
Hari berganti bulan berlalu tahun pun bertambah, begitu juga dengan Duncan, Ghani, Gozali dan Rhea. Duncan sekarang lebih sering berada di New York karena melebarkan bisnisnya disana disamping harus bersama Rhea yang berhasil masuk the Julliard School sejak usia 15 tahun. Tahun ini gadis cantik itu berusia 17 tahun dan selama itu pula Duncan tidak pernah absen memberikan hadiah setiap tahun.
Ghani sudah menyelesaikan pendidikannya di Harvard Law School secara cum laude dan memilih mengikuti ujian masuk NYPD sesuai dengan cita-citanya. Karena New York memiliki pluralisme yang beraneka ragam bangsa dan bahasa, Ghani mencoba mendaftar. Berbekal kecerdasan dan kemampuannya bisa berbagai bahasa asing, Ghani yakin bisa lolos walaupun dia bukan warga negara Amerika namun dia sudah memiliki ijin green card yang didapatnya pada usia 18 tahun karena menjadi asisten seorang jaksa penuntut.
Gozali sendiri juga sudah lulus dari Oxford sembari awalnya bekerja dengan seorang pemilik jasa penyediaan keamanan yang nyaris bangkrut. Benar-benar harus memulainya nyaris dari nol, Gozali mulai merubah semua aturan di kantor itu hingga sang pemilik yang ternyata bekas anak buah Edward Blair yang berusaha bisnis sendiri, terkagum-kagum dengan kecerdasan Gozali. Pria dingin itu mampu melawan para calon bodyguard yang sifatnya menyebalkan menjadi patuh padanya. Di usia 21 tahun, nama Gozali berhasil diperhitungkan oleh para CEO dan artis yang membutuhkan jasa keamanan darinya.
***
Setahun Kemudian...
Siang ini Duncan menjemput Rhea dari kampusnya di The Julliard School karena gadisnya berulang tahun tepat di usianya ke 18. Abi dan Dara baru bisa datang ke NY besok Jumat sedangkan Rhea berulang tahun di hari Rabu ini. Masnya, Ghani masih ikut pendidikan di akademi kepolisian New York dan tinggal di asrama jadi tidak bisa seenaknya main pergi. Kemungkinan baru bisa berkumpul pada saat weekend.
Duncan dengan setia menunggu gadisnya keluar dari kampus. Dia sudah mengirimkan pesan kepada Rhea agar ke tempat parkir.
Setelah menunggu setengah jam, datanglah seorang gadis cantik mengenakan jaket baseball warna hitam, kemeja putih dan celana jeans beserta sepatu boot warna coklat. Tas ransel Louis Vuitton bersandar di punggungnya.
Duncan pun keluar dari mobil lalu menghampiri gadis itu dan memeluknya erat.
"Happy birthday sayang" ucap Duncan sembari mencium pucuk kepala Rhea. Duncan sendiri memiliki tinggi 188 cm sedangkan Rhea 170 cm.
"Makasih Abang sayang" balas Rhea dengan wajah berbinar.
"Yuk maksi" ajak Duncan sambil menggandeng tangan kekasihnya lalu masuk ke dalam mobil Range Rovernya yang bewarna biru navy.
***
Duncan dan Rhea sampai di sebuah restauran kecil bernama Claudy's Kitchen dekat Manhattan College area Broadway Bronx.
Bagi keduanya ini adalah restauran Peru favorit karena ayam panggangnya sangat lezat di lidah. Saking seringnya kesana, Duncan dan Rhea sampai dikenal baik oleh pemiliknya yang juga meraih bintang Michelin karena kelezatan makanannya.
"Duncan! Rhea! Hola como estas? ( halo apa kabar? )" sapa Claudia Berroa pemilik restauran begitu melihat sepasang pelanggan favoritnya.
"Estoy bien. Mi niña está de cumpleaños ( Baik. Gadisku ini sedang ulang tahun ) Jadi tolong buatkan makanan spesial ya" jawab Duncan sambil merangkul Rhea.
"Waaahh! Happy birthday Rhea darling" seru Claudia sambil memeluk Rhea.
"Gracias, Claudia" senyum Rhea.
"Ayo duduk. Aku buatkan menu spesial dan free!" seru Claudia.
"No no no, aku tetap bayar Clau!" protes Duncan.
Wanita Peru berbadan gempal itu lalu memukul bahu Duncan kesal. "Kamu itu! Aku ingin ikut merayakan ulang tahun Rhea, tahu!"
Rhea tertawa melihat Claudia berubah menjadi emak-emak mode on. Keduanya sudah menganggap Claudia dan Richard seperti keluarga.
"Siapa yang ulang tahun?" Richard Berroa, suami Claudia pun keluar dari dapur.
"Rhea ulang tahun sayang" jawab Claudia lalu masuk ke dapur.
"Feliz cumpleaños mi querida hermana ( selamat ulang tahun adikku tersayang )" ucap Richard sambil memeluk Rhea.
"Gracias, Richard!" jawab Rhea.
"Udah, jangan lama-lama memeluk gadisku!" hardik Duncan.
Richard dan Claudia tertawa mendengar gerutuan Duncan yang terdengar posesif.
"Oh come on D, dia seperti adikku sendiri" kekeh Richard sembari menepuk bahu Duncan.
"Aku siapkan menu favoritmu ya Rhea sayang" seru Claudia dari balik counter pesanan.
"Aku tunggu Claudia" jawab Rhea.
Duncan menatap Rhea dan mengambil ponselnya.
"Berpose deh, aku mau ambil foto Rey-ku."
Rhea pun berpose di depan Duncan dan pria itu mengambil foto gadisnya.
"Subhanallah, cantiknya Rey-ku" bisik Duncan nyaris tak terdengar.
"Rhea memang cantik!" komentar Claudia yang membawakan pesanan pasangan itu sembari melihat foto Rhea di ponsel Duncan.
"Benar kan? That's my girl, Claudia" kekeh Duncan.
"Iya iya, dia milikmu D" cebik Claudia sambil meletakkan makanan di meja saji.
"Kapan kalian menikah?" tanya Richard yang membawakan minuman.
"Aku masih menunggu empat tahun lagi karena Rey baru saja 18 tahun."
"Kenapa harus menunggu selama itu?" tanya Claudia yang akhirnya ikut duduk dengan pasangan favoritnya.
"Aku berjanji pada Daddynya akan melamarnya di usia 22 tahun. Rey masih harus menyelesaikan pendidikannya di Julliard."
Claudia memeluk Rhea sayang. "Kamu nggak papa menunggu selama itu sayang?"
Rhea tertawa. "Asal kalian tahu, Abang D sudah menunggu ku sejak aku belum lahir."
"Whoah! Seru ini ceritanya. Aku sangat suka cerita romantis" ucap Claudia.
"Kami orang latin sangat suka cerita romantis" sambung Richard yang akhirnya ikut nimbrung membiarkan anak buahnya yang mengurus pelanggan.
"Ceritakan pada kami" pinta Claudia dengan wajah berbinar.
Duncan pun bercerita bagaimana dia sudah meminta pada ayahnya Edward kalau auntynya Dara memiliki anak perempuan, akan menjadi miliknya. Kedua pasutri berusia 40an itu terkesima mendengarkan kisah Duncan dan Rhea.
"Kalian berdua ternyata sudah dijodohkan dari sebelum Rhea lahir. That's so romantic." Claudia terharu.
Melihat Claudia emosional, Rhea pun memberikan tissue dengan pandangan bingung.
"Tenang Rhea, kami orang-orang latin terkenal emosional jika mendengar cerita romantis" kekeh Richard.
"Kalian berdua pasangan favorit kami. Kalau kalian menikah, undang kami ya" ucap Claudia.
"Tentu saja. Kalian keluarga kami juga" sahut Rhea sembari memeluk Claudia..
"Claudia, Richard. Tolong tunggu sebentar. Bisakah kalian menjadi saksi." Duncan memohon pada keduanya.
"Oke."
"Happy birthday sayang" ucap Duncan sebelum mereka makan. "Ini kado spesial buat gadisku yang spesial."
Duncan membuka kotak kecil bewarna hijau dan tampak sebuah cincin cantik di dalamnya.
"Abang mengikat Rhea dulu sebelum ketemu Oom Abi. Nggak papa kan?" tanya Duncan.
"Ya ampun bang! Rhea suka banget!" wajah gadis itu merona.
Pria itu berjalan memutar dan berlutut dengan satu kaki. Duncan menarik tangan kiri Rhea dan menyematkan cincin bermata berlian itu di jari manisnya.
"Love you Rey, since the day you were born, you've already be mine and I'm already be yours. Will you marry me?"
Rhea hanya bisa mengangguk dan menjawab "I will bang Duncan."
Duncan pun mencium bibir Rhea lembut dan ini adalah ciuman pertama keduanya.
Claudia dan Richard yang menjadi saksi peristiwa itu saling berpelukan dan ikut bahagia melihatnya.
"Congratulations kalian berdua" ucap Claudia dengan penuh haru.
***
Yuhuuu Up pagi Yaaaa
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️