Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Emang Udah Jodoh Kok!


Liburan Natal tahun ini adalah liburan yang ditunggu-tunggu oleh Duncan. Dia sudah ribut dengan mommynya yang tidak bisa mendampinginya ke Jakarta karena ada pameran lukisan di London. Mendengar istri dan putranya ribut hanya gara-gara Duncan mau melakukan janji kelingking beneran setelah kemarin secara virtual, akhirnya Edward mengambil jalan tengah.


"Assalamualaikum" sahut suara disana.


"Wa'alaikum salam Bi" cengir Edward.


"Ada apa Ed?" suara Abi sudah terdengar malas.


Edward terbahak. "Jangan suudzon gitu lah Bi."


"Padamu, aku selalu suudzon!" ucap Abi sarkasme.


"Anyway, Duncan liburan Natal tahun ini minta ke Jakarta tapi Yuna sudah ada jadwal pameran di The National Gallery. Aku harus menemani Yuna."


"Lalu?" perasaan Abi sudah tidak enak.


"Aku titipkan Duncan padamu ya."


Damn it Edward! Sudah kuduga!


"Kenapa tidak kamu titipkan pada Stephen?"


"Stephen dan Diana bersama anak-anak terbang ke Swiss sekalian melihat sekolah disana. Rencananya mereka akan masuk asrama di Zürich."


Sial!


"Meskipun aku menolak, kamu tetap mengirim Duncan ke Jakarta kan?"


"Syukurlah kamu paham!" gelak Edward yang entah kenapa membuat Abi dongkol dan ingin memukulnya.


"Berapa lama Duncan akan berada di Jakarta?"


Yes! D, kamu harus berterimakasih dengan Dad nanti!


"Sampai tgl 2 Januari karena tanggal 4 Duncan sudah harus masuk asrama."


"Ya sudah. Aku ijinkan Duncan tidur di rumahku, bersama G nanti sekamar."


"Thanks Bi, kamu memang calon besan yang baik!"


"Damn you Ed!"


***


Ketiga bocah di meja makan itu bereaksi berbeda. Ghani dengan wajah kesal, Gozali dengan wajah dingin dan hanya Rhea yang bersemangat mendengar Abang D nya datang menginap.


"Emang Abang D nggak bisa gitu tinggal di rumahnya disini atau sama Oom Stephen gitu?" protes Ghani.


"Oom Stephen berangkat ke Swiss karena Nadya dan Neil akan masuk asrama disana" ucap Abi.


"Duncan masih di bawah umur G, tidak mungkin tinggal sendirian di rumahnya juga meskipun ada pelayan disana" sahut Dara.


"Mommy itu apa nggak tahu modusnya Abang D ke dik Rhea?" Ghani menatap wajah ibunya dengan tatapan kesal.


Dara dan Abi hanya tertawa geli melihat putranya kesal.


"Mas, kan nggak apa Abang D disini. Lagian Dik Rhea sudah janjian sama Abang kok natalan mau janji kelingking" ucap Rhea polos.


"Hah? Kamu janjian apa sama Abang D, princess?" tanya Abi.


"Janji jadi kayak mom dan dad kalau dik Rhea udah besar nanti."


"Maksudnya gimana sayang?" tanya Dara bingung.


"Dik Rhea janji jadi istrinya Abang Duncan" cekikik Rhea sambil menutup mulutnya.


"Astaghfirullah!"


Abi langsung menepok jidatnya, Dara hanya terkesiap, Ghani melongo dan Gozali menatap dengan wajah sedih.


"Aku harus telpon Edward!"


***


Edward hanya tertawa terbahak-bahak mendengar Omelan Abi bagaikan kecepatan komet Halley. Hot Daddy itu sedang berada di ruang kerjanya melakukan panggilan video via iMac nya.



"Kan aku sudah bilang, Rhea itu punya Duncan, Duncan punya Rhea!" gelaknya.


"Kamu kan yang ngajarin!" hardik Abi kesal.


"Whoah! Sabar bro, aku tidak pernah ngajarin tapi gen keturunan kami memang kuat. Kalau kami sudah menyukai dan mencintai seseorang, kami tidak akan melepaskannya!" Edward pun mengirimkan video saat Duncan dan Rhea ngobrol disaat Rhea setuju menjadi istri Duncan.


Abi terbengong-bengong. "Ya ampun, Rhea masih enam tahun!"


"Tapi dia sudah suka dengan D lho Bi. Harusnya kamu bersyukur, anakmu dan anakku tidak perlu dipaksakan untuk dijodohkan sudah mau sendiri berdua."


"Anakmu memanipulasi anakku!"


"Coba kamu iseng tanya Rhea, antara D dan Gozali, mana yang dia pilih?"


"Astaga! Kenapa bawa-bawa Gozali?" tanya Abi.


"Mereka kan kakak adik, Ed!"


"Tanpa hubungan darah! Bukan hal yang aneh kalau kakak angkat jatuh cinta dengan adik angkatnya sendiri. Dan aku bersyukur Duncan sudah mengikat Rhea dari bayi dan Rhea pun suka sama anakku."


Abi pun berpikir.


Apa benar Gozali memiliki perasaan lebih dari sekedar kakak ke adiknya? Tapi dia baru berumur 10 tahun. Eh tapi Duncan dari usia tujuh tahun sudah mengklaim Rhea jadi miliknya.


"Anak jaman sekarang matangnya terlalu cepat!" keluh Abi.


"Selamat datang di generasi milenial Bi."


"Haaaiissshhhh!"


***


Dara kini berada di kamar Rhea berdua. Ibu cantik itu ingin mengajak bicara Rhea tentang janji jari kelingking putrinya dengan Duncan.


"Jadi waktu Rhea dapat anting dari Abang Duncan terus telpon itu, Abang minta Rhea jadi istrinya?" tanya Dara hati-hati.


"Iya."


"Kenapa?"


"Nggak tahu mommy tapi dik Rhea mau kayak mommy dan Daddy sama bang Duncan."


Dara hanya terbengong.


Apa karena pada saat hamil Rhea, Duncan selalu berbisik di perutnya dan mengatakan akan selalu sayang dengannya. Bahkan saat baru lahir, Duncan sudah mengatakan Rhea adalah miliknya? Jadi ikatan batin itu sudah terjalin sejak dalam kandungan?


"Apa Rhea yakin?" tanya Dara lagi.


"Hu um. Dik Rhea maunya sama Abang Duncan" ucap gadis cilik itu sembari tanpa sadar mengusap anting bunga pemberian Duncan.


"Ehem Rhea. Kamu kan masih kecil, jadi masih belum paham apa yang dimaksud sama bang Duncan."


"Hhhmmm tapi dik Rhea tetap mau sama Bang Duncan." Dara mencari keraguan di wajah Rhea namun tidak menemukan sama sekali.


"Rhea, misal nih, kalau ada yang suka sama Rhea pas sudah besar gitu gimana?"


"Nggak ada yang bisa ngalahin Abang Duncan."


Dara tertawa. Gadis cilik nya ternyata sama obsesinya dengan Duncan.


"Kalau Bang Gozali suka sama Rhea gimana?" tanya Dara karena tadi sebelum masuk ke kamar Rhea, Abi sempat cerita sekilas percakapannya dengan Edward.


Rhea tertawa terbahak-bahak. "Mommy, sudah dik Rhea bilang, bang Gozali itu kayak mas Ghani."


"Baiklah, sayang."


***


Di kamar Abi dan Dara, kedua pasutri itu sama-sama tidak bisa tidur memikirkan putri mereka dengan Duncan Blair.


"Sayang, apa kita yang terlalu tua atau mereka yang terlalu cepat paham soal cinta-cintaan?" tanya Abi sembari terlentang dengan kedua tangannya dijadikan bantal untuk kepalanya.


"Aku tidak tahu mas. Aku sendiri juga bingung" jawab Dara.


"Menurut mu, apa kita harus cegah atau gimana?"


Dara memiringkan tubuhnya dan menghadap ke Abi.


"Biarkan mereka seperti itu dulu. Nanti semakin besar, Rhea akan lebih paham bahwa dunianya bukan hanya Duncan di hatinya."


"Terus terang aku tidak menyangka akan selelah ini memikirkan Rhea. Benar katamu, punya anak perempuan jauh lebih rumit."


Dara membenarkan posisinya yang sekarang tubuhnya menindih tubuh suaminya. Wajah cantiknya menatap Abi dengan lembut.


"Semua anak itu sebenarnya sama masalahnya, hanya saja anak perempuan lebih ekstra menjaganya apalagi di dunia jaman sekarang. Jadi mas, harus menyempatkan diri ngobrol dengan duo G tidak sebagai dad dan sons, tapi sebagai teman. Mereka sebentar lagi remaja dan masuk SMP sebelum waktunya jadi tugas mas yang memberi bekal kehidupan sebagai laki-laki."


Abi menatap Dara. "Oke sayangku. Rhea bagianmu, duo G bagianku."


"Terimakasih mas."


"Sekarang bagianku yang mengajari nikmatnya menikah" goda Abi jahil.


"Haddeehhh suamikuuuu!"


***


Yuhuuu


Up siang Yaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️