
Abi dan Dara sekarang berada di mobil menuju restoran milik Ryu Pratomo sepupu Yuna Pratomo. Sepanjang jalan Abi bercerita tentang persahabatannya dengan Diana.
"Dulu aku susah mendapatkan teman, mungkin karena aku anaknya introvert."
"Memang" komen Dara sambil melengos melihat keluar jendela. Abi melirik tajam dengan perasaan dongkol, Dara cuma tersenyum.
"Diana adalah teman pertama yang berani mengajak ngobrol denganku dan sejak itu kami bersahabat. Apalagi Diana dan aku sama-sama anak tunggal."
"Apa selama dengan mbak Diana tidak ada naksir gitu mas?" kepo Dara sembari mengerling. Abi terpesona melihat istrinya seperti itu.
"Aku gadha perasaan apa-apa tuh!" jawab Abi tegas.
"Iya deh lagian mbak Diana cinta matinya ma mas Stephen" kekeh Dara.
"Tuh tahu!" sungut Abi.
"Maksud aku, selama kalian di SMA dulu mas. Apa mas Abi nggak ada perasaan apapun sama mbak Diana?" tanya Dara lagi.
"Nggak ada Adara." Karena perasaanku bukan pada Diana waktu itu.
"Wah, hebat. Padahal Mbak Diana cantik dan pintar" puji Dara.
"Bagiku Diana seperti adikku, Adara jadi tidak bisa memiliki perasaan lebih." Abi menatap Dara serius.
"Baiklah" senyum Dara. Tapi bagaimana perasaanmu padaku mas?
"Eh iya, mas Abi memangnya kenal sama keluarga Pratomo?" tanya Dara yang tidak menyangka menikah dengan Abi menjadi bagian kaum high class.
"Aku hanya kenal Pak Aryanto Pratomo karena beliau suka mengoleksi mobil antik dan aku bisa mencarikannya berkat perusahaanku sudah dipercaya banyak perusahaan otomotif seluruh dunia."
"Mbak Yuna itu putrinya pak Aryanto ya?"
"Hu um. Suaminya, Edward Blair itu tangan kanan mantan mafia di Inggris dan Skotlandia." Dara terkejut.
"Aku pikir mafia hanya di film-film."
"Tidak, sayangku. Mafia itu beneran ada, salah satunya ya si Edward durjana itu!" kekeh Abi.
"Mas Abi nggak takut sama mas Edward?" jujur dia agak takut membayangkan mafia yang terkenal kejam.
"Klannya Edward sudah tidak berkecimpung di dunia hitam. Kan aku tadi sudah bilang, bossnya mantan mafia. Sekarang Edward mengurus bisnis restauran yang dimiliki keluarga McGregor dan bisnis legal lainnya."
"Syukurlah kalau sudah kembali jalan yang benar" ucap Dara. "Ini restauran punyanya siapa mas?"
"Punya Ryu Pratomo saingan bisnis Damien Xavier. Ryu itu sepupunya Yuna. Kalau kamu pernah nonton MasterChef junior beberapa tahun lalu, pasti pernah dengar nama Ryu Reeves yang jadi runner-up."
Dara manggut-manggut tapi dia lalu browsing mencari tahu nama Ryu Reeves yang ternyata chef terkenal.
Ryu Reeves
"Wah, ternyata Ryu cakep ya" puji Dara sembari memperlihatkan akun Instagram Ryu.
Abi menatap Dara tidak suka ketika memamerkan foto sepupu Yuna itu. Kebetulan mereka sedang berhenti di lampu merah.
"Jadi menurut mu, suamimu ini nggak cakep? Nggak tampan? Nggak keren?" cerocos Abi kesal.
"Hah? Mas Abi kesambit apa kok jadinya marah?" Dara terkikik.
"Jangan muji pria lain, Adara!" omel Abi sembari menjalankan mobilnya.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak suka!" tegas Abi.
Karena kamu adalah milikku.
"Iya deh, kalau nggak lupa" kekeh Dara cuek.
"Adaraaaaa!"
Dara tertawa terbahak-bahak.
***
Abi dan Dara sampai di restoran RR's Meal yang merupakan singkatan dari Ryu Reeves bersamaan dengan Stephen dan Diana yang mengendarai Porsche Macan. Tak lama Edward dan Yuna datang dengan BMW i series warna hitam.
Ketiga pasangan itu kemudian tertawa melihat gaya pakaian mereka yang nyaris sama. Yuna bahkan dengan cueknya berkata "Kalian digarap sama laki kalian masing-masing semalam ya?"
Tentu saja Diana dan Dara terkejut mendengar ucapan gadha filter dari seorang Yuna Pratomo.
"Ya ampun mbaaakk, itu mulut lemes banget ya!" umpat Diana walaupun sudah tahu keluarga Pratomo biarpun tajir melintir namun soal Gesrek memang top.
"Berarti dia benar-benar keturunan Pratomo" kekeh Edward sembari memeluk Yuna dan mencium kepalanya.
Stephen dan Abi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sepasang pasutri Gesrek itu. Abi dan Edward sama-sama mengenakan kemeja biru, celana jeans dan sepatu coklat, sedangkan Stephen memilih memakai kaos hitam, jeans hitam dipadukan dengan jaket kulit, fedora hitam dan sepatu hitam.
Dara, Diana dan Yuna sama-sama mengenakan blus hitam, celana jeans dan sandal tali.
"Selamat siang Bu Yuna. Pak Ryu sudah menyampaikan semalam kalau Bu Yuna hendak datang bersama pak Edward" sapa Uci ramah.
"Siang mbak Uci. Tolong diingat-ingat ya, ini adik ipar saya pak Stephen dan istrinya Bu Diana, serta sahabat kami, pak Abimanyu dan istrinya Bu Dara." Yuna mengenalkan keempat orang di belakangnya.
"Baik Bu. Akan kami ingat. Mari saya antar ke ruangan VIP." Uci berjalan terlebih dulu menuju ke ruang VIP yang berada di lantai dua.
Pengunjung restauran yang berada disana tidak ada yang tidak memperhatikan ketiga pasang pasutri dengan fisik paripurna. Bahkan tidak sedikit yang berbisik-bisik keluarga Sultan datang ke restoran ini.
Uci membukakan pintu VIP dan tampak pemandangan ruang makan yang elegan.
Ruangan bernuansa kayu coklat tua dan broken white.
"Ini sih ruangan seleranya mas Abi banget" celetuk Dara yang mendapat pelototan Abi.
"Nggak usah diperjelas Adara" desis Abi.
Kedua pasang yang lain hanya tersenyum.
"Dara, kamu kalau kelamaan kumpul dengan Yuna, bakal ketularan lemesnya" celetuk Edward.
"Oh jangan, jangan pokoknya!" pinta Abi. "Adara jangan sampai terkontaminasi Yuna."
"Dasar posesif!" ledek Diana ke sahabatnya.
"Bapak, ibu, silahkan duduk".
Ketiga pasangan itu pun duduk di meja yang sudah disiapkan.
"Silahkan bapak ibu, buku menunya."
Ketiga pasangan itu lalu memesan makanan dan setelahnya Uci undur diri.
"So, semalam akhirnya kejadian kan?" kekeh Edward dengan tanpa dosa.
"Brengsek kau bro!" umpat Stephen.
"Ohya Dara, gimana ceritanya kamu bisa menikah dengan Abi?" tanya Yuna.
"Eeeerrrr... Perlu diceritain nggak mas?" tanya Dara.
"Cerita saja gak papa" jawab Abi.
Dara bercerita tentang pertama kali bertemu dengan Abi dan bagaimana mereka menikah karena wasiat almarhum Yanti, istri Abi pertama.
"Tapi sekarang kan kalian sudah saling menyayangi. Itu yang utama." Diana menatap Dara lembut. "Aku bersyukur Abi mulai banyak berubah, nggak dingin seperti dulu."
"Iya mbak Diana. Alhamdulillah" ucap Dara sambil tersenyum.
Abi meremas tangan Dara lembut.
"Bucin, bucin deh!" ledek Stephen.
Yuna dan Edward tertawa.
"Bi, jaga Dara ya. Kita itu punya istri cantik dan yang suka sama istri kita juga banyak" ucap Stephen.
"Memangnya kita juga ga pusing punya suami cakep, banyak yang suka" sahut Diana.
"Eh tapi kita sudah bucin ma istri masing-masing, sayang" Stephen mencium pipi Diana.
"Setidaknya kita saling tahu perasaan dengan pasangan masing-masing" ucap Yuna. "Kalian tahu, pria satu ini untuk mengungkapkan perasaan saja butuh proses panjang dan taruhan."
"Jangan diingatkan. Aku harus kehilangan Porsche ku" Edward langsung memasang wajah memelas.
"Oh jadi kamu lebih memilih Porsche mu daripada istrimu yang paripurna begini?" Yuna mendelik tajam.
"Oh jangan dong sayang, kamu itu cintanya aku" rayu Edward.
"Gombal!" sungut Yuna sembari cemberut.
"Selamat tidur di luar bang" kekeh Stephen.
"Mati aku Steve" keluh Edward.
***
Yuhuuu
Up sore yaaakk
Yang uwu-uwu dulu yaaaa
don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️