Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Hari Yang Damai...


Ghani seolah melupakan perseteruannya dengan Duncan ketika mereka melanjutkan acara jalan-jalannya ke museum Sherlock Holmes yang terletak di 221b Baker Street, sama dengan alamat yang dipakai Sir Arthur Conan Doyle untuk memberikan alamat rumah detektif yang jago bermain biola itu.


Sepanjang perjalanan Ghani melihat pemandangan kota London dengan antusias. Yuna melihat kali ini Ghani sangat semangat dan antusias.


Melewati jalanan London yang agak padat karena banyaknya orang yang hendak berbelanja untuk natal, Rhea pun tertidur didalam pangkuan Dara.


"Bu, kaki dik Rhea biar di pahaku saja, biar enak tidurnya" tawar Gozali melihat posisi Rhea yang meringkuk di pangkuan Dara. "Nanti pinggangnya pegal tuh si adik."


"Kamu nggak papa ditindih kakinya Rhea?"


"Nggak papa Bu, kasihan dik Rhea nggak nyaman."


Akhirnya Dara membiarkan Gozali mengangkat kaki Rhea yang terbalut jeans dan boot UGG anak-anak bewarna pink. Putri cantiknya tampak tidak terusik dan tetap melanjutkan tidurnya dengan kepala di atas paha ibunya.


Ketiga mobil Range Rover itu sampai di tempat parkir yang disediakan dan dekat dengan lokasi museum Sherlock Holmes. Ghani dengan semangat berjalan bersama Edward, sedangkan Yuna berjalan dengan Duncan.



Abi pun turun untuk menemani putranya namun melihat Dara sedang memangku Rhea, ada rasa dilema tidak mau meninggalkan istri dan putrinya.


"Mas temani G sana, aku nggak papa disini lagian ada pengawal juga" ucap Dara. Yuna dan Duncan menghampiri mobil Abi, melihat Abi masih berdiri di depan pintu belakang yang terbuka.


"Lho kalian nggak turun?" tanya Yuna.


"Ini Rhea bobok di pangkuan Adara dan kami tidak mau mengganggu nya" jawab Abi.


Duncan pun melongok ke kursi belakang dan betapa terkejutnya melihat kaki Rhea berada di pangkuan Gozali.


"Goz, kamu turun deh. Katanya mau lihat museum bareng G." Dara membujuk Gozali supaya tidak rugi karena sudah sampai museum.


"Tapi dik Rhea..."


"Rey biar sama aku!" sergah Duncan. "Kamu ikut masuk sana sama Oom Abi dan mommy." Duncan pun berjalan memutar lalu membuka pintu belakang tempat Gozali duduk.


Gozali pun pelan-pelan menurunkan kaki Rhea hingga ke kursi lalu dia turun ke arah Abi yang sudah menunggu.


Yuna dan Duncan akhirnya memutuskan untuk menemani Dara di mobil. Duncan duduk di sebelah Dara dan membiarkan kaki Rhea berada di pangkuannya. Yuna sendiri duduk di depan sebelah supir.


"Anak cantik pasti kelelahan dan kekenyangan itu" kekeh Yuna.


"Dia terlalu senang akhirnya keinginannya terwujud. Soalnya mas Abi pernah berjanji kalau Rhea lulus ujian piano dan naik tingkat, akan diajak ke London." Dara mengusap kepala Rhea dengan sayang.


"Apa Rey akan menjadi pianis, Tante?" tanya Duncan sembari melihat wajah Rhea yang terlelap.


"Tampaknya. Oom sama Tante sih nggak masalah Rhea mau jadi pianis atau apapun asal itu memang keinginan dan passionnya. Lagipula Rhea memang berbakat, gurunya juga mendukung. Kami sebagai orangtuanya memberi full support agar anak-anak mencintai semua yang disukainya asalkan semua itu positif."


"Bagaimana perusahaan Abi jika salah satu dari anakmu nggak ada yang mau meneruskan?" tanya Yuna.


"Belum kami pikirkan." Dara menatap Yuna. "Aku percaya dengan mas Abi pasti sudah memiliki rencana tersendiri."


Keempatnya menunggu para pria yang asyik berada di dalam museum hingga selesai.


Malam ini Edward memutuskan untuk makan malam di mansion saja karena mereka semua merasa lelah tapi tidak Ghani yang heboh semangat menceritakan museum Sherlock Holmes. Ghani juga tidak peduli Duncan pindah duduk di mobil Daddynya bukan di mobilnya sendiri.


***


Pagi ini keluarga Blair dan Giandra berjalan-jalan ke London Bridge, British Museum, Science Museum dan akhirnya menuju Warner Bros Studio melihat cara pembuatan Harry Potter dimana Dara sangat menyukai novel milik JK Rowling itu.


Menjelang sore mereka pun berbelanja di Westfield dimana anak-anak asyik memilih banyak cake disana. dan membeli untuk dibawa pulang sebagai camilan.



Dara dan Yuna pun membeli beberapa baju dan aksesoris sedangkan Abi dan Edward membeli beberapa perlengkapan khas pria. Anak-anak pun membeli baju dan buku disana.


Edward sudah menyiapkan tempat makan malam di sebuah restauran milik keluarga McGregor-Blair yang menunya khas Inggris berupa roast chicken.



Usai makan malam, semuanya pun memutuskan pulang karena anak-anak tampak sudah lelah. Ghani dan Duncan bahkan langsung tertidur begitu sudah berada di dalam mobil.


Gozali dan Rhea pun sudah tertidur karena kekenyangan. Roast chicken buatan chef di restauran milik Keluarga McGregor-Blair memang sangat lezat bahkan Ghani tanpa malu meminta tambah.


Sesampainya di mansion, Edward meminta para pelayan untuk membuatkan kopi dan hot chcoco panas sementara Abi menggendong Rhea ke kamarnya dan para pengawal menggendong Ghani dan Gozali karena mereka susah dibangunkan untuk dibawa ke kamar mereka.


Dara menggantikan baju pergi Rhea menjadi baju tidur. Begitu juga Abi yang melepaskan sepatu dan mantel musim dingin Ghani dan Gozali.



"Yuk nikmati kopi dan hot choco" ajak Yuna.


"Ini anak-anak pada beli cake dan roti malah nggak dimakan" kekeh Dara melihat banyaknya makanan yang dibeli anak-anak.


"Kita harus sering-sering seperti ini Bi. Sayang Stephen belum datang" sahut Edward sembari menggigit sandwich.


"Stephen akan kemari?" tanya Abi sembari menggigit coklat cake yang dipegang Dara.


"Bersama Diana, anak-anak dan Marcell."


Abi memutar matanya dengan malas. "Ngapain cowok minus akhlak itu ikut ke London?"


"Hei, dia teman kita juga Bi."


"Hah, liburanku jadi berantakan" keluh Abi.


"Wrong! Liburan kita jadi ramai" kekeh Edward.


Yuna dan Dara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar suami mereka masing-masing heboh semaunya sendiri.


"Besok acara kemana lagi?" tanya Dara.


"Mau ke Emirates atau Stamford Bridge?" tawar Edward.


"Dua-duanya lebih afdol Ed meskipun aku bukan penggemar berat kedua klub itu" jawab Abi.


"Kamu fansnya Persija kayaknya" gelak Edward.


"Wrong! Aku tidak suka sepakbola" jawab Abi.


"Haaaahhhh? Kamu sukanya olahraga apa?"


"Olahraga bersama istriku... Aadduuhhh!" Abi mengusap perutnya yang terkena cubitan Dara.


"Mbok jangan vulgar Thow mas!" pelotot Dara.


"Lho sayang, bener kan. Itu olahraga paling menyenangkan!" bela Abi.


"Benar tuh Bi. Untuk hal ini aku setuju! Aduh!" Edward meringis ketika Yuna memukul bahunya.


"Kenapa sih istri kita pada bar-bar ya Bi?" curhat Edward dengan wajah memelas.


"Kami bar-bar karena suami kami kadang lemes banget mulutnya!" sahut Yuna kesal.


"Darling please, kita kan sudah sama-sama dewasa" kekeh Edward.


"Tapi nggak perlu diumbar kan sayang?" Yuna menatap tajam suaminya.


Edward menatap Abi. "Alamat aku tidur di sofa ini Bi. Istriku lagi mode jutek."


Abi dan Dara tertawa terbahak-bahak.


***


Yuhuuu


Up pagi Yaaaa


Eniwaiii novel You're The Only One udah tamat Yaaaa


Sembari menyelesaikan Abi dan Dara, author sudah mempersiapkan lanjutan n spinoff keluarga Gesrek ini.


Insyaallah abis natalan yaaa soalnya Eike harus recharge otak, mood, data n wangsit.


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️