
Keluarga Giandra sekarang berada di London dijemput oleh keluarga Blair dan membawanya ke mansion mereka meskipun Abi sempat memprotes karena sudah memesan hotel yang dekat dengan London Eye.
Kini di depan mansion The Blair sudah tampak Yuna dan Duncan menyambut para tamu. Ghani dan Gozali mengagumi arsitektur dan interior rumah Duncan yang jauh lebih mewah dibanding mansion mereka di Jakarta. Berbeda lagi dengan Rhea yang langsung menjerit heboh melihat grand piano hitam di ruang tengah.
"Mommy! Look at that piano!" seru gadis cilik itu antusias. "Tante Yuna, may I play it?"
"Kamu nggak capek baru turun dari pesawat lho" tegur Dara.
"No. Pleaseeeee" rengeknya dengan puppy eyesnya
"Yuk, Abang Duncan antar" ajak Duncan sambil mengulurkan tangannya yang disambut Rhea bahagia.
Ghani berlagak terbatuk tapi terdengar dia mengucapkan "Uhuk! Modus!"
Yuna dan Dara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keributan yang terjadi. Gozali lebih asyik melihat-lihat mansion yang baginya sangatlah glamour.
Sementara Abi dan Edward pun ribut tidak jelas di belakang para istrinya.
"Hotelmu sudah aku batalkan Bi, jadi kau sekarang stay at my mansion" kekeh Edward dengan wajah licik yang nyaris ditonjok oleh Abi yang sebal.
"Look bro, mansionku besar juga, lengkap dan pula gratis tinggal disini."
"Bukan masalah itu Ed. Aku tahu apa yang kamu rencanakan!" Abi menyipitkan matanya ke Edward.
"Memang apaan?" tanya Edward polos.
"Haaaiissshhhh!" Abi pun meninggalkan Edward lalu masuk ke dalam mansion yang jauh lebih besar dari miliknya di Jakarta.
Edward tertawa terbahak-bahak melihat sahabatnya kesal.
***
Acara makan malam di kediaman Blair sangatlah ramai. Yuna sengaja meminta chef di rumah memasak spesial bagi tamu-tamunya dari Jakarta.
Edward mengusulkan untuk membuat English roast beef dinner yang benar-benar khas Inggris.
Gozali yang banyak belajar dari keluarga Giandra pun tidak kesulitan dalam mengimbangi table manners di meja makan sesuai dengan budaya khas Inggris.
Duncan sendiri tetap melakukan modus membantu memotong kan roast beef milik Rhea menjadi potongan kecil-kecil Agara gadis cilik itu mudah memakannya.
"Terimakasih bang Duncan" ucap Rhea sembari tersenyum yang membuat jantung bocah bule itu seperti diajak balapan MotoGP.
"Modus terus deh Bang D" ledek Ghani sebal.
"Mumpung G" kekeh Duncan tanpa bersalah.
"Modus apaan sih?" tanya Rhea polos.
"Kamu tanya saja sendiri sama mas Ghanimu" sindir Duncan sambil nyengir licik.
Ghani hanya menatap Duncan tajam karena posisi keduanya memang berseberangan di meja makan.
"Boys!" suara Yuna membuat keduanya terdiam.
Gozali yang duduk di sebelah Ghani hanya tersenyum melihat sahabat yang kini menjadi adik angkatnya tetap mengibarkan bendera perang ke kakak bulenya hanya gara-gara Duncan bilang Rhea akan menjadi miliknya jika sudah dewasa nanti.
Rhea sendiri tidak ambil pusing melihat mas dan abangnya berantem yang penting dia boleh bermain piano dan jalan-jalan ke London Eye sudah membuatnya bahagia.
***
Anak-anak sekarang sudah berada di kamar masing-masing kecuali Rhea yang tidur di kamar Abi dan Dara. Sudah menjadi kebiasaan Rhea harus tidur bersama kedua orangtuanya jika di lingkungan baru semalam lalu besoknya dia sudah berani tidur sendiri.
Kini keempat orang tua berada di ruang tengah depan perapian sembari menikmati Snack dan minuman hangat karena cuaca di London saat musim dingin seperti ini.
Abi meminta Dara untuk meletakkan kakinya di pangkuannya sementara istrinya bersandar di sofa sedangkan Edward dengan santainya meletakkan kepalanya di paha Yuna yang dengan pelan mengusap-usap rambutnya.
"Akhirnya pada tidur juga anak-anak" komentar Edward setengah mengantuk. Dia merasa lelah karena sebelum natal dia lebih sibuk dari biasanya untuk memberikan bonus untuk semua pegawainya.
Abi dan Dara melongo. "Yang bener Na!" celetuk Abi.
"Benar! Itu permintaan Duncan. Dia mau Rhea senang disini jadi dia merengek kepada Daddynya untuk mengijinkan membeli piano."
Dara kemudian beringsut meletakkan kepalanya ke bahu Abi dan memeluk tubuh suaminya.
"Sweet banget D" senyum Dara.
"Itu mah bukan sweet sayang, tapi modus terselubung!" kekeh Abi.
"Apapun Bi yang penting Rhea bahagia" sahut Edward setengah memejamkan matanya.
"Kalau mas Edward ngantuk, kita istirahat saja sekarang. Kita semua juga lelah mana masih jetlag juga kami" usul Dara.
"Tampaknya kita lebih baik istirahat. Besok baru kita rencanakan mau kemana." Abi kemudian berdiri dan menggandeng Dara yang juga bangun menuju kamar mereka.
"Kalian pergilah istirahat dulu. Aku masih ngopeni bule manja satu ini" kekeh Yuna.
"Bule manja ini suamimu lho darling" sahut Edward dengan suara ngantuk.
"Ya udah suamiku, kita tidur sekarang yuk!" ajak Yuna. Sembari cemberut dengan mata terpejam, Edward mengikuti tarikan tangan Yuna yang membawanya ke kamar.
***
Pagi ini Edward menyiapkan tiga buah mobil Range Rover hitam, dua digunakan untuk keluarganya dan keluarga Abi, sedangkan yang satu untuk pengawalnya.
Rencana hari ini mereka kan langsung menuju London Eye lalu setelah itu jalan-jalan mengelilingi London termasuk request Ghani untuk ke Sherlock Holmes Museum.
Rhea sangat antusias acara jalan-jalan kali ini namun tidak dengan Ghani yang harus satu mobil dengan Duncan. Kedua bocah tampan beda empat tahun itu sama-sama membuang muka keluar jendela sisi mereka masing-masing yang membuat Edward dan Yuna tertawa melihat perilaku mereka. Edward sengaja memang menyetir sendiri mobilnya.
Rhea langsung berteriak melihat London Eye ketika mereka sampai di landmark kebanggaan kota London. Edward sendiri sudah menyiapkan acara makan siang disana.
Dua keluarga itu menikmati acara menaiki bianglala. Rhea banyak bertanya yang dijawab oleh Duncan dan Edward dengan sabar sampai-sampai Ghani sebal sendiri.
Usai menikmati London Eye, mereka semua menuju restauran La Cucina di Mama sebuah restauran Italia yang sudah dipesan oleh Edward.
Abi dan Dara sangat menyukai interior restauran yang lokasinya tidak jauh dari London Eye itu. Mereka memesan pizza dan pasta serta salad. Dan lagi-lagi Duncan membantu Dara untuk memakan pizza-nya.
"Modus terus" ledek Ghani.
"Don't be so envy, G" kekeh Duncan.
Mereka pun menikmati acara makan siang yang lezat ini. Pemilik restauran malah datang menghampiri Edward dan keduanya saling mengobrol dengan bahasa Italia sesekali ditimpali oleh Yuna.
"Enjoy the food gentlemen, ladies, children" sapa sang pemilik ramah.
Semuanya berterimakasih atas hidangan yang lezat ini kepada sang pemilik.
"Setelah makan, kita langsung ke museum Sherlock Holmes karena tutup jam lima sore sedangkan ini sudah jam satu siang" ucap Edward.
"Iyesss!" seru Ghani senang. Gozali hanya tersenyum melihat G semangat.
Abi dan Dara hanya tersenyum melihat ketiga anaknya bahagia bisa berlibur bersama.
***
Yuhuuu
Up dulu Yaaaa
Kalau nggak ketiduran, tar malam up tapi kalau kebablasan, ya besok.
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️