
Dara mematut kan dandanan dan baju yang dipakainya. Hari ini dia ingin tampil berbeda, bukan Bu Dara yang biasa dipanggil oleh murid-muridnya atau Adara oleh Abi yang biasa melihat Dara sederhana.
"Adara? Sudah siap?" suara Abi terdengar di pintu penghubung.
"Sudah mas."
"Aku tunggu di bawah ya!"
"Iya mas."
Dara mengambil tas clutch hitamnya membuka pintu dan berjalan menuruni tangga. Abi yang sudah siap terkesima melihat istrinya yang tampil beda.
Astaghfirullah istri aku!
Abi masih melongo meskipun Dara sudah berada berada di depannya.
"Mas, ayo berangkat. Nanti kita terlambat sudah ditunggu Stephen dan Diana. Kok malah bengong?" tanya Dara bingung.
"Masyaallah, Adara. Kamu cantik sekali" bisik Abi yang jujur tidak ikhlas membawa istri cantiknya ke acara dobel date dinner sama Stephen dan Diana.
"Terimakasih, mas" senyum Dara.
Abi memberikan lengannya untuk digamit Dara. Keduanya kemudian berjalan keluar menuju Range Rover Abi.
"Woooiiii, kalian pada mau kemana?" tanya Antasena yang baru keluar kamar mau makan malam.
Pasangan itu berbalik dan Antasena terpesona melihat Dara.
"Ya Allah mbak Rara cantiknya" puji Antasena.
"Mata dijaga Anta!" bentak Abi sebal.
"Eh ga bisa mas, mata mataku juga" kekeh Antasena. "Dijaga ya mas mbak Rara nya, jangan sampai digondol pria lain."
Abi langsung jutek mode on mendengar ucapan Antasena.
"Ooopppsss! Have fun ya berdua!" Antasena langsung kabur ke ruang makan.
"Anak itu!" umpat Abi. "Udah, kita berangkat sekarang."
Dara hanya tersenyum mendengar Omelan Abi.
***
Restoran VR ini terletak di lokasi elit Selatan kota Jakarta. Banyak tamu undangan yang berasal dari keluarga terkenal. Abi meminta Dara untuk tidak melepaskan pegangannya dari tangannya.
Sepanjang masuk restoran, Abi menyapa beberapa koleganya yang dia kenal sembari memperkenalkan Dara sebagai istrinya. Bahkan semakin masuk, Dara mulai mengenali beberapa pemegang saham di perusahaan Abi yang sempat bertemu dengannya beberapa waktu lalu.
Mereka mengobrol sedikit ketika Abi merasa punggungnya ditepuk oleh seseorang. Abi pun menoleh.
"Eh bro!" sapanya pada Stephen. Keduanya saling berpelukan. Stephen Blair adalah seorang pengacara perdata internasional khusus untuk klien-klien kelas atas.
"Adara, kenalkan ini Stephen Blair dan istrinya Diana yang mengobati kamu kemarin." Abi memperkenalkan Dara pada dua sahabatnya.
Dara pun bersalaman dengan pria bule tampan berambut hitam dan bermata biru itu lalu saling cipika cipiki dengan Diana.
Stephen Blair
Sedangkan Diana Blair adalah seorang dokter spesialis jantung yang terkenal. Malam ini keduanya tampil mirip dengan Abi dan Dara. Sama-sama mengenakan suit dan gaun hitam.
Diana Blair
Hanya bedanya, Diana memakai selendang ethnic bewarna merah, sedangkan Dara tidak.
"Dara, akhirnya bisa bertemu denganmu dengan kondisi fit" kekeh Diana ramah.
"Waktu kami datang ke pernikahan kalian di Solo, malah belum sempat ngobrol ya" sambung Stephen.
"Terimakasih mbak Diana, mas Stephen kemarin. Sampai nyempatin ke rumah buat ngobatin saya" senyum Dara manis.
"Haish, Abi itu sahabat kami, wajar lah kami membantunya apalagi istri tercintanya lagi sakit" goda Stephen yang sukses membuat wajah Abi memerah.
"Yuk kita ke tempat duduk yang sudah disiapkan" Diana menggamit Dara meninggalkan para pria yang masih berpamitan dengan beberapa koleganya.
Diana dan Dara sudah sampai di sebuah meja makan bundar yang disiapkan dengan cantik. Ada nama 'Blair' diatas meja berisi delapan kursi itu.
"Kita duduk sini Dara" ajak Diana.
"Apa meja ini harus berisi delapan orang?" bisik Dara. Jujur ini kali pertama dia datang ke acara seperti ini.
"Tidak mesti sih tapi aku yakin, nanti kakak iparku juga datang bersama istrinya. Nama kakak iparku adalah Edward Blair, istrinya bernama Yuna Pratomo. Pernah dengar kan nama keluarga Pratomo?" Dara mengangguk. Siapa yang tidak tahu PRC group yang bergerak di bidang arsitektur dan hasil karyanya tersebar dimana-mana. ( iklan ๐๐๐ ).
"Halo sayang" sapa Stephen sambil mencium pipi Diana dan duduk di sebelahnya.
Abi pun duduk di sebelah Dara dan menggenggam tangannya.
"Sudah selesai bicara bisnis kalian para pria?" tanya Diana sambil tertawa.
"Boring talk" komen Stephen malas. Abi hanya tersenyum.
"Halo, big brother" Stephen memeluk kakaknya dan mencium pipi wanita cantik yang mengenakan gaun pesta model back less warna hitam dengan rambut disanggul.
Pria berambut blonde itu menghampiri Diana dan mencium pipi wanita itu disusul oleh wanita cantik yang tadi di belakangnya.
"Mbak Yuna, apa kabar" seru Diana heboh bertemu kakak iparnya. "Ohya kenalkan ini sahabat kami Abimanyu Giandra dan istrinya Adara Utari"
"Halo, aku Yuna Pratomo Blair dan yang rambut pirang lagi ghibah itu suamiku, Edward Blair" sapa Yuna ramah.
Edward Blair
Yuna Pratomo Blair.
Abi dan Dara bergantian bersalamam dengan Yuna Pratomo. Tak lama Edward pun menghampiri keduanya.
"Ini yang namanya Abimanyu Giandra, Steve?" tanya Edward kepada adiknya.
"Hu um, dia sahabat Diana waktu SMA dan sekarang jadi sahabatku."
"Senang bertemu denganmu Abi dan...?"
"Dara."
"Namanya cantik sesuai dengan orangnya" kekeh Edward. "Tapi masih cantik istriku" gelaknya sambil memeluk pinggang Yuna yang memutar matanya dengan malas.
"Sekarang bilang cantik, dulu bencinya minta ampun sama aku" balas Yuna sebal.
"Soalnya aku sudah kamu pelet, darling." senyum Edward jahil.
"Please deh!"
"Udah, big bro duduk lah kalian berdua. Nggak akan selesai kalian kalau berdebat!" omel Stephen yang hapal dengan sifat kedua kakak dan iparnya.
Keenam pria dan wanita yang good looking itu terlibat pembicaraan yang seru. Bahkan Dara surprise kalau Yuna ternyata bekerja sebagai kurator.
"Aku kira mbak Yuna meneruskan bisnis keluarga" komentar Dara.
"Nggak lah, bukan passion ku dan untungnya Edward mengijinkan aku bekerja" jawab Yuna. "Kalau kamu kerja dimana Dara?"
"Aku bekerja sebagai guru bimbingan konseling di SMA Jakarta Internasional."
"Lulusan psikologi?" tanya Diana.
Dara pun mengangguk.
"Bagus tuh Dara, aku selalu mendukung wanita yang memiliki passion akan pekerjaannya. Abi, tolong jangan larang istrimu bekerja, apalagi menjadi guru, itu mulia bangets. Tapi kalau Dara mulai hamil, baru kalian memutuskan bagaimana. Kamu belum hamil kah?" tanya Yuna. Abi hanya mengangguk tidak tahu harus komentar apa.
"Belum mbak."
"Dinikmati saja pacaran legalnya" sahut Diana.
Abi dan Dara hanya saling pandang sambil tersenyum.
"Sudahkah aku bilang kamu cantik malam ini, Adara?" bisik Abi di telinga Dara yang membuat nya merinding.
( gimana bang Abi ga klepek klepek ya wong Dara dandanan nya begini )
"Sudah beberapa kali mas" bisik Dara lagi.
Tak lama MC pun memulai acara dan memperkenalkan restoran ini baik visi misi dan signature food dan meal yang ditonjolkan.
Tangan Abi sedari tadi tetap menggenggam tangan Dara hingga saat MC memperkenalkan siapa pemiliknya, cengkraman Abi di tangan Dara semakin mengetat.
"Inilah owner restoran VR yang tidak usah diragukan lagi kemampuannya, Tuan Damien Xavier!"
Dara melongo melihat Damien tampil bersama putrinya Maya sedangkan Abi mengeraskan rahangnya.
Sikap pasangan suami-istri itu tak luput dari pandangan keempat orang yang berada di satu meja dengan Abi dan Dara.
Stephen dan Diana saling memandang satu sama lain.
Bagaimana ini?
***
Triple Up yaaaaa
Full of visuals
Dan maaf mencomot babang Edward Blair dari novelku yang lain walaupun tadinya kagak mau ta masukkan tapi hanya sebagai cameo kok.
Lanjut besok lagi yaaaa
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu โค๏ธ๐โค๏ธ