Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Happy and Hurt


Usai makan siang, Duncan dan Rhea pun berjalan-jalan menyusuri mall di Brookfield Place. Duncan mengajak Rhea kemari dan membiarkan gadis itu memilih barang-barang yang diinginkan karena hari ini hari spesialnya. Tapi Rhea hanya memilih jalan-jalan.



"Belum ada yang cocok di hati bang" kekehnya.


"Berarti Abang belum cocok di hati?" goda Duncan.


Rhea memukul bahu Duncan kesal. "Ih Abang tuh! Mkasud Rhea barang-barang yang Abang suruh beli. Belum ada yang Rhea pengen."


"Kita ngopi aja yuk!" ajak Duncan ke sebuah cafe kopi.


Rhea pun mengangguk dan memeluk lengan kekar Duncan dengan manja. Keduanya pun duduk di sudut cafe setelah mendapatkan pesanannya.


"Abang."


"Hhmm" jawab Duncan sembari menyesap cappucino nya.


"Kok Abang ngelamar Rhea sekarang? Nggak ke Daddy langsung?"


"Karena Abang cemburu."


Rhea ternganga. "Cemburu ma siapa?"


"Tuh, Abang Gozalimu." Duncan mengucapkan nama rivalnya sembari cemberut.


Rhea tertawa terbahak-bahak. "Abang dari kecil nggak pernah berubah! Selalu cemberut kalau ngomongin bang Gozali."


"Siapa yang ngga cemburu Rey? Abang lagi di Jepang karena sepupu Abang lagi acara nujuh bulan eh...kamu resital di Jakarta. Tahu-tahu si Gozilla sialan itu main datang lalu kasih bunga ke kamu!"


Rhea semakin terbahak mendengar nama Abang Gozalinya diganti Gozilla.


"Lhaaa kan Abang memang sudah ijin mau acara keluarga di Jepang jadi Rhea sih nggak berharap Abang datang. Kalau bang Gozali..."


"Gozila!" cebik Duncan kesal. ( thanks mbak WD buat kasih nickname nya Gozilla eh Gozali. )


"Terserah Abang deeehhh! Bang Gozali itu pas di Jakarta sekalian peresmian kantornya disana. Lagi pula ada mom dan dad kok. Oom Stephen sama Tante Diana datang kok."


"Tetap saja Abang dongkol!"


"Abangku tuh lucu. Kalau sama orang lain, dinginnya minta ampun tapi sama Rhea malah kayak anak kecil" kekeh Rhea.


"Abang begini cuma sama kamu, Rey dan juga sama keluarga kamu. Asal tahu saja, keluarga kalian itu berada di luar klan McGregor-Blair-Pratomo yang Abang bisa dekat."


"Abang bisa dekat dengan keluargaku karena Rhea kan?" selidik Rhea dengan wajah menggoda.


"Sebelum kamu dibuat itu, Abang dah lebih dekat sama Aunty Dara tahu!" protes Duncan tidak terima. Lalu Duncan bercerita kenapa dia dengan Abi tidak pernah akur dari dulu.


"Astaga! Jadi Daddy itu udah julidin Abang dari Abang bayi?" gelak Rhea.


"Makanya kalau kamu lihat kita berantem ga jelas, ya karena dari bayi Abang sudah gegeran sama Daddymu."


Rhea menggeleng-gelengkan kepalanya takjub mendengar keluarganya dan keluarga Blair yang memang sudah dekat sebelum dia dibuat.


"Makanya sebelum si Gozilla itu ngusik kamu, ya Abang ikat saja sekalian!" kekeh Duncan dengan wajah penuh kemenangan.


"Abangku, kan Rhea sudah bilang kalau Rhea pilih Abang dari kecil. Kenapa juga Abang harus khawatir?"


"Abang kan cuma jaga-jaga saja."


Rhea hanya tersenyum. "Makasih ya Abang, mencintai Rhea sedemikian rupa."


Duncan mengelus pipi Rhea. "Love you my Rey."


"Love you too, Abang D."


***


Ghani harus bisa menahan bau busuk menyengat seperti di sampah tapi lebih mengerikan. Meskipun sudah menyiapkan mental bakalan menemukan hal-hal seperti ini sebagai bagian dari keinginannya menjadi polisi dan detektif di NYPD, tapi tetap saja menemuinya di kenyataan membuatnya mual juga.


"Hei, rookie! Ayo kemari!" ajak sersannya.


Ghani pun mengikuti sersan Boyd seorang pria kulit hitam berbadan tinggi besar. Hari ini adalah hari pertama Ghani bertugas sebagai officer baru dan sersan Boyd adalah partner dan seniornya. Sersan Boyd berusia sekitar 35 tahun, menikah dengan Sarah Boyd seorang guru SMP dan memiliki dua orang anak.


Hari pertama Ghani bekerja, mereka sudah mendapatkan kasus pembunuhan yang berada di sebuah basement rumah yang tidak terpakai.


Sersan Boyd dan Ghani menyusuri TKP dengan teliti dan akhirnya menemukan sesosok mayat perempuan yang menjadi korban pembunuhan. Boyd dan Ghani segera memakai sarung tangan plastik agar sidik jari mereka tidak mengkontaminasi TKP.


"Sarge, kayaknya Jane doe ditusuk dengan banyak tusukan" ucap Ghani sambil mengamati mayat itu tanpa berusaha menunjukkan wajah jijik.


"Kamu benar, rookie. Kita cek dulu semuanya lalu memanggil bantuan!" Sersan Boyd mencari senjata pembunuh di sekitar tumpukan barang disana sedangkan Ghani mencatat semua yang dilihatnya.


"Sersan Boyd" sapa detektif pria yang memakai setelan warna hitam.


"Lt Comb" sapa Sersan Boyd sambil tersenyum tipis. "Detektif Lee."


"Apa yang terjadi disini?" tanya detektif wanita yang dipanggil Lee.


"Kasus penikaman." Ghani pun berbalik dan betapa terkejutnya ketika melihat kakak kelasnya di Harvard berada di depannya.


"Olivia Lee?"


"Ghani Giandra?"


Keduanya kemudian tertawa. "Ya ampun ternyata kamu bergabung dengan NYPD jadinya?" tanya Olivia.


"Hu um. Ini kasus pertamaku."


"Mason Comb, kenalkan ini adik kelasku dulu. Ghani, Mason. Mason, Ghani."


Ghani hendak mengulurkan tangannya tapi menariknya kembali. "Maaf tangan saya kena TKP."


Mason Comb tertawa. "It's okay Junior. Sersan Boyd, ini anak didikmu yang baru?"


"Oh yeah. He's so nice" ucap Sersan Boyd.


"Semoga betah ya G" ucap Olivia.


"Ayo kita proses TKP ini."


***


Gozali menatap foto Rhea yang sedang bermain piano ketika melakukan resital di Jakarta kemarin. Ternyata semakin kesini perasaannya kepada adik angkatnya sendiri semakin kuat meskipun dia tahu adiknya sudah berpacaran dengan Duncan.


Ketika resital kemarin, dia pas pulang untuk meresmikan perusahaan keamanannya yang sengaja dibuat pusatnya di Jakarta karena dia tidak mau jauh-jauh dari kedua orang tua angkatnya.


Abi sendiri sangat bangga melihat Gozali berhasil mewujudkan impiannya bahkan tidak memerlukan pinjaman dana darinya.


Melihat tidak ada hadirnya Duncan, membuat Gozali merasa beruntung selangkah lebih di depan pria yang sekarang menjadi seorang pengusaha yang mampu mengembangkan sayap perusahaan keluarganya MB Enterprise yang merupakan singkatan McGregor-Blair.


Gozali membawakan buket bunga mawar pink untuk Rhea yang waktu itu surprise melihat Abang angkatnya datang.


Melihat senyum merekah Rhea, membuat jantung Gozali berdebar kencang dan dia bertekad sebelum ada janur kuning melengkung, dia akan berusaha merebut Rhea dari Duncan meskipun harus ada perang Baratayudha diantara keluarga Blair dan Giandra.


Suara ketukan di pintu kerjanya membuyarkan lamunannya.


"Masuk!"


Seorang pria berusia 30an mendatangi Gozali.


"Boss, ini info dari New York."


Gozali memandang foto Rhea tertawa bersama Duncan di sebuah cafe kopi. Hatinya merasa cemburu melihat kemesraan mereka.


"Apa kiriman dariku sudah sampai di rumah gadis itu?"


"Sudah boss."


"Oke. Kamu boleh keluar Mark."


Pria bernama Mark itu pun keluar dari ruangan Gozali.


Gozali berjalan memandang pemandangan dari lantai tiga kantornya.



Kenapa rasanya sakit sekali, Ya Tuhan, mencintai dalam diam.


***


Yuhuuu Lanjut Up nya yaaaa


Ngejar setoran ini sebelum tanggal 24 Desember coz mo ending.


Author libur sehari yaaaa tanggal 25 Desember. Tgl 26 Desember lanjut lagi. Biasaaaa, recharge otak n wangsit.


eniwaiii, thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️