Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Undangan Mendadak


Seminggu berlalu dan Emilia harus kembali ke rumah Opa dan Omanya.


“Apa Mili boleh menginap lagi, Mommy ?” tanya bocah itu saat Arumi dan Henri mengantarnya ke sekolah pagi ini.


“Tentu saja boleh, Sayang,” Henri yang menyahut sementara Arumi terdiam dengan wajah melihat ke jendela samping dan kepalanya bertopang pada telapak tangannya.


“Bye Mommy, Bye Daddy.”


Emilia mencium pipi Henri dan Amira bergantian sebelum turun dari mobil. Henri pun berinisitif turun dan mengantar Emilia sampai ke gerbang.


Sudah 2 hari ini Arumi enggan mengantar Emilia sampai ke gerbang, padahal selama 2 hari sebelumnya, Arumi yang penuh semangat mengantar bocah itu sambil menyapa teman-teman Emilia.


“Jadi kamu sudah siap aku ajak bulan madu, nih ?” Henri mencoba merayu istrinya yang lebih banyak di am seperti sedang merajuk.


“Acaranya masih minggu depan.”


“Sayang, sebetulnya ada apa ?” Henri meraih tangan Arumi namun wanita itu menarik jemarinya.


“Arumi,” suara Henri sedikit meninggi. “Sebetulnya ada masalah apa ? Apa ada kendala dalam persiapan fashion show ?”


“Aku tidak ingin membahasnya sekarang.”


Arumi merebahkan kepalanya pada pintu dan matanya langsung terpejam. Henri hanya bisa menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan.


Arumi langsung terbangun saat mobil Henri berhenti. Ia pun bersiap turun setelah merapikan rambut dan pakaiannya.


“Jangan lupa nanti sore ke rumah papa dan mama. Tidak ada alasan Mas Henri tidak bisa datang,” tegas Arumi sebelum turun.


“Sebetulnya apa yang mau dibahas oleh papa mama dengan pemberitahuan mendadak begini ?”


“Mendadak ?” Arumi mengerutkan dahi. “Sudah 2 hari yang lalu aku infokan ke Mas Henri soal pertemuan di rumah papa dan mama.”


Nada suara Arumi yang terdengar ketus membuat Henri hanya bisa menghela nafas lagi.


“Aku jemput..”


“Tidak usah ! Sopir kantor akan mengantarku ke sana. Lagipula aku harus mampir ke tempat lain.”


Arumi tidak ingin memperpanjang percakapan dengan Henri memilih langsung turun tanpa ciuman seperti biasanya.


***


Jam 3 sore, Arumi sudah meninggalkan kantor dengan meninggalkan pesan supaya Milea jangan sampai tidak datang ke rumah keluarganya.


Milea yang berencana berangkat sendiri, akhirnya menerima permintaan Arkan yang memaksa ingin menjemputnya di kantor sekitar jam 16.30.


“Apa orangtuamu mengundang karena mau membahas soal kita dan Emilia ?” tanya Milea dengan wajah khawatir


Keduanya sudah dalam perjalanan menuju rumah orangtua Arkan.


“Aku juga tidak tahu,” Arkan mengangkat kedua bahunya .”Tapi yang memberitahuku soal acara malam ini bukan mama atau papa tapi Kak Rumi.”


“Kak Rumi terlihat berbeda 2 hari ini, lebih banyak diam dan kurang fokus dengan kerjaan,” ujar Milea.


“Bagaimana kalau benar kedua orangtuaku ingin menanyakan soal hubungan kita ?”


“Arkan…”


“Mili, berikan aku kesempatan untuk membuktikan niatku. Kalau kamu terus menjaga jarak dan membangun benteng di antara kita, akan sulit bagiku untuk memperlihatkan padamu betapa aku sungguh-sungguh mecintaimu.”


“Sejujurnya aku takut,” lirih Milea sambil tersenyum tipis. “Aku membangun benteng untuk melindungi diriku sendiri. Selama 5 tahun ini aku menutup diri dari yang namanya cinta karena aku takut kembali terluka.”


“Termasuk menolak Kak Dino ?”


“Kalau Kak Dino itu spesial case. Aku tidak se-frustasi itu hingga menutup mata untuk melihat pria lain yang tidak ada hubungannya dengan Dina,” Milea tertawa pelan.


”Jadi kalau Kak Dino bukan kakak kandung Dina, kamu akan menerima pernyataan cintanya ?” gerutu Arkan dengan wajah sebal.


“Mungkin,” sahut Milea sambil tersenyum membuat Arkan bertambah kesal.


“Tapi sejak Dina bersikap biasa saja saat kalian menikah, aku sudah memutuskan untuk menganggap tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan Dina dan keluarganya, apalagi setelah aku bertemu dengan Kak Dino. Di mataku mereka adalah orang-orang yang sangat egois.


Saat kami bertemu, Kak Dino bukan sekedar memintaku menjadi kekasihnya tapi sedikit memaksaku untuk menengok makam Dina. Baginya sikap yang aku dan keluargaku lakukan terlalu kejam dan seperti tidak memiliki hati nurani.


Aku benar-benar tidak berminat memiliki hubungan dengan keluarga seperti itu.”


“Keputusan yang tepat !”gumam Arkan sambil senyum-senyum.


“Semoga malam ini kita diundang untuk mendengarkan kabar baik. Kamu dan aku boleh melanjutkan ke jenjang pernikahan tanpa ikatan surat wasiat Dina.” lanjut Arkan.


“Siapa yang mau nikah sama kamu ?” cebik Milea.


“Yakin ? Katanya hatimu ada yang kosong kalau jauh dariku ?” Arkan balas meledek Milea.


“Tapi nggak berarti aku bersedia menikah sama kamu, kan ?”


“Nggak bersedia besok,” ledek Arkan sambil terkekeh.


“Anda percaya diri banget, ya !” cibir Milea.


Arkan tertawa dan mengacak poni Milea dengan gemas membuat Milea mengomel kesal.


“Arkan, balik ke masalah malam ini, kamu beneran nggak ada gambaran tentang topik yang akan dibahas ? Sebetulnya aku memang merasa kasihan pada Emilia yang kekurangan kasih sayang, tapi ada sedikit ganjalan karena ia adalah anak Dina.”


“Mili,” Arkan meraih jemari Milea dan menggenggamnya dengan erat. “Apapun yang terjadi malam ini, biarkan terjadi karena tidak akan merubah perasaanku padamu dan niatku untuk menghabiskan sisa hidupku bersamamu.”


“Ya, aku mengerti,” sahut Milea sambil tersenyum.


“Bertahanlah dan kita akan melewatinya bersama-sama. Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi. Kamu mau kan ?”


“Tapi kamu harus janji, nggak akan membuat aku menebak-nebak lagi seperti dulu,” ujar Milea sambil tersenyum tipis menatap Arkan.


Arkan mengangguk sambil tersenyum sumringah. Tangan kirinya langsung menggenggam jemari Milea.


“Kak Arumi sudah datang,” ujar Arkan saat mobinya melewati gerbang rumah orangtuanya.


“Kak Arumi diantar dengan sopir, nggak bareng sama Pak Henri,” ujar Milea.


“Kok bisa ?” Arkan mengerutkan dahi.


“Aku juga kurang tahu.”


Arkan kembali menggandeng jemari Milea yang terasa dingin dan membawanya masuk ke dalam rumah.


“Jangan terlalu cemas, sayang,” bisik Arkan sambil terkekeh membuat wajah Milea bersemu merona.


Arkan langsung membawa Milea ke ruang keluarga dimana sudah ada kedua orangtuanya, Arumi danHenri.


Suasana terlihat tegang karena beberapa kali Henri mencoba mengajak Arumi bicara, wanita itu diam saja sambil menyibukkan diri dengan handphonenya.


“Akhirnya kalian datang juga.”


Papi Firman yang pertama menyapa saat melihat Arkan menggandeng Milea masuk ke ruang kelurga.


Milea pun balas menyapa bersama Arkan. Masih terlihat tatapan tidak suka Mami Mira saat melihat tangan Arkan menggenggam jemari Milea.


“Sebetulnya apa yang mau dibahas malam ini ?” Arkan menatap kedua orangtuanya, menunggu penjelasan dari mereka.


Baik Arkan maupun Milea yakin kalau pertemuan keluarga malam ini akan membahas lagi soal surat wasiat Dina.


“Sepertinya kakakmu yang akan bicara,” ujar papi Firman sambil menatap Arumi.


Arkan menautkan alisnya saat melihat sikap Arumi yang terlihat kaku dan dingin.


Arumi langsung mengambil tasnya dan mengeluarkan satu amplop putih yang Arkan lihat bertuliskan nama salah satu rumah sakit.


“Apa masalah ini yang membuat kamu menolak permintaan Dina untuk membesarkan putrinya sebagai anakmu ?”


Arumi membuka lipatan kertas yang dikeluarkannya dari dalam amplop dan diletakkan di meja mengarah ke Arkan.


Pria itu mangambil kertas yang disodorkan Arumi dan matanya langsung membelalak menatap tulisan yang tertera.


Milea langsung bergeser saat melihat wajah Arkan dan ia pun sama terkejutnya dengan Arkan.