Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Meet the Psycho


Abi memandang keluar jendela memikirkan istri dan anaknya. Tadi dia sudah mau bangun dari tempat tidurnya, namun rasa pusing menerjangnya lagi. Diana memberitahukan bahwa dirinya mengalami gegar otak ringan. Beruntung dia hanya mengalami pusing berat tapi tidak sampai mengalami amnesia.


Edward, Bram dan Bryan sudah datang dengan membawa pengawal dari keluarga Pratomo yang dikirimkan oleh Nabila, kakak sepupu Yuna yang mengetahui kejadiannya. Kini ruang rawat Abi, penuh dengan laptop dan berbagai macam peralatan canggih milik Bram dan Bryan. Edward sendiri bersama Marcell menyelidiki di lokasi kejadian.


Keluarga Dara sudah tahu kejadian yang menimpa putri mereka, bahkan Bu Haryono sampai pingsan mendengarnya. Andra pun mengambil cuti panjang untuk menemani kedua orangtuanya. Stephen sebagai wakil keluarga Abi, meminta agar kedua mertua dan kakak iparnya tetap tinggal di solo agar tidak memperkeruh situasi di Jakarta.


Mengetahui sahabat iparnya mengalami musibah, Hiroshi Al Jordan meminta asistennya Rudy Akandra mengirimkan penjaga bayangan ke keluarga Dara. Bagi Hiro, ini kejahatan luar biasa dan mereka tidak mau kecolongan karena sampai sekarang belum tahu motif orang yang menculik Dara apakah dendam dengan Abi atau persaingan bisnis.


Antasena dan Jun yang akan menghandle semua pekerjaan Abi selama dia berada di rumah sakit dan mencari Dara. Meskipun dia masih nelangsa belum menemukan titik terang siapa penculik dan dimana istrinya, Abi bersyukur banyak pihak dan sahabat-sahabat baik yang membantunya tanpa pamrih.


Diana masuk membawakan makanan untuk Abi karena pria itu menolak makanan dari rumah sakit.


"Bi, makan dulu" bujuk Diana.


"Aku nggak selera makan Di" sahut Abi pelan.


Bagaimana aku bisa makan kalau aku tidak tahu kabar istri dan anakku.


"Makan dulu. Kalau kamu nggak makan, kamu akan lebih parah kondisinya, bagaimana bisa mencari Dara dan anakmu?" bujuk Diana lagi sambil membuka kotak makan yang berisi nasi uduk lengkap.


"Apa aku suapin?" tanya Diana demi Abi mau makan.


"Nggak usah, nanti Stephen ngamuk." Bibir Abi agak tertarik sedikit keatas.


"Ya udah, dimaem dulu. Dikit nggak papa asal ada yang masuk ke dalam perut. Kamu ada keluhan lain nggak selain pusing? Mual ga Bi? Atau ada sesuatu yang kamu nggak ingat?" Diana mulai menyenter mata Abi mengecek kesehatan sahabatnya yang sudah seperti kakaknya sendiri.


"Nggak sih, cuma pusing ajah" jawab Abi setelah dicek oleh Diana.


"Minum obatnya secara teratur Bi, untuk menghilangkan sakit kepalamu. Nanti dokter syaraf akan mengecek kamu keseluruhan soalnya ini kan bukan ranah aku" senyum Diana.


"Bi, sampai sekarang nggak ada pesan dari penculik Dara di ponselmu" potong Bram. Sejak klan McGregor datang, ponsel Abi sudah diminta Bram untuk dicek. Ponsel Dara yang jatuh di dekat mobil Abi pun sudah dicek dan tidak ada hal yang mencurigakan.


"Haaaiissshhhh, siapa yang berani menculik Adara" umpat Abi yang kemudian berdesis merasa kepalanya sakit lagi.


"Jaga emosi kamu dulu, tensi tinggi mempengaruhi sakit kepalamu" ucap Diana sambil mengusap-usap lengan Abi karena posisi dokter cantik itu berdiri di pinggir tempat tidur Abi.


"Aku sudah mengecek posisi Damien Xavier dan dia menghilang dari Moskow" Bryan mendapatkan laporan dari anak buahnya yang berada di Moskow.


"Damien? Apa hubungannya dengan Damien?" tanya Abi bingung.


"Apakah kamu tahu kalau Damien sangat menyukai istrimu?" Suara Edward terdengar di depan pintu kamar Abi.


Abi ternganga.


***


"Kamu!" seru Dara emosi. "Kembalikan aku ke suamiku! Brengsek kau!"


"Nikmatilah dulu di pantai yang indah ini, Dara. Apa kamarmu kurang nyaman? Tenang saja, aku akan merawatmu dan anak kita" seringai pria itu.


"Anak kita? Anak kita? Apa kamu sudah gila atau halumu terlalu overload? Ini bukan anak kamu!" bentak Dara.


"Bagiku tetap anak kita, Dara." Pria itu kemudian berjalan pelan mendekati Dara yang mundur selangkah demi selangkah menghindari pria itu hingga akhirnya dia menempel ke meja rias dan posisinya terpojok.


Dara menyiapkan sisir kecilnya dan berjaga-jaga jika pria itu macam-macam, dia akan menusuknya.


"Ujung sisir itu tidak akan mudah menusukku, Dara. Badanku terlalu kuat dan ujung sisir itu akan patah sebelum menembus kulitku" kekehnya.


"Setidaknya aku mencoba!" bentak Dara yang berusaha tegar dan berani walaupun sempat takut ketika ketahuan menyimpan sisir itu dibalik tangannya.


Pria itu semakin mendekati Dara dan berusaha mengelus pipi Dara yang memalingkan wajahnya. Dan dengan kekuatan yang entah dari mana, bumil itu berusaha menusukkan ujung sisir yang runcing ke perut pria itu namun gerakannya dapat dibaca dan tangannya pun dicengkeram oleh penculiknya.


"Aku bilang percuma saja kau mencoba menyakitiku karena aku tidak akan pernah menyakitimu. Kamu adalah milikku, bukan milik Abi sialan itu!"


"Akan ada dokter kandungan yang akan memeriksa mu secara berkala karena aku tidak mau anak kita kenapa-kenapa" senyumnya yang membuat Dara jijik, muak dan merinding.


Pria itu mengambil sejumput rambut panjang Dara dan menciumnya.


"Selalu kamu harum Jasmine, Daraku" ucap pria itu sambil mengelus-elus rambutnya.


"Kalau kamu mau mandi, pakaianmu ada di lemari, sudah aku siapkan semua. Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri karena kamar ini sudah dipasang CCTV dimana-mana kecuali kamar mandi karena itu privacy mu."


Pria itu pun melangkah meninggalkan Dara dan mengunci pintunya. Dara pun merosot ke lantai, kakinya terasa lemah dan seluruh tubuhnya bergetar. Tak lama dia pun menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya.


"Mas Abi... Mas Abi... Tolong Dara" bisiknya berulang-ulang.


***


"Adaraaaaa!" teriak Abi mengagetkan semua orang yang berada di ruang rawatnya. Keringat dingin mulai mengucur di wajahnya. Tadi Abi diberi obat lagi oleh dokter syaraf karena dia merasa pusing dan akhirnya tertidur karena reaksi obatnya.


"Abi, Abi... Sadar, sadar" Diana menepuk-nepuk bahu Abi yang langsung memeluk Diana dengan tubuh gemetar.


"Adara manggil-manggil aku Di. Dia minta tolong padaku Di tapi aku tidak bisa menolongnya" raungnya di pelukan Diana.



"Kamu sehatkan dirimu dulu Bi. Semangat mencari Dara!" perintah Edward yang sekarang sudah mengganti jasnya dengan kaos dan celana jeans.


"Ayo, kemana Abimanyu Giandra yang kuat? Kalau kamu kuat, Dara pun akan merasakannya." Stephen menepuk bahu Abi. Sedikitpun dia tidak merasa cemburu melihat istrinya dipeluk karena dia tahu bagaimana persahabatan keduanya.


"Aku sudah menemukan mobil yang dipakai menculik Dara" suara Bryan membuat semuanya menoleh ke arah pria dengan wajah dingin itu.



Bryan Smith, tangan kanannya Edward Blair


"Dimana?" tanya Edward.


"Dibuang dekat Bandara Soekarno Hatta. Disamarkan dengan mobil yang terparkir harian" Bryan menunjukkan hasil foto CCTV di area parkir bandara.


"Cek semua manifest penerbangan malam itu termasuk pesawat pribadi. Kalau perlu hack semua, Bry!" perintah Edward.


"Considered it is done!"


Sebuah harapan terbit di hati Abi mendengar mereka mendapatkan petunjuk.


Semoga kalian berdua selamat. Adara, kamu harus kuat demi anak kita karena aku pun kuat agar kita bisa berkumpul kembali. Tunggu aku! Akan aku selamatkan kalian!


***


Yuhuuu


Up dulu yaaaa satu chapter


Jujur masih belajar nulis cerita menegangkan begini


Maapkeun kalau belum sesuai ekspektasi


Eniwaiii, sudah bisa nebak belum???


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️