
Dara berangkat ke kantor dengan menyetir mobilnya sendiri, mobil hitam yang dia beri beberapa aksesoris yang sedikit girly agar tidak terlalu tampak maskulin.
Sengaja Dara berangkat pagi-pagi apalagi hari ini ada upacara bendera jadi ada alasan dia berangkat terlebih dahulu. Dia juga sudah membuat memo di depan pintu kamar Abi dan di meja makan.
Hati Dara masih mendongkol akibat ucapan Abi kemarin yang dengan entengnya menyuruh berhenti bekerja padahal saat itu dia ingin berbagi cerita tentang apa yang terjadi selama dia menjadi guru pembimbing
"Mas Abi brengseeeekkkk!!!" teriaknya kesal di dalam mobil. Seumur hidupnya baru kali ini dia memaki orang dengan penuh kemarahan dan celakanya orang itu adalah suaminya sendiri.
***
Abi bangun kesiangan. Jujur gegara kemarin dia asal membuka mulutnya, Dara memilih mendiamkan Abi. Meskipun tetap makan di meja makan bersama, Dara hanya mau ngobrol dengan Antasena. Tentu saja membuat hati Abi panas karena merasa diacuhkan. Namun dia sendiri merasa gengsi untuk mengucapkan maaf karena menurut logikanya kalau tidak betah ya out.
"Damn Adaraaaaa!!!"
Abi masuk ke dalam kamar mandi dan membiarkan air dingin mengguyur kepalanya. Benar-benar hatinya lagi posisi amburadul. Dulu pada saat bersama Yanti, tidak pernah Abi merasakan hal ini. Gadis bernama Adara Utari memang benar-benar memporak porandakan hati dan otaknya!
***
Abi sudah bersiap-siap berangkat kantor dan menutup pintu kamarnya ketika melihat sebuah kertas post it bewarna biru di pintu.
*Mas Abi, aku berangkat duluan ke sekolah.
Ada upacara. Jangan lupa sarapan.
Dara*.
Abi rasanya ingin meremas kertas kecil itu namun hati kecilnya menyuruhnya untuk menyimpannya di dompetnya. Rasanya seperti mendapat hadiah dari Dara meskipun hanya berupa memo.
Abi turun menuju meja makan dan menemukan sepiring sandwich ayam diberi mayonaise. Lagi-lagi sebuah post it pink berada dekat piring.
Maaf hanya chicken sandwich yang aku buat.
Habiskan!
Abi tersenyum melihat tulisan Dara yang mirip seorang istri merangkap ibu lalu dia memulai sarapannya.
Lagi-lagi memo dari Dara pun dia simpan dalam dompetnya.
Antasena pun sudah bergabung dengan Abi untuk sarapan. Wajah tampannya celingukan mencari kakak iparnya.
"Mbak Rara kemana mas?" tanyanya bingung. "Apa belum bangun?"
"Sudah berangkat pagi-pagi. Katanya ada upacara hari Senin." Abi menyeruput kopinya yang rasanya berbeda dari yang dibuat Dara. Tampaknya kopinya kali ini dibuat oleh bik Tarsih.
"Naik apa? Apa diantar pak Sigit?"
"Entah aku belum bertanya pak Sigit." Abi pun berdiri dan mengenakan jasnya lalu menuju keluar rumah. Antasena pun buru-buru menghabiskan sandwich nya dan meneguk teh wasgitel yang membuatnya kecanduan.
Abi mencari pak Sigit yang masih mencuci Mercedes Benz GLC milik Abi, karena hari ini jadwal Abi naik Range Rover.
"Pak Sigit!"
Pak Sigit menghentikan pekerjaannya, mencuci tangannya dan berjalan ke Abi.
"Iya tuan?"
"Adara tadi ke kantor diantar sama pak Sigit?" tanya Abi.
"Tidak tuan, nyonya tadi pergi sendiri dengan mobil Brionya" jawab pak Sigit takut-takut karena tadi nyonyanya memaksa untuk menyetir sendiri ke sekolah.
"Damn it! Shi***t!" Abi berjalan menuju mobilnya dengan penuh amarah. Antasena yang berjalan di belakangnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mas Abi benar-benar sudah otw bucin sama mbak Rara.
***
Dara menatap pria di hadapannya bersama putrinya. Pagi ini salah seorang siswinya yang kelas X berkelahi dengan siswi lain hanya gara-gara seorang siswa kelas XII yang dikenal playboy. Dan kini Maya siswi kelas X yang menyerang siswi lain yang seangkatan namun beda kelas, menghadap Dara bersama ayahnya, Damien.
Sang ayah menatap Dara dengan tatapan serius dan berharap ada solusi pada putrinya.
"Maya, tatap ibu" ucap Dara lembut namun ada nada yang tidak boleh dibantah.
Wajah Maya yang sedikit memar pun mendongak setelah sedari tadi menunduk.
"Maya, tahu kesalahan mu apa?"
Maya mengangguk.
"Apa hasilnya?"
Maya terdiam.
Maya menatap guru bimbingan konselingnya dengan tatapan tidak percaya. Dia sudah membayangkan bakal dimarahi seperti biasanya bahwa akan dihukum, diskors macam itulah.
"Wajah cantikmu babak belur. Siapa yang sakit? Kamu. Siapa yang rugi? Kamu. Siapa yang bikin repot papamu? Kamu. Ada Ronald belain kamu? Nggak ada!" ucap Dara pedas bahkan Damien ayah Maya pun terperangah.
"Maya, kamu baru kelas X, masih panjang jalan hidupmu. Dengarkan ibu, pria macam Ronald tidak pantas kamu perjuangkan! Perjuangkanlah pendidikan mu, perjuangkan harga diri kamu sebagai perempuan. Kamu harus buktikan, saya pintar, saya smart, saya kuat dan tidak ada orang yang berhak mengambil semua itu dari saya!"
Maya mendengarkan ucapan gurunya. Kata-kata Bu guru cantik di depannya ini merubah pandangannya bahwa ada yang lebih penting daripada seorang Ronald.
"Pria macam Ronald malah jadi sombong mendengar dia diperebutkan oleh banyak wanita dan pria seperti itu adalah pria pecundang! Bukan pria yang layak untuk kamu, Maya. Pikirkan baik-baik, kamu sudah beranjak dewasa. Kamu pasti punya keinginan setelah lulus SMA mau kuliah apa dan dimana. Perjuangkan itu, perluas wawasan kamu. Seiring dengan berjalannya waktu, kamu akan menemukan pria yang menerimamu siapa dirimu dan hanya kamu yg merupakan subyek baginya buka. embel-embel latar belakang keluargamu."
Dara sudah mengetahui siapa Damien Xavier, pengusaha keturunan Rusia yang memiliki bisnis restauran dimana-mana. Damien menikah dengan wanita Indonesia dan memiliki putri bernama Maya. Sekitar dua tahun lalu, ibu Maya meninggal karena sakit dan Maya tinggal bersama ayahnya.
"Bu Dara...akan menskors saya?" bisik Maya yang tahu setelah ini ayahnya akan marah besar karena dia dihukum lagi setelah dua bulan lalu dia juga dipanggil guru BK dengan khasus menghajar temannya yang mencontek proposalnya.
"Ibu tidak akan mengskors kamu tapi ibu minta kamu meminta maaf pada temanmu yang sudah kau hajar dengan tulus dan ibu minta kurangi sifat bar-barmu. Kalau kamu merasa bosan atau kesal, kamu bisa datang pada ibu dan ibu akan memberikan tips untuk menghilangkan rasa itu." Dara tersenyum manis yang membuat Maya ikut tersenyum walau setelahnya dia meringis karena bibirnya membengkak.
"Sudah, kamu ke UKS dulu, minta suster disana untuk mengobati kamu dan setelahnya kamu masuk kelas ya Maya. Ibu masih ada urusan dengan ayahmu."
Maya mengangguk lalu mencium tangan ayahnya dan berpamitan dengan Dara lalu menuju UKS.
"Bu Dara"
"Pak Damien"
Keduanya tertawa ketika sama-sama memanggil secara bersamaan.
Damien tersenyum. Pria berambut agak blonde dengan sedikit uban dan bermata abu-abu itu lalu berkata
"Lady first."
Dara tersenyum.
Damien Xavier.
***
Abi mencoba menelpon Dara sejak pagi namun tidak ada balasan. Hatinya benar-benar kacau di Senin siang ini.
Entah sudah seberapa sering ia memaki dan menyumpah dengan berbagai bahasa. Bahkan Jun sendiri memilih menghindar dari bossnya yang benar-benar jelek moodnya.
"Oh come on Adara! Pick up the phone !!!" teriaknya gusar dan marah.
Akhirnya panggilannya pun terjawab.
"Assalamualaikum mas" suara Dara terdengar lembut di seberang yang membuat semua amarah Abi menghilang.
"Wa'alaikum salam Adara" jawab Abi dengan lembut. Hatinya yang panas serasa diguyur air es mendengar suara istrinya.
"Maaf mas, tadi ada orang tua murid dan putrinya menghadap padaku jadi aku tidak bisa menerima telepon mu."
"Iya Adara, jangan lupa makan siang." Abi merasa gugup seperti anak ABG jatuh cinta.
"Mas juga ya, jangan lupa makan siang. Maaf tidak membuatkan bekal."
"It's okay. Selamat bekerja istriku."
Tidak ada jawaban lama lalu ...
"Bu Dara, maaf kunci mobil saya ketinggalan"
Abi mendengar suara berat itu dan mengenalinya.
Damien.
***
Yuhuuu
Maaf baru Up
Thank you for the reading.
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️