Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Dua Pria Bahagia


Antasena sedang asyik melihat Naina memeriksa paper dari para mahasiswanya. Seharian ini Sena sengaja mengganggu dosen manis itu melalui webcam laptopnya.


Mumpung liburan gangguin Naina asyik nih, lagian mas Abi ma mbak Rara paling lagi nikmati hari.



Antasena masih tetap menikmati pemandangan Naina dengan rambutnya yang diurai, mengenakan kemeja yang dipadu dengan sweater dan sudah melepaskan kacamata bacanya.


"Mas Sena apa nggak pegel tuh lengannya seperti itu?" tanya Naina tanpa melihat Antasena.


Antasena yang masih tetap menatap Naina hanya menggeleng.



"Nggak pegel tuh!" ucap Antasena.


"Mbak Dara kemana?"


"Kencan sama mas Abi" kekeh Anta. "Aku kencan virtual dulu ma Naina."


Wajah Naina memerah.


"Nai, boleh nggak aku main ke Solo?" tanya Antasena serius.


"Boleh ajah, emang ada yang ngelarang?" Naina balik bertanya.


"Aseeekkk, akhirnya aku bisa ngapel!" seru pria tampan tapi imut itu.


"Apa mas? Mau ngepel? Alhamdulillah, aku jadi ga capek ngepel rumah budhe Haryono, ada yang gantiin" cengir Naina.


"Ngapel Naii ! Ngapel! Siapa juga mau ngepel?" sungut Antasena.


Naina tertawa terbahak-bahak.


Manisnya kamu kalau tertawa.


***


Abi dan Dara sekarang dalam perjalanan pulang ke rumah dan terpaksa tadi Abi ke mall membelikan blus untuk Dara karena tadi dia merusakkan blus yang dipakai istrinya saking semangatnya.


Dara melirik ke arah suaminya yang masih serius nyetir. Diam-diam bibirnya mengulum senyum mengingat suaminya sekarang menjadi bucin. Kayaknya hasil kumpul dengan Stephen dan Edward yang bucin dengan istri masing-masing menular ke Abi.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Abi.


"Hah? Kok tahu?" Dara terkejut karena suasana di mobil gelap karena sudah jam delapan malam mereka perjalanan pulang ke rumah.


"Tahu lah! Kelihatan kok" jawab Abi kalem.


Dara mencondongkan tubuhnya dan matanya dipincingkan mencari-cari sesuatu.


"Kamu cari apa?" tanya Abi bingung.


"Kamera infrared atau apalah itu yang bisa melihat di kegelapan. Siapa tahu dipasang mas Abi terus bisa dilihat di dashboard."


Abi melongo. Tahu-tahu tangannya memegang dahi Dara. "Memang rada panas jadi otaknya ngawur."


"Mas Abiiii !"


"Lagian kamu tuh ya aneh, mana ada aku pasang begituan sayang. Makanya tadi tuh di kamar hotel jangan nonton Terminator jadi ngawur kan halunya" omel Abi.


"Kan aku suka lihat Christian Bale, keren" ucap Dara santai.


"Adaraaaa!"


"Ya ampun maaass, itu cuma aktor kok ya dicemburui tho!" Dara mencubit pipi Abi gemas.


Tiba-tiba Abi mengusap perut Dara yang membuat gadis itu tersentak.


"Semoga Abi junior mulai bekerja disini ya" cengirnya.


"Hah? Abi junior?"


"Iya lah Abi junior ketemu Adara junior" gelak Abi.


Dara menepuk jidatnya. "Mas Abi koplak!"


"Tapi aku serius Adara. Tadi melihat foto-foto Duncan anaknya Edward dan Neil sama Nadya membuatku pingin punya baby juga." Abi menatap Dara serius.


"Aamiin. Insyaallah dikabulkan doa kita ya mas."


"Aamiin."


***


Pagi ini Dara berangkat ke sekolah diantar pak Sigit menggunakan Brio nya. Dara masih tidak mau diantar pakai mobil mewah Abi tanpa ada Abi di dalamnya. Dara berangkat bekerja dengan hati senang karena sejak semalam, keduanya sudah tidur bersama di kamar Abi. Dara akhirnya mengetahui trauma Abi yang membuat Dara harus meyakinkan bahwa keadaan itu memang sudah takdir dan almarhum ibu Abi pasti bahagia karena disaat terakhir ditemani oleh putranya.


"Nyonya, nanti saya jemput jam berapa?" tanya pak Sigit ketika mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah.


"Jam empat, pak Sigit. Terimakasih ya" jawab Dara sambil turun dari mobil.


Pak Sigit menjalankan mobil hitam itu kembali ke mansion sedangkan Dara berjalan masuk ke halaman sekolah.


"Bu Dara!"


Dara menghentikan langkahnya dan melihat Maya baru turun dari mobil mewahnya.


"Pagi Maya" sapa Dara lalu mengangguk hormat ketika melihat Damien dari jendela yang terbuka duduk di belakang supir. Tak lama mobil Damien pun pergi meninggalkan sekolah.


"Pagi Bu." Maya tersenyum manis. Sepanjang jalan menuju ruang bimbingan konseling, banyak siswa yang menyapa Dara dan dibalas oleh guru cantik itu.


***


Abi memulai hari ini dengan hati bahagia. Semalam dia menceritakan traumanya dan Dara tidak menjudge dia bahkan bisa memaklumi bagaimana mindset dirinya di usia sepuluh tahun harus terbentuk hingga dewasa. Dara dengan telaten memberikan konseling pada dirinya dan sangat senang Abi mulai bisa mengikis traumanya karena rasa cintanya ke Dara.


Wajah sumringah Abi pun menular ke Antasena yang kemarin mendapatkan lampu hijau dari Naina boleh ngapelin gadis itu di Solo.


Sesampainya di kantor, para pegawai sedikit heran melihat bossnya masuk dengan wajah cerah, tak ada raut wajah dingin seperti biasanya.


*Tampaknya pernikahan kedua boss membuatnya lebih manusiawi.


Kalau boss mulai kumat kulkasnya, kita harus menghubungi Bu Dara*.


Abi dan Antasena pun masuk lift.


"Kenapa? Iri?" balas Abi.


"Ish, kagak lah. Aku dah move on kok!" senyum Antasena.


"Naina?" selidik Abi yang dijawab anggukan dengan wajah bahagia.


"Sana kalau mau ke Solo besok Jumat sore" ucap Abi tanpa disangka-sangka.


Antasena pun langsung bersorak.


"Terimakasih mas!" serunya sambil memeluk Abi bertepatan dengan pintu lift terbuka dan tampak Jun di depan mereka.


"Ga usah mikir macam-macam Jun!" hardik Abi sambil menyingkirkan Antasena yang nyengir kuda.


"Emang mikir apa pak?" tanya Jun sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Juna!" Abi mulai mode galaknya berjalan menuju ruangannya.


"Eh nggak pak. Suwer!" jawab Jun.


Antasena terkikik lalu melangkah ke ruangannya sambil bersiul-siul bahagia meninggalkan Jun yang bingung atas sikap bossnya.


***


Dara yang sedang membuat laporan mingguan kehadiran siswa di kelas yang dia pegang, merasa bingung ketika Rina mengatakan bahwa dirinya dipanggil oleh kepala sekolah.


Dengan langkah sedikit terburu, Dara menuju ruang kepala sekolah yang langsung dipersilahkan oleh asistennya.


"Bapak memanggil saya?" tanya Dara.


"Silahkan duduk Bu Dara" ucap Pak Ahmad, sang kepala sekolah.


Dara pun duduk di depan meja kebesaran pak Ahmad.


"Begini Bu Dara, seperti perjanjian yang sudah disepakati, Bu Dara disini hanya sebagai guru pengganti Bu Lusi selama beliau cuti melahirkan tiga bulan. Baru saja kami mendapatkan kabar kalau Bu Lusi memutuskan untuk memperpanjang masa cutinya hingga enam bulan karena bayinya harus mendapatkan perawatan ekstra dan pihak yayasan pun memberikan ijin pada Bu Lusi mengingat beliau sudah sepuluh tahun mengabdi disini. Jadi ada special permission karena menyangkut anak."


Dara masih menatap pak Ahmad dengan wajah serius.


"Jadi tadi pihak yayasan meminta saya untuk menyampaikan pada Bu Dara agar kontrak ibu diperpanjang tiga bulan lagi jadi genap enam bulan. Bagaimana Bu Dara?"


Dara mengerjap-kerjapkan matanya. Satu sisi dia senang bisa bekerja lebih lama, tapi satu sisi dia sudah berjanji dengan Abi hanya bekerja selama tiga bulan.


"Saya belum bisa memutuskan sekarang pak karena saya sendiri sudah berjanji dengan suami saya hanya mengambil masa kerja tiga bulan. Jika ada penawaran ini saya harus berdiskusi dulu dengan suami."


"Saya tahu itu Bu lagipula saya juga tahu siapa suami ibu" senyum pak Ahmad. "Tanpa ibu harus bekerja pun, sebenarnya tidak ada masalah finansial."


Dara hanya tersenyum tipis. "Bagaimana bapak bisa tahu siapa suami saya?"


"Bu Dara kemarin makan siang di RR's meal kan?"


Dara mengangguk.


"Kebetulan saya bersama keluarga duduk disana tapi posisinya membelakangi ibu. Tapi saya sempat mendengar nyonya Yuna Pratomo memperkenalkan keluarganya dan ketika saya mendengar nama ibu, saya menoleh dan benar Bu Dara, istri dari Pak Abimanyu Giandra."


"Maaf pak Ahmad, saya tidak melihat bapak kemarin" Dara mengatupkan kedua tangannya.


"Tidak apa-apa Bu, lagipula kan terhalang tanaman posisi meja pemesanan."


"Tolong rahasiakan siapa suami saya pak, karena saya tidak enak dengan para rekan kerja, takutnya saya hanya bekerja sambil lalu padahal saya benar-benar menyukai pekerjaan saya sebagai guru bimbingan konseling."


"Rahasia ibu, aman di saya. Lagipula backing ibu wow, bisa berteman dengan salah satu anggota keluarga Pratomo" kekeh pak Ahmad.


"Hanya kebetulan pak."


"Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, yang ada sudah digariskan di kehidupan kita."


"Soal penawaran tadi, saya akan bicarakan dulu dengan suami saya. Apapun hasil keputusan kami, akan saya sampaikan langsung kepada pak Ahmad."


"Baik Bu Dara. Semoga saya mendapatkan kabar baik ya Bu."


Dara pun berdiri. "Permisi pak Ahmad."


"Silahkan Bu Dara."


Dara pun meninggalkan ruangan pak Ahmad.


Dirasa gadis itu sudah menjauh, Ahmad menelpon seseorang.


"Sudah saya sampaikan tuan dan tampaknya Bu Dara lebih memilih selesai di tiga bulan karena saya yakin pak Abi tidak akan mengijinkan."


" ... "


"Coba nanti saya bicarakan dengan pak Abi kalau memang tidak boleh."


" ... "


"Saya tidak jamin tuan tapi semua cara dilakukan selama tidak melanggar hukum."


" ... "


"Baik tuan."


***


Di sebuah ruang kerja yang bernuansa putih abu-abu, seorang pria menutup teleponnya ke Pak Ahmad. Senyum tipis muncul di bibirnya.


Bagaimana caranya Dara harus tetap berada di sekolah itu hingga enam bulan ke depan!


***


Yuhuuu


Up siang yaaaa


Don't forget to like vote n gift


Mamaciihh atas supportnya jadi novelku ini naik peringkat.


Tararengkyu ❤️🙂❤️