
Hari ini Abi dan Rhea menjemput Duncan di bandara Halim Perdanakusuma yang datang dengan pesawat pribadi keluarga Blair. Dara sengaja tidak ikut karena ingin membuat makanan kesukaan Duncan, sedangkan Ghani dan Gozali ada kegiatan di Dojo Taekwondo persiapan untuk naik tingkat.
Abi dan Rhea duduk di lounge sembari menunggu. Seperti biasa, Abi membacakan cerita untuk putrinya yang kali ini cerita timun mas. Kebiasaan mendongeng Abi dan Dara tetap berlangsung hingga sekarang karena anak-anak pun bisa lebih dekat dengan orang tuanya.
"Dad, kira-kira kalau timun di rumah ketemu terasi gimana?" tanya Rhea sambil nyengir.
"Kalau begitu bakalan jadi sambal terasi sama lalapan di tangan mommy" gelak Abi.
Karena sejak pagi hujan terus, Dara meminta Rhea memakai jaket mantel warna putih berbulu karena cuaca dingin. Abi sendiri sampai gemas melihat putrinya tampak cantik dengan pakaian seperti itu.
Abi pun sama dengan putrinya memakai sweater yang warnanya senada dengan baju Rhea.
"Kok Abang D lama ya Dad?" Rhea melihat keluar jendela mencari-cari pesawat abangnya.
"Sabarlah princess, kan cuaca hujan jadi harus hati-hati untuk mendarat."
Rhea pun kembali duduk bersama Daddynya. Beberapa penumpang yang melihat interaksi ayah dan putrinya itu merasa gemas.
"Maaf pak, putrinya usia berapa ya?" tanya seorang ibu yang tidak tahan bertanya.
"Oh putri saya berusia enam tahun" jawab Abi.
"Ya ampun, cantik banget" ucap ibu itu.
"Terima kasih Tante" jawab Rhea.
"Kelas berapa cantik?" tanya ibu itu lagi.
"Kelas dua SD" jawab Rhea.
"Kok bisa?"
"Putri saya ikut akselerasi Bu." Abi yang menjawab.
"Wah, sudah cantik, pintar lagi!" puji ibu itu. "Boleh dong pak kita besanan? Saya punya anak laki-laki usia delapan tahun. Kita jodohkan gimana pak?"
Abi melongo. Astaga Gusti! Ini ibu waras nggak ya?
"Maaf Bu, tapi saya tetap memberikan kebebasan pada putri saya untuk memilih jodohnya sendiri nanti" ucap Abi tegas.
"Semoga kita berjodoh ya cantik!" eyel ibu itu. "Permisi pak, cantik."
"Silahkan" jawab Abi. Hush! Hush! Pergi jauh-jauh sonooo!!!
"Daddy, ibu itu kenapa?" tanya Rhea bingung.
"Tahu! Daddy juga nggak paham!" dengus Abi kesal.
Tak lama di pintu kedatangan masuklah seorang bocah bule dengan dandanan stylish yang tentu saja membuat orang-orang disana menolehkan kepalanya melihat pemandangan yang berbeda.
"Disini rupanya kalian?" sapa Duncan santai.
"Bang Duncan!" jerit Rhea senang sambil memeluk Duncan.
"Lho kamu sudah mendarat dari tadi?" tanya Abi bingung.
Duncan melepas pelukan Rhea lalu mencium punggung tangan Abi.
"Barusan sih tapi aku cari di longue sebelah sana nggak ada, ternyata disini" kekeh Duncan.
"Ya udah yuk, pulang" ajak Abi sambil membantu Duncan membawa koper Louis Vuitton nya.
Rhea sejak tadi tidak melepaskan pegangan tangannya dari Duncan.
"Kamu cantik banget Rey" puji Duncan ketika melihat dandanan gadis ciliknya.
"Nggak usah modus deh D" tegur Abi sebal. Duncan tertawa melihat calon mertuanya cemberut.
"Kata mommy hawanya dingin, jadi pakai Coat lah" jawab Rhea.
"Kan memang masuk musim hujan Rey" ucap Duncan.
"London gimana D? Cuaca masih amburadul?" tanya Abi sambil memasukkan koper Duncan ke bagasi Mercedes Benz GLC nya.
"Begitulah Oom. Kayak nggak tahu London saja."
Pak Sigit, supir Abi pun menstater mobil Abi yang sudah duduk di kursi penumpang, sedangkan dua bocah itu duduk di belakang. Mobil mewah itu pun berjalan keluar bandara.
Abi menelpon Dara mengatakan bahwa mereka sudah menjemput Duncan dan perjalanan menuju ke rumah.
"Rey, lihat sini deh!"
"Ada apa bang?"
Duncan mengambil ponselnya. Cekrek!
"Bagus fotonya" kekeh Duncan.
"Duncan!" tegur Abi dari kursi depan.
"Beneran Oom, Rey cantik ini" ucap Duncan. "Aku kirim ya ke nomor Oom."
Suara notifikasi dari ponsel Abi pun berbunyi.
"Dik Rhea cantik ya Daddy!" seru Rhea ketika melihat hasil foto abangnya.
"Kalau nggak cantik, Abang mana mau Rey" kekeh Duncan.
"Oh my God! Duncaaaannn!" tegur Abi.
"Dalem Oom" sahut Duncan santai.
***
Dara menyambut Duncan seperti biasa memeluk dan mencium pucuk kepala putra sahabatnya. Tinggi Duncan sekarang sudah mendekati 168 cm sama dengan Dara.
"Ya ampun, kamu tuh bongsor bangets sih D? Tante kesalip ini" gelak Dara.
"Udah sunat pasti cepet tingginya" ucap Abi asal.
"Maaaasss!" hardik Dara sebal.
Rhea tertawa melihat kedua orang tuanya ribut nggak jelas.
"Ayo D, Tante antar ke kamarmu."
Semalam Abi dan Dara memutuskan Duncan tidur di kamar milik Antasena dulu yang sekarang sudah jadi kamar tamu. Ghani menolak tidur bareng Duncan karena yakin akan berantem masalah Rhea.
Demi kedamaian selama Duncan liburan disini, diputuskan bocah bule itu tidur di kamar Antasena, toh si empunya kamar sudah tinggal di rumahnya sendiri bersama istrinya Naina dan putrinya Maira.
"D, bersih-bersih dulu habis itu kita makan. Tante sudah masak rawon."
Duncan sumringah mendengar rawon. Biarpun dia bule, tapi makanan favoritnya tetap masakan Indonesia terutama rawon daging.
"Sama telur asin Tan?"
"Lengkap pokoknya!"
"Yes! Sebentar Tan, D ganti baju dulu."
"Oke. Tante tunggu di ruang makan ya." Dara pun menutup pintu kamar Duncan.
***
Ghani dan Gozali baru saja sampai dari Dojo setelah dijemput oleh sopir Abi yang lain.
"Assalamualaikum!" seru duo G.
"Wa'alaikum salam."
"Mommy. Dad."
"Ibu. Bapak."
"Ayo mandi dulu sana terus kita makan siang bareng" pinta Dara.
"Oke." Keduanya langsung naik ke lantai dua menuju kamar masing-masing.
***
Ghani menatap sebal ke arah Duncan yang duduk di sebelah Rhea, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum penuh kemenangan. Gozali hanya terdiam melihat Rhea senang duduk bersebelahan dengan Abang D nya.
"Seneng bang?" sindir Ghani.
"Seneng lah!" sahut Duncan cuek.
"Boys!" tegur Dara yang gemas melihat keduanya sama saja seperti ayah mereka.
Abi hanya tersenyum melihat wajah istrinya yang tampak ingin mencubit pipi Ghani dan Duncan.
"Nggak bapak, nggak anak kalau ketemu mesti berantem" gumam Dara.
Abi langsung terbahak mendengar Omelan istrinya.
Dara menatap Abi tajam.
"Maaf sayang, tapi kamu memang benar. Aku dan Edward sama dengan G dan D, susah akur."
"Nggak kebayang kalau kalian berbesan gimana" bisik Dara.
"Nggak usah dibayangin, berat. Biar Dilan ajah yang mikir" ucap Abi asal.
"Astaghfirullah, kenapa bawa-bawa Dilan?"
Keempat bocah di meja makan mengacuhkan perdebatan kedua orangtua mereka dan menikmati rawon lengkap yang sedap.
***
Yuhuuu Up malam Yaaaa
See you tomorrow
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️