perut Arumi setiap kali selesai penyatuan sambil berdoa semoga benihnya bisa tumbuh subur dalam rahim Arumi.


Sementara Arumi dan Henri sedang memadu kasih di apartemen, Arkan sedang sibuk membujuk Milea yang masih ngambek walaupun perutnya sudah terisi penuh.


“Kamu nggak kangen sama aku ? Masa dari tadi bawaannya jutek terus ?” tanya Arkan sambil menggandeng Milea menuju parkiran.


”Habis kamu nyebelin banget,” gerutu Milea dengan bibir cemberut.


“Dari tadi aku diperlakukan kayak anak kecil pakai acara disuapin segala terus bisa-bisanya kamu punya ide untuk ngajak kawin lari.”


Arkan tertawa melihat ekspresi wajah kekasihnya yang mehggerutu seperti ikan di dalam akuarium.


“Bukan kayak anak kecil, tapi karena aku sayang banget. Kan aku udah bilang kalau aku ingin membayar waktu 5 tahun yang hilang karena jauh dari kamu.”


Milea tidak bisa menolak atau melawan Arkan saat pria itu membantu memasangkan sabuk pengaman begitu ia duduk di dalam mobil.


Milea terdiam, sambil menopang wajahnya dengan tangan menempel pada pintu samping, ia menatap ke arah luar .


“Mil, jangan diam gitu dong. Kamu nggak bahagia jalan sama aku ? Nggak kangen udah beberapa hari nggak ketemu ?”


“Kangen,” sahut Milea pelan namun bisa membuat Arkan tersenyum. “Tapi aku nggak suka kamu kabur-kaburan begini, meninggalkan pekerjaan segala.”


“Aku nggak kabur, cuma butuh waktu untuk menenagkan diri aja. Kalau aku tetap tinggal di rumah, bawaannya pasti pingin ribut aja sama Mami. Buatku sikap Mami kurang bijak sebagai orangtua karena bisa melihat sisi baik Dina dan begitu mudah memaafkan semua kesalahan yang sudah dilakukannya, sementara sama kamu, Mami malah cari-cari kesalahan dan kelemahan kamu.”


“Sampai kapan kamu mau kayak begini ?”


“Nggak tahu,” Arkan mengangkat kedua bahunya. “Mungkin sampai Mami sudah bisa menerima kamu sebagai calon istriku.”


Milea menarik nafas dalam-dalam mendengar jawaban Arkan. Pria yang dikenalnya sejak SMA itu sedikit berubah, dari Arkan yang selalu santai jadi pria yang keras kepala.


“Jangan terlalu keras pada orangtuamu, Ar. Belajarlah untuk mengalah dan tunjukkan kalau pilihanmu bisa dipertanggungjawabkan.”


“Apa kamu akan selalu ada di sisiku saat aku berjuang untuk mempertanggungjawabkan pilihanku, Mili ?”


Milea kembali terdiam hingga Arkan menggenggam satu jemarinya.


“Aku tidak akan bosan mengatakan kalau aku sangat mencintaimu dan tidak pernah sedikit pun mencintai Dina sekalipun hubungan kami sangat dekat. Aku akui kalau ucapan Mami ada benarnya soal Emilia. Kalau aku tidak mengambil jalan menutupi perbuatan Dina, Kak Rumi masih punya pilihan untuk tetap dengan Kak Henri atau membatalkan pernikahan mereka. Tapi menyesal terus menerus tidak ada gunanya. Saat ini aku ingin sedikit egois, ingin menebus waktu 5 tahun yang aku lewati dalam kesepian dan rasa cemas karena berharap semoga kamu masih sendiri.”


“Kalau begitu kamu pulang ke rumah secepatnya dan bicara baik-baik dengan orangtuamu tanpa ada aku. Berikan mereka alasan yang meyakinkan soal keputusanmu memilihku sama seperti yang kamu lakukan saat ini.”


“Lalu kalau Mami tetap mengeraskan hati, apa kamu akan sabar menunggu ?”


“Keras kepala tapi pesimis,” cibir Milea. “Kamu harus percaya kalau orangtua itu adalah orang yang paling mengerti tentang dirimu asal kamu bisa bertanggungjawab. Aku pernah melakukannya 5 tahun yang lalu saat memutuskan untuk meneruskan kuliah ke Semarang.”


“Tapi beneran kamu akan selalu ada di sampingku dan sabar menunggu sampai orangtuaku memberi restu ? Kalau kamu menghindar lagi, akan aku kejar dan aku langsung kawinin supaya kamu nggak bisa menolakku lagi.”


“Katanya cinta tapi sukanya main paksa,” cebik Milea.


“Bukannya kamu memang sukanya dipaksa-paksa ?” Arkan senyum-senyum sambil menaik turunkan alisnya.


“Dasar duda gatel !” ketus Milea membuat Arkan langsung tergelak