
Arkan sudah mencoba membujuk Milea untuk datang ke rumahnya atas permintaan Arumi, namun kekasihnya itu menolak keras dan minta Arkan menyampaikan permohonan maafnya pada Arumi.
Masalah restu orangtua Arkan belum jelas, dan Milea tidak mau memberikan kesan tidak baik di mata orangtua Arkan terutama Mami Mira.
“Milea nggak ikut ?” tanya Arumi saat melihat Arkan hanya pulang sendirian.
“Dia kekeh nggak mau dan minta maaf pada Kakak karena tidak bisa memenuhi undangan malam ini,” sahut Arkan sambil melirik ke arah Mami yang pura-pura tidak tahu.
Kelimanya duduk di meja makan menikmati makan malam keluarga. Kedua orangtua Arkan tampak lega saat melihat hubungan Arumi dan Henri kemabli normal, sedangkan Arkan lebih banyak diam dan terbagi fokusnya dengan handphone yang sengaja ditaruh di atas meja.
“Makan dulu, Ar,” pinta Mami saat melihat piring putranya yang masih lumayan penuh.
Biasanya Arkan paling cepat dalam urusan makan dan malam ini terlihat kurang bersemangat.
“Gelisah dia, Mam karena sudah pasti Milea tidak membaca apalagi membalas pesannya.”
“Sotoy !” gerutu Arkan dengan wajah kesal namun diabaikan Arumi yang malah tertawa.
“Kamu kurang pandai merayu wanita, Ar, makanya gagal membujuk Milea untuk datang kemari malam ini,” ledek Arumi lagi.
“Bukan kurang pandai merayu, tapi calon istriku ini masih trauma dicaci maki dan dihina, jadi dia menunggu sampai hatinya bisa berdamai untuk menghadapi kejutan berikutnya.”
“Arkan,” tegur Papi dengan suara tegas namun tidak sampai berteriak.
Arkan terdiam dan memilih menghabiskan makan malamnya cepat-cepat lalu pamit duluan meninggalkan meja makan.
“Ar, Kakak dan Kak Henri mau bicara setelah ini,” ujar Arumi saat melihat Arkan berniat kembali ke kamarnya.
“Telepon saja kalau semuanya sudah selesai makan, aku mau mandi dulu. Gerah.”
Mami menghela nafas dan Papi hanya geleng-geleng kepala. Kalau bukan Arumi yang memintanya pulang ke rumah karena ingin membahas hal penting, Papi yakin kalau putranya itu belum mau pulang, Entah tinggal dimana, tidak ada yang berhasil mencari tahu keberadaan Arkan.
Tanpa perlu dihubungi oleh Arumi, 20 menit kemudian Arkan sudah turun dengan wajah yang terlihat lebih segar. Adik Arumi itu duduk di salah satu sofa tanpa bicara apa-apa.
“Terima kasih karena sudah mau datang, Ar, aku hargai kamu mau memenuhi undanganku meski hatimu masih belum bisa berdamai.”
Arkan hanya tersenyum tipis dan bertatapan dengan Arumi sekilas lalu menunduk lagi menatap ke arah handphonenya.
“Aku dan Mas Henri sudah sepakat akan merawat Emilia dan memberikan status resmi untuknya sebagai anak angkat kami.”
Ketiga orang yang ada di situ selain Henri dan Arumi nampak biasa saja, tidak menunjukkan ekspresi terkejut sama sekali. Bagaimana sikap Arumi pada Henri sudah cukup menjelaskan kalau pasangan itu sudah menemukan solusi atas masalah yang mereka hadapi.
“Apa Papi dan Mami keberatan kalau kami berdua membesarkan Emilia sebagai anak kami ?” tanya Henri dengan sedikit hati-hati.
“Keputusan kalian soal Emilia tidak perlu memikirkan apakah kami setuju atau tidak,” sahut Papi. “Kalian berdua sudah sama-sama dewasa dan membangun rumahtangga bukan baru kemarin sore, tapi sudah berjalan 5 tahun lebih. Apapun keputusan kalian kami hanya perlu mengetahuinya. Kalau sekedar pendapat, Papi sangat mendukung karena selain Emilia adalah anak biologis Henri, akan lebih baik kalau kalian mengadopsi anak dari keluarga yang dikenal.”
“Mami juga setuju saja dengan keputusan kalian,” timpal Mami Mira.
“Kami akan membahasnya dengan pengacara Mas Henri mengenai langkah apa yang harus kami jalani karena sebelumnya Reno lah yang tecantum sebagai ayah kandungnya.”
“Atur saja yang terbaik, Hen, kalau memang kalian membutuhkan bantuan jangan sungkan untuk bicara dengan Papi dan Mami,” ujar Papi.
“Terima kasih Pi, Mi,” ujar Henri dengan wajah yang terlihat lega apalagi saat melihat Papi dan Mami mengangguk sambil tersenyum.
“Nah sekarang giliran kamu, Ar. Dengan keputusan kami untuk menjadi orangtua Emilia berarti kamu dan Milea tidak perlu menjalankan wasiat Dina. Sebetulnya akan lebih baik kalau Milea mendengarnya langsung dari kami, tapi berhubung dia tidak datang, sampaikan semua ini pada Milea dan semoga ia akan segera menerima lamaranmu.”
“Bukan sekedar Emilia yang menjadi ganjalannya saat ini, tapi masalah restu Papi dan Mami, “ sahut Arkan sambil melirik ke arah Mami-nya yang langsung menoleh dan menatap putranya.
“Undanglah Milea datang kemari kalau dia lagi senggang, akan lebih baik kalau datang di siang hari jadi lebih santai,” ujar Papi Firman.
“Yakin Mami nggak bakal marah-marah dan mengusirnya lagi ?” sindir Arkan.
“Mami nggak pernah mengusirnya,” protes Mami.
“Nggak secara langsung, Mami hanya bilang tidak boleh menjalin hubungan atau dekat-dekat dengan anak Mami. Secara tidak langsung Mami mengusirnya pergi.”
“Sudah Ar, jangan berdebat lagi,” ujar Arumi mencoba menengahi. “Lebih baik kamu segera katakan pada Milea kalau kali ini Mami dan Papi benar-benar mengundangnya datang kemari dan bilang pada Milea kalau persetujuanku soal permohonan berhentinya dibatalkan. Aku perlu asisten yang handal selama aku pergi bulan madu dengan Mas Henri.”
Arumi senyum-senyum dan menatap suaminya. Henri balas tersenyum dan menggenggam jemari Arumi lalu mengecupnya dengan lembut.
“Honeymoon lagi ?” ledek Arkan. “Jangan lupa bawa obat jampi-jampi biar Kak Rumi dilapangkan jalannya untuk dapat momongan.”
“Ya itukan tujuan bulan madu,” sahut Arumi dengan nada ketus sambil melotot menatap Arkan yang mencibir padanya.
Henri tertawa pelan dan merangkul bahu istrinya lalu mencium pipi Arumi sekilas.
“Biarkan adikmu begitu, nanti kamu bisa membalasnya saat dia menikah dengan Milea atau siapa pun yang menjadi istrinya.”
Wajah Arumi langsung tersenyum cerah dan mengangguk-angguk, dia balas melotot menatap Arkan dan mencebik.
“Curang ! Kalau dua lawan satu sudah pasti yang menang kalian.”
“Kamunya aja yang lemah, kalau jagoan tidak peduli berapa banyak lawan yang harus dihadapinya pasti ujung-ujungnya jadi pemenang,” ledek Arumi.
Arkan hanya mencibir dan memasang wajah sebal saat melihat senyuman mengejek Arumi.
*****
Tangannya yang memegang handphone langsung menyentuh layar untuk melihat penunjuk waktu. Jam 22.45.
“Ada hal penting yang mau aku sampaikan dan rasanya aku nggak akan bisa tidur kalau tidak menyampaikan padamu sekarang juga,” sahut Arkan dengan suara penuh semangat.
“Awas aja kalau nggak penting banget !” gerutu Milea sambil mendahului masuk ke dalam rumah dan mengajak Reno duduk di ruang tamu.
“Masalah apa ?” ketus Milea saat keduanya sudah duduk di ruang tamu.
“Kak Arumi dan Kak Henri sudah memutuskan akan mengangkat Emilia menjadi anak mereka, semacam adopsi begitu,” sahut Arjan dengan penuh semangat.
“Terus ?”
“Artinya kita berdua tidak perlu menjalankan wasiat Dina untuk membesarkan Emilia sebagai anak kita.”
Milea terdiam dan menatap Arkan dengan wajah datar dan kedua tangannya melipat di depan dada.
“Jangan bilang terus lagi, aku bukan sedang parkir,” gerutu Arkan dengan wajah mulai kesal.
“Terus pentingnya dimana ?” tanya Milea santai, mengabaikan kekesalan Arkan.
“Ya ampun Milea, jangan memancing emosi,” geram Arkan. “Tentu aja apa yang aku sampaikan itu penting buat kita. Salah satu alasan kamu menolak menikah denganku karena aku tidak mau mengangkat Emilia menjadi anak kita. Sekarang masalah itu sudah terpecahkan dan tidak ada alasan lagi bagimu untuk menolak lamaranku.”
“Lamaran ? Bahkan status pacaran kita aja masih dalam batas abu-abu, belum jelas hitam atau putih.”
Arkan menghela nafas dan menggerutu tidak jelas, tatapannya terlihat bertambah kesal saat melihat ekspresi wajah Milea biasa saja.
“Mami juga mengundangmu datang untuk makan siang di rumah kapanpun kamu bersedia dan ada waktu,” ketus Arkan. “Terserah kalau bagimu berita itu juga tidak penting.”
“Bisa ngambek juga ?” sindir Milea dengan senyuman mengejek.
“Iya, aku memang sudah jadi cowok yang tukang ngambek. Kenapa ? Mau tambahkan dalam daftar alasan penolakanmu ?”
“Dasar lemah !” cebik Milea. “Katanya cinta padaku sampai setengah mati dan tidak akan pacaran lagi kalau bukan sama aku, tapi baru dihadapkan dengan situasi begini saja udah ngambek dan kalau aku teruskan pasti kamu akan memilih mundur dan menyerah.”
“Jangan sok tahu !” ketus Arkan.
“Aku nggak minat sama cowok yang judes, jutek dan gampang ngambek,” Milea beranjak dari kursinya. “Jadi daripada aku tambah kesal dan pingin muntah berhadapan denganmu, lebih baik kamu pulang sekarang.”
Arkan bukannya ikut bangun, ia malah merebahkan diri di atas sofa panjang yang didudukinya dan menggunakan kedua lengannya sebagai bantal.
“Mau ngapain kamu tiduran begitu ?” ketus Milea sambil bertolak pinggang berdiri di dekat Arkan.
“Mau tidur sambil menunggu wanita yang menyebalkan tapi sangat aku cinta menerima berita baikku sebagai bukti kesungguhan niatku mengajaknya nikah.”
Arkan benar-benar memejamkan mata membuat Milea menghela nafas.
“Pulang sekarang deh, aku nggak mau Pak RT bawa rombongan datang kemari untuk menangkap basah penyusup di rumah ini. Bisa-bisa aku langsung disuruh nikah sama kamu malam ini juga.”
“Bagus kalau sampai itu terjadi, aku malah senang karena bisa menikah denganmu tanpa bersusah payah. Hemat biaya juga, kalau perlu tidak usah ada pesta yang penting sudah sah.”
Milea menggigit bibirnya menahan kesal dengan kedua tangan terkepal. Akhirnya dia menarik tangan Arkan untuk menyuruhnya bangun.
“Bangun deh, Arkan, aku nggak mau digrebek beneran soalnya Mama dan Papa lagi nggak ada di rumah,” nada suara Milea mulai terdengar serius.
“Beneran ?” Arkan mendadak terlonjak dan beralih ke posisi duduk.
“Udah pulang sekarang !” Milea kembali menarik tangan Arkan, namun bukannya Arkan bangun malah tangan kekar itu menarik Milea hingga jatuh ke atas pangkuannya.
“Arkan !” pekik Milea.
“Masih mau jaim ? Masih mau bilang kalau berita yang aku sampaikan nggak penting ? Nggak akan ada yang bisa menolak memberikan restu kalau aku buat kamu hamil duluan, gimana ? Sepertinya alam sangat mendukungku karena saat ini tidak ada siapa pun di rumah ini,” ujar Arkan dengan senyuman smirknya.
“Aku akan membencimu seumur hidup biarpun kamu berhasil menikahiku !” ancam Milea dengan tatapan galak, padahal hatinya mulai kebat kebit, takut Arkan benar-benar mengeksekusi ucapannya.
Arkan terbahak dan memeluk Milea dengan erat membuat gadis itu sempat meronta namun beberapa detik kemudian Milea berbalik cemas, takut pergerakannya malah membangunkan sesuatu yang sedang tidur tenang.
“Susah banget tinggal bilang aku senang mendengarnya,” ujar Arkan sambil menepuk-nepuk bahu Milea yang sudah tenang dalam pelukannya.
“Aku tuh cinta banget sama kamu Milea dan akan melakukan apapun untuk membuat kita bisa bersatu termasuk memenuhi permintaanmu untuk mendapatkan restu dari orangtuaku. Tapi aku nggak bisa jalan sendirian, aku butuh kamu untuk tetap ada di sisiku.”
Milea masih terdiam dan merasakan kehangatan cinta Arkan yang mulai mengalir di seluruh tubuhnya. Perlahan tangan Milea memeluk leher Arkan.
“Terus aku harus gimana ?” lirih Milea. Arkan tersenyum dan tentu saja Milea tidak bisa melihatnya.
“Kita akan temui orangtuaku dan aku yakin kalau kali ini Mami tidak akan galak seperti yang lalu. Kamu mau, ya ?”
Anggukan Milea membuat Arkan kembali tersenyum dan mengeratkan kembali pelukannya hingga mata Milea membola karena posisi mereka semakin menempel.
“Arkan ! Milea !” pekikan Papa dari pintu masuk membuat keduanya terkejut dan buru-buru melepaskan pelukan mereka. Milea malah langsung berdiri dan merapikan piyamanya.
Arkan nyengir kuda saat menatap Papa yang sedang melotot sambil bertolak pinggang ke arah mereka berdua. Milea pun hanya bisa tertawa canggung, tidak menyangka kalau orangtuanya akan pulang malam ini juga.