Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Indahnya Cemburu


Arif mengusap tengkuknya saat melihat Arkan berlalu tanpa pamit dan wajahnya kelihatan kesal. Belum lagi mendengar ledekan Agus dan Sinaga, hati Arkan jadi bertambah panas.


“Harap maklum kalau duda lagi ngambek, Bro,” ujar Agus sambil menepuk bahu Arif.


“Loh memangnya Pak Arkan itu duda ?”


“Iya duren mateng,”sahut Sinaga. “Ditinggal mati istrinya saat anaknya masih kecil. Kalau nggak salah hampir 5 tahun menyandang status duda.”


“Sudah punya anak ?”


“Gosip santernya begitu, tapi Arkan membantah soal anak. Dan dengar-dengar, temanmu itu cinta pertamanya.”


Arif hanya mengangguk-angguk dan tersenyum tipis karena akhirnya ia tahu kenapa begitu sulit menembus hati Milea. Arif sempat berpikir kalau penyebabnya adalah Dino bukan Arkan.


“Memangnya pekerjaan kamu sudah beres ?” tanya Milea yang sedikit kesulitan mengikuti langkah Arkan karena jalan berbatu di lokasi proyek.


“Kenapa ? Belum puas ngobrol sama mantan ?” ketus Arkan berjalan ke arah kursi pengemudi.


Milea memutar bola matanya sambil menghela nafas. Tapi senang juga melihat Arkan cemburu begini, jadi berasa punya pacar.


Arkan menutup pintu mobil dengan keras lalu mengemudikan mobil melewati jalan berbatu keluar dari proyek.


“Habis ini kita kemana ?”


“Bikin anak,” ketus Arkan membuat Milea hampir terbahak. Belum pernah melihat wajah Arkan ditekuk seperti sekarang bahkan saat mereka berpacaran.


“Belum sah, ogah diajak bikin anak,” cibir Milea.


“Kamunya yang nolak terus, jadi biar aku tabur benih dulu supaya kamu nggak bisa lagi bilang tunggu dulu,” gerutu Arkan.


“Kalau begitu aku kabur duluan, nggak mau dekat-dekat kamu.”


“Ooo habis ketemu mantan langsung berani kabur ?”


”Nethink !” Milea mencebik. “Arif itu hanya teman kuliah, kami sama-sama aktif di organisasi, selebihnya hanya teman biasa.”


“Sebagai sesama pria aku bisa melihat kalau dikasih kesempatan, dia pasti akan langsung menyatakan cinta sama kamu.”


“Tapi aku cintanya kan sama kamu,” Milea menoel-noel lengan Arkan yang sedang memegang kemudi.


“Gombal,” Arkan mencebik. “Giliran ketangkep basah langsung obral kata cinta.”


“Serah kamu deh. Kayak baru kenal aja sih, memangnya aku senang menggombal dan digombalin ?” sungut Milea sambil membuang muka ke jendela samping.


Suasana hening sampai keduanya selesai makan. Seperti orang asing mereka menikmati makan siang tanpa bicara. Wajah pun tidak bersahabat, masing-masing memendam rasa kesal.


Arkan pun langsung memacu kembali mobilnya menuju hotel yang sudah dipesan oleh Henri.


“Kok cuma satu kamar ?” tanya Milea saat petugas hotel hanya memberikan 2 kartu akses untuk 1 nomor kamar.


“Tujuanku kemari kan untuk menggantikan Kak Henri, jadi ya pesannya hanya 1 kamar,” sahut Arkan dengan wajah santai. Kedua tangannya sudah menenteng tas pakaian miliknya dan Milea.


“Nggak bisa pesan 1 kamar lagi ?” bisik Milea saat keduanya sudah di dalam lift menuju lantai 3.


“Kamu tadi nggak dengar kalau semua kamar penuh karena sedang ada acara di sini ?”


Milea menarik nafas dalam-dalam, tidak mau berdebat dengan Arkan karena bukan hanya mereka berdua yang ada di dalam lift. Tapi ucapan Arkan memang benar soal kamar yang penuh.


Begitu masuk ke kamar, Milea sedikit lega karena menempati kamar dengan 2 ranjang terpisah.


“Setidaknya nggak harus 1 ranjang,” gumam Milea.


Arkan tersenyum tipis, ia sengaja hanya memesan 1 kamar untuk menguji nyali Milea.


“Eh kamu mau ngapain ?” Milea langsung memekik saat melihat kancing kemeja Arkan sudah terbuka semuanya.


“Mau ganti baju, memangnya kamu pikir aku mau ngapain ? Ngarep bikin debay nya sekarang ? Aku sih nggak nolak.”


“Haiiss siapa yang kepikiran begitu ? Kalau mau ganti baju jangan di sini, sana ke kamar mandi !”


Arkan yang sudah melepas kemejanya dan memyisakan kaos ketat berwarna putih mendekati Milea yang malah berjalan mundur hingga akhirnya jatuh di atas tempat tidur.


“Jadi kamu siap beneran ?” mata Arkan menyipit dengan seringainya mengukung Milea yang terbaring dengan posisi kaki masih menggantung.


“Tapi kalau aku mau sekarang gimana ? Buat memastikan kalau kamu hanya akan jadi milikmu dan nggak akan meninggalkan aku.”


“Memangnya sikapku belum cukup untuk meyakinkan kamu kalau hatiku hanya milikmu. Selama 5 tahun ini, aku juga tidak pernah pacaran dengan orang lain lagi,”


“Yakin ? Sepertinya Dino dan Arif masuk dalam daftar penggemarmu ?” Mata Arkan menyipit, menelisik wajah Milea.


“Nggak, aku nggak pernah memberikan mereka harapan apapun tapi aku juga nggak bisa melarang mereka untuk tidak menyukai aku, kan ?”


Tanpa sadar tangan Milea sudah tidak lagi menutupi mulutnya membuat Arkan mulai tergoda dengan bibir ranum itu.


“Tuh kan benar tebakanku ! Arif pernah nembak kamu atau minimal memberi sinyal-sinyal cinta sama kamu kan ?”


Milea merasa sudah kelepasan. Sebetulnya Arif tidak pernah bilang cinta padanya, tapi banyak teman Milea yang bilang kalau pria itu menaruh hati padanya.


“Nggak pernah nembak dan aku nggak pernah melihat sinyal cinta, tapi teman-temanku bilang kelihatan banget kalau Arif sedikit suka sama aku.”


Milea menoleh ke samping, tidak berani membalas tatapan Arkan. Pria itu tertawa sinis tapi sekaligus gemas melihat wajah Milea makin merona.


“Milea.”


Begitu Milea menoleh karena dipanggil, Arkan langsung menyambar bibir yang sejak tadi menggodanya dan memberikan ciuman lebih dari sekedar kecupan.


Kedua tangan Milea berusaha menahan tubuh Arkan namun rasanya sulit untuk menolak ciuman pria itu.


“Kita segera nikah aja gimana ? Aku nggak akan merusakmu sampai kita benar-benar sah dan jangan mencoba menundanya lebih lama lagi.”


“Supaya kamu bisa melakukan ini padaku ?” tanya Milea malu-malu.


Arkan tergelak dan kembali berdiri. Milea buru-buru ikut bangun lalu duduk di pinggir ranjang.


“Masa iya cuma karena ingin anu-anu -nya halal aku maksa kamu nikah,” Arkan mencubit kedua pipi Milea dengan gemas.


“Tentu saja karena aku cinta sama kamu, sayang. Aku ingin bangun dan tidur di sampingmu dan melewati hari-hariku bersamamu.”


“Bikin melehoy aja,” desis Milea. “Jadi udah nggak cemburu lagi ?”


“Masih lah, mana bisa perasaan cemburu dihilangkan begitu aja. Awas aja kalau Arif berani macam-macam !”


“Awas juga kalau kamu nggak profesional !” Milea balik mengancam. “Jangan karena Arif pernah suka sama aku, kamu buat dia susah di kantor !”


“Tuh kan !” tatapan Arkan kembali galak .


“Profesional, Ar. Profesional dan gentle dong. Aku nggak suka sama suami yang semena-mena karena jabatan dan duitnya.”


“Ya udah, tapi nikahnya bulan depan.”


“6 bulan lagi. Aku kan juga mau persiapan yang matang untuk sesuatu yang akan aku kenang seumur hidup.”


“2 bulan cukup ! Selama uang berbicara, semua bisa lewat jalur ekspress.”


“No ! Terlalu cepat. Kalau begitu ambil jalan tengahnya aja. Kamu maunya 2’bulan dan aku 6 bulan, kalau begitu ambil tengahnya 4 bulan lagi biar ada waktu untuk cari tempat dan persiapan laiinnya. Deal ?”


Arkan mendengus kesal saat Milea mengajaknya bersalaman segala.


“Kalau nggak mau, nggak masalah. Aku masih bisa menunggu 1 atau 2 tahun lagi,” Milea menatap Arkan dengan tatapan menantang.


“Awas kalau kamu melanggar janji !” gerutu Arkan menjabat tangan Milea.


“Dasar tempramental ! Padahal Arkan yang aku kenal saat SMA nggak begini. biar suka nyeleneh tapi kamu nggak segalak sekarang.”


“Siapa suruh meninggalkan aku tanpa kabar berita bikin aku jadi perjaka tua,” sahut Arkan sambil mencebik.


“Yakin masih perjaka ?” lirik Milea sambil tersenyum mengejek.


“Mau diuji coba ? Suasana dan tempatnya sangat mendukung. Paling jeritan kamu terdengar sayup-sayup doang ke kamar sebelah,” Arkan melirik sambil tersenyum smirk.


“Dasar duda perjaka ! Pikirannya mesum kemana-mana.”


“Mesumnya kalau lihat kamu doang. Menggoda iman dan harapan.”


“Haiiss dasar gombal !” Milea memukul bahu Arkan lalu berjalan ke arah kamar mandi dengan wajah yang mulai panas.